Dosenku Sang Casanova

Dosenku Sang Casanova
Senjata Ampuh yang Malang


__ADS_3

Waktu terus berlalu, hari demi hari terus berganti. Tak terasa usia kandungan Jenni sudah memasuki bulan ke-sembilan. Itu artinya, hari yang begitu di nanti-nanti keluarga Alexander mulai mendekati.


Saat ini Jenni sedang melakukan olahraga pagi seperti biasa, olahraga yang dilakukan cukup ringan, hanya jogging di rooftop apartemen yang ditemani Alex.


Selama beberapa bulan ini Alex benar-benar tidak datang ke kantor. Dia fokus mengurus kehamilan istrinya yang begitu manja dan selalu membuat permintaan yang aneh-aneh. Tapi Alex dengan setia dan sabar mengabulkan semua permintaan istri nya.


"Sayang, hati-hati jalan nya." Tegur Alex saat tiba-tiba Jenni berjalan sedikit lebih cepat hingga tubuhnya hampir saja terpeleset.


"Iya. Maafkan aku, sayang. Tadi aku jalannya tidak hati-hati." Kata Jenni merasa bersalah.


Akhir-akhir ini Jenni mulai bersikap dewasa kembali. Sudah tidak terlalu sensitif, walau terkadang masih menunjukkan sifat kekanak-kanakan nya tapi tidak sesering sebelum nya.


"Tidak apa-apa, sayang. Yang penting lebih berhati-hati lagi ya... aku tidak ingin terjadi sesuatu pada kalian. Karena kamu dan baby kita adalah dunia ku, hidup ku." Kata Alex sembari menggenggam tangan Jenni dengan erat.


Jenni hanya tersenyum memandang wajah suami nya.


"Sayang, kamu melupakan sesuatu." Kata Jenni sembari memanyunkan bibir.


"Lupa apa, sayang?" Tanya Alex tak mengerti. Karena sebelumnya Alex tak menjanjikan apapun pada Jenni.


"Issh ... kamu pasti lupa." Kata Jenni mencebikkan bibir lalu memanyunkan sampai beberapa centi.


"Memang nya apa yang ku lupakan, sayang. Tolong beritahu suami mu. Maafkan aku karena tidak mengingat nya." Kata Alex lembut seraya menyentuh hidung mungil Jenni lalu beralih mengusap bibir itu yang sedang di majukan beberapa centi.


"Kamu lupa belum menyiapkan nama untuk baby girl, sayang..." Rengek nya manja.


Tubuh nya ia sandarkan pada bahu suaminya, tangan Alex dengan sigap membelit tubuh bengkak istrinya sembari terus berjalan.


"Oh iya, aku lupa. Maafkan Daddy karena lupa belum memberikan nama untuk mu girl." Kata Alex sedikit membungkukkan badan. Satu tangan nya mengelus perut Jenni yang terlihat sangat besar.


Ternyata bayi itu merespon perkataan ayahnya. "Sayang, Beby girl bergerak..!" Kata Alex antusias.


"Iya, sayang. Aku juga merasakan." Kata Jenni seraya mengelus rahang kokoh suaminya seraya menampilkan senyum yang begitu manis.

__ADS_1


"Kira-kira kapan ya Baby girl lahir." Gumam Alex. Dia melupakan pertanyaan istri nya tentang nama untuk baby girl.


"Kalau prediksi dari dokter masih kurang delapan hari, sayang." Kata Jenni.


"Masih lama ya ..." Lagi lagi Alex bergumam namun masih di dengar oleh istrinya.


"Iya, sayang. Masih delapan hari lagi." Kata nya lagi.


Jenni pun ikut merasakan penantian Alex dalam menyambut bayi nya. Memang Alex terlihat lebih antusias dan sangat menantikan kehadiran baby girl.


Bahkan semua perlengkapan untuk baby girl, semua nya Alex yang memilih. Mulai dari pakaian, sabun, tempat tidur, dekor kamar serta mainan yang sudah menumpuk di kamar baby girl.


Jenni hanya bisa geleng-geleng kepala melihat kelakuan suaminya saat di toko bayi. Bahkan hampir semua isi toko ingin dibeli Alex jika tidak diperingati oleh Jenni untuk tidak membeli nya terlalu banyak karena hanya berfungsi untuk beberapa bulan. Alex menurut saja saat sudah mendapat peringatan dari istri tercinta nya.


"Bagaimana kalau bayi nya lahir sekarang, sayang?" Tanya Alex sembari menatap wajah istri nya.


"Jangan ngaco!" Sanggah Jenni sembari melayangkan pukulan ringan di bahu sang suami. "mana mungkin lahir sekarang. Sedangkan aku saja masih belum merasakan apapun." Kata nya lagi dengan bersungut-sungut.


Sejak beberapa bulan lalu Alex memang sering meminta Jenni untuk melahirkan secara caesar, tetapi istri nya itu tetap bersikukuh untuk lahiran secara normal.


Padahal Alex begitu takut membayangkan istri nya lahiran. Dia sudah bisa membayangkan bagaimana sakit nya orang melahirkan karena dulu pernah melihat seorang wanita yang ingin melahirkan di rumah sakit.


Orang itu menjerit kesakitan dengan tangan nya yang terus menjambak suami nya saat brangkar itu sedang di dorong menuju ruang bersalin.


Alex bergidik ngeri membayangkan posisi dirinya yang akan menjadi seperti laki-laki itu, di jambak istri nya tanpa ampun. Tapi sebenarnya bukan itu titik fokus nya, Alex dapat melihat bagaimana sakit nya wanita itu saat mengejan ingin melahirkan di atas brangkar yang sedang di dorong menuju ruang bersalin. Dan suatu saat istri nya juga akan melakukan hal itu.


"Sayang, kenapa kamu tidak mau untuk melahirkan secara normal?" Tanya Alex entah untuk yang ke berapa kali nya. Alex memang sangat sering menanyakan hal ini, tapi tetap saja dia masih belum puas dengan jawaban istri nya.


"Kalau lahir secara normal maka aku bisa merasakan menjadi ibu seutuhnya. Tapi kalau aku lahiran operasi seperti ada yang kurang." Kata Jenni menjelaskan untuk yang kesekian kalinya.


"Sayang, bukankah lahiran secara operasi juga tetap kamu sudah menjadi ibu seutuhnya? Lahiran secara caesar juga merasakan sakit dan butuh perjuangan juga, sayang. Kamu jangan lupa akan hal itu." Kata Alex sedikit menegaskan. Dia memang tidak puas dengan jawaban istri nya yang menurut nya hanya lah sebuah alasan.


"Tapi kalau operasi maka luka nya akan membutuhkan waktu lama. Kalau melahirkan secara normal maka tidak akan butuh waktu lama dan kita bisa kembali melakukan hubungan lagi." Kata Jenni mengedipkan satu mata nya sengaja menggoda Alex.

__ADS_1


"Benarkah alasan mu memikirkan hal itu, sayang?" Tanya Alex penuh antusias. Dia tidak menyangka ternyata istri nya begitu perhatian terhadap nya. Bahwa Alex tidak akan betah bila berpuasa terlalu lama.


"Of course, sayang." Jawab Alex.


"Ya ampun, sayang ... Aku semakin jatuh cinta pada ku." Kata Alex mendekap tubuh istri nya.


"Tentu, sayang. Atau sekarang kira melakukan nya?" Tanya Jenni menawarkan seraya menaik-turunkan alis nya.


Entah mengapa, akhir-akhir nafsu Jenni semakin tinggi. Bahkan bisa dibilang sangat tinggi. Dia sering bekerja di atas Alex. Bahkan saat Alex sudah merasa puas pun Jenni masih bersemangat untuk bergerak liar di atas tubuh suami nya.


Bila dulu Alex yang sering meminta terus menerus melakukan hubungan hingga Jenni kuwalahan, sekarang seakan-akan Jenni lah yang memper-kosa suaminya.


Tak jarang Jenni yang tiba-tiba bergerak liar di atas tubuh Alex yang sedang tidur. Membuat Alex memekik kaget, namun juga merasa nikmat.


"Apa kamu tidak capek? Semalam kamu sudah bekerja sangat keras, dan sekarang masih ingin memuaskan ku lagi?" Tanya Alex sedikit tak yakin.


"Tentu masih kuat, aku malah menginginkan nya." Kata Jenni penuh semangat.


Akhirnya mau tak mau Alex pun membawa istri nya ke apartemen. Mereka langsung menuju kamar untuk melakukan ritual suami-istri seperti biasa.


Setelah beberapa saat, Jenni sudah mencapai kepuasan sedang Alex masih belum mencapai puncak. Namun tiba-tiba Jenni merasa perutnya sakit hingga akhirnya dia menghentikan pergerakan nya.


"Sayang, kenapa berhenti?" Tanya Alex sedikit merasa kesal karena dia belum mencapai puncak nya.


"Perutku sakit ... sepertinya akan melahirkan." Kata Jenni lirih sembari mengernyit merasakan sakit.


"What??!!" Pekik Alex. Padahal senjata ampuh nya belum juga dijinakkan tapi tiba-tiba istri nya berkata akan segera melahirkan.


"Aaaaa.... sakit...!" Jerit Jenni dengan begitu keras.


Akhirnya dengan terpaksa Alex membalut tubuh istri nya menggunakan baju alakadarnya. Lalu dia meraih celana bokser yang tergeletak di lantai. Kemudian dengan segera Alex menggendong tubuh istri nya untuk dibawa ke rumah sakit tanpa menghiraukan tubuhnya yang hanya terbalut celana bokser dengan senjata ampuh yang masih tegak bersambung karena belum terpuaskan.


Sungguh, senjata ampuh yang malang, telah di php oleh istri. Lalu selama kurang lebih 40 hari dia tetap tidak bisa memasuki lubang kenikmatan surgawi nya setelah proses melahirkan.

__ADS_1


__ADS_2