
Dominic's Mansion - Old trafford - Manchester - England
Setelah perjalanan hampir 14 jam, akhirnya Leo membaringkan tubuhnya di ranjang besar miliknya. Ada waktu 2 jam untuk istirahat sebelum anak anaknya pulang serta Liam dan Roy memberi laporan.
Leo tertidur begitu saja, rasa lelahnya membuncah.
Setelah hampir 2 jam tidur akhirnya dia terbangun dengan suara denting ponsel, ada pesan masuk.
Mas Leo tak datang kemari?
Julia, kenapa wanita ini begitu agresif? Mengganggu orang tidur saja.
Leo tak membalas pesan itu tapi segera mandi dan bekerja.
Leo sangat merindukan anak anaknya tapi sayang mereka sedang ikut kakek dan neneknya melihat pacuan kuda.
Setelah mandi, Leo segera bekerja di dalam ruang kerjanya. Masalah ini kalaupun dianggap penting juga tidak, tapi bukan hal sepele.
Leo meneliti berkas berkasnya saat Roy dan Liam masuk kedalam ruangan.
"Apa pangeran sudah rela meninggalkan puteri?"
"Laporkan saja apa kendalanya!"
"Baiklah, Dav sedang mengembangkan bisnis besar besaran dan dia berada ditingkat teratas pengusaha baru yang sukses"
"Lalu?"
"Daerah kita di akusisi oleh Dav"
"Daerah mana?"
"Mexico"
"Biarkan saja! Kita akan memperluas jaringan, biarkan anjing liar itu mencari makanan ditempat kecil itu!"
"Apa semudah itu?"
"Semudah itu? Biarkan di bangga, berpura pura tak tahu pergerakannya, tapi kita menyiapkan bom waktu untuk mereka semua!"
"Boss.. ada laporan kalau Dav sengaja menghilang untuk membuat seluruh musuhnya lengah"
"Jadi banyak musuh?"
"Iya"
"Sebarkan informasi ini keseluruh musuhnya, kita akan melihat seberapa hebat dia menangani krisis!"
"Baik"
Leo menghela nafas bosan dengan hal seperti ini. Hah, bisnisnya membuatnya seperti dua bilah mata pedang.
Roy dan Liam sudah mendapat tugas masing masing, dan mereka segera pergi.
"Daddy...."
Leo mendongakkan kepalanya, kedua anaknya sudah pulang. Senyum Leo mengembang, rasa lelahnya hilang begitu saja saat melihat kedua anaknya berlari kearahnya.
Leo segera beranjak dari duduknya dan memeluk kedua anaknya. Mencium gemas kedua pipi mereka.
"Daddy begitu merindukan kalian!?,/$$$/"
"Kami juga merindukan Daddy, emm dimana mommy?"
"Mommy masih disana, banyak hal yang harus diurus"
"Apa kami boleh ikut kesana?"
"Tentu boleh, tapi tak sekarang ya, karena daddy harus mencari uang, dan mommy sangat sibuk!"
"Baiklah,daddy, Ella hari ini sudah masuk grammar dad"
"Wah, apa sudah menjadi tuan puteri?"
"Emm.. kata kak Sean aku bar bar! Dan sangat ceroboh!"
"Kenapa dia bilang seperti itu?"
"Karena Ella kemarin memakan kue sangat rakus padahal dia baru saja selesai pelajaran tentang table manner"
"Pantas saja! Kalau belajar harus sungguh sungguh, dan harus dikerjakan! Lalu Ello bagaimana berkudamu? Apa sudah lancar?"
"Lancar, aku sudah bisa berkuda sendiri, bahkan kakek membelikanku kuda"
"Bagus, kamu bertanggung jawab penuh atas kuda itu, Ello! Apa sudah kau beri nama?"
"Aku tahu dad... emm.. karena dia berbulu putih bersih jadi aku namakan black.."
"Emmm kenapa tak white katanya putih bersih?"
__ADS_1
"Bukannya kuda milik daddy yang berwarna hitam itu, daddy beri nama White, masa sama?"
"Baiklah, terserah kamu! Emm kalau begitu kapan kapan kita lomba berkuda bagaimana?"
"Tentu, sekarang bagaimana?
"Jangan sekarang, daddy sangat sibuk, emm kamu berlatih lagi saja bagaimana?"
"Baiklah..."
"Kakek dan nenek dimana?"
"Mereka diruang keluarga, sedang meminum teh"
"Emm.. kalian bisa ikut mereka sebenatar? Daddy akan bicara dengan Sean"
"Apa daddy akan memecat kak Sean?"
"Tidak! Daddy hanya ada urusan sedikit"
"Apa Ella tak boleh tahu?"
"Anak kecil tak boleh tahu, kak Sean akan kembali kurang dari 20 menit"
"Baiklah, jangan memarahi kak Sean dad"
"Iya iya princess"
Leo lantas mencium kening kedua anaknya. Dan mereka segera berlari keluar ruangan.
Leo berdiri lagi dan duduk disofanya. Sedangkan Sean masih saja diam disana, berdiri dengan tegak.
Leo menelisik. Ya, Leo akui Sean memang tampan untuk ukuran anak muda dan sudah pasti itu diturunkan dari keluarga Jordan yang memang memiliki paras yang bagus. Badannyapun sudah terbentuk, mungkin dia berlatih dengan keras setiap hari.
"Duduklah"
"Siap boss"
Intonasi suaranyapun juga baik. Apalagi dia memiliki suara bass yang khas.
"Bagaimana lukamu?"
"Sudah sembuh boss"
"Bagaimana pekerjaanmu?"
"Lancar boss, tak ada kendala sejauh ini"
"Nona Ella sangat manis dan cerdas"
"Emm.. bagaimana rencanamu?"
"Maaf boss...?"
"Kau tak berniat menjadi pengawal Ella selamanyakan?"
"Emm itu.. saya masih bingung akan begaimana boss"
"Kalau memang yang kau bicarakan dulu memang hakmu perjuangkan"
"Tapi..."
"Kau memiliki banyak waktu luang karena Ella seharian akan sekolah dan di grammar, jadi kenapa kamu juga tak menempuh pendidikanmu?"
"Saya takut lalai boss, dan biayanya sangat mahal"
"Biaya akan kupotong dari gajimu, ya setidaknya aku berbicara begini karena aku tak mau ada pegawaiku yang bodoh!"
"Baik boss, saya akan mulai mendaftar sekolah"
"Bagus, saat kau ingin merebut hakmu, kau perlu otak juga bukan hanya otot"
"Saya mengerti boss"
"Dan, sepekan kamu ikut dengan Roy ke Mexico!"
"Tapi nona Ella?"
"Ella tak akan mati hanya kau tinggal sepekan"
"Baik boss"
"Pergilah dan konfirmasi keikutsertaanmu!"
"Baik boss, saya permisi"
"Emmm"
Leo melihat wajah gembira Sean, sangat berbeda saat dia bertugas. Ya wajah datar khas pengawal pengawal.
__ADS_1
Leo melakukan ini untuk menjauhkan Ella dari Sean. Leo tak mau Ella tergantung pada Sean. Apalagi Sean bukan orang sembarangan.
Setidaknya biar mereka memiliki jarak.
"Dad..."
"Hei hero.. ada apa?"
"Kenapa kak sean daddy tugaskan jauh dari Ella?"
"Kamu akam tahu alasannya saat dewasa Ello!"
"Tapi Ella sangat menyayanginya"
"Maka dari itu, Ella harus belajar untuk tak tergantung dengannya"
"Kenapa?"
"Sean bukan orang biasa seperti pengawal lain, dia bisa saja menjadi pahlawan ataupun bom waktu"
"Dad... terima kasih"
"Untuk apa?"
"Daddy sudah memperhatikan kami, dari hal terkecil sampai terbesar"
"Itu tugas daddy, apa kamu sudah berlatih memanah?"
"Besok, guruku memanah datang dari Perancis besok"
"Oh, belajarlah yang giat"
"Baik..."
Beruntung Leo memiliki anak anak yang sangat cerdas dan mandiri. Setidaknya mereka akan mengetahui situasi sebentar lagi.
Bagaimana Ellena dulu mendidik mereka.
Ellena? Astaga dia belum menelponnya.
Leo segera menghubungi kekasih kecilnya itu.
"Assalamuallaikum?"
"Wa'allaikum salam, Leo"
"Sedang apa?"
"Masih dikantor, banyak desain yang deadline"
"Oh"
"Bagaimana anak anak?"
"Mereka merindukanmu, sekarang mereka sedang belajar"
"Oh... lalu pengawal itu?"
"Dia aku tugaskan ke Maxico untuk membantu Roy"
"Tapi diakan masih dibawah umur?"
"Tak mungkin keluarga Jordan membesarkan anak sia sia, dia pasti memiliki sedikit pengetahuan"
"Ella?"
"Sepertinya dia tak tahu, Sean memberikan jadwal satu minggu padanya tadi, meminta Ella untuk mandiri"
"Dia mirip pengasuh"
"Emm.. aku hanya takut kalau Sean menyukai Ella yang masih anak anak"
"Kamu takut kejadian dulu?"
"Ya, apalagi dia dari keluarga berpengaruh di London"
"Jangan takut, semua sudah digariskan bukan?"
"Emm.. apa kamu tak belajar mengaji?"
"Tidak, mungkin lusa, banyak sekali pekerjaan tapi tenang saja aku tetap belajar dirumah"
"Baguslah, kalau begitu aku tutup ya, jangan terlalu dipaksa kalau lelah"
"Siap tuan Dom, cepat kembali ya"
"Tentu... I love you"
"I love you too"
__ADS_1
*********