
Setelah kemarin banyak sekali peristiwa yang menyakitkan, hari ini Ellena sudah ditemani Hana dan Mei yang meriasnya. Tergantung sebuah gaun sederhana dipojok ruangan, ya gaun itu bukan gaun mewah dengan beberapa bagian terbuka, itu hanya gaun sangat tertutup dengan brukat disepanjang gaunnya tapi menurut Ellena itu sangat bagus.
Ellena hanya sedikit ber make up dan menyanggul rambutnya, Mei dan Hanapun setuju dengan penampilan Ellena yang terkesan sederhana ini.
"Ellena, aku sangat iri denganmu"
"Kenapa?"
"Kau bisa menemukan Leo yang mau berjuang bersamamu"
"Liam dan Roy pasti juga seperti itu"
Kedua wanita itu tersenyum dengan tulus pada pengantin wanita ini. Dia sangat tegar, apapun yang terjadi.
Ellena sudah siap dengan riasannya dan juga gaunnya. Dia sudah dijemput oleh Roy dan juga Liam.
"Leo sudah menunggu di masjid biru"
"Baik..."
Ellena begitu bahagia, sebentar lagi dia akan bersatu dengan Leo. Cintanya bertahun tahun ini.
Aston Martin yang ditumpangi Ellena sudah dihiasi dengan bunga bunga putih dikap depan mobil serta pita pita yang menjuntai.
Ellena sempat tersipu malu, mereka memperlakukan Ellena benar benar seperti ratu.
Setelah perjalanan 15 menit, akhirnya Ellena turun dari mobil. Dia digandeng oleh Mei dan Hana, untuk membantunya berjalan. Terdengar didalam sana Leo sudah mengucapkan janji setianya.
Ellena mengernyit heran, kenapa Leo mengucapkannya dahulu, kan Ellena masih belum sampai.
"Wahai engkau, Leonard Dominic aku restui dan aku nikahkan engkau dengan anakku Ellena Arsyid, dengan mas kawin sebuah kehidupan yang bahagia dibayar tunai"
"Saya terima nikahnya Ellena Arsyid dengan mas kawin tersebut, tunai"
"Alhamdullilah"
Terdengar menggetarkan jiwa, dan teriak syukur dari dalam sana, apa banyak jama'ah didalam sana?
Hana lalu menuntun Ellena untuk masuk. Betapa terkejutnya Ellena saat melihat Ayahnya datang dna menjadi wali nikahnya.
Ellena menangis haru ditempat.
Leo lalu menuntun Ellena untuk maju mendudukkan wanita itu disampingnya.
Arsyid menatap anaknya, dan tersenyum. Memegang tangannya.
"Anakku, engkau telah aku nikahkan dengan pemuda ini.. apapun keadaannya kamu harus menerima, menuruti semua perintahnya selagi tak melewati batas dari hukum Allah.. anakku... maafkan papa yang tak pernah melihat tumbuh kembangmu, tak pernah menemanimu selama ini, tak pernah tahu bagaimana sakitnya perjalanan hidupmu.. maafkan papa nak"
"Papa...."
Ellena memeluk sang papa dengan erat, dia rindu dengan pelukan ini. Semua orang menatap ayah dan anak itu penuh haru.
"Leo, jaga putriku.. tanggung jawabku kuberikan padamu"
"Baik pa... aku akan melakukan yang terbaik untuk Ellena dan juga kebahagiaannya"
Semua orang semakin haru, saat Arsyid mendoakan sepasang pengantin itu. Lalu Leo ganti mendokan istrinya, Ellena sambil menyentuh puncak kepalanya.
"Ellena engkaulah separuh agamaku... aku mencintaimu"
"Terima kasih Leo...."
"Mari semua, kita pulang kerumah... Fatimah sudah menyiapkan makan siang bersama"
__ADS_1
"Fatimah?"
"Dia gadis yang kemarin, nak.. anak dari paman Arsya"
"Dimana paman Arsya?"
"Dia sudah meninggal, jadi hak asuh Fatimah, papa yang ambil karena ibunya dan neneknya juga tak mau mengasuh"
"Kasihan sekali"
Saat Ellena mencoba berdiri, tiba tiba tubuhnya limbung dan pingsan. Leo sudah memperkirakan ini. Hanya saja kenapa diwaktu seperti ini.
"Ellena... bangun! Leo ada apa ini?"
"Emm.. kita bawa pulang saja pa, Ellena memang diprediksi akan pingsan sewaktu waktu"
"Apa dia hamil? Kamu menghamilinya lagi?"
"Bukan pa, nanti aku jelaskan"
Leo segera mengangkat tubuh Ellena dan menidurkannya dijok mobil belakang. Liam menyetir dengan santai, sedang mengikuti mobil didepannya yang memandu jalan.
Setelah 30 menit perjalanan, sampailah di mansion yang mewah dengan gaya timur tengah yang menawan.
Ellena segera dibawa kekamar pengantinnya, dan Leo tetap menemaninya. Leo berganti baju dengan pakaian kasual serta menyiapkan dress untuk Ellena.
"Ugh..."
"Ell... sudah bangun? Ayo minum dulu"
"Aku dimana?"
"Dirumah papa, kamu tadi pingsan"
"Iya, aku tahu... istirahat dulu, nanti bicara lagi"
"Emmm..."
"Mau ganti baju dulu? Aku sudah siapkan bajumu"
Ellena terdiam.
"Ada apa?"
"Terima kasih Leo.. terima kasih"
Ellena menghambur kepelukan Leo, dia begitu bahagia memiliki Leo yang sangat tulus padanya.
"Jangan berterima kasih Ell... aku suamimu, apapun akan kulakukan demi kebahagiaanmu dan anak anak"
"I love you Leo, I love you"
"I love you too, darl..."
***
Setelah hampir seharian didalam kamar, akhirnya Ellena turun keruang makan untuk makan malam bersama. Ellena turun digandeng oleh Leo.
Terlihat meja makan panjang memenuhi ruangan. Disana sudah terdapat ayahnya, Fatimah, Liam dan Roy beserta pasangan masing masing.
"Ayo.. duduklah nak"
"Terima kasih pa.."
__ADS_1
Ellena dan Leo duduk di sisi kiri ayahnya. Sedangkan Fatimah disisi kanan. Gadis itu tersenyum lebar menatap kakaknya yang lebih cantik dari bayangannya.
"Fatimah, hentikan senyuman bodohmu itu"
"Papa... aku hanya tak menyangka Kak Ellena begitu cantik, jauh dari bayanganku"
"Kamu juga cantik Fatimah"
"Wah... suara kak Ellena juga merdu.. kak Leo bolehkah aku bertukar tempat duduk?"
"Tak boleh! Fatimah, mau papa hukum menghafal hadist lagi"
"Maafkan aku pa"
Fatimah menciut seketika saat papanya melontarkan hukuman padanya.
"Ayo makan..."
Mereka makan tanpa bersuara, hanya perpaduan alat makan yang bersuara. Table manner. Ya, papanyalah yang menjunjung tinggi seperti itu. Masih ingat saat kecil dulu, Ellena diajarkan untuk makan sambil diam tanpa berceloteh tak jelas. Mensyukuri pemberian Tuhan.
Seandainya memory masa kecilnya tak terkunci pasti dia sudah mempunyai banyak ilmu sekarang.
Ya, walaupun Ellena dulu ikut ibunya dan beragama nasrani. Ellena tak pernah diajari secara khusus tentang itu. Dia hanya tahu setiap minggu dia akan ke gereja untuk berdoa serta merayakan hari hari besarnya saja. Selain itu nol besar pengetahuannya.
Ibunya sama sekali tak mau bersusah payah mengajarinya apa itu agama. Dari kecil, Ellena masuk sekolah bangsawan berasrama. Jadi dia hanya berfokus dengan bagaimana menjadi lady yang baik dan berpendidikan.
Mengingat itu, dia menjadi sedih. Kenapa dulu tak ikut papanya saja?lihatlah Fatimah yang memiliki kemampuan diatas rata rata, dia iri dengan itu semua.
"Ellena, kenapa melamun? Makanannya tak enak?"
"Enak kok pa"
"Emm makanlah yang banyak, kapan kembali ke Inggris?"
"Beberapa hari lagi pa, saya masih mau mengajak Ellena jalan jalan"
"Emmm.. kak Ellena aku boleh ikut ke Inggris?"
"Tentu boleh"
"Dia sangat ingin bersekolah di Oxford"
"Ya sudah sekolah disana saja, kakek pasti senang"
"Tapi papa.."
"Apa? Papa memang harus tinggal disini untuk menjaga bisnis papamu"
"Pikirkan lagi... masih ada satu tahun lagi bukan.. kalau memang mau, hubungi kakak saja"
"Terima kasih kak... kakak begitu baik"
"Emm rencana kalian apa besok?"
"Mungkin jalan jalan saja disekitar kota"
"Kami akan kembali besok, kasihan anak anak ditinggal disana"
"Aku sebenarnya merindukan anak anak itu"
"Kalian bersenang senang saja, urusan Ello dan Ella serahkan pada kami.."
"Emmm...."
__ADS_1
******