Ellena

Ellena
18


__ADS_3

Keesokan harinya Ellena terbangun dengan kepala pening. Dia terduduk dan menyederkan kepalanya pada kepala ranjang.


"Pusingnya, ini pasti gara gara menangis semalam..


Eh semalam?"


Ellena berpikir sedikit keras, semalam..


Ya Ellena ingat, semalam Ellena memergoki Dav tidur dengan wanita lain, lalu dia pulang dan menangis melampiaskan kekesalannya pada Roy, selanjutnya dia....


Tak ingat apapun kecuali mimpinya dengan Leo, apa semalam bermimpi?


Tapi, kenapa terasa nyata sekali? Apa karena dia patah hati?


Apa memang nyata? Tapi bajunya masih lengkap dan juga tak ada siapapun tidur disampingnya.


Ellena bangun dan bergegas untuk mandi memastikan tak ada apapun.


Setelah mandi Ellena segera keluar kamar.


Tak ada siapapun.


Semalam mimpi.


Tak berapa lama pintu masuk unit terbuka, memperlihatkan Roy membawa kantung kresek.


"Nyonya sudah bangun?"


"Iya, dari mana?"


"Membeli sarapan, ini nyonya shabu shabu untuk nyonya"


"Terima kasih, Dav belum pulang?".


"Mungkin sebentar lagi nyonya"


"Oh, apa semalam ada tamu?"


"Tidak nyonya"


"Leo tak kesini?"


"Tidak ada siapapun yang datang nyonya"


"Kamu tidur dimana?".


Roy menunjuk sofa yang masih berantakan dengan selimut dan  bantal.


"Semalam rupanya hanya mimpi"


"Mimpi apa nyonya?"


"Tak apa, mari makan"


Mereka berdua makan dengan khidmat, Roy pura pura tak tahu apa yang terjadi walau dia menjadi saksi bisa malam panas Ellena dan juga boss besarnya.


Ellena kembali lagi kekamar setelah makan, sedangkan Roy mengerjakan laporan laporan perusahaan yang terbengkalai gara gara liburan konyol tuannya.


Ellena terus saja berfikir, kenapa semalam bisa sebegitu nyata, bahkan tangan tangannya merasakan hangat saat menyentuh tubuh itu.


Apa Ellena berhalusinasi? Tapi beruntungnya setelah mimpi panas itu, Ellena tak terlalu sedih dan merana. Dia bisa lebih tenang.


Menjelang makan siang Dav pulang, dan segera memeluk Ellena yang berada dibalkon kamar.


"Siang sayang"


"Siang Dav, sudah selesai?"


"Hmm"


Ellena nampak biasa saja, tak ada beban dan kesedihan yang mendalam. Ellena bahkan merasa candaan konyol  didepannya. Aktor hebat didepan mata.


Ellena berfikir, apa dia tak mencintai Dav? Tapi kalau seperti itu, dia masih menncintai Leo, ahh dia suami orang.


Ellena masih melamun saat bibir Dav mendarat pada bibirnya. Ciuman menuntut itu membuat Ellena risih tapi dia tetap harus mengikuti arusnyakan?


"Ayo makan siang"


"Emm apa tak bisa makan siangnya menunggu?"


"Aku lapar Dav...."


"Baiklah baiklah.. kita makan siang"


"Aku mau makan sushi"


"Sushi? Ayo, ada kedai enak didaerah ini"


Ellena segera mengangguk dan barsiap. Ellena sangat enggan untuk bercinta sekarang entah mengapa percintaan semalam sangat membekas diingatannya.


Ellena menunggu Dav dimobil sedangkan lelaki itu mengoceh tak jelas diseberang sana dan kadang tertawa.


"Tuanmu itu sangat bahagia ya punya selingan"


"Eh... bagaimana nyonya?"


"Perbaiki konsentrasimu, kamu bisa tertembak kalau seperti itu"

__ADS_1


Roy tersenyum dan mengangguk. Roy berfikir pola pikir Leo dan Ellena sama tapi takdir mereka tak bersama. Roy tahu bagaimana jalan cinta Leo dan Ellena. Roy tahu betapa Leo memuja Ellena dan sangat mencintainya selama ini. Dan Ellenapun sama, tapi wanita dibelakangnya ini lebih memilih mennguburnya daripada menunjukkannya.


Roy membuyarkan lamunannya saat pintu mobil terbuka, Dav sudah selesai, dan sekarang mereka meluncur kekedai yang ditunjuk Dav.


Setalah perjalanan 15 menit, mereka  sampai direstoran yang disebut Dav, ini restoran sushi yang difoto semalam. Ellena tak percaya, Dav juga membawa Ellena datang kemari.


"Kenapa disini?"


"Ini rekomendasi dari temanku, katanya enak"


"Oh"


Saat mereka berdua masuk, sebagian pegawai disini menggunjing kedatang mereka, ya jangan tanya, Ellena pasti tahu sedikit bisa berbahasa negara yang diimpikannya ini, jadi dia tau apa yang diucapkan. Para karyawan memakai yukata itu menggunjing Dav dan Ellena, yang sedikit membuat Ellena malu atas perilaku suaminya ini.


"*Bukannya ini laki laki semalam?"


"Iya jam segini sudah ganti pasangan?"


"Gila, tapi seksi dan padat semalam"


"Wanita ini lebih kalem dan elegan"


"Pria ini sangat cocok dengan yang ini"


"Iya tapi untuk urusan ranjang entahlah"


"Hahahaa"


"Hahaahaha*"


Mereka menertawakan Ellena dan juga Dav, Ellena seperti seorang gadis yang sengaja bersama hidung belang.


Bajing*n kamu daaaavvv!!


ingin sekali Ellena berteriak tapi berusaha dia tahan.


Saat ditengah tengah makan, terlihat karyawan disana heboh, dan rupanya...


"Hai Dav, ketemu disini rupanya!"


Wanita semalam, ya Ellena tahu betul ini siapa, ini wanita yang merebut posisinya semalam. Difoto foto yang dikirim itu semua memperlihatkan wajah Dav dan wanita ini dengan jelas. Dan wanita ini sedikit mirip dengan Ellena, tapi lebih terlihat glamour dan nakal wanita didepannya.


"Lea?? Kamu disini?"


"Iya mau makan siang sih, "


"Makan saja disini, bolehkan Dav?"


Entah inisiatif dari mana, Ellena ingin mencabut kembali perkataanku. Ellena sangat ingin melihat reaksi Dav, tapi lelaki itu hanya diam.


"Benarkah, terima kasih"


"Ini siapa Dav?"


"Ini istriku, ellena, ellena ini Lea teman kuliahku dulu"


"Hallo, senang bertemu denganmu ellena, selamat ya sudah memenangkan Dav"


"Sama sama"


Tak ada obrolan berat apapun dan mereka meneruskan makan, Ellena sebisa mungkin untuk tidak menangis, dan bersikap tenang, tapi lihatlah mereka berdua berbincang  tanpa beban, sedangkan Roy tampak tak percaya pemandangam didepannya dan juga gugub, Ellena tau beban yang ada dipundak Roy apalagi Ellena tahu perilaku hina apa dibalik ini semua.


Para karyawan yang berjejer itu menggunjing lagi setelah kedatangan wanita bernama Lea itu.


Okey, sekarang Ellena butuh udara segar.


"Dav sebentar ya aku ketoilet dulu"


"Mau ku antar El"


Kata "sayang" sudah lenyap, Dav bersikap biasa saja.


"Tidak usah, aku hanya sebentar, kalian lanjut makan saja"


"Baiklah"


Ellena segera berjalan ketoilet sambil mengusap air mata, beberapa karyawan kaget saat Ellena meneteskan air mata, sakit benar benar sakit. Tetap apapun posisi Dav didalam hati Ellena, sakitnya tetap luar biasa saat dikhinati.


Sampai di toilet segera dibasuh wajah penuh air mata itu, Ellena ingin segera pulang.


"Jangan menangis!"


"Leooo!?"


Ellena membalikkan badannya dan  menghambur dalam pelukan nya, dia pasti tau apa yang terjadi.


"Kamu bodoh apa? Jelas jelas didepanmu seorang sainganmu malah gak kamu tampar malah kamu biarkan saja"


"Leo,, aku gak bisa"


"Lalu?"


"Aku ingin pulang"


"Kamu gila, selesaikan masalahmu dulu baru pergi, percuma kamu lari tanpa membawa solusi, masalah itu akan mengejarmu terus menerus


"Tapi aku sudah sakit, aku tak kuat"

__ADS_1


"Sakit apanya! Cepat selesaikan! Matikan rasa sakit itu Ell, angkat kepalamu, berbicara sombonglah, agar mereka tahu siapa Ellena Lopez itu...bagaimana?"


"Mungkin aku bisa"


"Baiklah... Royy!!"


"Iya boss"


"Roy? Kamu tau Roy,Leo?"


"Roy salah satu orang terdekatku, aku tau masalahmu dari Roy, kau seperti keluargaku El, aku tidak akan membiarkan orang lain menyakiti mu! Roy ambilkan kotak make up, biar dia merias kembali wajahnya yang seperti habis kena pukul ini"


"Baik boss"


"Terima kasih Leo"


"Sama sama, jangan pernah sungkan terhadapku Ell..."


Setelah kembali dari toilet,Ellena kembali duduk dikursi dan melihat mereka berdua masih bercanda, tanpa menghiraukan Ellena.


"Lama sekali El?"


"Iya tadi aku bertemu Leo, dan meminta nomor papa untuk menghubungi Al"


"Kenapa lagi dengan Al?"


"Leo mengajak Al untuk mengurus bisnis disekitar kota, sambil menunggu Sabrina"


"Oh"


Mereka lama sekali, padahal makananya sudah dari tadi habis, Ellena mulai mulai bosan, bahkan sangking bosannya Ellena ingin berteriak kencan,


aku bosan melihat kalian berselingkuh didepanku...


Ellena mendengus, hanya dipikirannya saja Ellena bisa begitu, dia masih punya tata krama dan malu.


"Ayo pulang, aku lelah"


"Umm sayang, baiklah, Lea maaf ya El sudah bosan, lain kali bertemu lagi"


"Baiklah dav"


____


Sepanjang perjalanan mereka bertiga diam. Ellena melihat keluar jendela menikmati pemandangan, Dav sibuk dengan ponselnya, dan Roy mengingat betapa romantis boss besarnya dengan wanita dibelakangnya ini.


"Kenapa kalian berdua diam saja dari tadi"


"Tidak ada apa apa, aku ingin pulang ke apartment, aku pusing"


"Baiklah, mari kita pulang dan istirahat"


Ting


Dav membuka ponselnya, dan menuntupnya kembali setelah membaca pesan itu.


"Haiss orang ini... emm..Ell, maaf ya aku tidak bisa menemanimu istirahat, masalah kemarin belum tuntas"


"Baiklah, tak apa..selesaikan dulu"


Ellena turun di lobi apartment, dan dav tak mengantarkannya kekamar, ini sudah membuat hati Ellena sakit dan kesal. Dulu sesibuk apapun dia , dia pasti menemani Ell terlebih  dulu.


Tak habis pikir dengan Dav, Ellena segera melacak keberadaan nya, dan dihotel kemarin, 4014 untung Ellena tak mengembalikan kunci cadangangan itu.


30 menit kemudian


Ellena sampai didepan pintu kamar, dan dibuka pintu itu perlahan,pemandangan didepan sana langsung terlihat. Disana suaminya memangku wanita bernama Lea itu yang sudah bertelanjang. Atmosfer disini semakin panas, apalagi dengan suara tertawa mereka.


"Kamu nakal Dav"


"Aku dari tadi ingin memakanmu Lea kalau tak ada istriku disana"


"Hmm kau jahat menikah dengan wanita lain"


"Gara gara kamu Lea, kau meninggalkanku sendiri dan aku bertemu dengan dia yang mirip denganmu, jadi kunikahi saja ku kira kamu kembar... tak kusanga kamu lebih bisa membangkitkanku.."


"Hmm cepat ceraikan dia"


"Pasti itu, dan kita akan hidup bahagia beserta anak anak kita kelak"


"Iya dav, aku selalu menunggu saat ini Dav..."


Ditutup pintu itu, Ellena sudah tau jawaban nya, Ellena hanya pengganti, sekarang pemeran utama itu sudah datang jadi Ellena harus pergi, tak ada yang harus dipertahankan disini.


"Nyonya"


"Jangan katakan apapun pada Dav"


"Tapi nyonya..."


"Sudahlah, nyonyamu akan datang, anggap saja aku bukan nyonyamu, aku hanya pengganti Roy"


"Jangan menangis nyonya, tuan pasti sedang tak sadar berkata seperti itu"


"Jangan menghiburku, aku ingin menenangkan diri, jangan ikuti aku"


"Baik nyonya"

__ADS_1


Ellena harus bertahan, dia tak akan kalah dengan wanita itu. Dia hanya butuh udara segar.


**********


__ADS_2