
Happy reading 💞
🍁🍁🍁
Alex memperhatikan wajah anak laki-laki itu yang sangat mirip dengan dirinya, dan saat itu pula Alex menitihkan air matanya sambil mendekati anak itu.
"Bella, apa ini benar anakku..?" Tanya Alex dengan nada lembut dengan air mata sudah menggenang di pelupuk mata nya hingga dengan satu kali kedipan saja luruh sudah air mata itu dari pelupuk nya.
Tangan alex terulur menyentuh wajah anak itu sambil memaksakan senyum nya.
"Apa benar ini anakku Bella??" Alex mengulangi pertanyaan nya karena Bella masih diam membisu.
"Apa perlu aku mengatakan nya Alex??" Jawab Bella, karena ia mengetahui kalau Alex pasti sangat percaya bahwa anak yang ada di hadapan nya adalah anak nya.
Bagai pinang dibelah dua, wajah nya memang sangat mirip dengan Alex.
Sekarang Alex pun sangat percaya bahwa anak itu adalah anaknya.
"Anak Daddy..kau tampan sekali nak..siapa nama mu?" Alex menggendong anak itu dan menatap mata jernih itu.
"Nama ku Calvin dad.." ujar Calvin denga wajah berseri-seri. Ia sangat merindukan sosok ayah nya yang setiap hari hanya bisa menatap nya melalui foto.
"Good, boy! dari mana kau tahu aku ini Dady mu hm..?" tanya Alex saat Calvin langsung memanggil nya dengan sebutan Dady.
"Karena setiap kali aku merindukan Dady, aku selalu melihat foto mu yang pernah di berikan mommy pada ku, dan kata mommy..kau ini adalah dad ku." ujar nya lucu.
Calvin masih menatap wajah Dady nya seakan ingin menyembuhkan rasa rindu nya selama ini.
Alex yang sangat gemas langsung menghujami ciuman di wajah anak laki-laki itu.
"Daddy geli ahahaha.." Calvin mencoba menghindari ciuman Alex yang membuat nya geli.
__ADS_1
Bella yang melihat interaksi kedua nya pun ikut terharu, ia sangat bahagia saat melihat anak nya tertawa lebar.
Alex yang menyadari hal itu langsung menghentikan aksi nya, ia teringat pada Jenni dan merasa sangat bersalah padanya.
Ia tidak mungkin tega memberi tahukan hal ini padanya, yang pasti nya akan membuat nya sangat terluka dan Alex tidak menginginkan hal itu terjadi.
Ia sungguh dilema dengan kenyataan ini, bagaimana pun Calvin adalah darah daging nya.
Alex tidak mungkin menelantarkan nya lagi setelah sekian lama tidak pernah bertemu dengan anak nya.
Disisi lain, ia juga tidak ingin jika nanti Jenni mengetahui hal ini dan membuat nya terluka apalagi sampai meninggalkan nya.
"Dady kenapa..?" tanya Calvin saat melihat wajah gusar Alex. Tangan mungil itu terulur mengelus wajah Alex.
Alex langsung mencium nya saat tangan mungil itu menyentuh sudut bibirnya.
"Dady tidak apa sayang..hanya rindu pada mu.." ujar Alex sambil memaksakan senyum, bohong jika Alex mengatakan tidak apa apa. Nyata nya saat ini ia sedang tidak baik-baik saja.
"Dady hanya merindukan mu karena selama ini Dady tidak pernah menemui mu."
"Benar kah Dady merindukan ku?." ujar nya kegirangan dengan mata berbinar.
"Aku pikir hanya aku yang merindukan Dady, karena selama ini Dady tidak pernah menjenguk ku dan mommy.." ucap nya lirih dengan kepala menunduk lesu.
Alex yang melihat nya menjadi tidak tega.
"Tentu boy, Dady sangat merindukan mu, tapi Dady sangat sibuk jadi tidak ada waktu untuk menjenguk mu." Alex mencoba memberi pengertian pada Calvin yang masih menunduk supaya mengerti keadaan Dady nya.
"Iya, aku mengerti dad. Dady pasti bekerja keras terus, maka nya menjadi orang hebat. Aku ingin seperti Dady kalo sudah besar." jawab Calvin begitu antusias.
Alex hanya tersenyum saja sambil menurunkan Calvin dari gendongan nya.
__ADS_1
Pikiran nya masih kalut memikirkan semua ini.
Bella yang mengerti kegusaran Alex pun pamit pada Alex untuk pulang.
Ia membujuk Calvin untuk pulang dulu.
"Sayang.. sekarang pulang dulu ya..besok kita bisa kesini lagi untuk bertemu Dady." bujuk Bella pada Calvin
"Benarkah mom, besok kita kesini lagi??" tanya Calvin penuh harap.
"Tentu sayang.. sekarang kita pamit pada Dady.."
Akhirnya Calvin pun mau meninggalkan Alex.
Sebelum pulang, Calvin menyodorkan tangan nya kemudian salim pada Alex.
Alex pun tersenyum melihat tingkah anak nya yang menurut nya ia tumbuh menjadi anak baik.
Alex tidak heran, karena sebenarnya Bella juga wanita yang baik tentu ia juga mengajarkan anaknya menjadi anak yang baik.
Setelah keduanya meninggalkan ruangan, Alex kembali menyandarkan tubuh nya di kursi kerja nya.
Kepala nya menengadah ke atas, pikiran nya menerawang jauh, Ia mengusap wajahnya kasar.
"Bagaimana ini? apakah aku harus jujur pada Jenni? lalu bagaimana jika Jenni tidak menerima nya dan justru meninggalkan ku..?" gumam Alex dalam hati.
...----------------...
...❤️❤️❤️...
...TBC...
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejak ya..biar Author gak mengsedih 😭