
Ellena sudah masuk kekamarnya, kamar itu sudah disulap begitu romantis. Kain kain sutra sudah terpasang disetiap tiang ranjangnya, kelopak kelopak mawar merah ditata berbentuk hati ditengah ranjang. Wangi Aroma terapy menguar diseluruh penjuru. Dan dijendela balkon sudah terpasang tirai sutra putih dn juga sebotol wine dibalkon itu.
Hah... mereka semua begitu mengharapkan pernikahan ini.
"Kenapa belum berganti baju?"
Itu suara Dav, dia sudah kembali kekamar. Dia melepas dasi kupu kupunya dan juga tuxedonya, terlihat wajah lelahnya. Ellena tersenyum dan sedikit malu melihat pemandangan didepannya. Ayolah dia normal, saat melihat lelaki yang notabennya adalah suaminya, dia akan tergoda.
"Aku tak bisa membuka resleting gaun ini"
"Mari kubantu"
Ellena menghadap kemeja riasnya menatap wajah Dav yang begitu serius saat membuka gaunnya. Gaun ini memang rumit, dan resleting ini sengaja dikunci agar tak bisa turun dengan mudah. Gaun ini memang tertutup tapi ini begitu ketat jadi harus dikunci. Dan juga strepless yang membuat sesak jadi banyak simpul dan resleting dibadan Ellena.
"Bagaimana mereka memakaikan ini tadi?"
"Aku terlalu gugup jadi tak terlalu memerhatikan mereka memasangkan gaun rumit ini"
"Digunting saja ya, gaun ini terlihat sesak??"
"Sayang kalau dirusak, ini sangat berharga"
"Tapi ini susah Ellena... kau mau tidur dengan seperti ini? Toh nanti tetap akan kurusak diatas ranjang, jadi pilih dirusak sekarang atau nanti?"
Ellena meremang mendengar kata itu, dia menyiapkan mental untuk itu semua. Dan dia harus siap sekarang.
"Kalau begitu rusak saja disini!!"
"Baiklah..ambilkan gunting!"
Ellena menyerahkan gunting dari lacinya pada Dav dan segera baju itu dirusak. Menggunting gaun itu searah dengan resletingnya, karena menurutnya kalau Ellena bagitu menyayangi gaun ini, nanti bisa dibetulkan oleh desainernya.
Dav melihat bahu halus Ellena, tangan Dav membelainya lembut membuat Ellena menggigit bibir bawahnya.
"Biarkan aku mandi dulu Dav,"
"Baiklah, mandilah kau pasti penat!"
"Tunggu aku!"
Ellena mengecup pipi Dav sekilas dan segera mandi. Ellena mengumpulkan semua nyalinya untuk suaminya. Fia sudah siap untuk acara selanjutnya.
Ellena segera mandi dan memakai gaun malamnya yang sudah disiapkan pelayannya.
Ellena menepuk jidatnya saat tahu gaun malamnya berbahan sutra yang sangat tipis. Dan hampir tak bisa menutupi separuh pahanya.
Ellena terpaksa mengenakannya karena saat melihat walk in closetnya tak ada gaun tidur lain.
"Sial.."
Mau tak mau Ellena segera memakainya dan segera melangkah keluar sambil mengeringkan rambut basahnya.
Ellena berjalan kearah meja riasnya untuk mengeringkan rambutnya.
Dia melihat Dav dibelakang jendela menghadap balkon melihat wine diatas meja balkon.
"Mandilah"
"Hm.."
Dav menegang saat melihat penampilan Ellena, gaun tidur kurang bahan dan rambut panjang basahnya.
Dav menghampiri sang wanita, mengecup bahu terbuka Ellena.
"Aku akan mandi cepat!"
"Tak ada yang akan merebut malam pengantinmu sayang"
"I know'
Setelah Dav melesat kekamar mandi, Ellena segera mengeringkan rambutnya dan memakai skin care.
Saat Dav keluar dari kamar mandi, Ellena sudah berbalik. Dav hanya memakai celana pendeknya, memperlihatkan seluruh tubuh bagian atasnya.
Ellena sempat terpana, tubuh atletis Dav hampir sama dengan Leo. Dan Ellena cukup tergoda dengan itu. Bahkan traumanya seakan hilang. Mungkin ini yang dicoba jelaskan oleh Mella, saat bersama suami merasa lebih nyaman dan tenang.
"Mau minum anggur?"
Dav sudah didepannya mengulurkan tangan, Ellena hanya tersenyum dan menerima uluran tangan itu. Menuntun Ellena kebalkon dan mendudukkannya dipangkuannya. Ellena dengan senang hati menuruti Dav karena memang dia begitu ingin lebih dekat dengan Dav. Dav meletakkan kedua tangannya kesisi paha Ellena dan menyuruhnya untuk menuang wine itu.
Ellena membuka wine itu dan segera menuangkannya didalam gelas gelas berkaki.
"Apa kau sering ke kelab?"
"Ya dulu sebelum aku bertemu denganmu"
"Kenapa tak kesana lagi?"
__ADS_1
"Tak ada waktu"
Ellena menyerahkan wine itu pada suaminya. Mereka mengobrol dan menyelami kehidupan masing masing. Sampai akhirnya Ellena merasa panas ditubuhnya.
"Daav..."
Itu bukan ucapan lebih kedesahan yang sexy. Dav juga merasakan hal yang sama, dia menggeram.
Mereka terpengaruh. Dav memeluk perut Ellena dengan erat menyalurkan rasa tak nyaman.
Dav tahu wine yang diminumnya pasti diberi obat tapi siapa yang berani?
Dav segera mengangkat tubuh Ellena dan membantingnya keranjang. Ayolah Dav sudah tak tahan antara obat yang mempengaruhinya dan hasrat yang sudah ditahannya selama ini. Dan Ellena dibawah pengaruh obat begitu seksi dengan gerakan erot*snya.
Entah sampai jam berapa mereka berperang diranjang besar itu yang mereka tahu hanya menggapai kepuasan mereka.
Sampai pagi menyingsing Dav mengerjapkan matanya, dia terbangun lebih dahulu daripada Ellena. Merasa sedikit pusing dan menatap langit langit kamar, mengingat kejadian semalam.
Dav masih merasakan pelukan dari tangan tangan mungil Ellena, lelaki itu tersenyum, akhirnya dia mendapatkan Ellena seutuhnya.
Dav memperhatikan wajah cantik Ellena tanpa riasan. Bulu mata Ellena yang lentik dan bibir tipis wanita itu mengingatkan Dav dengan malam panas mereka.
Ah ya dia harus mencari tahu siapa yang menaruh obat pada Wine itu. Dav beringsut perlahan dan segera mandi.
Dav turun dan melihat seluruh keluarga ada disana termasuk Leo dan istrinya.
"Pagi pengantin baru, bagaimana malammu?"
"Apa harus kujelas bagaimana panasnya kak Laura?"
"Apa itu berkat campur tangan ibu?"
"Jadi ibu yang membuat itu semalam?"
"Pasti, apa manjur?"
Dav menggeleng atas perilaku ibunya tapi sebelum Dav akan mengutarakan pendapatnya, Ellena sudah ditangga paling bawah.
"Apa ibu tak percaya padaku?"
"Sayang kamu sudah bangun?"
"Apa ibu tak percaya padaku?"
"Ibu percaya, tapi ibu hanya takut"
"Takut apa? Apa karena perkataan kak Laura semalam? Asal ibu tahu, saat aku menerima Dav sebagai suamiku , aku sudah mempersiapkan itu semua, aku tak menyangka ibu akan seperti itu"
Ellena berbalik begitu saja, Ellena naik lagi kekamarnya. Niat Ellena tadi adalah menyusul Dav dan berkumpul dengan keluarga besar mereka tapi malah mendapat kejutan besar.
Semua orang terdiam, Dav segera menyusul Ellena. Ayah Dav terlihat marah dengan perilaku istrinya dan segera mengajak istrinya kedalam kamar tamu. Meminta penjelasan pada istrinya.
Sedangkan Leo menatap tajam Laura, istrinya dan mohon diri untuk pulang. Dia harus memberi pelajaran untuk mulut manis Laura.
**
Dav sudah sampai dikamar, melihat istrinya menangis tergugu disana.
"Sayang... maafkan ibu ya?"
"Apa aku sebegitu tak berguna sampai ibu harus melakukan itu? Aku bahkan sudah berusaha keras untuk sembuh"
"Aku tahu itu, kamu adalah wanita spesial bagiku, kau normal Ell.. tanpa obat itu aku tahu kamu akan tetap mau berhubungan denganku"
Dav memeluk tubuh Ellena dan menyalurkan kenyamanan. Dia yakin istrinya sembuh dan normal kembali. Buktinya semalam dia berani mencium Dav dahulu tanpa harus meminum obat sialan itu.
"Kita akan rumah sendiri ya"?
"Apa tak apa?"
"Tentu tak apa, mungkin dengan begitu kita bisa memiliki Dav junior dan Ellena junior"
"Dav kau mesum!!"
"Hahaha... aku mesum hanya denganmu seorang sayang"
"Emb...Dav, aku lapar"
"Bersiaplah, kita akan sarapan diluar dan melihat rumah baru kita"
"Baiklah"
Ellena segera berganti baju dan merias diri.
Sedangkan Dav siap dengan baju kasualnya, dia tersenyum saat melihat Ellena turun mengenakan dreas peach yang sangat pantas untuknya.
"Ayo..."
__ADS_1
"Ayo..."
Mereka keluar dengan bergandeng tangan dan menuju Lynka hypersportnya.
"Kita akan makan dimana?"
"Terserah, aku pemakan segala"
"Oke..."
Ellena dan Dav segera melesat dijalanan kota Manchester yang dipadati oleh orang orang yang bersiap untuk aktivitas.
"Kapan masuk kantor lagi?"
"Besok mungkin, ada apa?"
"Emm.. proyek yang aku tangani dikerjakan oleh orang lain, aku sengaja keluar"
"Iya aku sudah tahu, aku malah senang kamu mau berhenti bekerja"
"Dav.. kamu benar tak apa apa dengan kondisiku seperti ini?"
"Kamu kenapa? Kalau soal Haphephobia itu, aku yakin kamu sudah sembuh"
"Tapikan semalam aku terpengaruh dengan obat"
"Aku tahu, tapi aku tahu kamu sudah sembuh"
"Terima kasih"
"Untuk?"
"Apapun, aku berterima kasih kamu mau mengertiku dan mau menjadi suamiku"
"Tak perlu berterima kasih sayang, everything for you"
"Emm...."
"Ayo turun kita sudah sampai"
Mereka berdua turun dan saling menautkan tangan.
Memesan menu breakfast dan memakannya sambil sesekali bercanda selayaknya pasangan.
"Setelah ini?"
"Kita akan melihat rumah baru kita"
"Apa jauh?"
"Tidak... hanya beberapa kilometer dari kantorku"
"Oh... setelah ini kamu kekantor?"
"Tidak.. aku sehari ini bersamamu menikmati hidup tanpa bekerja, maaf ya belum bisa honeymoon"
"Tak apa..kapanpun kita bisa honeymoon kan?"
"Iya.. setelah proyek ini selesai kita akan honeymoon okey?"
"Okey"
"Sudah selesai makannya, ayo pergi"
"Ehm"
Mereka melesat kearah perumahan the green building yang terkenal ramah lingkungan di Manchester.
Saat memasuki pekarangan rumah, Ellena melihat mansion gaya victoria dan begitu asri menyapa matanya, bangunan yang indah.
"Ini rumah kita?"
"Iya, apa kamu tak suka?"
"Aku suka, rumah ini begitu indah"
"Emb.. ayo masuk"
"Emb..."
Rumah ini berlantai 3, terdapat lift dan juga tangga. Dilantai 1 seperti rumah pada umumnya, 4 kamar tamu, ruang tamu seperti lapangan, dapur dan meja makan, serta ruang bersantai yang menghadap kolam renang.
Lantai 2 hanya terdapat kamar utama serta 6 kamar lain yang disiapkan untuk anak mereka ataupun tamu dan 2 ruang kerja.
Dilantai 3 atau paling atas ada tempat fitness, ruang baca, ruang bermain dan home teater serta satu ruang yang khusus untuk perempuan yaitu perawatan diri, diruang itu terdapat tempat massage dan lulur, serta peralatan salon kelas atas lainnya.
"Ini tak berlebihan?"
__ADS_1
"Kau akan berkata seperti itu lagi saat sampai dikamar"
******