
Heaton Park - Manchester City
Ellena mengerjapkan matanya setelah sampai ke Heaton Park. Dia sampai diperdesaan yang asri. Disini sejuk.
"Mana yang lain?"
"Divilla, mereka menunggu disana."
Ellena dan Dav menyusuri jalan setapak, berjalan kaki menikmati kehidupan penduduk yang damai.
Mereka saling melempar senyum dan menyapa.
Kehidupan damai seperti ini yang dia mau, bukan konflik dengan orang orang terdekatnya.
Terdapat petenakan bahkan ladang dengan segala kesibukan petenak dan petaninya. Ayam ayam sibuk mencari makan.
Ellena tersenyum, tak sia sia dia berjalan dan menyerahkan mobil sport itu pada pengawal Dav.
"Ehm..mereka melihatku seperti bandit"
"Kalau kau bandit, aku akan menjadi sherif yang akan menangkapmu"
"My pleasure...aku akan jadi perompak agar bisa kau bisa mengejarku"
"Bahkan sekarang aku bisa mengejarmu"
Ellena dan Dav seperti anak kecil. Dia berlarian saling tangkap.
"Stop Ell!! ini melelahkan..."
"Kau kurang berolah raga tuan muda Wira"
"Ya kau benar, ayo kita ke villa dan segera mengistirahatkan tubuh!"
Mereka berjalan santai sambil sesekali menyapa para penduduk desa.
"Ibu kira kalian terjebak dipadang rumput dengan mobil sport si*lan itu!?"
"Bu, aku terlalu sering kesini jadi tak mungkin kalau tersesat,Heaton park ini hanya 600 hektar kan?"
"Hanya 600 hektar? Ayolah Dav, kau berlari beberapa meter saja sudah hampir kehabisan nafas dan kau masih menganggap itu sempit seperti kamarmu?"
Ellena mulai sebal dengan mulut enteng Dav, dia selalu menganggap remeh hal lain. Ayolah, Ellena tak suka dengan orang yang menganggap remeh sesuatu.
"Dav, dimana mobilmu itu? Apa kau tinggal dipadang rumput?"
"Dibawa Roy untuk parkir, wanita bodoh ini mengajakku jalan kaki!!"
Ellena sudah mengerucutkan bibirnya dan pemandangan itu membuat Dav terpesona.
"Ayo masuk, ayah sudah menunggu untuk makan!"
"Emm..."
Mereka makan bersama, bercerita dan saling bercanda. Berbeda suasana saat dirumahnya dulu.
Setelah makan, mereka semua duduk diruang keluarga. Disana ada perapian serta home teater.
Dan dengan iseng, Dav membakar sosis disana. Ellena tertawa dengan perilaku Dav.
"Kau sudah dewasa Dav, bukan anak pramuka!"
"Aku dulu anak pramuka jadi soal seperti ini gampang!"
Ellena melihat Dav yang sedikit kaku membakar sosis, berbeda dengan Leo. Ah Leo lagi.
Ellena beranjak dari duduknya dan segera pergi kedapur. Dia membuat popcorn caramel dan sosis goreng serta kopi.
Setelah selesai, Ellena kembali lagi dengan nampan berisi cangkir kopi beserta toples gula. Dan kembali lagi kedapur membawa camilan.
__ADS_1
"Untung Ellena membuat makanan, jadi ayah tak perlu menjadi kelinci percobaan"
Ya, sosis yang dibakar Dav gosong. Ellena hanya menggeleng. Lelaki ini.
"Dan untungnya juga, Ellena membuat popcorn dan sosis dalam porsi jumbo"
Ellena tertawa, dan mempersilahkan semua untuk makan. Mereka menonton film romantis. Ayolah, suami istri disana sudah bermesra mesraan dan Ellena harus apa saat melihat adegan adegan didepan sana membuatnya panas.
Setelah film itu selesai, Dav tiba tiba berdiri didepan mereka semua.
"Aku ingin mengatakkan sesuatu.."
Kening ketiga orang itu berkerut, ada masalah serius apa?
Dav merogoh sakunya, kotak beludru merah dipegangnya menampakkan cincin berlian yang indah.
"Aku mengajak ibu dan ayah kesini untuk menyaksikan anakmu yang nakal ini melamar wanita cantik, wanita yang menghancurkan benteng pertahananku dari awal bertemu, wanita yang memporak porandakan emosiku, wanita yang membuat janntungku terpacu keras, wanita yang ingin selalu kulindungi...
Ellena aku tahu aku tak sempurna, aku ingin kau menjadi penyempurna itu.. Ellena aku tak mau mengajakmu berpacaran, aku mau membina rumah tangga bersama dan juga membesarkan anak anak bersama, maukah kau?"
Ellena tercengang dengan kalimat puitis Dav, dia melirik disana ibunya sudah meneteskan air mata bahagia. Keinginannya membuat Ellena menjadi nyata, sedangkan ayahh Dav tersenyum dan menenangkan istrinya.
Ellena berfikir, berfikir kalau Ellena menolak pasti membuat sepasang itu kecewa,tapi...
"Dav, i have haphephobia"
"Aku tahu... aku akan tetap menggandengmu sampai kau sembuh, so will u marry me?"
"Yes, i will"
Ellena ingin memiliki suami yang bisa memahami sakitnya dan bukan menganggapnya orang gila.
Dav memasangkan cincin itu mengecup tangannya sebentar, dan beralih memeluknya.
Ellena sangat hangat.
"Sederhana"
Mereka bertiga tercengang, sederhana?
"Sederhana dalam divinisi?"
"Segala hal, aku tak suka kemewahan, aku juga ingin tak banyak tamu"
"Emb... kamu yakin? Keluargamu dan Dav itu orang ternama bagaimana bisa tak ada acara mewah?"
"Aku ingin seperti itu kalau kalian tak mau tak apa"
"Aku setuju dengan Elle,sederhana saja"
"Haih... baiklah..."
Ellena tak berbicara apapun lagi, dia sudah terlanjur menyetujuhi. Toh menikah adalah hal yang baik.
Masalah cinta, itu bisa diatur yang terpenting sekarang adalah berjuang menjadi yang terbaik menurut Ellena.
Ellena tak memusingkan apapun itu, bagaimana masa lalu Dav, kenapa lelaki setampan itu membujang diumur yang hampir kepala tiga, dia tak memikirkan itu.
**
Berita tentang rencana pernikahan Dav dan Ellena sampai juga ditelinga Keluarga Ellena.
Ayahnya gembira dan bahkan ibu Ellena juga sangat antusias. Memiliki menantu pengusaha besar adalah keinginannya dari dulu.
Apalagi Ellena mau kembali kerumah. Ami sangat senang.
"Ada apa mama kesini?"
"Apa kamu tak ingin berbelanja? Ayo kita kesalon"
__ADS_1
"Aku tak minat ma..."
"Kenapa? Kamu adalah calon nyonya muda Wira sayang, kamu harus tampil sempurna"
"Ma, hari ini sudah menghabiskan berapa puluh ribu dolar? Mama gak kasihan papa harus bekerja lebih keras gara gara gaya hidup mama?"
"Itu kewajiban papamu membahagiakan mama"
"Bahagia dalam divinisi apa? Materi? Mama sendiri yang mengajarkan aku tentang sederhana! Mama sendiri yang bilang tak boleh boros.. mama sendiri yang bilang, bagaimanapun keadaan kita sebagai perempuan harus mengerti tentang perasaan lelaki... apa mama paham dengan seluru omongan mama sendiri?"
"Kamu... masih kecil sok tahu tentang semua itu...!"
"Aku tak sok tahu ma... mama dulu gak kayak gini tapi setelah Alleo pindah ke Las Vegas dan aku mama masukkan kedalam rumah sakit jiwa, mama menjadi seperti ini, apa karena Lucas? Katakan ma!!! Lucas seorang psico dan sekarang dia rehabilitasi!! Mama harus tahu itu!"
"Mama tak mau tahu, mama hanya ingin bahagia!"
"Bahagia? Mama seperti ini berapa tahun? Mama sepertinya sangat suka kalau jadi pusat perhatian, kenapa mama tak telanjang saja didepan umum!!"
"Kamu..."
"Mama maaf, aku sudah tak kenal anda sekarang, mamaku orang yang sederhana dan selalu membuat orang lain nyaman, bukan seperti anda nyonya Ami"
"Kamu gak tahu diuntung, kamu cantik dan berwawasan, Lucas adalah lelaki lebih kaya dari Dav ataupun Leo kalau kau tahu itu!! Dan dia dengan rendah diri melamarmu waktu itu!!"
"Rendah diri? Ayolah nyonya, dia menyiksa istri istrinya, setelah bosan dia dijadikan pel*cur dikelab malamnya, ataupun budak nafsu para pengawalnya.. dia tak lebih dari sampah"
"Dan aku percaya? Tak percaya!"
"Aku percaya yang dibicarakan Ellena, Am... biarkan itu.. anak gadismu akan menikah, jangan kau rusak rona bahagianya.."
"Kamu..."
"Keluarlah nyonya, aku ingin berbicara dengan papaku"
"Sial.."
"Keluarlah.."
Setah Ami keluar, Reynald duduk disamping anak gadisnya.
"Kenapa harus marah marah, ehm?"
"Aku hanya tak suka"
"Dia mama kandungmu nak... sebagaimanapun kau tak suka tetap harus menghormatinya"
"Pa...kenapa harus selalu dia?"
"Karena papa ingin yang terbaik untukmu, papa tak ingin anak papa terjerumus didalam hati yang membenci"
"Pa..."
"Mamamu tetap seperti dulu, penyayang hanya jalan dia yang salah"
"Papa... papa memang yang terbaik"
"Benarkah? Kalau begitu kamu juga harus menjadi anak papa yang terbaik... iklaskan apa yang harus kamu iklaskan nak.. kamu akan lebih nyaman menjalani hidup"
"Iya pa.. terima kasih pa, papa ada untuk Ellena"
"Ya sayang... kamu sudah dewasa sebentar lagi menikah jadi berusahalah menjadi pribadi yang penyayang dan selalu menjadi wanita yang kuat..bagaimana?"
"Iya pa...Ellena akan berusaha menjadi yang terbaik"
"Anak papa memang hebat"
Ellena menghambur kpelukan papanya, merasakan betapa nyamannya pelukan sang papa
**********
__ADS_1