Ellena

Ellena
37


__ADS_3

Flashback on..


Leo berjalan menyusuri jalanan Itaewon, mobilnya sudah terparkir dengan rapi. Dia sedang menunggu pasangan kekasih yang sekarang di Ell's Galery. Dia belum memiliki keberanian penuh untuk mnghadapi Ellena.


Kota ini semakin ramai dan padat. Hampir 4 tahun dia tak kesini. Dan banyak yang berubah.


Dikejauhan ada sepasang anak kecil berumur 3 tahun lebih sedang berjalan. Mereka sangat mirip satu sama lain, tapi sayang Leo tak berfikir sepasang anak itu mirip dengannya.


Terlihat gadis kecil itu mengoceh dan lelaki kecil itu terlihat acuh tak acuh, serta kadang mengomentari perkataannya.


Kedua anak itu duduk dibangku depannya yang memang Leo mengikuti kedua anak itu, rasa penasarannya mendominasi serta terlihat sangat lucu sepasang anak itu.


"Kak..."


"Hmmm..."


"Kalau mommy tahu kita kabur bagaimana?"


"Tak mungkin, mommy sedang ada pembeli..."


"Tapi...."


"Maka dari itu cepat makan ice creammu jangan banyak omong dan mau beli apa lagi?"


"Balon... aku ingin balon itu, tapi sayang diseberang jalan"


"Kalau begitu kita tunggu mommy saja ya, kakak tak pernah kesana"


"Baiklah"


Setelah memberikan pesanan Leo, penjual Ice cream itu menghampiri mereka seperti mengenal kedua anak itu.


"Ella, Ello mana mommymu?"


"Dia sedang ada pembeli bi"


"Ellena.. Ellena..kamu sangat ceroboh.. memang Smith dan Maria kemana?"


"Mereka pulang ke Inggris Bi, mereka akan memiliki bayi"


"Oh, kalau begitu cepat dihabiskan ice creamnya dan kembali ke Galery, nanti mommymu mencari"


"Iya bi"


Mereka menjawab dengan serempak dan penjual ice cream itu pergi melayani pembeli yang lain.


Ellena?


Ella dan Ello?


Smith dan Maria?


Inggris?


Leo terjengat saat menyadari kalau dua anak menggemaskan itu adalah anak pujaan hatinya.


Tapi kenapa penjual itu tak menanyakan ayah sang anak?


Leo melihat kedua anak itu lekas berdiri dan Ella berlari ditrotoar yang ramai.


Ada sebersit rasa khawatir kalau terjadi apa apa.


Leo tetap mengikuti mereka.


"Ella tunggu kakak!!"


"Ayo kejar Ella!"


Ella terus saja berlari sampai tanpa sadar Ello terdorong pejalan kaki dewasa kejalanan yang ramai, Ello terpental saat sebuah sedan menabraknya.


Lutut Leo lemas melihat itu, terdengar Ella yang menangis siap menngahampiri kakaknya.


Segera Leo tarik tangan Ella.

__ADS_1


"Sayang, bilang ke mommymu kalau kak Ello kecelakaan dan uncle bawa kerumah sakit ya"


'Tapi Ella harus ikut"


"Tak ada waktu sayang, Ello harus cepat mendapat perawatan dan mommy harus segera tahu"


"Tolong jaga kakakku uncle"


"Pasti"


Leo segera mengangkat tubuh anak itu, saat kesadaran Ello belum sirna seluruhnya dia mengatakkan sesuatu yang membuatnya menegang.


"Daddy"


"Yes boy, daddy in here...bertahanlah, daddy ada untukmu"


'Thanks dad"


Ya itu kata sebelum Ello benar benar pingsan, Leo segera membawa tubuh penuh darah itu kerumah sakit terdekat.


Leo merapalkan doa untuk keselamatan anak itu, entah kenapa ada rasa sakit dihatinya saat melihat Ella menangis dan juga Ello yang kritis.


"Keluarga pasien?


"Saya ayahnya, bagaimana keadaannya?"


"Dia butuh transfusi darah, keadaannya kritis"


"Saya bisa mendonorkan darah saya"


"Baiklah mari ikut saya"


"Dokter bisakan sekalian tes DNA?"


"Bisa tapi hasilnya agak lama"


"Tak apa"


Baru saja selesai mendonorkan darahnya, dia dihadapkan situasi yang sulit.


Ellena disana dengan Ella. Terlihat wajah khawatirnya berubah ketakutan dan mendekap Ella posesive.


Leo ingin meminta maaf tapi sayang Ellena belum bisa menerima itu, dengan terang terangan dia mengusir Leo.


Leo menurut untuk pergi, setelah Ella memeluknya dan menenangkannya.


Leo keluar dari sana dengan perasaan frustasi, anak anak itu tumbuh dengan baik.


Ya Tuhan, dia berdosa besar.


Leo segera pergi untuk menenangkan pikirannya, biarkan Ellena tenang.


Flashback off...


Luxury Apartment-Gangnam, South Korea.


Leo bergerak menuju sofanya, dia pusing. Beberapa botol bourborn telah tergeletak dilantai.


Leo merasa hampir mati saat beberapa jam yang lalu mendapat email bahwa Ello Khabir adalah anak kandungnya. Runtuh.


Dia dulu mempecayai sebuah foto dan tak mau menyelidiki apa yang terjadi dan sekarang dia menyesal.


Ellenanya dulu dia buang hanya karena selembar foto.


Bahkan Rey sendiri juga sudah mengatakkannya tapi dia tak percaya, seorang selingkuhan mana mungkin mengaku, pikirnya.


Flashback on...


Hari ini Leo sedikit penat dengan segala rapatnya, taka ada penyemangat setelah 3 tahun Ellena pergi. Hidupnya seperti zombie dengan rutinitas menumpuk uang.


Dan dia berakhir dikursi bundar bar, bar yang tak jauh dari apartmentnya dulu. Leo memilih public room, bukannya dia tak mampu membayar VVIP room tapi dia hanya tak mau bayangan Ellena dan masalahnya berputar diruangan itu.


Rupanya bartander yang melayaninya adalah Rey.

__ADS_1


"Sex on the beach"


"Oke, wait for minutes...."


Leo mengamati begaimana lihainya Rey meracik minuman tanpa harus menumpahkannya.


"Your drink sir,,, oh mr. Dominic"


"Ya, bagaimana kabarmu dan juga Ellena"


"Kabarku baik, aku sudah memiliki anak dan Ellena aku sudah  3 tahun lebih tak melihatnya setelah kejadian dicafe itu"


"Kejadian apa?"


"Dia dilabrak miss Laura Dominic saat itu, setelah itu dia tak ada kabar"


"Apa kalian bertemu dicafe?"


"Bukan bertemu lebih tepatnya aku menjadi Barista disana, pumpung temanku itu datang kamu ngobrol tentang masalahku dan aku tak menyangka Ellena mau memberiku uang untuk biaya melahirkan istriku saat itu, aku sangat berhutang budi"


"Jadi semua itu tak benar?"


"Apa?"


"Ellena dan kau berselingkuh"


"Hahaha.. tak mungkin aku berselingkuh, dari awal berkenalan Ellena sudah tak tersentuh apalagi saat dia mengatakkan kau akan menjanjikan pernikahan dia sangat bahagia"


Leo tak menjawab dia hanya diam mencerna perkataan Rey. Dia bimbang antara percaya atau tidak.


Flashback off....


Leo menenggak lagi minumannya sebelum Liam datang.


"Apa apaan ini! Kau ingin bunuh diri"


"Aku hanya menenangkan pikir"


"Ada apa? Ceritalah!"


"Ella dan Ello anakku"


"Siapa mereka?"


"Anaak Ellena denganku Liam"


"Kapan kamu membuatnya? Katanya itu bukan anakmu?"


"Bangs*t!! Gara gara Laura aku berpisah dengan mereka! Akan kubunuh Laura!!"


"Leo, kenapa?"


"Pelac*r itu akan mendapat masalah! Aku pastikan itu!! Alleo kupastikan mati!"


Liam tahu masalah ini begitu berat tapi bagaimana dia tahu dan menjabarkannya.


Roy! Roy pasti tahu. Tapi dia tak tahu dimana calon pengantin itu.


Apa ada hubungannya dengan calon pengantin itu? Ya, tadi pagikan Leo akan bertemu dengan Roy di Itaewon, di El's Galery tapi kenapa lelaki ini menjadi gila siang ini.


Ayolah, Roy tak bisa dilacak keberadaannya, dan juga tak bisa dihubungi.


Liam terlalu pusing dengan masalah bossnya ini, walaupun pada akhirnya bossnya sendiri yang menyelesaikannya.


"Kau menjadi gila setelah mendapat fakta baru?"


"Roy, ada apa ini?"


Roy menyerahkan selembar surat rumah sakit kepada Liam,. Dan seketika diam mematung tapi setelah itu Liam tersenyum miring.


"Karma itu cepat juga ya"


**********

__ADS_1


__ADS_2