
Setelah pembicaraanya dengan Rey, dia dihadapkan oleh seorang yang dia kenal, Laura.
"Lalu apa kau berencana menikah lagi Lena?"
"Mungkin"
"Apa kau sudah menemukannya?"
"Mungkin"
"Oh Lord.. kenapa jawabanmu mungkin terus?"
"Aku harus jawab bagaimana Rey...."
Brraaakkk...
Ellena dan Rey terlonjak saat mereka asyik mengobrol seorang wanita yang sangat dikenal Ellena datang dengan aura membunuh begitu kuat.
Laura tetap sama, memakai baju kurang bahan dan juga riasan yang berlebihan. Kenapa Leo dulu punya istri berpenampilan seperti wanita murahan? Apa dulu Leo buta?
"Laura, ada apa kamu marah marah"
"Kembalikan Leo kepadaku!!"
"Memang kamu siapanya Leo? Kalian sudah bercerai ingat itu!"
"Kau!! Gara gara kau, aku kehilangan anakku dan juga Leo!"
Sedikit terkejut, apa yang terjadi? Apa perceraian mereka disaat Laura hamil?
"Aku tak paham, bukannya kau yang meminta cerai, kenapa seakan akan kamu itu yang tersakiti dan aku yang bersalah?"
"Karena kau semua kebahagiaanku hilang tak tersisa!! Leo pergi denganmu dan Alleo malah bersama wanita tak berguna itu!!"
"Alleo?"
"Ya, aku hamil anaknya All tapi aku malah disingkirkan!! Aku benci padamu Ell"
"Itu urusanmu Laura!! Aku tak pernah mau menyentuhmu!"
"Ellena tunggu saja, kamu akan mendapat pelajaran!"
"Laura kalau saja kau tak bodoh dan terprovokasi oleh Alleo mungkin hidupmu masih sejahtera saja"
"Kau!! Awas saja akan kurebut yang menjadi hakku!!"
"Silahkan!"
Laura pergi begitu saja meninggalkan Ellena yang kepalanya berdenyut akibat penuturan Laura. Sebuah rahasia besar terbongkar. Ellena tak habis pikir, jangan jangan ada konspirasi konspirasi lain. Sial.
"Hey ... kenapa kau berurusan dengan wanita yang tak sekolah di grammar?"
"Dia sainganku mungkin"
"Kau disamakan dengan wanita Bar bar itu, pasti lelaki itu buta"
"Aku juga berpikir seperti itu"
"Kau masih unggul dibanding dia ataupun Lea, Lena"
"Kau memujiku untuk apa, tak ada untungnya buatmu"
"Untung? Ya mungkin dengan aku selalu memujimu, aku mendapatkan sebuah hati yang dapat kujaga"
"Kau perayu yang handal, berapa banyak wanita yang kau ajak keranjang dengan modal omonganmu itu?"
"Banyak, hahaha..."
"Kamu gila..."
Ellena mengeluarkan beberapa lembar pound sterling. Dan menaruhnya dibawah gelasnya.
"Ini terlalu banyak"
"Kembaliannya untuk membayar jasa bercerita"
"Terima kasih, kau tahu saja aku butuh uang"
"Emm.. aku pergi dulu"
"Hati hati"
"Emm"
Ellena segera keluar dari cafe dan pulang. Dia sangat suntuk dan lelah. Apa yang harus dia perbuat sekarang.
Dia segera mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang. Masih sore, mungkin Leo pulang larut.
__ADS_1
Dia terus saja berpikir. Bagaimana kalau Leo berpaling? Bagaimana kalau Leo meminta rujuk dengan Laura? Dalam perjalanannya Ellena terus saja berfikir.
Ellena takut harapannya kandas. Ellena khawatir cintanya tak terbalas. Ellena cemas Leo hanya ingin tubuhnya saja.
Tak terasa dia sudah sampai didaerah perumahan Leo. Ellena membelokkan mobilnya keperkarangan rumah nyamannya.
Ellena mengernyitkan keningnya saat dilihat dua buah mobil terparkir disana. Lamborgini itu milik Leo tapi ferarri merah itu milik siapa.
Ellena segera turun dan masuk kedalam rumah.
Dia mencari sang empunya mobil, diruang tamu tak ada, lalu dimana? Dia segera menyusuri rumahnya dan berakhir ke lantai dua tempat kamarnya dan Leo.
"Ahhhh aku merindukanmu Leo..."
Ellena menelan ludahnya saat mendengar suara Laura dari dalam kamar. Diintip kegiatan didalam sana. Jantungnya berdegub dengan kencang dan hatinya sakit. Leo tengah bersama Laura diatas ranjang dengan kegiatan panas mereka. Pening menderanya, air matanya siap jatuh.
Ellena segera berbalik dan pergi menenangkan pikirannya. Rupanya dibelakangnya ada Liam. Liam menatap Ellena sedih.
"Kau pucat dan sedih"
"Apa aku harus bahagia dan tertawa?"
"Ayo pergi, jangan ganggu mereka"
Ellena tak menjawab hanya mengikuti Liam pergi menggunakan mobilnya.
Ellena hanya diam, dia dikhinati lagi.
Mobil yang ditumpanginya berhenti dipekarangan rumah yang asri.
"Dimana ini?"
"Rumahku, ada Hana dan Rio didalam mungkin bisa menemanimu"
"Rio?"
"Anakku, ayo masuk"
Ellena mengikuti Liam masuk untuk menemui istrinya.
Rupanya wanita anak satu itu sedang memandikan bayi mungilnya.
Seandainya bayinya masih hidup.
"Hana..."
"Liam kau sudah pulang.. emm siapa dia?"
"Oh, apa dia calonnya boss"
"Mungkin... Hana biarkan dia disini dulu ya, dia butuh teman"
"Iya, aku senang memiliki teman disini..."
"Siapkan makan malam, aku akan makan malam dirumah setelah menyelesaikan urusanku"
"Baiklah, ,,urus saja boss gilamu itu"
"Kau selalu mengerti aku Hana, aku mencintaimu"
"Aku membencimu!"
Ellena tersenyum samar melihat tingkah sepasang suami istri yang begitu konyol. Ya walaupun dia tahu, Liam lebih santai pembawaannya sedangkan Roy lebih formal tapi mereka sama sama setia dan tegas.
Beruntung Leo mendapatkan mereka.
"Ell..istirahatlah, jangan khawatir, Leo tak akan tahu kalau kamu disini sebelum kamu mau dia kesini"
"Terima kasih Liam"
"Sama sama, kalau begitu istirahatlah, aku akan pergi dulu"
Ellena hanya mengangguk, dan melihat sepasang suami istri itu keluar. Ellena juga ingin seperti itu.
Ellena memegang perut ratanya, bagaimana kalau Leo tak mau anak ini? Bagaimana kalau Anak ini lahir tanpa ayah?
Ellena geram ingin sekali mengenyahkan seluruh pertanyaan ini.
Setelah merasa mendingan, Ellena segera mandi dan keluar kamar.
Dia melihat Hana sedang bermain dengan bayinya.
"Hana..."
"Ell.. kau tak pusing? Istirahatlah"
"Sudah lebih baik, aku bosan dikamar"
__ADS_1
"Baiklah, tolong jaga anakku sebentar ya, aku akan kedapur melihat pembantu memasak"
"Iya..."
Setelah Hana kedapur, Ellena menggendong Rio yang begitu pulas tidur.
Ugh.. sangat menggemaskan..
Rio sangat nyaman digendongan Ellena, sampai diciumi Ellena saja tak terganggu tidurnya.
Hana tersenyum melihat interaksi Ellena dengan anaknya. Dia menghampiri Ellena dengan membawa Teh dan juga camilan.
"Rio sangat menggemaskan"
"Anakmu kelak juga Ell"
"Mungkin... Hana apa Liam sudah lama bersama Leo?"
"Sudah... Liam dan Roy diselamatkan oleh Leo, Roy dulu dikejar dan dibantai debt. Collector karena hutang judi ayahnya sedangkan Liam dia hampir dijual menjadi budak oleh kepala desa disana, tapi untung Leo datang membuat mereka bebas"
"Mereka umur berapa?"
"Dulu saat Roy ditemukan berumur 10 tahun sedangkan Liam 14 tahun tapi mereka berdua berumur sama"
"Lalu saat menemukan Liam, Leo umur berapa?"
"20 tahun"
"Liam dan aku tak terpaut jauh"
"Ya, jadi tak usah heran mereka sangat setia karena memang nyawa mereka sudah dibayar oleh Leo dan juga semua kehidupan mewah ini dari Leo"
"Oh.... Leo berjasa besar untuk kalian ya"
"Tentu"
**
Disisi lain, Liam sudah sampai didepan rumah Leo dan menunggu lelaki itu keluar. Liam mencoba menyembunyikan semua yang dia tahu tapi kenapa sangat sulit.
Keluarlah Leo yang menyeret Laura untuk pergi dari rumahnya. Liam sedikit penasaran, apa yang terjadi?
"Leo,, awas kamu ya!! Ellena juga tak bisa mendapatkanmu"
"Itu pilihanku Liam!!"
Sampai sore Leo terus saja gelisah, wanitanya tak ada kabar.
1 hari..
2 hari...
3 hari..
4 hari..
5 hari..
6 hari..
Sudah 6 hari Ellena tak pulang, Leo terus saja mencari tapi tak ada hasil.
Liam yang melihat itu hanya ternyum menanggapi bossnya yang begitu khawatir dengan Ellena.
Sampai hari ke 6 sudah akan petang, Leo mendapat sebuah kiriman foto, disana ada Ellena dan juga seorang berista sedang bercanda.
Sial.. siapa lelaki ini. Dan ada pesan juga?
Dipesan itu tertulis kalau ingin tahu bertanyalah pada asisten pribadimum
Leo melirik kearah Liam yang diam saja.
Leo mencekeram kerah kemejanya.
"Ada apa?"
"Dimana Ellena!"
"Aku tak tahu Leo!"
'Kau tak tahu? Hana dan juga Rio ditanganku Liam"
"Bajing*n!! Jangan sentuh mereka!!'??"
"Katakkan dimana dia!!"
"Rumahku"
__ADS_1
"Bagus, akan kutambah gajimu!"
******