Ellena

Ellena
12


__ADS_3

Ellena sekarang sudah duduk bersantai dikamarnya menunggu Dav selesai dengan meeting onlinenya.


Ada panggilan mendesak, pihak klien tak mau menandatangi surat kontrak karena menganggap Roy berbohong jadi dia harus melakukan negosiasi atas nama pengantin baru bahkan Dav memperlihatkan Ellena yang menyender dikepala ranjang dengan selimut menutupi seluruh tubuhnya.


Klien tertawa, tak menyangka syndrom pengantin baru dirasakan oleh Davidson Wira, bahkan sang istri belum sepenuhnya bangun. Dia kira seorang David tak suka perempuan, karena tak pernah ada skandal apapun tentangnya.


Untung kliennya berbahasa Spanyol jadi tak bisa membuat malu Ellena. Dia terus saja menggerutu karena tak mengerti bahasa rekan bisnis Dav.


Padahal Ellena menutupi seluruh tubuhnya karena kedinginan, Dav sengaja membuat ruangan menjadi lebih dingin agar Ell memakai selimut.


"Apa masih lama?"


Ellena berbicara dengan keras berharap Dav segera kesana karena dia kedinginan.


Klien yang tahu itu segera mengakhiri rapat dan menandatangani kontrak.


Dav tersenyum dan segera menyusul Ellena diranjang.


"Kenapa? Apa badanmu tak sakit, jam segini mau mint-awww... Ellena sakit"


Ellena gemas, dia mencubit lengan Dav yang akan memeluknya. Dia sangat tak merasa bersalah.


"Aku kedinginan"


Dav terkekeh,  istrinya ini sangat lucu saat digoda. Dav menaikkan suhu ruangan agar lebih hangat.


"Mau berbelanja?"


"Berbelanja? Belanja apa? Dirumah ini sudah lengkap semua"


"Tapikan pasti ada yang kamu inginkan"


"Emm ayo kesupermarket"


"Gak mau kemall?"


"Aku ingin membuat kue, bukan beli baju"


"Baiklah, ayo aku tunggu dimobil"


"Siap.."


Ellena segera berganti baju dan menyisir rambutnya memakai bedak tipis dan lipgloss.


Ellena segera turun dan mendapati Dav sudah mengenakan celana pendeknya dengan kaos polo serta kacamata hitamnya sudah bertengger diatas hidung mancungnya. Dia bersender dibodi mobilnya, terlihat seperti model yang siap diambil gambarnya.


Ellena mendekati Dav dan segera mencium pipi tirus Dav. Dibalik kacamatanya Dav mengerjapkan matanya berkali kali, belum selesai dengan pesona Ellena yang begitu anggun dan imut, tiba tiba mendapati Ellena mencium Dav tiba tiba.


"Kamu mulai nakal ya.."


Dav memeluk Ellena sebelum Ellena beringsut pergi. Menyatukan kening mereka dan tersenyum. Ellena sangat ingin mencium bibir tebal itu, tapi segera diurungkan, dia ragu.


Pemandangan romantis itu tak luput dari penglihatan para pengawal dan pelayan yang sedang bekerja. Mereka tersenyum melihat bigbossnya bisa diluluh lantahkan oleh seorang Ellena.


"Setelah kita dari supermarket, mampir ke tempat Mella ya?"


"Kenapa kesana lagi?"


"Aku hanya mau memastikan"


"Baiklah, mungkin kita bisa program hamil dari dia"


"Hm.. apa harus program? Kita baru saja menikah"


"Tak apa, lebih cepat lebih baik jadi dalam waktu 10 tahun pernikahan kita sudah memiliki 3 anak"


"Hah? 3,  apa tak salah hitung?"


"Tidak, aku ingin memiliki banyak anak, menjadi anak tunggal itu kesepian"


"Iya aku tahu itu, ..."


"Ayo segera berangkat, semua melihat kita"


Ellena tersadar kalau disekitarnya ada banyak pekerja Dav. Pipinya merona merah, untung dia tak jadi mencium bibir lelaki ini.


Ellena segera memasuki mobil dan pergi ke supermarket.


Ellena berbelanja banyak sekali kebutuhan dapur, Dav hanya menggeleng saat satu troli penuh dengan bahan makan.


Fakta baru yang didapat Dav tentang istrinya ini adalah sangat suka makan, tapi untung dia tetap memiliki tubuh segitu saja tak gemuk dan juga tak kurus.


Setelah membayar itu, Ellena dan Dav segera ke tempat Mella. Ellena sudah menghubungi Mella untuk menanyakan posisinya. Dan dia sedang praktek.

__ADS_1


Mella tersenyum saat Ellena dan Dav masuk keruangannya.


"Bagaimana pengantin baru, sore sore sudah kesini?"


"Aku hanya cek keadaanku saja"


"Oh, kau mau cek apa saja?"


"Semua"


"Baiklah, tuan Wira tunggu disini sebentar aku akan memeriksa istrimu"


"Iya"


Ellena dan Mella masuk keruang periksa, memeriksa keadaan phobianya serta kesehatannya.


Bagus semua, bahkan phobianya sembuh karena pernikahannya.


"Tuan Wira, trauna Ellena sudah sembuh kalau bisa jangan dipicu lagi, apalagi membuat luka lama kembali. Kesehatan fisiknya juga baik, semoga kalian cepat mendapat momongan, aku akan memberi beberapa vitamin untuk daya tahan tubuhnya"


"Terima kasih"


"Terima kasih Mella, aku pergi dulu"


"Hati hati, aku mendoakan untuk kebahagiaanmu Ell"


"Emb..."


Ellena keluar dengan Dav, Dav merangkul pundak Ellena.


Dav senang saat Mella mengatakkan trauma Ellena sudah sembuh dan dia dikatakan cukup sehat untuk hamil.


Dia akan cepat memiliki keturunan.


"Sudah malam, mau makan diluar?"


"Ayo... aku ingin ke London Eye"


"Disana hanya taman bermain Ell dan juga jauh dari sini"


"Aku ingin makan cumi bakar yang disana"


"Direstorankan ada"


"Baiklah baiklah jangan merengek, ayo kesana"


"Terima kasih Dav"


"Emmb..."


Mereka akhirnya melesat ke London, walau jauh tetap ditempuh. Karena melihat Ellena merengek dan merajuk itu seperti bencana bagi Dav.


Tapi saat sampai disana Ellena tidur, karena kelelahan. Dia tahu fisik Ellena tak sekuat itu, akhirnya Dav putar balik dan segera ke arah South Bank Tower Penthouse, London. Dia memiliki 1 unit apartment disana.


Mengangkat Ellena ala bridal style, Dav menjadi sorotan banyak pasang mata. Mereka tahu siapa Dav tapi kenapa menggendong seorang wanita.


Dav segera memasuki unit apartmentnya dan segera membaringkan Ellena keranjang kingsizenya. Dav keluar dan memesan makan untuk Ellena nanti.


Setelah mandi, Dav mengambil minuman dari kabinet penyimpanannya. Ellena masih tidur, dia pasti kelelahan.


Dav melihat sungai Thames yang dikelilingi lampu lampu. Dia sudah memiliki Ellena. Dav menyesap sedikit demi sedikit minuman itu, menghilangkan semua rasa yang mengganjal. Dia harus melupakan masa lalu dan menata masa depan.


Tiba tiba sepasang tangan melingkari perutnya. Seperti tersengat listrik saat tangan itu meraba perut telanjangnya. Dia tahu itu Ellena.


"Minum apa?"


Suara Ellena masih khas orang bangun tidur. Dia mungkin langsung bangun setelah melihat Dav dibalkon.


"Minumlah coba tebak, ini apa?"


Ellena mengambil gelas yang ada ditangan Dav, dan menyesapnya perlahan.


"Vodka tapi rasanya seperti berry dan nanas.."


"Its cocktail, sex on the beach.. ini campuran antara vodka, jus cranberry, nanas dan peach schnaaps"


"Cocktail?  Aku lebih suka martini"


"Martini?"


"Ya martini yang manis itu"


"Oh... martini yang manis memiliki kadar vermouth tinggi dan itu terbuat dari wine"

__ADS_1


"Kau tahu banyak tentang alkohol Dav"


"Aku mengenal alkohol dari remaja Ell, aku menjadi pecinta Alkohol saat tinggal di Jepang"


"Kamu pernah disana?"


"Ya aku tinggal dinegri sakura itu hampir 4 tahun, karena faktor keluarga aku pindah lagi ke Inggris"


"aku ingin ke Jepang"


"Kita akan honeymoon kesana"


"Ah benarkah, itu impianku untuk bisa kesana,  emm ngomong ngomong kita dimana?"


"Apartmentku, apa kau tak sadar kita menghadap London Eye"


"Apa kita di South Bank Tower Penthouse, London?"


"Ya kau benar, dan kau wanita pertama yang kuajak kemari"


Ellena merona, jadi dia yang pertama diajak melihat pemandangan indah ini di balkon apartmentnya. Dia malu mengakui fakta kalau dia mulai luluh dengan lelaki ini.


"Aku lapar"


"Ayo makan, aku tadi sudah pesan makanan"


"Emmb"


Ellena turun ke lantai bawah, melihat Dav sudah duduk di depan meja mini barnya.


Kabinet kabinet kaca dipenuhi oleh minuman alcohol mahal, menandakan bagaimana Dav mecintai minuman tak berguna itu.


Dimeja bar itu sudah tersusun makanan makanan yang diinginkan Ellena tadi.


"Kapan kamu memesannya?"


"Tadi setelah menidurkanmu"


"Emm... kita pulang kapan?"


"Lusa ya, aku masih ada rapat disekitar sini"


"Iya tak apa, apa kamu akan sibuk?"


"Seperti biasa"


Seperti biasa? Jadi dia akan pulang malam seperti dulu. Ya, sebelum Ellena menikahi Dav, Ellena tahu betul kalau suaminya ini sangat gila kerja dan dia mengatakkan itu sudah biasa.


"Oh..."


Ellena memakan makanannya dengan diam. Dia tak tahu harus berkata apa.


Seharusnya Ellena mengerti bagaimana kehidupan suaminy dan tak harus mengeluhkan.


"Mau minum?"


"Emm...?"


"Wine..."


"Terakhir kali aku minum wine, aku seperti cacing kepanasan"


Ya, Ellena menyindir wine malam pengantinnya. Ellena sungguh kesal.


"Aku jamin ini tidak, aku yakin itu"


Dav membuka botol itu dan menuangkannya pada gelas berkaki. Meminum minuman itu sedikit dan segera mencium Ellena. Dav sudah tergoda melihat Ellena turun hanya mengenakkan kemeja putihnya.


"Manis"


Ellena yang semula kaget menjad pasrah, ada sedikit tekanan dihatinya ingin menolak tapi dia harus bertahan. Dav sudah menjadi suaminya.


Dav mengangkat tubuh Ellena kekamarnya dan segera mengulang malam pengantinnya dalam keadaan sadar.


Dav menjadi tahu betapa sexy istrinya. Dav menjadi tahu dengan mendengar suara erangan Ellena, tingkat gairahnya melonjak tinggi.


Ayolah.. kemarin Davpun juga terkena obat sialan itu jadi dia tak terlalu menggubris tubuh ataupun erangan Ellena.


Dav sangat senang saat tahu Ellena tak menolaknya, itu artinya Ellena sudah sembuh dan siap melakukan itu kapan saja serta mengandung anaknya.


Dav tak ingin menunda seorang anak lagi. Dia sangat ingin.


***********

__ADS_1


__ADS_2