
16 tahun kemudian
Hari ini Ellena menginjakkan kaki di Inggris lagi.
Turun dari pesawat dengan pengawal yang ketat cukup menjadi sorotan banyak orang.
Ellena yang memakai dress putih serta high heel silver sangat anggun. Dia berjalan beriringan dengan Leo yang memakai kaos polo putih serta celana jeans, sangat serasi.
Ya, hari ini Ellena dan Leo memutuskan untuk pulang ke Inggris setelah sekian lama tak pulang.
Sikembar?
Ello memilih tetap tinggal di New York, menuntaskan kuliahnya serta belajar mengelola perusahaan induk.
Sedangkan Ella sudah lama tinggal bersama sang kakek, Arsyid. Alasannya sangat klise, dia kasihan membiarkan sang kakek sendirian. Jadilah, dia di Turki bersama Arsyid dan Fatimah.
Dan hari ini Ellena dan Leo juga memutuskan untuk mengurus orang tua Leo. Dan menikmati waktu berdua mereka.
"Kota ini semakin ramai"
"Populasinya terus bertambah"
"Leo.."
"Ya, ada apa?"
"Bagaimana kabar Amy?"
"Dia meninggal"
"Maksutnya?"
"Dia meninggal 1 tahun yang lalu, karena bunuh diri"
"Disel tahanan?"
"Ya, dia sengaja menjatuhkan diri"
"Emmm... lalu Reynald?"
"Dia sudah menikah bukan? Setelah Amy meninggal, dia menikahi karyawan ditoko kuenya"
"Emmm"
"Mereka akan memiliki anak"
"Emmmm.. bukan urusanku"
''Ell.."
"Iya sayang, ada apa?"
"Ayo honey moon!"
"Ingat umur!"
"Kita sama sekali belum melakukannya sayang"
"Karena kamu itu sibuk terus!"
"Sekarangkan sudah tak sibuk"
"Hmmm mau kemana?"
"London Eye?"
"Em? Sudah keriput begini masih saja ketaman hiburan?"
"Hanya garis halus!"
"Sama saja dengan keriput itu, sayang"
'Aku akan perawatan, agar istriku ini tidak malu memiliki suami tua"
"Hah? Kapan aku bilang kalau aku malu memiliki suami tua?"
"Mungkin! Kerutanku sudah terlihat Ell..."
"Kalau begitu, ayo cari hotel terdekat untuk memastikan kamu sudah tua atau belum?"
Leo menaikkan sebelah alisnya, dan seketika setelah mengerti maksut istrinya, segera tergelak dan mengangkat tubuh Ellena agar segera sampai dimobil.
"Leo!!!!"
***
*NEW YORK*
Seorang lelaki memakai pakaian kasual berjalan ringam dikoridor kampus sambil mengecek email yang masuk kedalam ponselnya.
Lelaki muda itu adalah Ello Kabir Dominic. Orang orang lebih mengenalnya dengan Kabir Dominic.
Dia sangat berkuasa diusia mudanya. Siapa yang tak tahu, pewaris utama kerajaan Bisnis Dominic, pemimpin pabrik senjata, dan sekuritas yang ternama.
__ADS_1
Lelaki tampan, dengan perpaduan sempurna, pahatan badan berotot, serta sedikit jambang membuatnya semakin terlihat seksi.
Tapi tak ada yang berani mendekatinya selama dia tak menginginkan orang lain mendekat.
Kabir hanya berkawan dengan 2 orang saja, yaitu Rio dari fakultas kedokteran, serta Max seorang bocah sekolah. Hanya itu.
Selain itu hanya ada wanita penghibur yang setelahnya dibuang.
"Lalu malam ini kita akan kemana?"
"Mengunjungi adik kita"
"Ugh! Dia akan ujian jangan kau ganggu dengan kata kata setanmu!"
"Tidak tidak... malam ini kita akan ke sky night"
"Untuk apa? Saat daddy tahu kita kesana, akan menjadi kacau"
"Memang menemui ayahmu"
"Untuk apa? Ayahku sudah pensiun!"
"Aku tahu.. aku hanya akan menanyakan sesuatu pada paman Liam, tak lebih"
"Baiklah, jangan bertanya macam macam!"
"Baik baik"
Ya, mereka berdua terlihat seperti saudara walau umur mereka terpaut lebih dari satu tahun.
Liam dan Roy sekarang sudah pensiun, tapi mereka tetap berhubungan.
Dan sekarang Liam mempunyai rumah sakit swasta terbaik, dan Roy membuka club malam yang cukup terkenal dan VVIP.
Hampir setiap malam Liam akan kesana untuk bertemu Roy, membicarakan segala hal dan akan pulang kalau penari telanjang telanjang itu sudah mulai naik panggung.
"Jadi, ayahmu masih mencari daun mudah, Rio?"
"What!? Kamu jangan mengada ngada.. mommyku masih ganas diranjang!"
"Hahahaha.. aku tahu aunty Hana tak mungkin membiarkan suaminya mencari ranjang lain!"
"Kamu tahu itu! Emm.. Ello.."
"Kabir! Sudah berapa kali aku bilang, diluar rumah tolong panggil Kabir!"
"Aku lebih suka memanggilmu Ello... jangan sok misterius dengan nama Kabir-mu itu!"
"Aku yakin dengan nama Kabir, aku akan menjadi orang yang dipandang dengan pandangan memuja!"
"Tanyakan saja!"
"Oh iya, Bagaimana dengan princess kita, Ella?"
"Dia baik baik saja tentunya, sedang memperdalami tentang bisnis berlian"
"Emmm.. kembar ini sangat sempurna.. satu menjalankan kerajaan bisnis L's international serta Dom's grub... yang satunya lagi pewaris Ars contrusi serta El's... sangat memukau"
"Aku ingin mendirikan kerajaanku sendiri.."
"Aku tahu obsesimu itu akan tercapai!"
"Emmm"
******
Turkey
Ella Zahra Dominic. Gadis cantik dengan gaun merah muda itu begitu memukau saat berjalan di red-carpet. Gadis itu begitu lihai memakai hak setinggi 15 cm untuk menopang tinggi badannya. Rambut blondenya bergerak sesuai langkah kakinya.
Siapa yang tak tahu, gadis 20 tahun dengan segudang prestasi itu.
Zahra benar benar menekuni setiap bidang yang dia suka.
Setelah pemeragaan busana itu, Zahra segera turun dan berganti baju.
"Zahra, thank you very much darl..."
"Rome, kau seperti dengan orang lain saja!"
"Aku beruntung memiliki sahabat semultitalenta sepertimu, Zah!"
"Emmm"
Zahra hanya tersenyum. Lelaki setengah perempuan itu lalu berlalu, Rome sangat tahu tentang Zahra karena dia satu universitas walau beda angkatan.
Zahra juga seperti Kabir, memilih jurusan bisnis. Karena dia tahu tanggungannya terhadap keluarga sangat besar.
"Zahra!!"
Lamunannya hilang seketika saat Rome kembali lagi dengan sedikit tergesa.
"Ada apa, Rome?"
__ADS_1
"Mr. Arsyid datang!"
"Lalu?"
"Dia sangat menyeramkan!"
Zahra menaikkan satu alisnya, Rome benar benar penakut.
"Kamu penakut!"
Zahra berjalan melewati Rome, dan lelaki gemulai itu menngikutinya.
"Kakek!"
"Hay, princess..."
"Tumben kakek kesini?"
"Hari ini ada pacuan kuda, ayo kita melihat!"
"Hanya itu?"
"Dan juga kelas menembak bukan?"
"Aku ingin pulang saja!"
"Kenapa?"
"Aku lelah, kek... lain kali saja kelas itu!"
"Tapi, biasanya kamu paling semangat dengan kelas itu?"
"Hanya malas, kek... ayo kepacuan kuda"
"Ayo... sebelum itu, mari kita mencari makan"
"Aku tahu, kakek pasti belum makan lagi!"
"Hahahahahaha...."
Zahra hanya menggelengkan kepala dengan sikap sang kakek.
Ya, Zahra sangat suka menembak tapi beberapa hari ini, dia sangat merindukan sang kakak, jadi Zahra sangat ingin berlatih dengan sang kakak, Kabir.
"Kek, kapan kita mengunjungi mommy dan daddy?"
"Em... kamu bisa kesana kapanpun darl..."
"Tapikan.."
"Kakek sudah tua untuk berpergian jauh.. dan lagi, kedua orang tuamu sudah di Inggris untuk mengurus Dominic tua"
"Kak Ello?"
"Dia, masih di New York untuk kuliah, bukan?"
"Ayo ke New York kek?"
"Kesanalah, kamu pasti merindukan kakakmu itu"
"Kakek?"
"Disini ada aunty Fatima, tenang saja"
"Tapikan kek..."
"Kalau kamu berat meninggalkan Kakek, tinggallah, biatrkan kakakmu saja yang mengunjungimu"
"Iya kek..."
Rome hanya tersenyum, melihat interaksi kedua manusia beda generasi itu. Mereka sangat harmonis dan saling mendukung.
Apalagi mengingat tuan Arsyid seorang yang religius, memiliki cucu perempuan seorang model, penembak bahkan melakukan hal hal diluar dugaan lainnya. Sangat tak sefrekuensi sekali.
Ya, kehidupan Zahra tak jauh dari sang Kakak, Kabir. Dia memiliki kehidupan yang bebas serta bersemangat. Menjadi model pakaian seksi merupakan hobinya tapi menembak adalah hal yang paling dia sukai, entah sudah berapa banyak pistol koleksinya tapi masih kurang.
Kedua kembar itu hidup dibelahan bumi yang berbeda tapi yang pasti cerita mereka tetap berlanjut.
****TAMAT****
NEXT STORY DI NOVELTOON...
"PERFECT TWINS: My Man is My First" (Kabir-Shofia)
Kalian bakal tahu siapa Shofia kalau mengikuti cerita aku di *******!
Bakal rilis sedikit berdekatan.
"PERFECT TWINS: Oh My Mafia!!"
(Zahra-Mr. Jerk)
Hayoo tebak siapa mr. Jerk itu???
__ADS_1
Ada yang bener langsung aku rilis novel yang pertama....
I love u...