
"Mom! Jangan membentak Ella! Memang kalau puding itu dari daddy kenapa?"~Ello
"Siapa yang mengajari kalian memanggil lelaki itu dengan sebutan daddy?"
"Kami ingin mom... kenapa harus mom sembunyikan?"
"Dia tak menginginkan kalian!"
"Dia ingin mom... tapi mom masih marah"
"Apa yang dia katakkan?"
"Kita akan ke New York"
"Mommy tak akan memberi ijin itu Ello! Kalian tetap disini dengan Mommy!"
"Mom..."
"Ella!!"
Ella tersentak saat Ellena membentaknya, ibunya sebelum ini tak pernah membentaknya ataupun memarahinya.
Ella memundurkan tubuhnya dan memeluk kakaknya mencari perlindungan.
Ello tahu, Ella sangat sensitive kalau ada yang membentaknya ataupun berkata sedikit kasar. Ello segera menggenggam tangan Ella dengan erat menyalurkan rasa amannya.
"Mom, Ella afraid"
"Oh God... Ella... im sorry..mommy tak bermaksud seperti itu... mommy terbawa emosi.. maafkan mommy"
"Ella marah sama mommy!!"
"Darl... makan ice cream sama mommy ya"
"Big Nooo!! Aku mau disini dengan kak Ello"
"Sayang.. biarkan kak Ello istirahat ya kita pulang"
"No... gak mau sama mama"
"Mom... biar Ella disini saja, mommy pulang saja"
"Tapi sayang..."
Tok ... tok... tok..
Ellena membuka pintu kamar itu dan menampakkan Liam didepannya sambil menenteng 3 paper bag besar.
"Liam, kenapa kamu disini?"
"Aku disuruh Leo untuk mengantarkan ini"
"Kami tak butuh silahkan kamu bawa pulang saja"
"Apa ini dari Daddy?" ~ Ella
Ella menyembulkan kepalanya saat mendengar nama Liam disebut oleh mommynya. Ini pasti pesanan kakaknya.
"Hay tuan puteri, iya ini dari Daddymu"
"Ayo masuk uncle... daddy tak ikut?"
"Daddy kalian sedang menjadi pembicara di universitas nasional Seoul"
"Oh..."
Ella menarik tangan Liam untuk masuk dan menyuruhnya duduk. Liam hanya tersenyum licik saat usaha Ellena mengusirnya gagal total gara gara anak gadisnya. Dan Liam melihat anak lelaki sedang duduk diranjang lalu menyapanya.
"Haloo jagoan, bagaimana keadaanmu?"
"Sudah membaik uncle...hanya sedikit pusing mendengar ocehan tak jelas dari wanita tua"
Ello melirik mommynya yang disusul lirikan Liam pada wanita itu. Pasti gara gara Leo, wanita ini sampai murka. Benar juga kalau Leo menampakkan diri sekarang sepatu runcing itu akan melayang.
"Biarkan saja, ini titipanmu, katanya kamu mau laptop, buat main game?"
"Bukan uncle, tapi hacker"
"Wah.. kepandaian Leo menurun padamu ya, bisa bisa posisiku tergantikan olehmu"
"Tenang uncle, aku tak tertarik, aku ingin membuat software"
"Oh.. Ella ini untukmu, kata Daddy Ella sangat suka barbie"
"Wah... daddy tahu saja..."
Ella sangat senang, moodnya membaik hanya dengan satu set barbie, padahal Ellena tadi saja sangat sulit membujuknya.
Ellena terheran heran karena itu. Apa mereka sebegitu menyayangi daddynya.
__ADS_1
Ellena hanya melihat itu saja tanpa berkomentar apapun mengamati percakapan mereka bertiga.
"Bagaimana kabarmu Ell, kau semakin bersinar"
"Benarkah,aku lumayan baik.. bagaimana kabar Hana dan Rio?"
"Baik..mereka baik di London.. tak ingin berkunjung?"
"Lain kali mungkin... aku masih betah disini"
"Oh.., apa masih bermusuhan dengan Leo"
"Menurutmu?"
"Kasihan mereka"
"Kau tak ada hak mengasihani mereka"
"Kau benar, aku salah"
"Kau tahu itu"
"Ini untukmu,dari Leo..."
"Aku tak butuh"
"Kurang kurangi angkuhmu Ell, tak baik untuk mereka"
"Bukan urusanmu Liam"
"Baiklah, semua terserah padamu,, aku hanya menyarankan untuk menyerah saja.."
"Kau gampang sekali bicara"
"Ya menasehati orang itu gampang, jangan katakkan kau yang paling benar Ell... kau juga salah"
"Kau berkata seperti itu karena kau anak buahnya Leo!!"
"Kau benar, maka dari itu aku lebih tahu Leo daripada kamu"
"Kau!!"
"Apa aku salah? Sudahkah kau memahami Leo?"
"Untuk apa aku pahami? Lelaki bajing*n sepertinya tak pantas mendapat pengertianku"
"Kau benar, lebih baik dia mendapatkan anaknya saja tak usah ibunya juga,, karena sedalam apapun dia berkata tak akan mungkin kau terima"
"Kau tahu itu"
"Okey uncle, bilang daddy ya, kami merindukannya"
"Okey.. uncle akan sampaikan ke daddy"
"Terima kasih uncle"
"Sama sama"
Liam mengusap puncak kepala Ella dan Ello, setelah itu menepuk pundak Ell.
"Kuharap kau cernah seluruh perkataanku... aku pergi"
Ellena hanya diam saja tak menjawab ataupun berminat untuk mengantarkan lelaki itu keluar dari ruang rawat Ello.
Liam menghelaikan nafasnya dengan kasar, inilah yang dibenci saat kedua orang itu bertengkar. Liam tak tahan untuk membuat mereka kembali, jengah melihat Leo seperti orang kesetanan menumpuk kekayaan.
Liam segera saja pergi meninggalkan Ellena dan anak anaknya.
Ellena masih termenung. Apa yang dia tak tahu? Kenapa seakan akan dia salah?
Ellena melihat anak anaknya, Ella sudah duduk diatas ranjang sang kakak sambil memainkan Barbienya, sedangkan Ello memainkan laptop barunya yang kadang tertawa kecil dengan ocehan sang adik.
"Mommy akan membeli kopi, kalian menitip?"
"Tidak"
"Aku kenyang mom"
"Baiklah, tunggu mommy ya"
"Okey"
Ellena keluar begitu saja, berjalan kearah cafetaria rumah sakit. Lumayan ramai karena memang ini memasuki makan siang.
Banyak perawat yang sedang makan siang.
Ellena ikut duduk dibangku panjang cafetaria. Ellena tersenyum saat melihat mereka tertawa bersama akibat obrolan yang mereka bahas.
"Hai kalian tahu tadi pagi Leonard Dominic datang kesini"
__ADS_1
"Duda kaya itu?"
"Iya, dia makin tampan'
"Kenapa dia kesini?"
"Apa dia punya kekasih disini?"
"Apa mau menanam modal?"
"Entahlah, yang aku tahu kemarinkan ada dokter pindahan dari Inggris"
"Siapa siapa?"
"Namanya misa Natasha"
"Apa dia cantik?"
"Sangat cantik... harus kau tahu miss Natasha sangat memukau saat memeriksa pasien, tepat dan akurat"
"Apa dia kekasihnya?"
"Mungkin"
"Atau malah istrinyaa"
"Bisa jadi, karena jaman sekarang pernikahan itu sembunyi sembunyi"
"Pasti para mantan mr. Dom sangat iri"
"Iya iya, mantan kekasih mr. Dom pasti merasa sakit hati"
Celotehan celotehan itu terus ada, tapi Ellena memilih pergi.
Entah mengapa hatinya terasa nyeri. Dan juga sesak secara bersamaan.
Tak terasa air matanya menetes. Tak bisa dipungkiri, sebesar apapun tekadnya untuk membenci pada akhirnya hatinya tetap menyatakan sebuah perasaan cinta.
Perasaan yang Ellena kubur dalam sekarang menguar begitu saja, tanpa mau berkompromi. Rasanya sangat sakit.
Leo punya kekasih? Lalu apa artinya dirinya untuk lelaki itu.
Sampai sebuah kalimat dari Liam terngiang di kepalanya dan terus berputar.
"Kau benar, lebih baik dia mendapatkan anaknya saja tak usah ibunya juga,, karena sedalam apapun dia berkata tak akan mungkin kau terima"
Kalimat itu terus terngiang.
Bagaimana kalau dia ingin mengambil anaknya?
Bagaimana kalau anak anaknya memiliki ibu tiri?
Pertanyaan pertanyaan yang lumayan membuatnya pusing. semua pertanyaan itu buntu, tak ada jawaban pasti dan semua itu membuatnya semakin sesak akan kenyataan yang Ellena pikir sendiri.
"Ya Tuhan... kenapa masih ada cinta?"
Ellena menggumam dan masuk kedalam ruangan sang anak. Dan saat itulah seorang wanita british berpakain dokter didalam kamar, sedang memeriksa Ello.
"Dokternya beda?"
Ellena lebih tepat bergumam disamping anak perempuannya, karena sang dokter masih berkonsentrasi dengan pemeriksaannya.
"Itu miss Natasha mom, dokter yang dikirim daddy"
Ellena mematung, jadi ini yang namanya Miss Natasha? Dan benar, wanita ini kenal dengan Leo?
"Okey little boy... semua baik dan sepertinya besok kau harus cek laboratorium okey untuk memastikan lagi"
"Terima kasih miss Natasha"
"Oh... panggil saja Aunty"
"Iya aunty"
Natasha berbalik dan melihat Ellena yang diam saja, dia tahu pasti da sedang memikirkan lelaki itu.
"Ellena"
"Oh iya miss..."
"Natasha... panggil saja Natasha"
"Ada apa Natasha?"
"Keadaan Ello membaik, lebih baik biarkan moodnya selalu baik... dia masih kecil dia butuh segela hal yang dia mau untuk mendukung kesembuhannya selain perawatan dan makanan bernutrisi"
"Maksudmu!"
"Kemauannya, seperti mainan dan kasih sayang... kalau ayahnya tak bisa memberi itu, tolong luangkan waktumu"
__ADS_1
*********