
Agendanya tadi hanya mengecek perusahaan, lalu dia menemui Julia yang berakhir dengan cek cok, setelah itu melakukan video conference yang melelahkan. Bahkan dia belum mendengar suara berisik anak anaknya serta Leo.
Ellena melemparkan tubuhnya ke tempat tidurnya, ugh lelah. Dia kira kantor baru akan sedikit santai rupanya makin membludak, terpaksa separuh desainer yang ditempatkan di Korea dia kirim ke Indonesia.
Ellena mengambil ponselnya dan segera menghubungi anak anaknya melalui panggilan video. Tak sampai berdering 4 kali, panggilan itu sudah terangkat. Nampak Ella yang sedang duduk didepan komputer sendirian
Ellena melihat jam ditangannya, jam 4 sore jadi disana jam 10 pagi.
"*Hallo mom..."
"Hallo princess, how are u*?"
"Ohh.. aku baik mom... kapan pulang?"
"Sepertinya sedikit lama, apa mau mommy jemput saja?"
"Apa daddy juga disana?"
"Iya, daddy disini tapi sepertinya sekarang sedang keluar"
"Oh, ya sudah.. aku dan kak Ello disini saja, kata nenek aku akan sekolah di play ground milik keluarga Dominic"
"Apa kamu mau?"
"Mau, kak Ello juga sudah setuju, dia sangat betah"
"Kemana dia?"
"Dia sedang istirahat, terlalu lelah karena mengikuti kakek latihan berkuda"
"Mommy ingin sekali melihat"
"Tenang mom, aku akan mengirimimu video besok"
"Emm kamu tak nakal kan?"
"Emm tentu.. tidak.. emmm"
"Jangan bohong! Kalau sampai membuat onar, kalian mommy kirim keasrama grammar"
"Ella janji tak nakal"
"Bagus"
"Mom.. aku punya pengawal pribadi.."
"Untuk apa?'
"Emm kata daddy untuk menjagaku dan menemaniku bermain"
"Oh... bersikap baiklah, siapa namanya?"
"Sean..."
"Lelaki?"
"Menurut mommy pengawal ada yang perempuan?'
"Banyak"
"Tapi daddy memilihkan Sean untukku"
"Baiklah baiklah, jangan menyusahkan orang lain"
"Iya mom..."
"Ya sudah tidurlah, mommy akan memasak untuk daddy"
"Baiklah... *bye mommy"
"Bye princess*, jaga dirimu baik baik"
Ellena mematikan sambungan video itu dan bergegas untuk mandi dan memasak.
Leo memang tak ada dikamar hotel.
**
__ADS_1
Leo hampir mati kebosanan karena seharian tak ada pekerjaan akhirnya memutuskan untuk keluar jalan jalan. Memakai baju kasual dan menyetir mobil sendiri.
Saat menghadapi kemacetan kota Jakarta, terdengar adzan untuk sholat ashar.
Lebih baik menepi dan mencari masjid terdekat.
Leo terlihat menoleh kanan kiri, jalan ini yang dilewatinya tadi pagi. Jadi masjid ada disekitar sini.
Leo segera menuju masjid itu yang untung saja memiliki halaman yang lumayan, bisa untuk parkir mobil. Untung mobil range rover ini banyak dijumpai di Jakarta, jadi tak mencolok. Ellena memang memiliki selera yang bagus, karena memang mobil itu milik Ellena.
Leo segera mengunci mobilnya, dan segera mengambil air wudhu. Leo nampak segar kembali setelah dari tempat wudhu.
Leo segera mengikuti orang orang masuk dan segera menunaikan ibadahnya.
Leo sedikit lama dalam berdoa jadi saat masjid telah sepi, Leo baru saja selesai berdoa.
Saat Leo akan beranjak, terdengar suara seorang perempuan yang sepertinya mendongeng.
Leo seperti tahu dan kenal suara ini.
Leo melihat kesamping masjid, itu wanita yang tadi pagi sedang bersama anak anak kecil yang sepertinya anak jalanan.
Leo sebenarnya enggan untuk mendekat, karena dilihat dari raut wajahnya dan gerak geriknya Julia sangat mencurigakan.
"Mas Leo.."
"Hallo Julia"
"Mas Leo kenapa kesini?"
Leo mengerutkan keningnya saat wanita berkulit kuning langsat itu tersenyum dan tersipu malu. Leo sudah sering melihat seperti ini.
"Hanya sholat, ini akan pergi"
"Tak ingin mampir dipengajian ayah dulu mas, ayah mengadakan pengajian nanti habis magrib"
"Dilihat saja nanti, mungkin saya bisa"
"Saya tunggu mas, nanti saya bilang ayah"
"Iya... saya permisi, assalamuallaikum"
Leo oh Leo, kenapa kau begitu rupawan?
Leo sebenarnya tahu, wanita muda itu menyukainya tapi dia berpura pura tak tahu. Dia akan menjadi lelaki jahat kalau tiba tiba mematahkan hati wanita yang belum 24 jam ditemuinya.
Melihat jam yang melingkar ditangannya, Ellena pasti sudah pulang. Leo segera memacu mobilnya untuk kembali ke hotel.
Leo segera memasukkan mobilnya di basement dan menuju kamar hotelnya bersama Ellena.
"Aku pulang"
"Leo, dari mana saja?"
"Jalan jalan saja"
Leo memeluk Ellena yang sedang memasak. Ellena memang tak pernah memakai baju seksi ataupun transparant tapi Ellena begitu menggoda tanpa harus melakukan hal hal yang murahan.
"Sedang memasak apa?"
"Hanya kepiting lada hitam dan sayur sop"
"Aku lapar"
"Memang keluar tadi tak makan?"
"Tidak, aku teringat calon nyonya Dominic jadi segera pulang"
"Jadi apakah tuan Dominic mau makan malam bersamaku?"
"Tapi sepertinya aku akan makan malam dirumah saja"
"Leo..."
"Hahaha...ayo makan, oh iya setelah makan mau ikut denganku?"
"Kemana?"
__ADS_1
"Ada seorang kenalan yang mengajakku untuk menghadiri pengajian"
"Pengajian?"
"Sejenis mimbar agama, mau ikut?"
"Mau..."
"Oh iya siapa nama orang yang kamu ceritakan itu?"
"Pak Rahmad dan keluarganya"
"Besok kesana ya?"
"Mau ikut?"
"Hmm"
"Baiklah.. galery sudah ada yang menghandle"
"Billa sangat tulus padamu"
"Dia hanya punya aku"
"Aku paham lah seperti itu"
Ellena mengambilkan Leo piring dan juga makanannya. Kamar ini memang memiliki fasilitas lengkap, tapi ini sempit bagi mereka.
"Aku ada satu apartment, disamping kantormu, kita pindah ya?"
"Memang kita akan menetap?"
"Walaupun tak menetap tapikan kita akan sering berkunjung, apalagi disini sepertinya bagus untuk membangun L's International"
"Baiklah, apa luas?"
"Untuk tambahan 5 anak sekalipun masih cukup"
Ellena mendelik, 2 anak saja belum mereka resmikan, ini mau tambah lagi.
"Bersiaplah, aku sudah membelikan baju untukmu"
"Aku punya banyak baju"
"Tak akan cocok bajumu yang dilemari itu"
"Baiklah"
Setelah acara makan, Leo ganti yang menyuci piring dan membiarkan Ellena bersiap.
Ellena tersenyum saat melihat pantulan dirinya. Cantik. Tak apa memuji diri sendiri.
Leo membelikan baju panjang seperti gamis berwarna putih tapi terlihat simple dan nyaman serta kerudung panjang yang hanya disampirkan begitu saja.
"Bagaimana?"
Leo tertular senyum Ellena, dia tak menyangka akan seperti ini. Mengajak Ellena ke masjid bersama untuk ibadah adalah suatu keinginan yang terindah dan dinantinya. Leo diambang pintupun siap dengan celana bahannya serta koko putih, tak lupa dengan songkok hitamnya.
Ellena hampir tak mengenalinya karena biasa melihat Leo berpenampilan berantakan dengan rambut pirangnya menjadi songkok hitam.
"Ellena, aku berharap perjalanan kita berlabuh di akhir bahagia"
"Aku juga berharap begitu"
"Ayo berangkat, aku akan sholat magrib disana saja"
"Iya"
Ellena gugup. Ini kali pertamanya menjadi bagian mereka walaupun belum sepenuhnya.
Setelah perjalanan yang menegangkan, Ellena mengernyit heran. Ini masjid tempat pertemuannya dengan Julia tadi pagi dan pak Rahmad kemarin.
Ellena turun dari mobil, banyak orang yang datang. Mungkin memang sudah biasa. Ellena dan Leo masih disamping mobil, Leo tahu ada keraguan untuk masuk. Bagaimanapun Ellena belum sama dengannya.
"Ellena, mau ikut masuk atau disini saja?"
"Emmm..."
__ADS_1
"Mas Leo..."
**********