Ellena

Ellena
07


__ADS_3

Guest's room-Wira's Mansion.


Ellena bangun saat matahari mulai menyingsing.


Ellena tersadar kalau ini bukan kamarnya. Ellena juga sadar kalau gaunnya sudah berganti denga baju tidur.


Pusing?


"Aaaakkkkkkhhhhh"


Dia histeris, dia takut.


Ibu dari David masuk dengan panik karena hanya ada dirinya dan juga para pelayan yang berada dirumah.


Ibu Dav segera memeluk Ellena. Meredam kesakitan hati Ellena.


Sebenarnya ibu Dav dari semalam memikirkan kondiri Ellena. Dia tak tega melihat kondisi mental Ellena. Dia bahkan dianggap gila oleh ibunya sendiri.


"Tenanglah nak, aku ada disini bersamamu..."


Ellena membalas pelukan Marge, ibu Dav dengan erat.


"Ceritalah nak, anggap aku ibumu, kau terlalu banyak menanggung beban!"


"Aku takut.. rasanya aku ingin mati!!"


"Kalau kamu mati bagaimana denganku? aku terlalu menyayangimu seperti anakku sendiri Ellena"


"Ibu..."


"Ya nak.. panggil aku ibu!!"


Ellena terisak, entah berapa tahun dia tak merasakan pelukan seorang ibu.


Marge tetap memeluk Ellena sambil mendengarkan cerita Ellena. Miris saat tahu bagaimana kebej*tan Alleo. Dan bagaimana ibunya bersikeras menjodohkannya dengan Lucas yang terkenal seorang player dan sadism.


Bagaimana dia menceritakan kekelaman didalam rumah sakit jiwa berbulan bulan. Dan bagaimana dia harus berjuang tak mengemis kasih sayang pada ibunya. Untung ada Reynald, ayah tirinya yang menyayanginya.


"Nak... anggap aku ibumu ya, akan ku buat hidupmu bahagia!"


"Terima kasih bu.."


Setelah beberapa saat Ellena tenang dan mau makan, datanglah Reynald dan juga Mella.


Melle memeriksa bagaimana kondisi Ellena. Untung dia lebih tenang.


Dia hanya memberi obat penenang dan beberapa vitamin, Mella bersyukur Ellena bisa bertemu Marge yang menyayangi Ellena dengan tulus.


"Biarkan Ellena disini saja Rey... aku takut kalau sakitnya kambuh saat bertemu ibunya"


"Apa suamimu setuju?"


"Dia pasti setuju, kalaupun tak setuju, dia takut aku mengamuk!"


"Ya kalian tetap pasangan yang unik, aku beruntung memiliki sahabat seperti kalian"


"Maaf tuan Lopez dan juga Nyonya Wira, saya sudah selesai memeriksa Ellena"


Mereka menoleh pada Mella yang tersenyum siap memberikan berita bagus.


"Bagaimana keadaannya Mel?"


"Bagus tuan,  keadaannya lebih tenang, mungkin dia merasa aman disini"


"Syukurlah..."


"Emb tuan, sebenarnya kemarin saya menyarankan Ellena untuk menikah agar dia merasa lebih aman dan bisa jadi menyembuhkan traumanya, tapi malah seperti ini, saya lancang saya mohon maaf!?"


Mella menunduk menandakan rasa bersalahnya.


"Tak apa, itu saran yang bagus Mel... biarkan Ellena memilih sesukanya!"


"Rey, bolehkah anakku mendekati putrimu? Dia juga memiliki luka dalam akibat ditinggal wanita!"


"Tak apa, asalkan mereka berdua bahagia"


"Terima kasih Rey"


"Hm.. kalau begitu aku pamit, mungkin Ami akan mengamuk saat tahu aku kesini dengan Mella"


"Hah?"


"Dia pernah melabrak Mella dengan tuduhan menggodaku, aku tak habis pikir dengan itu, sungguh!?"


"Yang sabar, aku tahu kamu bisa merubahnya!"

__ADS_1


"Iya aku tahu itu, aku pamit"


"Hati hati!"


Setelah kepergian Mella dan Reynald, Marge masuk kekamar Ellena membawa buah buahan dan pelayan dibelakangnya membawa teh dan camilan.


Marge mengajak Ellena untuk duduk diteras, yang menampilkan pemandangan yang bagus, para pengawal yang berlatih beladiri, dan taman luas dengan bunga berbagai warna.


"Aku sudah berjanji pada papamu Ell untuk membantumu sembuh"


"Terima kasih bu"


"Aku dengar kamu sangat suka menjahit dan bercita cita menjadi desainer, apa kamu mau mellihat butikku besok?"


"Tapi aku tak punya keahlian apapun dalam hal desain bu"


"Tak apa, aku tahu kamu punya bakat"


"Baiklah, besok aku ikut!''


"Bagus, ibu sangat ingin anak perempuan Ell tapi sayang Tuhan tak mengizinkannya, ibu harus bersabar saat dokter mengangkat rahim ibu dulu"


"Bu..."


"Saat itu Dav berusia 10 tahun dan sangat terpukul saat tahu ibunya hamil tua terjatuh dari tangga.. dia menangis terus menerus saat adik perempuannya dimakamkan dan ibu tak bisa hamil lagi"


"Akukan anak perempuan ibu"


"Iya, kamu anak perempuanku Ell..."


"Apakah ada pesta menum teh dengan anak perempuan"


Dibelakang dua wanita beda generasi itu ada 2 lelaki yang memakai setelan kantor. Mereka adalah David dan Bram, ayah David.


"Kalian sudah pulang, ayo ikut bergabung"


Dua lelaki itu duduk ikut acara minum teh para wanita.


Dav tersenyum saat tahu Ellena bisa membuat senyum ibunya selebar itu.


Mereka bercerita dan sesekali tertawa.


"Ellena, kamu akan bekerja lagi?"


"Tak apa, kamukan baru saja pulih"


"Ah ya, bukannya kamu memiliki perusahaan warisan Ell, kenapa tak kamu kelola?"


"Aku tak kelola karena waktu itu aku dicoret dari ahli waris keluarga Lopez"


"Jadi ini yang membuatmu malas pulang?"


"Aku tak bermasalah dengan warisan itu, aku hanya tak mau menambah dosa dengan membangkang mommy,"


"Kau itu sudah membangkang, bodoh!"


"Daavvvv!!! Aku pandai tahu, kalau bukan aku yang presentasi kamu tak mungkin terpukau!"


"Besar kepala kan!!"


"Sudah sudah, jangan bertengkar.. ayo Ell bantu ibu menyiapkan makan malam!!"


"Iya bu... bwee!!"


Ellena menjulurkan lidahnya dan berlari mengikuti Marge.


"Hati hati kamu bisa jatuh cinta pada Ellena lo!"


"Aku sudah jatuh cinta dengannya saat dia presentasi waktu itu"


"Kenapa tak kamu ungkapkan?"


"Ellena punya trauma dengan lelaki yah, aku tak mungkin tiba tiba datang dan memintanya menerimaku!"


"Lalu?"


"Aku akan membuatnya nyaman"


"Perjuangkan wanita itu!"


"Pasti!"


*******


Hari ini hari minggu, semua orang sedang sibuk liburan termasuk orang tua Dav, dan lelaki itu juga entah kemana. Sedangkan Ellena memilih berenang. Tak memperdulikan seorang lelaki yang melihatnya penuh minat disebrang sana. Dia adalah salah seorang pengawal dikeluarga ini.

__ADS_1


Disini tak pernah ada wanita yang berenang, apalagi dengan bikini hitam seperti itu. Dia ingin menerkamnya.


Sesaat sebelum lelaki itu menyentuh pundak Ellena, tangan lelaki itu sudah dipelintir oleh Dav.


"Akkhh"


"Kau mau apa!"


"Ampun tuan muda"


"Cakap!!"


"Sa..saya ingin menggodanya"


"Kurang ajar!!"


Buugg..


"Dia wanitaku, dan kau berani menyentuhnya!!"


Buug...


Ellena ketakutan, dia segera memakai piyamanya dan berusaha menenangkan David.


"Dav,  sudahlah jangan pukul lagi!!"


Dav berhenti saat merasakan tangan Ellena melingkarkan tangannya keperutnya.


"Dav?"


"Yes sweet... kau tak apakan?"


Ellena hanya menggeleng saat Dav berbalik dan ganti memeluknya.


"Roy! Beri dia pelajaran!!"


'Baik tuan!"


"Ayo kekamar, kau harus mandi dan ganti baju!"


'Iya..."


"Ellena..bersiaplah aku akan mengajakmu jalan jalan!"


'Baik"


Setelah menunggu Ellena hampir 1 jam, Ellenapun keluar dari kamar.


"Kau bertapa atau pingsan?"


"Aku bersiap"


"Tapi juga tak selama ini Ellena!!"


"Iya iya maaf... aku sudah terbiasa mandi lama"


"Haih... ayo berangkat!"


"Ibu dan ayah kemana?"


"Dia sudah pergi duluan,jadi ayo cepat!!"


"Iya iya..."


Ellena segera menaiki Lykan hypersport terbarunya Dav.


Ellena cukup kagum dengan mobil seharga USD 3,4 juta itu, mobil ini sangat futuristik dan bisa berlari hingga 780 horsepower.


Lumayan membanggakan.


"Kita akan kemana?"


"Heaton Park"


"Kenapa kesana?"


"Nanti juga tahu...jangan bawel!!"


"Baiklah..."


Dulu dia sering kesana bersama Alleo dan Leo.


Hampir masa tumbuhnya dia dikelilingi orang orang yang menorehkan luka. Apa dia bisa melupakan itu semua, kalau kemanapun dia pergi pasti dia ingat.


***********

__ADS_1


__ADS_2