Ellena

Ellena
54


__ADS_3

Saat asyik mengamati, pengawalnya tadi datang dan mengagetkannya. Tak sengaja saat berbalik, tangannya menekan pematik pistol itu, dan mengenai lengan kanan pengawal itu.


Dooorrr...


Prannnggg....


Sang pengawal saat itu tak siaga, menganggap tak mungkin nona kecilnya bisa membuka safeguard key pada pistol itu. Tapi salah, gelas kecil itu bisa, terlihat wajah panik dan takut.


"Paman... paman.. bagaimana ini?"


"Tak apa nona kecil ini luka kecil, nona kecil tolong panggilkan rekan paman ya"


"Baiklah"


Ella sambil menangis meminta bantuan, seluruh pengawal berdatangan untuk membantu yang terluka.


Mereka tak menyalahkan sang nona, karena mereka tahu nona mereka masih kecil pasti kejadian ini tak sengaja. Mereka malah menyalahkan sang pengawal, kalau ditinggal pergi kenapa tak memanggil pengawal lain. Apalagi rasa ingin tahu anak anak lebih besar.


Mereka segera membawa sang pengawal kerumah sakit, sedangkan nona kecilnya diantar pulang ke mansion.


Dan rupanya kabar itu cepat terdengar oleh kakek dan neneknya. Mereka segera pulang.


Ella terus saja menangis.


"Ella sudahlah, paman itu tak apa apa"


"Hiks.. hiks.. bagaimana kalau mati, aku akan dipenjara"


"Dia tak akan mati"


"Tapi tadi mengeluarkan darah.. hiks hiks.."


"Makanya kalau main itu ditempat yang aman, jangan menyelinap seperti itu"


"Tapi... aku tak sengaja huuuaaaa"


Ello sangat kesal pada adik kembarnya ini. Baru saja dia akan mengamati sang ibu, adiknya berulah.


Pintu utama terbuka, terlihat sang kakek dengan tatapan murkanya serta sang nenek yang segera memeluk Ella dan Ello.


"Baru ditinggal sebentar sudah mau membuat jantung nenek lepas dari tempatnya"


"Maafkan Ella nek"


"Siapa yang salah?"


Kakeknya datang dan langsung mengintimidasi sang cucu. Terlihat murka.


"Ella kakek, maafkan Ella.. Ella tak tahu kalau akan seperti ini"


"Kau tahu salah? Orang salah harus mendapat hukuman, mengerti?"


"Ella mengerti Kek"


"Kakek jangan sakiti Ella ya"


"Ello jangan ikut campur, kau juga salah membiarkan adikmu berkeliaran sendiri. Sudah tahu kalau adik kembarmu ini sangat ceroboh, kenapa kau tinggal sendiri?"


"Aku..."


"Bermain komputer? Komputer dan segala media elektronik milikmu dan milik Ella kakek sita selama satu minggu, dan Ella sekarang berdiri dipojok sana, sebelum kakek bilang sudah tak boleh kemanapun"


"Tapi kek..."


"Membantah kakek tambahi hukumannya"


"Baik kek"


"Ello kamu yang mudah lalai dengan tugasmu menjadi kakak, kakek hukum mencucu baju adikmu dan dirimu sendiri sekarang"


"Baik kek"


Kedua  bocah kecil itu segera melaksankan hukumannya tanpa mengeluh.


Ello tahu memang hobinya selalu membuatnya terlena, tapi dulu ibunya hanya menasehatinya tak sampai murka seperti ini. Sedangkan sang kakek sampai murka, jadi mungkin hobinya sudah keterlaluan.


"Selamat tinggal para elektronikku"


Ello segera mencuci baju baju milik Ella dan juga dirinya sendiri.


Sedangkan Ella sudah berdiri dipojik ruangan untuk menjalani hukumannya.


"Kakek"


"Ehmm.."

__ADS_1


'Apa kak Ello bisa dikurangi hukumannya?"


"Kamu mengajukan negosiasi?berani mendapat hukuman lebih berat?"


"Tidak..."


"Jadi diam saja"


Setelah hampir 1 jam menjalani hukuman, kedua anak kecil itu masuk kedalam kamar yang rupanya semua mainan dan alat elektroniknya hilang tak tertinggal satupun.


"Kok semua mainan juga hilang?"


"Tuan besar menyuruh kami menyita seluruhny tuan kecil"


"Oh..."


Ella menghela nafas, kamarnya sangat bersih tanpa mainan dan juga boneka bonekanya.


Ello lebih maklum karena memang mereka salah, tapi Ella sangat marah. Ini keterlaluan.


"Aku kesal dengan kakek, akan aku aduin ke daddy"


"Memang kita yang salah, mau ngaduin apa lagi"


"Dadd dan mommy tak pernah menghukum kita"


"Karena sekarang ini kita memang salah, jadi jangan banyak bicara lebih baik belajar"


*flashback off


"Daddy marah?"


"Marah!"


"Daddy..."


"Benar kata kakakmu, kakek sudah menghukum kalian berarti kalian memiliki salah yang besar dan masih mengeluh saat mainan kalian diambil, kalau mommy kalian tahu dia juga akan lebih marah dan lebih besar hukumannya"


"Mommy tak pernah menghukum kami"


"Memang dulu Ello dan Ella pernah melukai orang lain?"


"Tidak,"


"Tidak"


"Memang Ella dan Ello pernah tak menurut kata orang yang lebih tua?"


"Tidak"


"Sekarang kalian tahu kenapa kalian dihukum, dan seluruh fasilitas disita kakek?"


"Tahu dad, agar kami lebih punya waktu bermain bersama dan belajar"


"Pandai, jadi kalian masih menyalahkan kakek?"


"Tidak, kami akan meminta maaf pada kakek"


'Bagus, daddy dan mommy sering pergi jadi kalian harus menurut pada kakek dan nenek"


"Ya dad"


Tok tok tok...


"Masuk"


"Permisi tuan, pengawal tadi sudah pulang dari rumah sakit"


"Sekarang dimana?"


"Dia didepan, menunggu perintah selanjutnya"


"Suruh dia ke ruang kerja"


"Baik tuan"


Setelah pengawal itu pergi, Leo akan beranjak dari ranjangnya tapi tiba tiba kemeja bawahnya ditarik oleh Ella.


"Ada apa?"


"Bolehkah aku ikut? Aku ingin meminta maaf"


"Ayo"


Leo segera membawa kedua anaknya keruang kerjanya.

__ADS_1


Saat ketiga orang itu masuk, didalam sudah ada seorang lelaki muda dengan tangan kanan yang sudah diperban.


"Selamat sore tuan"


"Sore... bagaimana lukamu?"


"Hanya luka kecil, ini tak apa"


"Paman tampan, maafkan aku yang membuat tanganmu harus sepertu mumi"


Seketika Ello  dan Leo menahan tawanya mendengar perkataan Ella yang sepolos itu memanggil pengawalnya. Apalagi ditanggapi dengan senyuman oleh sang pengawal.


Pengawal itu berjongkok mensejajarkan tubuhnya dengan Ella.


"Tak apa nona kecil, ini luka biasa mungkin besok paman sudah bisa beraktifitas kembali"


"Terima kasih paman tampan, kau sangat baik hati"


"Ehmmm.. iya nona kecil, panggil saja Sean nona kecil"


"Baiklah paman Sean yang tampan"


"Ya ampun"


"Ehm.. baiklah, Ello bawa Ella keluar.. daddy ingin berbicara dengan paman Sean"


'Baik"


Setelah kedua bocah perusuh itu pergi, Leo menyuruh Sean untuk duduk.


"Ehmm.. maafkan perlakuan anakku"


'Tak apa tuan, mereka hanya anak kecil"


"Boleh tahu siapa nama lengkapmu?"


"Ehm.. hanya Sean"


"Usi"


"18 tahun"


"Sepertinya aku salah mendapat informasi, tapi foto ini sama denganmu! Sean Jordan usia 14 tahun... kau memang memiliki tubuh yang bagus nak, tapi mataku tak buta untuk membedakan usia 14 dan 18.. bagaimana kau bisa menyusup?"


"Ampun tuan, saya diusir"


"Diusir? Anak bungsu keluarga Jordan  generasi ke 4 diusir?"


"Iya, aku berbeda ibu, ibuku hanya istri kedua"


"Simpanan?"


"Bukan, istri sah"


"Oh, tujuanmu kemari tak mungkin uang bukan?"


"Saya ingin memperkuat diri dalam segala hal tuan, dan tameng anda begitu kokoh, saya ingin belajar dari anda"


"Untuk?"


"Merebut hak saya"


"Anak yang sombong... baiklah masih ingin bekerja dengan saya?"


"Masih tuan, saya mau mengabdi"


'Bagus, aku akan menerimamu tanpa embel embel Jordan disini"


"Terima kasih tuan"


"Tapi saat umurmu 25 tahun, kau harus angkat kaki dari sini"


"Baik tuan, saya mau"


"Emm.. kalau begitu kau kuangkat sebagai pengawal pribadi anakku"


"Terima kasih tuan"


"Ya... oh jangan katakkan apapun tentang identitasmu pada semua orang disini"


'Tentu tuan"


'Keluar"


**********

__ADS_1


__ADS_2