
Di tempat yang berbeda, terlihat sepasang suami istri yang duduk berdekatan namun hati seperti saling berjauhan.
Lebih tepatnya Jenni yang menjauhi Alex, ia tak lagi hangat seperti biasanya, ia tak lagi cerewet seperti semula. Yang dilakukan nya hanyalah diam, diam dan diam.
Entah apa yang dipikirkan wanita itu, tapi sepertinya ia masih sangat enggan untuk berinteraksi dengan laki-laki di sebelah nya yang berstatus sebagai suaminya.
"Sayang, makan dulu. Kamu pasti lapar, sejak tadi belum malam." Bujuk Alex yang berbeda di sebelah Jenni.
Saat ini mereka berdua sedang menikmati pemandangan kendaraan lalu lintas yang berlalu lalang dari balkon kamar apartemen.
Bella memang sudah keluar dari rumah sakit setelah pemakaman Calvin, karena saat ini tidak perlu ada yang dikhawatirkan dengan kondisi Jenni.
Fisik nya sudah sehat, hanya menunggu luka di lengannya kering.
Sedangkan secara psikis, Jenni masih sedikit terguncang, namun tidak seperti semula.
Seharusnya jika di datangkan psikolog mungkin akan semakin mempercepat penyembuhan Jenni, namun Alex tidak melakukan hal itu karena takut Jenni akan semakin membenci nya dengan mengira kalau Alex menganggap dirinya gila, dan Alex tidak akan melakukan hal itu yang akan membuat hubungan nya semakin rumit.
"Sayang," Alex mencoba menyentuh lengan Jenni yang tidak terluka, namun sang istri tetap bergeming di tempat nya.
Jenni tak menyahuti ucapan Alex,dan itu tidak sekali dua kali, namun berkali-kali.
Setiap perkataan Alex tak pernah ditanggapi oleh Jenni. Awalnya Alex mengira hal itu karena kondisi mental nya yang sedang tidak stabil.
Ternyata Alex salah, Jenni berlaku seperti itu hanya saat bersama nya.
Namun, saat orang lain yang mengajaknya bicara, maka sedikit-sedikit ia akan merespon meski tak seceria biasanya.
Ting
Ponsel Alex yang sedari tadi ia genggam, akhirnya berbunyi.
Terlihat sebuah pesan masuk berupa gambar dari Dion.
Alex membuka kemudian membaca isinya, ternyata itu adalah penjelasan detail dari hasil visum Jenni.
__ADS_1
Alex tersenyum bahagia setelah melihat hasil itu, ternyata semua orang suruhan Bella tidak benar-benar menyetubuhi Jenni. Terbukti dari hasil visum menjelaskan, tidak ada bekas pelecehan di **** ***** Jenni.
Meski seluruh tubuhnya telah di jamah, tapi tidak dengan bagian terlarang itu.
"Sayang, aku ada kabar baik untuk mu." Kata Alex bahagia penuh haru menghiasi wajah nya.
Seperti biasa, Jenni tak merespon perkataan Alex.
"Sayang, dari hasil visum menjelaskan, kalau kamu tidak pernah di perkosaa oleh para laki-laki bajingann itu." Alex tetap melanjutkan perkataannya. Meski istri nya tidak merespon, tapi Alex yakin kalau wanita nya tetap mendengarkan setiap kata yang ia lontarkan.
Terbukti, Jenni merespon! ia menoleh menatap Alex yang berada di samping nya dengan air mata yang hampir tumpah.
"Apa maksudmu?" Tanya Jenni lemah.
"Sayang, lihatlah ini." Alex menunjukkan foto hasil pemeriksaan itu, rasanya saat ini dia sangat bahagia. Terlebih, Jenni kembali merespon dirinya.
"Kau tidak sedang mencoba membohongi ku, kan?" Tanya Jenni masih tidak percaya.
"Sungguh, aku tidak bohong, sayang. Ini adalah hasil pemeriksaan mu, yang tidak sempat diberikan dokter karena langsung pulang setelah pemakaman Calvin." Jelas Alex.
"Ya, aku juga bahagia, sayang." Sahut Alex dengan senyum tersungging di bibirnya, tangan nya mengusap lembut punggung tangan Jenni untuk menenangkan wanita milik nya.
"Kamu sudah tidak marah lagi?" Tanya Alex sembari menghirup udara dalam-dalam, merasakan betapa sejuknya suasana saat ini.
"Tidak, mengapa aku harus marah pada mu?" Jenni berbalik melontar pertanyaan pada Alex.
"Lalu, mengapa kau tidak mau bicara pada ku, hem?" Tangan Alex tak bisa berhenti mengelus punggung Jenni yang masih terbungkus gaun.
"Itu karena aku merasa kotor, dan tidak pantas untuk mu." Wajah Jenni kembali sendu saat mengingat apa yang telah terjadi pada nya.
"Itu tidak mungkin sayang, aku tidak pernah menyalahkan mu dalam hal ini. Justru, aku lah penyebab dari semua penderitaan yang kau alami." Alex juga merasa sangat bersalah karena menjadi penyebab wanita nya mengalami semua permasalahan yang menimpa.
"Tentu, aku memaafkan mu, suami ku." Jenni dan Alex kembali berpelukan dengan hangat, keduanya sangat menikmati momen ini.
Ditambah, cuaca sore ini yang begitu mendukung momen mereka.
__ADS_1
"Hallo baby, terima kasih sudah menjadi anak yang baik. Terima kasih, sudah menjaga mommy." Alex meraba perut Jenni setelah wanita itu mengendurkan pelukan nya.
Alex mencoba berinteraksi pada sang anak setelah sekian lama tidak pernah lagi menyapa anaknya itu.
"Hallo juga daddy, of course, dad." Jenni menyahuti ucapan Alex dengan menirukan suara nya seperti anak kecil.
Setelah itu, pasangan suami istri itu tertawa bersama.
Akhirnya, keduanya kembali merasa bahagia. Semoga ini adalah awal kebahagiaan mereka. Tidak ada lagi rintangan yang menghalangi kehidupan mereka.
Ah, rasanya Alex ingin mengenang mengingat momen ini. Ia akan selalu mengingat tanggal saat ini untuk merayakan hari bahagia nya, karena Jenni nya telah kembali. Ingatkan Alex untuk merayakan momen bahagia di tanggal ini.
Alex kembali menemukan dunia nya, Jenni yang cerewet, Jenni yang banyak bicara sudah kembali, tidak ada lagi Jenni yang berdiam diri tanpa mau merespon perkataan nya.
"Alex, maafkan aku." Jenni mendongak menatap wajah suaminya setelah mengelap ingus nya di kemeja Alex namun tidak di ketahui oleh suami nya.
"Untuk apa?" Alex menautkan kedua alisnya saat Jenni meminta maaf, padahal istri nya tidak pernah bersalah, semua permasalahan yang terjadi adalah karena dirinya dan Alex mengakui hal itu.
"Maaf, baju mu kotor karena ingus ku." Jawab Jenni memasang wajah memelas seperti anak kecil.
Sedangkan Alex mendelik setelah mendengar jawaban sang istri, tapi ia juga tidak memarahi istri nya. "Tidak apa sayang, lap saja sepuas mu. Tapi ...," Kata Alex sembari menyeringai menatap wajah cantik wanita nya.
"Kau harus membayar dengan tubuh mu." Alex berbisik tepat di telinga Jenni, sedangkan tangannya berhasil menyentuh aset berharga milik wanitanya.
Tubuh keduanya masih saling berpelukan, dengan posisi Jenni berada di pangkuan Alex, hingga pria itu dengan mudah menerkam wanitanya.
Dengan tidak sabaran Alex menggendong wanita nya ke dalam kamar, ia membaringkan Jenni di atas ranjang setelah menutup semua pintu dan jendela kamar nya.
Kini saat nya Alex menjenguk anaknya setelah sekian lama tidak dapat mengunjungi karena masalah yang di hadapi.
Alex dan Jenni melakukan nya dengan bahagia tanpa tahu ada seorang wanita di luar sana yang sedang berjuang untuk hidup nya, entah bisa bertahan atau tidak yang jelas saat ini adalah puncak kesakitan yang dirasakan oleh wanita itu.
...πππ...
...TBC...
__ADS_1
See you next chapter πβΊοΈ