
Hari berlalu begitu cepat, dan pagi ini adalah persidangan pertama.
Ellena siap dengan dress putih panjangnya, sedangkan Leo seperti biasa memakai setelan jas resminya. Dengan beberapa pengawal, mereka segera menuju ke pengadilan kota Manchester.
Ellena benar benar gugup.
"Aku ada untukmu, darl..."
"Sayang... aku mual"
"Kenapa? Sakit?"
"Entahlah, tapi benar benar mual dari tadi pagi"
"Mau pulang saja?"
"Tak usah, lebih baik aku ikut"
"Baiklah...."
Ellena terus saja menyandarkan kepalanya dibahu Leo, sedikit pusing.
Leo mengelus sayang pipi Ellena, memberi kenyamanan untuk wanita itu.
Leo sebenarnya khawatir dengan sang istri yang tak begitu bersemangat. Tapi Ellena begitu keras kepala.
Tak berapa lama, Ellena jatuh tertidur. Badannya benar benar sangat tak bisa berkompromi.
Leo terus mengelus pipi Ellena,, untuk tetap menyalurkan kenyamanan untuk wanita itu.
Setelah sampai didepan gedung pengadilan, Leo membangunkan Ellena.
"Darl... bangun... sudah sampai"
Ellena terusik dan mengerjapkan matanya, beradaptasi dengan cahaya yang ada.
"Ehhmmm..."
"Sini kurapikan rambutmu"
Ya, memang rambut Ellena sedikit berantakan karena adegan tidurnya tadi. Menata rambut Ellena lagi dan mencuri ciuman dibibir Ellena.
"Leo..."
"Bagaimana kalau aku memakanmu dulu"
"Ini ditempat umum, jangan berbuat yang aneh aneh"
"Iya iya, ayo masuk... papa Arsyid dan yang lain sudah ada didalam"
"Enmm..."
Ellena berjalan sambil mengapit lengan kiri Leo. Lelaki itu benar benar selalu ada untuk Ellena. Mengusap tangan sang wanita untuk mengurangi rasa gugupnya.
"Rilex... kita akan menang"
"Iya...."
"Mualmu bagaimana?"
"Sudah tak separah tadi"
"Baguslah.... jika makin parah segera beritahu aku, ya!?"
"Iya, aku tahu"
Setelah sampai diruang sidang, Semua orang sudah hadir termasuk mamanya dan daddy Reynald beserta para bodyguardnya.
"Maaf terlambat"
"Tak apa, persidangan belum dimulai"
"Baguslah"
"Ayo duduk disini"
Akhirnya Ellena duduk disamping tuan Arsyid dan Leo.
Kedua mertuanya juga datang.
"Kamu sakit, darl?"
"Tak mom, hanya terlalu lelah diperjalanan"
"Harusnya kamu mempercayai suamimu saja"
__ADS_1
"Tak apa mom, aku hanya ingin melihat"
"Kalau memang sakit bilang ya!"
"Iya mom"
Leo terus saja mengusap tangan Ellena untuk menenangkan.
Sedangkan dideretan bangku seberang ada keluarga Lopez yang siap digugat.
Tak berapa lama hakim dan jaksa datang, menempati tempat duduk masing masing.
Tanpa basa basi, Para penegak hukum membacakan dakwaan terhadap Amy.
Dakwaan itu hanya berisi tentang pengalihan property dan pemalsuan data.
"Mr. Arsyid tolong memberikan kesaksian!"
Arsyid segera bangkit, dan segera duduk ditempat saksi siap menerima segala pertanyaan.
"Mohamed Arsyid, right?"
"Yes, sir!!"
"Didata sipil Inggris anda sudah meninggal?"
"Ya!"
"Anda masih hidup bukan?"
"Mantan istri saya salah mengenali orang, sir"
"Maksut anda?"
"Dihari kecelakaan adik saya datang yang mengatakkan di Turki ada masalah yang tak bisa dipecahkan olehnya dan perusahaan hampir bangkrut... saya segera berangkat dan menitipkan anak serta istri saya pada adik saya, Arsya"
"Anda tak berpamitan?"
"Tidak, karena istri saya tak ada dirumah saat itu, ponselnyapun mati"
"Setelahnya?"
"Dari pembantu yang menjelaskan kesaya.. saat mantan istri saya datang, Arsya sedang menelpon istrinya dan itu membuat salah paham diantara mereka, Arsya tak bisa menjelaskan karena sangking murkanya mantan istri saya"
"Lalu?"
"Lalu anda tak pulang?"
"Saya diblokir dari Inggris"
"Maksut anda?"
"Kewarganegaraan saya hilang, hak hidup saya hilang bahkan gara gara kematian itu saya harus memakai nama Arsya agar bisa masuk ke Inggris"
"Sudah bisa masuk kenapa tak mencari polisi"
"Hahahaha...saat itu mantan istri saya sudah mengenal tuan Reynald dan siap menikah, tuan Reynald yang tahu saya masih hidup... memblokir saya dari negera ini dan beriming iming menjaga putri saya... saya berterima kasih pada tuan Reynald yang sudah mau menepati janjinya"
"Anda meninggalkan warisan untuk putri anda?"
"Ya!"
"Senilai?"
"Saya tak tahu pasti tapi saya menamai aset property saya atas nama saya, mantan istri saya, dan juga Ellena Arsyid"
"Pembagiannya?
"65% untuk Ellena, 20% untuk Amy, dan 15% untuk saya"
"Apa itu sudah adil?"
"Menurut saya, itu adil.. karena Ellena anak satu satunya kami, dia harus memiliki kehidupan yang baik.. Amypun saat itu setuju karena Ellena yang nomor satu"
"Kenapa anda tak melaporkan masalah ini dulu?"
"Karena saya melihat anak saya bahagia, saya pikir Amy berubah setelah menikah dengan Reynald tapi saya salah, terakhir kali Ellena hampir terbunuh karena ulah Amy"
"Baiklah, silahkan kembali"
"Terima kasih"
Persidangan itu, berhenti sebentar karena para penegak hukum sedang beediskusi. Ellenapun terdiam sambil memegang tangan Leo. Ini mengkhawatirkan.
"Saya memanggil Ellena Dominic untuk memberikan keterangan"
__ADS_1
Ellena yang merasa terpanggil akhirnya maju kedepan dan segera duduk di tempat yang disediakan.
"Nyonya Ellena Dominic, right?"
"Yes sir"
"Kapan terakhir kali anda berkunjung ke rumah nyonya Amy?"
"Beberapa minggu yang lalu, untuk meminta negosiasi"
"Pihak anda yang memberi laporan, bukan? Kenapa meminta negosiasi pihak lawan?"
"Karena mereka orang tua saya, saya masih memiliki hati untuk menjebloskan mereka kepenjara"
"Lalu?"
"Negosiasi saya ditolak"
"Sejak kapan anda keluar dari rumah?"
"Setelah lulus dari kuliah"
"Kenapa keluar dari rumah?"
"Karena almarhum kakak tiri saya, Alleo Lopez hampir memperkosa saya... sejak itu keluarga saya kacau"
"Kenapa tak melapor?"
"Karena mama saya melepaskannya, dengan alasan masih keluarga"
"Anda tak membela diri, anda juga keluarga?"
"Saya tak memiliki suara untuk itu, saya sadar mama saya lebih mementingkan tentang keluarga yan baru saja sadar daripada anak yang dia kandung"
"Baiklah nyonya Ellena, silahkan kembali ketempat sepertinya anda kurang enak badan"
"Baik, tapi sir... saya minta sebuah keadilan untuk semua pihak"
"Saya pastikan itu akan saya lakukan, nyonya Dominic"
"Terima kasih, sir"
Mereka tersenyum pada Ellena saat wanita itu lekas berdiri dan kembali kesisi sang suami. Leo tersenyum, dan mengusap punggung tangan Ellena untuk menenangkan.
"Tuan Reynald Lopez, silahkan maju kedepan untuk memberi keterangan!"
"Baik sir..."
Reynald segera maju kedepan dan duduk ditempat yang ditempati Ellena tadi.
"mr. Reynald Lopez, right?"
"yes sir..."
"Anda menikahi nyonya Ami saat mr. Arsyid sudah tidak ada?"
"Yes sir..."
"Dan anda tahu kalau mr. Arsyid masih hidup?"
"Saya tahu"
"Kenapa malah memblokir mr. Arsyid?"
"Saya terlanjur sayang dengan Ellena, sir.. saya menganggapnya seperti anak perempuan saya sendiri"
"baiklah, anda tahu tentang percobaan pemerkosaan yang dilakukan oleh anak lelaki anda?"
"Saya tahu, saya marah dan memukul anak saya secara brutal tapi saya menyetujuhi pendapat istri saya, mau bagaimanapun Alleo adalah anak saya dan lebih baik dia dikirim keluar negeri"
"Anda tahu tentang pencucian property oleh nyonya Ami?"
"Tidak, setahu saya itu bagian untuk Ami dari mantan suaminya.."
"Baiklah, silahkan duduk kembali!"
"Terima kasih, Sir..."
Hakim itu hanya mengangguk. Reynald segera kembali kesisi sang istri.
Hakim sedikit menjeda waktu sebelum memanggil orang selanjutnya, mereka berdiskusi.
"nyonya Amyranda lopez, silahkan maju kedepan!"
******
__ADS_1
Halloooooooo.... apa kabar??????