Dosenku Sang Casanova

Dosenku Sang Casanova
Kesedihan yang Mendalam


__ADS_3

"Permisi dok, keadaan pasien mengalami drop. Detak jantung nya tidak stabil." Kata salah satu perawat menyela pembicaraan Alex dan dokter Herman.


Dokter itu mengangguk cepat kemudian segara masuk ke dalam ruangan Calvin.


"Calvin ...," Kata Jenni lirih, sembari memandangi pintu ruangan yang tertutup kembali saat dokter itu masuk ke ruangan.


"Tenang sayang, Calvin pasti akan selamat. Berdoa saja semoga segera sembuh." Tutur Alex. Meski dia juga panik, tapi tidak akan menunjukkan di depan Jenni yang akan semakin membuat wanita itu khawatir.


"Calvin, ini semua salahku. Seandainya Calvin tidak mendekati Bella untuk menyelamatkan ku, pasti dia tidak akan menjadi seperti ini." Jenni menangis lirih.


"Tidak sayang, ini bukan salah mu. Jangan menyalahkan diri mu sendiri."


Jenni tidak menyahuti ucapan Alex, tapi wajah nya terus menunduk saat air mata itu terus menetes tak mampu ia bendung.


Sedangkan di dalam ruangan, dokter sedang berjuanng menyelamatkan Calvin.


"Tit tit tit ...," Suara monitor berbunyi dengan keras, pertanda detak jantung Calvin tidak normal.


"Siapkan defribilator!" Perintah sang dokter dengan ekspresi panik.


Sang perawat mengangguk, kemudian menyodorkan alat pacu jantung itu kepada sang dokter.


Terlihat sudah tiga kali sang dokter memberikan rangsangan pada tubuh Calvin, namun tidak juga merespon.


"Tit tit tit ...!!!"


Terdengar begitu nyaring suara monitor pendeteksi tubuh Calvin, hingga membuat Jenni dan Alex terkesiap mendengar suara di dalam sana.


Tiba-tiba layar monitor menunjukkan satu garis lurus, "Pasien bernama Calvin Abrisam Lemos, pada pukul 14.15 wib dinyatakan meninggal, dengan diagnosa pendarahan di otak akibat cidera berat." Sang dokter berkata dengan suara bergetar, ia telah gagal menyelamatkan satu nyawa.


"Bagaimana keadaan Calvin, dok." Tanya Alex tak kalah cemas saat melihat sang dokter keluar dari ruangan dengan keringat membanjiri dahi dan pelipisnya.

__ADS_1


"Mohon maaf pak, kami sudah berusaha semaksimal mungkin. Tapi, Tuhan memiliki rencana lain." Kata sang dokter sembari menghembuskan nafas.


"Maksud dokter, apa?" Tanya Alex dengan raut wajah takut.


"Sekali lagi kami mohon maaf pak, nak Calvin tidak bisa kami selamatkan." Sang dokter menunduk sedih. Sebagai seorang dokter, ia merasa gagal karena tidak bisa menyelamatkan nyawa pasien nya, tapi mungkin ini memang sudah jalan nya.


Manusia hanya bisa berikhtiar, terkait takdir, biar lah Tuhan yang menentukan.


Hidup dan mati adalah takdir, sebaik apapun manusia merancangnya, tapi Tuhan adalah arsitek terbaik dan tentu memiliki rancangan yang lebih baik daripada manusia itu sendiri.


"Jadi, maksud dokter, Calvin meninggal?" Sekuat mungkin Alex menahan mata nya agar tidak menangis.


Di detik itu juga, lututnya lemas seakan tak mampu lagi menopang tubuh tegap nya. Ia sangat terpukul, anak yang sudah ia anggap seperti anak sendiri selama beberapa hari ini harus lebih dulu menghadap kepada sang pencipta.


Padahal, dia sudah memiliki rencana indah untuk masa depan anak itu. Alex berjanji akan membuatnya menjadi pria hebat yang nanti nya akan membantu mengurus perusahaan miliknya.


Alex menyesal tidak selalu bersikap baik pada anak itu. Walaupun Alex terlihat baik di depan Calvin, tapi tak dapat ia pungkiri kalau hatinya belum menerima sepenuhnya kehadiran Calvin.


Ia tidak tahu menahu tentang permasalahan mereka, tapi harus terkena dampak dari permasalahan orang dewasa itu.


Alex berjalan menuju ruangan sembari mendorong kursi roda Jenni.


Sejak tadi Jenni sulit sekali untuk bicara, dia hanya bisa menangis terisak namun terlalu kelu bibir nya untuk berkata.


"Maafkan Daddy, Calvin." Alex berbicara lirih saat berada di depan jenazah Calvin yang terbungkus kain putih.


Kali ini kaki Alex benar-benar tidak sanggup untuk menopang, tubuh nya merosot ke lantai sembari menangis tersedu-sedu.


Ia mengingat momen saat bersama Calvin, anak itu selalu menunjukkan keceriaan nya pada siapapun.


Alex terbayang bagaimana saat Calvin tertawa, saat anak itu terus berceloteh menceritakan keseruan nya saat bertemu dengan teman-teman bermain nya, dan masih banyak kenangan yang terus terlintas di benak nya.

__ADS_1


Tidak beda dengan Jenni, wanita itu juga merasakan kehilangan seorang anak. Sejauh ini.


Jenni sangat dekat dengan Calvin, ia sudah menganggap nya sebagai anak nya sendiri.


Jenni juga teringat saat pertama kali bertemu dengan anak itu, dimana dirinya sedang berlari di sekeliling jalan dekat apartemen.


Ia masih ingat bagaimana lucunya Calvin, saat anak itu memintanya menjadi istrinya kalau sudah besar nanti.


Ia kembali teringat saat Calvin pernah meminta izin untuk menyebut Jenni dengan sebutan mommy, tapi Jenni tidak menanggapi permintaan Calvin karena merasa tidak nyaman.


Dan sekarang, Jenni merasa bersalah. Ia tidak memberinya izin, padahal hanya ingin memanggil dirinya dengan sebutan mommy.


"Maafkan mommy, Calvin."Jenni membuka suara. Suaranya terdengar lirih dan bergetar, sedangkan air matanya tak bisa ia bendung sejak tadi.


"Maafkan Mommy yang jahat pada mu, Calvin." Ia kembali menangis tersedu-sedu mengingat betapa jahat dirinya yang tidak menerima anak itu menyebut nya mommy, padahal di lubuk hatinya, ia sudah menganggap Calvin sebagai anaknya sendiri.


"Sudah sayang, kamu tidak pernah jahat pada Calvin. Kamu adalah ibu pengganti yang baik untuk nya." Akhirnya Alex tersadar dari kesedihannya, ia bangkit kemudian memeluk istrinya yang sedang menangis.


Keduanya berpelukan sambil memandangi tubuh Calvin yang tak bernyawa lagi dengan air mata yang terus mengalir.


Bayang-bayang Calvin terus memenuhi memori mereka berdua, seperti kaset yang di putar kembali, sangat terlihat jelas potongan-potongan memori itu tanpa tertinggal satu kejadian pun.


Mereka berdua benar-benar merasakan kesedihan yang mendalam. Jika bisa ditukar dengan semua yang Alex, tentu ia akan memberikan nya demi nyawa Calvin.


Sayangnya, tidak tawar menawar untuk umur yang telah ditetapkan oleh Tuhan, hingga manusia pun hanya bisa pasrah dan tak lagi bisa mengelak dengan namanya kematian.


Calvin...😭


...💙💙💙...


...TBC...

__ADS_1


See you next chapter 👋🙂


__ADS_2