
Jenni mengerjapkan mata beberapa kali untuk menyesuaikan silau matahari yang mengganggu pencahayaan nya.
"Alex." Gumam Jenni saat pertama kali ia terbangun mendapati suami nya yang memeluk tubuh nya erat, masih terlelap begitu pulas. Wajah nya terlihat begitu tenang seakan memberi magnet pada Jenni untuk mengelusnya.
"Sayang, bangun sudah pagi." Bisik Jenni di telinga Alex.
Laki-laki itu tersenyum padahal belum membuka mata. "Morning, sayang." Sapa Alex dengan suara serak nya.
Tiba-tiba tubuh Alex sudah berada di atas tubuh Jenni, kedua tangan nya mengungkung kedua sisi tubuh Jenni agar tidak menindih wanita nya.
"Sayang, kita olahraga pagi dulu." Alex menaik-turunkan alisnya.
Sedangkan mata Jenni membulat sempurna. "Nggak! Ayo, turun." Jenni berusaha menggeser tubuh berotot suami nya yang tentunya tidak akan bisa.
"Ayolah, sayang. Semalam kita tidak melakukan nya." Kata Alex memelas.
"Itu karena kau yang pulang terlambat." Sahut Jenni menatap wajah suami nya yang tepat di atas nya.
"Maafkan aku." Kata Alex sendu. Sejujurnya ia sangat merasa bersalah telah membuat istri nya menunggu lama hingga ketiduran fi sofa, apalagi mengingat istri nya sedang mengandung maka semakin besar pula rasa bersalah pada diri Alex.
"Sudah, tidak apa. Kamu pasti banyak pekerjaan hingga lembur dan pulang larut." Jenni seakan tahu kesedihan pada suami nya, ia mengelus wajah suami nya dengan gerakan lembut untuk menenangkan nya.
Alex mengecup tangan Jenni saat tangan itu berada di dekat bibir nya.
"Maafkan aku. Sungguh aku tidak berencana untuk pulang sampai larut." Kata Alex lembut.
"Kenapa kamu harus menunggu ku? seharusnya kamu istirahat saja sayang, jaga kesehatan mu dan baby kita." Jenni tiba-tiba mengembangkan senyum.
Hampir saja lupa dengan tujuan semalam kenapa dia menunggu Alex pulang kerja. Untung saja secara tidak langsung Alex mengingatkan nya.
"Sayang, aku ada sesuatu untuk mu." Kata Jenni kemudian bangkit dari tidur nya.
__ADS_1
Ia menatap ke setiap sudut ruangan untuk mencari benda yang ingin di tunjukkan pada Alex.
"Kami cari apa, sayang?" Tanya Alex. Ia sedikit tidak mengerti dengan apa yang akan di lakukan Jenni.
"Apa kamu melihat amplop coklat? Ah ya! semalam aku membawa nya di ruang tamu." Kata Jenni setelah mengingat-ingat benda itu.
"Apa ini?" Tanya Alex. Ia menunjukkan benda yang sejak tadi di cari istri nya.
"Ah, ya! kau dapat dari mana? kenapa ada pada mu? kami belum membuka nya kan?" Tanya Jenni cepat dan beruntun.
Sedangkan Alex hanya menggelengkan kepala sembari tersenyum melihat istri nya.
Dengan gemas Alex menjepit hidung istri nya. "Aku belum membuka nya sayang, lagian aku nggak tahu apa isi amplop itu?" Tangan nya masih menempel di hidung istri nya.
"Issh Alex! Aku nggak bisa nafas!" Jenni kesal pada Alex karena tak kunjung melepaskan jepitan jari nya yang ada di hidung nya.
"Hahaha lagian aku gemes sama istri ku ini. Kenapa kamu cantik banget ya? Rasanya pengen ku makan setiap saat." Alex mendekat ke arah istri nya kemudian membawa nya ke dalam pelukan.
"Auhh ... Alex sakit!!" Jenni berteriak keras karena kesakitan.
Sedangkan Alex malah tersenyum seakan tidak melakukan kesalahan apapun pada istri nya.
"Lagian kamu gemesin banget." Sekarang gantian mulut dan hidung Alex menguyel-uyel pipi Jenni dan menciumi seluruh wajah nya hingga membuat Jenni kegelian. Dia benar-benar sangat gemas pada istri nya.
"Alex hentikan dulu, aku ingin menunjukkan sesuatu pada mu." Kata Jenni mencegah mulut dan hidung Alex yang sedang bersiap mengendus ke bagian tubuh yang lain.
"Apa itu sangat penting?" Tanya Alex.
"Tentu!"
"Lihatlah!" Perintah Jenni sembari menunjukkan foto hasil USG.
__ADS_1
Sedangkan Alex mengerutkan dahi nya. "Apa itu, sayang?" Tanya Alex yang memang tidak mengerti apa maksud nya.
"Ini gambar baby kita, sayang ... " Jenni menunjuk bagian gambar di sana.
"Jadi kemarin, dokter Hana memeriksa baby sekaligus mengecek jenis kelamin nya."
"Jenis kelamin nya apa, sayang?" Tanya Alex tidak sabaran. Ia sungguh tidak tahu apapun maksud gambar itu.
"Apa kamu tidak akan kecewa jika jenis kelamin nya tidak sesuai dengan yang kamu inginkan." Jenni menatap lekat mata Alex penuh kekhawatiran.
"Kamu bicara apa, sayang? Tentu aku akan sangat senang apapun jenis kelamin nya. Yang penting baby dan kamu sehat. Itu sudah cukup membuat ku bahagia." Alex kembali mendekap erat tubuh Jenni.
Sedangkan Jenni tersenyum lega dalam dekapan Alex. "Syukurlah, sayang. Aku khawatir kamu akan kecewa."
"Sudahlah, jangan bahas itu lagi. Aku tidak perlu mengetahui jenis kelamin nya. Aku tidak mau membuat mu bersedih. Aku akan menunggu sampai baby lahir saja. Dan ingat kata-kata ku! Apapun jenis kelamin anak kita, dia akan tetap menjadi sumber kebahagiaan ku setelah kamu." Tutur Alex lembut yang tak terasa membuat wanita di dekapan nya meneteskan air mata.
Sungguh emosi ibu hamil tidak stabil, ia gampang terharu maupun gampang marah. Dan tugas Alex lah yang menenangkan nya.
"Sayang, jenis kelamin anak kita perempuan." Cicit Jenni.
...πππ...
Halo allπ
Maaf lama banget nggak up, novel ini akan tetap saya lanjutkan. Hanya saja, tidak bisa sering update karena saya akan lebih fokus update untuk novel Adrian.
Jadi, untuk novel ini mohon maaf jika harus menunggu lama. Tapi tetap akan saya lanjutkan, jangan khawatir di gantungkan yah ...π€π
Oke, thanks all.
Sampai berjumpa di next chapter ππ
__ADS_1