Ellena

Ellena
64


__ADS_3

EL's GALERY-JAKARTA


Sudah 3 hari Leo meninggalkan Ellena di Jakarta. Dan selama itulah mereka berdua hanya terhubung lewat pesan ataupun telpon karena Ellena sangat sibuk mengerjakan desain yang deadline sedangkan Leo sibuk dengan bisnisnya.


Ya, Ellena memang belum tahu kalau Dav muncul lagi, Leo tak mau memberitahunya.


Hari ini setelah ashar, Ellena segera berangkat menemui Julia. Sudah beberapa hari tak kesana.


Untung tak macet.


Ellena memarkir mobilnya dipelataran masjid. Terlihat Julia yang sedang duduk bersama anak anak jalanan.


"Assalamuallaikum"


"Wa'allaikum salam, Ellena.. apa kabar?"


"Baik, maaf baru bisa datang lagi"


"Tak apa! Mana mas Leo?"


Ellena menaikkan sebelah alisnya, wanita ini begitu berani!


"Dia di Inggris sedang mengurus bisnis"


"Oh, ayo masuk kita segera mulai belajarnya"


"Baiklah"


Ellena segera masuk ke masjid dan segera duduk diseberang Julia. Ellena siap dengan pelajaran hari ini.


Julia dengan telaten memberi arahan Ellena untuk membaca huruf huruf hijaiyah. Ellena terlihat begitu bersemangat.


Setelah dua jam mereka belajar akhirnya sudah akan magrib.


"Ellena, kau akan menikah dengan mas Leo?"


"Iya, kenapa?"


"Kapan dilaksanakan?"


"Selepas Leo pulang dari Inggris, kenapa?"


"Kau harus belajar lebih giat"


"Kenapa?"


"Kau akan menikah bukan?"


"Iya?"


"Seorang istri itu menjadi pelantara pendidikan bagi anak anaknya kelak serta istri itu penyempurna separuh agama suaminya"


"Lalu?"


"Menjadi istri itu berat, selain mengurus rumah tangga, dia harus berpendidikan dan jugap engetahuan agama harus diatas Suami"


"Apakah harus?"


"Menurutmu?"


"Emm aku mengerti Julia, kau ingin aku menjauhi Leo bukan?"


"Bukan, aku hanya memberitahumu! Kamukan baru belajar!"


"Oh.. jadi aku belum bisa menikah kalau ilmuku belum cukup?"


"Begitulah"


Ellena hanya diam, ya diam lebih baik.


Ellena tahu, wanita berkerudung didepannya ini sangat terobsesi pada Leo. Ya, Ellena lebih baik mengikuti alur wanita ini, biarkan dia mendapat jatahnya sendiri.


Setelah sholat magrib berjama'ah, Ellena pamit pulang terlebih dahulu. Selain moodnya buruk, dia juga sangat lelah.


Sesampainya dirumah, Ellena menghembuskan nafas kasar. Sangat sepi. Biasanya Leo menyambutnya atau pulang bersama.


Ellena segera mandi dan berganti baju. Ah, dia memiliki lingerie baru tapi belum dia pakai karena Leo selalu ada dirumah. Ellena segera memakainya dan turun untuk memakan makanan yang dia pesan direstoran tadi.


Makan sendiri itu tak nyaman.


Setelah melaksanakan sholat isya', Ellena segera tidur. Dia benar benar siap tumbang kalau istirahatnya berkurang lagi.


Ellena benar benar tidur sangat nyenyak.


Sampai pagi hari, Ellena terlonjak kaget saat seseorang sudah tidur disampingnya.


"Aaakkkkkkkkhhhhh"


"Ssttt.. apa kamu ingin membuat tetangga bangun?"


Ellena mengerjapkan matanya, menyetabilkan detak jantungnya.


"LEOOO!! kamu kenapa disini!?"


"Aku merindukanmu"

__ADS_1


"Leo, umurmu hampir 40 tahun jangan seperti remaja labil"


"Ellena, kenapa kamu memakai baju seperti ini?"


Ellena melihat pakaiannya. Astaga! Ellena segera menaikkan selimutnya.


"Karena kamu tak ada!"


"Kalau lelaki lain tahu bagaimana? Kalau mengundang orang berbahaya bagaimana?"


"Emmm... aku tak akan memakainya lagi"


"Pakai lagi dimalam pengantin kita!"


"Emmm.. apa boleh diundur?"


"Kenapa? Kamu ragu?"


"Bukan, aku belum bisa menjadi separuh agamamu"


"Maksudmu apa? Kenapa Ell?"


"Bukankah kalau aku menjadi istrimu, aku menjadi pendidikan pertama bagi anak anak dan aku pula yang menyempurnakan separuh agamamu, tapi aku tak bisa apa apa?"


"Siapa yang memberitahumu seperti itu?"


"Emmm..."


"Aku tahu siapa! Ellena, kenapa kamu meragukan kemampuanmu? Bukankah dulu kamu juga beragama Islam?"


"Tapi saat itu aku masih kecil"


"Mr. Arsyid pasti mendidikmu dengan baik, kamu hanya perlu belajar Ell"


"Emmm..."


"Urusan yang lain serahkan ke aku"


"Baiklah..."


"Hari ini minggukan? Gak kekantor?"


"Hari ini libur!"


'Kita kerumah pak Rahmad"


"Hah?"


"Kita punya niat bagus, kita harus memberi kabar"


"Benarkan? Pasti yang buat dalil kayak tadi itu Julia"


"Emmm.."


"Ell... kamu percaya denganku! Kalau kamu bakal jadi istri aku apapun yang terjadi, jangan pernah ragu, okey?"


"Okey..."


"Sekarang ayo bangun"


"Emmm..."


"sepertinya lari pagi bagus, ayo!"


"Ayo, tapi aku mau ganti baju dulu!"


"Baiklah, aku tunggu didepan"


"Siap!"


Sehari ini, mereka lewati dengan bahagia. Tetap dirumah belajar.


Leo cukup terkejut, karena sebenarnya Ellena sangat lancar dalam agamanya.


"Kenapa kamu pura pura bodoh?"


"Aku tak ingin menjadi sombong! Iya kalau benar, kalau tidakkan aku malu"


"Ellena... kau sudah memiliki cukup ilmu, jadi kita akan tetap menikah!"


"Apa? Kenapa buru buru?"


"Anak anak semakin besar!"


Ya, alasan paling tepat adalah anak anak. Ellena tak akan berkutik kalau menyangkut anak anak.


"Ell, bukannya aku memaksamu, tapi kasihan mereka yang diejek karena tak memiliki keluarga lengkap.. aku melihat sendiri Ell, betapa kasihan mereka saat di Korea dulu, mereka diejek dengan kata kata yang tak pantas"


"..."


"Aku tak bisa melihatmu dan anak anak menjadi bahan lelucon, aku bertanggung jawab atas kebahagiaanmu Ell"


"Aku tahu..."


Ellena tahu Leo hanya ingin dia dan anak anak hidup bahagia tanpa celah, tapi ini seperti tak mungkin. Entah mengapa setiap pelajaran dari Julia sama sekali tak masuk ke otaknya.

__ADS_1


"Ell,,, bersiaplah, kita akan mampir ke klinik temanku"


"Kenapa?"


"Memeriksamu!"


"Aku tak sakit!"


"Ell.. menurutlah! Ini demi kebaikanmu!"


"Baik"


Ellena bersiap dengan rok plisket panjangnya serta blouse panjang. Entah kenapa dia merasa nyaman dengan pakaian seperti ini.


"Jadi kita kenapa kesana?"


"Kamu cantik!"


"Leo!"


"Hahaha... oke oke, aku mendapat informasi dari kakekmu, Robert Rusell kalau dulu kamu beragama Islam.."


'Lalu?"


"Dengarkan dulu! Tapi setelah Ami, mamamu menikahi Reynald, kamu juga berganti agama.. dan kamu tak mengingat Islam sama sekali"


"Lalu?"


"Ell!!"


"Oke oke, aku dengarkan!"


"Kemungkinan besar kam sudah dihipnotis untuk melupakan kenangan itu"


"Emmm.."


"Lebih jelasnya, nanti kamu tanya sendiri oke?"


"Oke"


Ellena diam saja,  ya memang menurutnya ada yang tak beres diingatannya tapi mungkin itu faktor usia bukan? Ellena waktu itu masih sangat kecil.


Leo memarkir mobilnya ditempat parkir. Ellena melihat sekeliling, sangat asri.


Ellena sangat nyaman.


"Sudah datang?"


Ellena menoleh kearah sumber suara. Lelaki muda berdiri diambang pintu dengan senyum khasnya.


"Ya, aku membawa calon istriku"


"Ah ya, ayo masuk! Kita segera mulai terapinya"


"Baik..."


Ellena dan Leo segera masuk mengikuti dokter muda itu. Ellena sedikit gugup dan berakibat tangan Leo diremas kuat. Dia takut ada kejutan yang tersembunyi.


"Ellena ayo ikut aku!"


Ellena segera mengikuti Dani, dokter psikolog muda itu.


Sedangkan Leo menunggu didepan. Berdoa yang terbaik.


Setelah hampir satu jam, Ellena akhirnya keluar dengan wajah lebih segar dan cerah.


"Apa aku tertinggal sesuatu?"


"Ayo, kalian ikut aku keruanganku!"


"Oke"


Ellena dan Leo duduk berdampingan menghadap Dani. Ellena gugup, karena memang tadi dia dibuat tidur oleh Dani, jadi tak tahu apapun.


"Leo, jadi kendalanya sudah terselesaikan.."


"Maksudmu?"


"Ellena sudah ingat semua, ya, ingatan masa kecil Ellena memang dibuat tidur.. dan yang paling rumit sampai sekarang adalah wajah ayah Ellena, mr. Arsyid"


"...."


"...."


"Ingatan itu sudah ada lagi, tapi sepertinya ada trauma yang membuat hipnotis itu menjadi kuat, coba kalian mencari foto atau tempat tinggal mr. Arsyid agar bisa mengingat"


"Akan kami coba.. lalu ingatan Ellena?"


"Sudah pulih, dia akan bisa menyadari itu saat berhadapan langsung dengan objek ingatan"


'Oh.. baiklah, terima kasih.."


"Sama sama..."


******

__ADS_1


__ADS_2