Dosenku Sang Casanova

Dosenku Sang Casanova
Jenni pingsan


__ADS_3

"Kenapa kamu tidak kembali ke negara asal mu? Biarkan Calvin tinggal disini bersama Alex dan Jenni. Tidak perlu khawatir, Jenni wanita baik, dia pasti akan merawat Calvin dengan baik juga." Saran ibu Anin, meski Bella sudah menjelaskan tapi sepertinya ia tetap tidak menyukai jika ada wanita lain di rumah anak nya.


Apalagi wanita itu tidak lain dan tidak bukan adalah masa lalu Alex, tentu itu akan menjadi bumerang dalam rumah tangga anak nya.


"Ibu jangan seperti itu ... " Alex merasa tidak enak hati pada Bella karena sang ibu secara tidak langsung tidak menyetujui Bella tinggal bersama mereka.


"Bella sudah lama tidak tinggal bersama orang tua nya, semenjak orang tua nya tahu kalau Bella hamil, ia di usir dari rumah, ia mengandung dan melahirkan Calvin sendirian tanpa bantuan orang tua nya. Selama ini dia juga merawat Calvin sendiri ibu." Alex masih saja memihak Bella.


Tidak tahu saja, bahwa pembelaan yang dilakukan Alex membuat seseorang yang sejak tadi diam merasakan hati nya hancur berkeping-keping.


Bagaimana mungkin suaminya menunjukkan perhatian pada wanita selain dirinya?


Ia sangat tidak menyangka Alex masih saja menyakiti hati nya setelah berulang kali Jenni memaafkan kesalahan Alex.


Jenni berfikir apakah Alex masih mencintai mantan kekasih nya?


Dari sikap nya yang di tunjukkan pada Bella membuat Jenni kembali meragukan cinta Alex.


"Berarti kamu juga tinggal sendiri di sana?" Tanya sang ibu lagi pada Bella.


"Iya ibu ... " Jawab Bella dengan posisi menunduk.


Sang ibu menghela nafasnya berat, tidak masuk akal pikir nya.


Jika memang selama ini dia tinggal di sana sendirian, lalu kenapa dia mempermasalahkan saat tinggal di sini juga sendiri?


"Kalau memang kamu sudah terbiasa hidup sendiri lalu kenapa sekarang mempermasalahkan tinggal sendiri di sini?" Tanya sang ibu mengintimidasi Bella.


"Aku ... "


"Ibu, saat ini Bella sedang sakit, kasihan kalau Bella tinggal sendirian. Bagaimana jika tiba-tiba sakit tidak ada yang mengetahui?" Alex tiba-tiba memotong ucapan Bella dan hal itu berhasil meruntuhkan tembok pertahanan kesabaran Jenni sejak tadi.


"Sudahlah ibu, biarkan mereka tinggal di sini, aku tidak masalah." Kata Jenni datar, namun matanya menyiratkan kekecewaan yang begitu besar pada Alex.


"Apa yang kamu katakan Jenni? kamu mengizinkan wanita lain berada diantara kehidupan kalian?" Tanya sang ibu tidak percaya.


"Aku tidak masalah ibu, Calvin sudah ku anggap seperti anak ku sendiri. Biarkan mereka tinggal disini." Kata Jenni lagi.


"Benarkah sayang?Terimakasih sudah mengizinkan mereka tinggal di sini." Kata Alex sembari melangkah mendekati Jenni.


Alex begitu senang mendengar Jenni mengizinkan Calvin dan Bella tinggal bersama.


Saat Alex tepat dihadapan Jenni, dengan segera ia mengulurkan kedua tangan nya untuk memeluk tubuh Jenni.


Namun belum sempat ia menyentuh tubuh itu, Jenni lebih dulu melangkah mundur sehingga kedua tangan Alex yang sudah dia ulurkan itu kosong memeluk angin.


"Sayang ... " Panggil Alex lirih saat menyadari Jenni menatap nya dengan tatapan nanar.


"Aku tidak berhak melarang siapapun untuk tinggal di sini karena ini adalah rumah mu Alex ... "

__ADS_1


"Apa yang kamu katakan sayang, kamu..--" Alex memotong perkataan Jenni, namun belum selesai berkata, Jenni kembali bersuara.


"Bukan kah memang seperti itu kenyataan nya Alex? Rumah ini adalah milik mu, jadi kamu berhak membawa siapapun untuk tinggal disini termasuk mantan kekasih mu, lebih tepatnya ibu dari anak mu." Kata Jenni sedikit menaikkan intonasi nya.


"Say..--"


"Maafkan aku karena selama ini terlalu banyak mengatur hidup mu. Maaf jika selama ini belum bisa menjadi istri yang baik untuk mu. Sekarang aku membiarkan mu melakukan sesuka mu, aku tak akan lagi melarang mu. Silahkan jika mereka akan tinggal disini karena aku sendiri yang akan pergi."


"Apa yang kamu katakan Jenni??" Alex marah ketika mendengar Jenni ingin pergi dari nya, bagaimana bisa ia melakukan itu pikirnya.


"Aku hanya meminta mu untuk menerima Bella tinggal bersama kita karena dia sedang sakit, itu saja. Lalu kau ingin pergi? Jangan harap kamu bisa pergi dari sini!!" Bentak Alex yang sudah tersulut emosi.


"Kamu egois Alex!!!" Teriak Jenni.


"Kamu juga..--" Alex tidak melanjutkan ucapan nya saat melihat tubuh Jenni tiba-tiba limbung hingga terjatuh ke lantai.


"Jenni!!"


"Jenni!"


Teriak Alex dan ibu Anin secara bersamaan, mereka begitu panik saat tiba-tiba Jenni pingsan.


Alex langsung berjongkok ke depan tubuh Jenni lalu mengangkat nya karena tidak berhasil menjangkau tubuh itu saat limbung hingga akhirnya terjatuh ke lantai.


Alex berjalan ke arah sofa sembari terus membawa tubuh Jenni ala bridal style.


"Sayang ... tolong jangan membuat ku khawatir, bangun sayang ... " Dengan suara bergetar Alex terus berbicara pada Jenni yang tetap saja tidak ada sautan dari Jenni.


Alex langsung merogoh saku celana nya untuk mengambil ponsel kemudian men dial salah satu kontak di hp nya.


"Hal..--"


"Cepat kau datang ke apartemen ku sekarang, istri ku tidak sadarkan diri." Kata Alex pada orang di seberang sana.


"Sorry, aku sedang berada di luar kota, lebih baik hubungi dokter lain saja." Kata dr. Anggi di seberang sana.


"Aku tid..--"


Tut


"Ah ... shiitt!" Umpat Alex saat tiba-tiba sambungan telepon nya di matikan oleh dr. Anggi padahal ia belum selesai berbicara.


"Alex, sebaiknya kita bawa Jenni ke rumah sakit sekarang." Kata sang ibu yang juga tak kalah panik setelah sang ibu berada di hadapan Alex.


Alex hanya mengangguk menuruti perintah sang ibu, kemudian mengangkat kembali tubuh Jenni dan membawa nya keluar.


Saat di depan mobil, Alex menyuruh ibu nya untuk masuk di kursi belakang dulu supaya tubuh Jenni bisa di baringkan ke paha ibu nya.


"Ibu masuk lah lebih dulu," Sang ibu hanya mengangguk kemudian membuka pintu mobil.

__ADS_1


Setelah itu Alex ikut masuk kemudian membaringkan kepala Jenni ke pangkuan sang ibu dan meluruskan kaki Jenni supaya nyaman.


Setelah posisi Jenni terlihat nyaman, Alex buru-buru keluar untuk pindah ke kursi pengemudi.


Namun baru saja membuka pintu maobil, suara Bella menghentikan langkahnya.


"Alex, boleh kah aku ikut kalian? Aku khawatir takut terjadi sesuatu pada Jenni."


Alex hanya mengangguk karena tidak ingin berlama-lama di sana.


Bella pun tersenyum akhirnya ia mengikuti Alex yang juga ikut duduk di kursi depan sambil memangku Calvin.


Alex menyadari kalau sejak tadi Calvin hanya diam tidak seperti biasanya, tapi ia enggan untuk bertanya karena saat ini yang di pikirkan hanyalah Jenni.


Ibu Anin yang mengetahui Bella ikut mereka hanya menghela nafas, ia sangat tidak suka pada Bella.


Apalagi saat ini ia justru duduk di sebelah Alex, membuat nya benar-benar membenci sosok Bella yang menurut nya terlalu caper pada Alex.


Setelah beberapa menit, mobil Alex tiba di parkiran rumah sakit.


Alex langsung keluar dari mobil dengan tidak sabaran kemudian membuka pintu mobil belakang dan mengangkat tubuh Jenni.


"Dokter!!!" Teriak Alex saat sudah sampai di depan ruang IGD.


Tanpa menunggu lama, beberapa perawat langsung mendorong brangkar ke hadapan Alex dan membantu nya memindahkan tubuh Jenni kesana kemudian mendorong nya menuju ruang pemeriksaan.


"Tolong bapak tunggu disini sebentar." Cegah salah satu perawat saat melihat Alex ingin masuk ke sana.


Alex menuruti nya kemudian berjalan menuju tempat duduk yang ada di sana.


Beberapa menit kemudian, dokter yang memeriksa Jenni keluar dari ruangan.


"Bagaimana keadaan istri saya dok? dia baik-baik saja kan? selama ini istri saya tidak pernah mengeluh sakit apapun." Alex langsung memberondong dengan begitu banyak pertanyaan.


"Apakah anda suaminya?" Tanya sang dokter tanpa menjawab pertanyaan Alex.


"Tentu saja saya suaminya! Cepat katakan istri saya sakit apa dokter!" Kata Alex dengan tidak sabaran, ia juga sedikit emosi pada dokter itu karena bukannya menjawab, justru melontarkan pertanyaan yang tidak mutu menurut nya.


"Mari ikut ke ruangan saya pak." Kata dokter itu kemudian berjalan tanpa menunggu jawaban Alex.


"Shittt!" Alex kembali mengumpat saat dokter itu sudah beranjak dari sana, dengan segera ia pun menyusul ke ruangan dokter itu.


...❤️❤️❤️...


...**TBC...


Jangan lupa tinggalkan jejak..


See you next chapter 👋**

__ADS_1


__ADS_2