Ellena

Ellena
83


__ADS_3

Setelah beberapa saat Leo dan anak anak masuk, Ellena benar benar tersadar.


Semula menatap langit langit, tapi setelahnya menengok kekanan tempat keluarga kecilnya berada.


"Ellena, ada yang sakit?"


"Tidak, kenapa aku?"


"Sayang..."


"Iya, ada apa, Leo? Semua baik baik sajakan?"


"Anak kita pergi kesurga lebih dahulu"


"Maksutmu apa? Ello dan Ella ada disana bukan?"


Raut wajah Ellena bingung. Kedua anaknya ada, apa maksut suaminya ini?


"Ellena, kamu keguguran"


"Apa? Kamu bercanda, Leo!!"


"Aku benar benar menyesal, Ell.. aku tak bisa menjagamu.."


Tangis Ellena benar benar pecah. Dia tak bisa membayangkan ini bisa terjadi.


Anak yang dia khayal setiap hari lebih dulu pergi, tanpa dia sadari.


Ello dan Ella akan mendekat tapi ditahan oleh sang ayah karena mommy mereka benar benar menangis histeris dan membabi buta.


"Ello, segera panggil paman Roy dan dokter!"


"Yes dad..."


Sangking histerisnya, semua benda dilemparkannya, bahkan Ella hampir terkena gelas kalau tak dilindungi Leo. selang infus Ellenapun juga terlepas.


"Mommy.."


Ella terisak lirih. Tak tega melihat mommynya yang selalu tersenyum menjadi histeris seperti ini.


Leo menyuruh Ella untuk berlindung dibelakang sofa, berjaga kalau Ellena mengamuk lagi.


Sedangkan Leo memeluk Ellena kuat kuat sambil menenangkan wanita itu.


Mencium pelipis Ellena berkali kali.


"Bangs*t!! Akan kubunuh dia seperti dia membunuh anakku!!"


Berkali kali Ellena mengumpat dan menyumpahi sang ibu yang merawatnya.


Sepertinya rasa sakit hatinya menguar begitu saja.


Berkali kali Leo memencet tombol emergency dengan tak sabaran.


Akhirnya datang seorang dokter dan perawat datang, diikuti Roy yang menggendong Ello.


Sang dokter segera menyuntikkan obat penenang.  Dan itu ampuh membuah Ellena diam.


Leo terus memeluk Ellena sampai wanita itu tak sadarkan diri.


"Roy! Jangan beri ampun siapapun yang bersalah!"


"Baik boss!"


Roy keluar bagitu saja setelah menurunkan sang pangeran kecil. Melaksanakan tugas dari sang boss adalah suatu kegembiraan tersendiri.


Ello yang turun dari gendongan Roy, segera menghampiri sang adik yang duduk dibelakang sofa.


"Mommy, menyakitimu?"


"Tidak! Tapi menyakiti daddy!"


Ella menunjuk punggung atas Leo.


Bercak darah dikemeja putih daddynya.


"Suster, tolong obati daddy!"


"Iya, saya akan mengobati tuan Damian.."


"No! Daddy tak boleh diobati oleh dia!"


Ella sangat jelas tak suka dengan sang suster. Ello dan Damian seketika menoleh, menatap bingung dengan gadis kecil itu.


"Why?"


"Dia sok cantik! Masa seorang suster dari tadi menatap daddy serta menempel seperti itu?


Damian lumayan kaget, memang Damian tahu muslihat sang suster tapi tak ambil pusing. Ellena lebih penting.


Tapi hal yang dilakukan sang suster itu dapat membuat wajahnya merah padam.


"Kau keluar!"


"Tapi tuan, luka anda?"

__ADS_1


Suster itu akan menyentuh punggung Damian tapi lebih dulu tangan Damian terulur mencengkeram leher sang suster.


"Berani menyentuhku, patah lehermu!"


"Ba-baik, tuan.. mohon ampun!"


"Enyah!"


Suster itu segera keluar, tanpa menoleh lagi.


Ella yang melihat itu seketika tertawa terbahak bahak. Damian dan Ello hanya menggelengkan kepala, atas respon sang gadis kecil.


"Hampir saja Daddy membunuh orang.."


"Ello.. jangan berlebihan... tak ada untungnya juga wanita itu.."


"Tapi Ella, dia seorang perawat jadi mungkin berguna untuk orang yang dirawatnya bukan?"


"Emmmbb!"


"Ya sudah, daddy akan mengobati luka daddy.. kalian tunggu disini ya,"


"Tapi dad.. kalau mommy seperti tadi bagaimana?"


"Peluk saja.."


"Baik!"


Setelah Damian keluar, Ella segera duduk disofa ditemani Sean, pengawalnya.


Sedangkan Ello lebih memilih duduk ditepi jendela, sambil membuka laptopnya.


"Ello..."


"Ya?"


"Kenapa nenek itu begitu jahat?"


"Tak punya hati"


"Tapi diakan mommynya mommy?"


"Bukan Ella, kamu tahukan nenek sihir itu mengambil mommy dirumah sakit"


"Jadi, siapa orang tua mommy?"


"Entah! Jangan banyak bicara!"


"Tapikan,,"


"Ella, jangan memikirkan yang tidak tidak.. besok ada ujian grammar! Lusa ada ujian menembak, persiapkan saja ujianmu itu!"


Sean hanya menggeleng. Majikannya ini selalu saja berdebat, apapun masalahnya.


30 menit setelahnya, Damian datang.


"Daddy, are u okay?"


"Tentu, daddy-kan kuat"


"Emmm. Kami percaya dad.."


"Baiklah, sudahi acara bercanda ini.. Sean bawa mereka berdua kelandasan pribadiku"


"Siap boss!"


"Untuk apa dad?"


"Kita akan pulang!"


"Pulang? Kemana? Kalau kerumah kakek hanya beberapa menit loh"


"Rumah kita, New York!"


"Lalu mommy bagaimana?"


"Juga ikut"


Ello dan Ella segera pergi begitu saja. Mereka melakukan penerbangan awal.


Sedangkan Leo menunggu Ellena sadar.


Tak berapa lama Leo memutuskan untuk mengganti baju Ellena dengan pakaian berpergian.


Belum selesai melepas kancing baju Ellena, wanita cantik itu sudah bangun.


"Leo?"


"Kamu sudah bangun?"


"Emm... aku bermimpi bertemu anak lelaki, dia terus saja tersenyum dan memanggil Ello dan Ella sebagai kakaknya"


"Itu anak kita disurga, sayang"


"Jadi kejadian tadi bukan mimpi?"

__ADS_1


"Bukan"


Tiba tiba Ellena terdiam dan menangis lirih.


"Sayang, jangan sedih... kasian Ella dan Ello"


"Tapi kenapa tak ada yang adil untukku, Leo?"


"Ini adil sayang... Semua yang bersangkutan atas penderitaanmu sudah hancur"


"Maksutmu?"


"Amy sudah divonis dipenjara 25 tahun, Reynald... perusahaannya hancur, karena sahamnya jatuh sangat jauh hanya beberapa menit saja"


"Bagaimana bisa langsung divonis begitu saja?"


"Kamu tak percaya dengan suamimu ini?"


"Aku percaya, lalu Reynald hidupnya sekarang?"


"Dia pergi ke Itali, membawa sisa kekayaannya dan dia juga meminta maaf kalau selama ini dia tak bisa merawatmu dengan baik"


"Seperti mimpi!"


"Tidak sayang...."


"Emm... Ello dan Ella kemana?"


"Pulang"


"Rumah papa Arsyid atau rumah Dominic?"


"Rumah kita"


"Rumah kita?"


"Ya, New York... kita akan memulai semua hal dari awal disana, Ell... menghabiskan waktu kita untuk bahagia..."


"Leo, apa kamu serius, lalu disini?"


"Kita akan berkunjung sesekali, karena orang tua kita tinggal disini..."


"Leo..."


"Aku mau, kita memulai semua dari awal, Ell... membuat keluarga kecil yang bahagia, membesarkan Ello dan Ella... membuat mereka bangga pada kita"


"Terima kasih, Leo... kamu sudah mau menerimaku apa adanya dengan keadaanku seperti ini.."


"Maksutmu?"


"Aku tahu, rahimku diangkat bukan?"


"Ya, itu demi kebaikanmu Ellena"


"Aku tahu, tapi aku tak akan punya anak lagi"


"Tak apa, si kembar sudah membuat pusing sekaligus bangga, jadi jangan sedih"


"Ya aku tak akan sedih, kapan kita berangkat?"


"Setelah mengganti bajumu"


"Sekarang?"


"Ya, berhubung jahitanmu masih basah, biarkan aku saja yang mengganti bajumu"


"Baiklah"


Leo segera melepas baju rumah sakit Ellena dan memasangkan dress santai dibadan kecil itu.


"Ellena


"Emmm."


"Entah kenapa, setelah semua kejadian ini.. aku bersyukur memilikimu"


"Emmm?"


"Aku sangat sangat mencintaimu Ell"


"Aku juga mencintaimu, Leo"


"Kita mulai hidup baru ini ,Ell"


"Iya, Leo.. kuserahkan kebahagianku padamu"


"Akanku pastikan kamu selalu bahagia Ell.... I love u"


"I love u too"


*******TAMAT********


MAU PART EKSTRA NGGAK?


KALAU MAU, PENCET LOVE DAN KOMENT SEBANYAK BANYAKNYA YA...

__ADS_1


DAN MASUK GRUB, MAU DIBUATIN APA LAGI NIH?


I LOVE U......


__ADS_2