Ellena

Ellena
77


__ADS_3

Detak jantung Ellena sepertinya semakin cepat saat mobil yang ditumpanginya masuk kepekarangan mansion milik keluarga Lopez. Ya, candaan dan obrolan dari Leo tadi sama sekali tak membantu merilekskan pikiran dan perasaannya.


"Aku ada untukmu Ellena"


'Ya.. aku tahu itu"


Iring iringan mobil mereka disambut oleh penjaga dan juga beberapa pekerja disana. Mansion ini tak ada pengawal yang berjejer ataupun berlalu lalang seperti di mansion Dominic, ya mungkin karena keluarga ini tak perlu itu.


Leo, Ellena, beserta rombongan keluar begitu saja dari mobil. Sontak seluruh pekerja lama disana sangat terkejut, nona muda mereka dan juga Tuan Arsyid datang.


"Apa Tuan dan Nyonya Lopez berada dirumah?"


"Oh, ada Tuan... silahkan tunggu diruang tamu dulu"


"Baiklah..."


Mereka semua masuk, Ello dan Ella sedari tadi menggenggam erat kedua tangan Tuan Arsyid, berjaga dan waspada pada apapun.


Sedangkan Luna membawa sang adik, Mariska menggandeng tangannya.


"Banyak yang berubah"


Ellena mengamati sekeliling. Tak ada foto foto keluarga terpajang. Hanya ada foto pemilik rumah, Reynald dan Ami. Foto foto kebersamaan keluarga ini telah tiada. Bahkan foto Tuan Aryid dan istri pertama Reynald juga tak ada.


Tak tak tak...


Semua orang menoleh, mengubah fokus mereka dengan suara ketukan high heel dari atas tangga.


Seorang wanita berbaju merah dengan potongan pendek serta  sanggul rambut menuruni tangga.


Ami, ya dia Ami.


"Mam...."


Tak dapat meneruskan kata katanya, Ellena hampir tak mengenali mamanya sendiri. Beberapa tahun lalu, mamanya begitu sederhana dan tak berlebihan tapi sekarang dia sangat,, aneh. Baju seksi, perhiasan dimana mana, serta make up tebal.


"Kau ingat pulang?"


Semua orang melihat kearah wanita itu,seketika mereka dibuat tk percaya dengan penampilang Amiranda Lopez ini.


Bahkan Luna yang tak pernah melihat wanita itupun dibuat ternganga, bagaimana bisa wanita seanggun Ellena memiliki ibu yang seperti itu?


Saat hampir sampai diantara rombongan Ellena, Ami seketika terdiam menatap mereka.


"Arsyid..."


"Ya, apa kau tak mengenaliku?"


Tuan Arsyid segera melangkah maju, mendekati sang mantan istri.


"Aku bukan hantu, kamu jangan takut? Atau kamu memang sudah termakan dengan dongengmu sendiri"


"Arsyid! Apa kamu tak malu berkata begitu, kamu yang meninggalkanku dan Ellena!"


"Meninggalkan kalian, apa tak salah? Aku ganti bertanya, kemana kerudungmu dulu? Apa baju baju panjangmu kau potongi hingga menjadi seperti ini?"


Tatapan tuan Arsyid tajam, terlihat kilatan marah dan kecewa disana.


"Ada tamu rupanya?"

__ADS_1


Semua orang menoleh kesumber suara itu, Reynald datang.


"Ayo silahkan duduk.."


"Terima kasih.."


Semua orang menjawab, dan serempak untuk duduk.


"Bagaimana kabar kalian? Oh apa ini cucuku, mari duduk disamping kakek?!"


Tuan Reynald mengulurkan kedua tangannya kearah Ella dan Ello, tapi mereka malah segera memeluk sang mommy dan daddy, untuk meminta perlindungan.


"Apa kalian takut?"


Masih saja senyap, segera Luna mengatasi masalah kecanggungan yang tak terhingga itu.


"Ehmm... maaf tuan dan nyonya Lopez, kami mengganggu waktu kalian, tapi kami ada beberapa urusan"


"Oh, apa itu?"


"Saya mendapat keluhan dari mr. Dominic dan juga mr. Arsyid"


"Keluhan?"


"Yang pertama Mr. Arsyid mengatakkan kalau seluruh warisan yang ada di Inggris harus jatuh ditangan nyonya Ellena pada saat 25 tahun, tapi sampai saat ini belum ada pembicaraan itu, bagaimana ini?"


"Warisan apa? Lelaki miskin ini bisa memberikan warisan?"


"Ehmm nyonya Lopez, tolong sedikit sabar... "


"Huh... memang dia memiliki apa sehingga ada warisan untuk Ellena?"


"Saya mendapat laporan property dari pihak Luxury property, bahwa ada beberapa property atas nama nyonya Ellena dan tuan Arsyid beberapa tahun lalu, tapi property itu sekarang berpindah nama menjadi Amiranda Lopez, bisa dijelaskan?"


"Jadi begitu? Tapi property ini sudah ada dari sebelum nyonya Ellena lahir, jadi bagaiamana bisa anda memberikan nama tuan Arsyid di property anda? Bahkan catatan pihak luxury pun mengatakkan kalau property ini ada dari jauh sebelum anda dan tuan Arsyid menikah..."


"Pasti ada yang memanipulasi data!"


Semua orang masih diam saja, tak ada yang mau menanggapi perkataan dari nyonya Ami.


"Ehm... kalau itu memang property milik anda tak apa, tapi tentang ini?"


Pengacara Luna menyerahkan beberapa foto kepada Nyonya Ami.


Setelah meneliti secara detail, Nyonya Ami berubah menjadi kaku dan pucat.


"Kenapa ini bisa ada?!"


"Kenapa? Apa karena yang anda temui Davidson Wira jadi tak ada yang tahu?"


"Aku tak pernah bertemu dengan lelaki itu!"


"Nyonya anda tenanglah sedikit, anda ingin naik kepengadilan atau mengakui semuanya?"


"Mengakui? Mengakui apa? Kamu sembarangan menuduh!"


"Kalau begitu kalau anda tak mau menyerah, kami akan naik ke pengadilan!"


"Pengadilan? Hahahahaha si Wira itu sudah mati! Dari mana kalian mencari bukti?"

__ADS_1


"Saya memiliki korban, nyonya... Nyonya dan tuan Dominic menjadi korban"


"Siapa itu?"


"Nyonya Ellena dan Tuan Leonard."


"Sejak kapan dia berganti marga!"


"Sejak kami menikah!"


Semua orang menoleh kesumber suara, Ellena sudah berdiri.


"Aku salah menginginkan untuk bermediasi denganmu! Kalau begitu mari kita pergi, dan bertemu lagi di persidangan nanti!"


"Mommy..."


Ellena segera menggandeng sang anak perempuan, bersiap untuk pergi.


"Itu.. siapa anak kecil itu?"


Nyonya Ami tergagap saat melihat 3 anak kecil yang hampir seumuran semuanya.


"Apa pedulimu? Urusi saja hartamu itu!"


"Apa mereka cucu cucuku? Bolehkah aku memeluk mereka?"


"Tidak! Kau hampir membunuh kami untuk apa kamu bersimpati?"


"Membunuh?"


"Apa kamu tak tahu nyonya? Nyonya Ellena baru bangun dari koma akibat perbuatan Davidson Wira"


"Apa maksut kalian?"


"Hah... Davidson Wira menculik Ellena dan akan menikahi Ellena tapi rencananya gagal setelah Leo menyerang tapi Dav menusuk Ellena yang mengakibatkan Ellena koma"


"Apa? Tak mungkin... hanya ingin meminta maaf!"


"Meminta maaf dengan membuat Leo pingsan"


"Apa?"


"Itulah akibatnya kau terlalu serakah nyonya Amiranda"


"Aku tak pernah serakah! Aku hanya mengambil hakku!"


"Hak tentang apa Ami? Mencelakai anak kita itu juga hakmu?"


Tuan Arsyid merasa geram, kenapa bisa dia dulu dibutakan oleh cinta?


"Kamu begitu munafik! Demi Reynald kau tega menceraikanku! Tapi tak apa, karena Reynald pria yang baik tapi dengan mencelakai Ellena, membuatnya mengunci ingatannya, memanipulasi warisanku, dan sekarang apa, kamu menyesal? Sungguh, kalau kamu tak mendapat karma, aku akan memohon pada Allah karma untukmu!!"


Semua orang tercekat, mereka mengenal tuan Arsyid. Dia jarang sekali marah dan mengucapkan kata yang cukup keras.


"Demi kau! Hanya demi kamu, aku membiarkan saudara kembarku mati Ami!!"


"Apa maksutmu pa? Yang membuat ayah dari Fatimah meninggal adalah mommy?"


"Ya, yang dikecelakaan itu adalah kembaranku, bukan aku... karena dia salah mengenali orang... hahaha.. aku suaminya dan dia tak mengenaliku Ellena..."

__ADS_1


***********


Jangan lupa vote, koment, dan like ya....


__ADS_2