Ellena

Ellena
49


__ADS_3

Setelah perbincangan yang menegangkan tadi, Leo mengajak Ellena ke markas mercenary miliknya.


Mereka berdua disambunt dengan hormat, dan tak ada yang membantah akan hal itu.


Leo menuntun Ellena kekamar utama miliknya.


Ellena tetap diam saja.


"Mau mandi?"


"Iya"


"Mandilah dahulu"


"Ehm..."


Ellena masuk kedalam kamar mandi sedangkan Leo memanggil kepala pelayan untuk menyiapkan pakaian untuk istrinya.


Kepala pelayan itu segera menunaikan tugasnya.


Leo menunggu Ellena dibalkon, tiba tiba ada sepasang tangan yang memeluknya dari belakang.


Leo memejamkan matanya, ini bukan Ellena. Siapa yang berani melakukan ini? Leo menggeram sedangkan sang wanita tersenyum bangga bisa membuat geram seorang Leonard Dominic.


Leo berbalik begitu saja, dan dia melihat netra milik Diana. Wanita ini!


Leo mengangkat tangannya dan menyusuri wajah oriental milik Diana. Tangan kekar itu berhenti di leher sang wanita.


"Akkkhhh tuan"


Leo mencekik Diana, dia geram dengan ulah wanita ini.


"Aku dan istriku baru saja membunuh Marcus dan Alleo! Apa sekarang mau kau yang kubunuh"


"Jangan tuan... akkkhh.. tuan.. tolllonngg"


Diana terus memberontak, sedangkan Leo tanpa beban mencekik wanita dengan pakaian maid yang sangat minim.


Ellena mendengar teriakan wanita diluar sana. Tak ada kimino mandi, hanya ada handuk.


Ellena keluar dengan memakai handuk. Dan melihat sekeliling.


Dibalkon Leo mencekik wanita yang sangat sexy(?).


Ellena melangkah dengan cepat, untuk melihat yang terjadi tanpa memperdulikan dirinya hanya memakai handuk.


"Sudah kuberi kau kesempatan hidup dengan aman!! Dan kau masih saja seperti *******!!"


"Tuan... aku mengabdi padamu! Aku melayanimu tuan"


"Sok polos!! Berapa kali kau merayuku? sekali lagi kau lakukan, aku tak sungkan lagi membuatmu digilir oleh para tahanan dibawah tanah agar sikap jalangmu berkurang"


"Leo..."


Leo menoleh kesamping kirinya, dan melihat seorang wanita idamannya hanya memakai handuk.


Leo melepas cekikannya, dan raut mengerikannya berubah cerah.


"Kau menggodaku sayang"


"Bukankah sudah seharusnya sayang... siapa wanita ini?"


"Hanya sebutir debu"


"Oh..."


Ellena menghampiri Leo dan mengecup pipinya, berubah dengan tadi yang diam saja.


Ellena sebenarnya sedikit kesal dengan wanita didepannya ini, setelah mendengar segala penuturan Leo. Bisa bisanya menggoda milik orang lain.


"Tuan... saya mengabdi padamu,, jangan denga ****** ini"


Ellena memicing tak suka dengan perkataan Diana.


Dia bergidik saat melihat tatapan membunuh Ellena dan auranya juga berubah menakutkan.


Ellena tanpa aba aba mengambil revolver jenis colt 1911 dari saku belakang Leo.

__ADS_1


Mengacungkan salah satu  revolver  mematikan itu kearah Diana.


"Kau menggoda suamiku, ******!"


Ellena mendekati Diana yang mulai ketakutan. Diana tak menguasai ilmu bela diri apapun bahkan tentang cara menembak.


Saat Diana menunduk, dagunya diangkat dengan revolver yang ditangan Ellena. Diana akui kecantikan Ellena tak bisa dibandingkan dengannya.


"Kau membangunkan singa betina nona"


Saat Ellena akan memukulnya, Leo menarik tangan Ellena untuk berdiri mendekat.


"Aku tahu tuan pasti menyayangiku ketimbang wanita ini"


Leo menyunggingkan senyumnya. Leo membelai wajah Ellena.


"Jangan kau kotori tanganmu sayang,.. terlalu gampang dia mati kalau seperti itu"


Ellena hanya mengangguk.


"ROYYYY..."


Belum sampai selesai bicara, Ellena mencium bibir Leo dan dibalas ciuman yang rakus.


Terdengar pintu kamar dibuka. Leo segera membalik Ellena, menyembunyikannya didepan dada bidangnya agar Roy tak melihat tubuh Ellena.


"Boss"


Itu Roy, Leo segera melepas ciuman itu. Roy tahu ini pasti ulah Diana lagi.


"Masukkan dia kesel bawah tanah bersama para tahanan lelaki"


"Tapi dia bisa saja dilecehkan"


"Terserah mereka mau diapakan,hadiah untu mereka yang tak mencoba kabur"


Roy mengangkat sebelah alisnya, ucapan bossnya aneh.


"Bagaimana bisa kabur kalau  pengawalmu saja langsung melenyapkan nyawa mereka"


Roy tersenyum. Singa betina telah bangun..


Roy memanggi pengawal untuk membawa Diana ke sel bawah tanah. Dan Dianapun tak memberontak.


Sedangkan Leo menatap wanita dihadapannya. Leo tersenyum.


"Jadi singa betinaku, kenapa hanya memakai handuk?"


"Kau tak menyiapkan kimono mandi, singa jantan"


"Sepertinya setelah ini aku juga tak akan menyiapkan handuk"


"Leo...."


"Emmbb... ayo makan, aku lapar"


"Ayo, aku ganti baju dulu"


"Emmm.. aku tunggu dibawah"


Sementara Ellena berganti baju, Leo turun untuk mengurus segala hal secara kilat.


Melangkah kearah ruang kerjanya, dia sudah diikuti orang orang yang akan melapor.


Leo duduk disinggasananya, menatap seluruh orang yang ikut masuk kedalam ruang kerjanya.


"Liam, jelaskan!"


"Ehm.. begini...


Pertama, Alleo mendapat hukuman pengasingan dipulau terpencil. Tanpa ada akses keluar.


Kedua, orang tua Ellena sudah ditemukan, dia aman.


Ketiga, orang orang yang bersekongkol dengan Alleo sudah ditangkap, termasuk boss besarnya di Tajuana.


Keempat, wanita bernama Diana itu memohon ampun karena dia 'dikeroyok' oleh semua tahanan.

__ADS_1


Kelima, wanita itu adalah mata mata sekaligus kekasih Marcus.


Keenam, Hana bilang kalau si kembar merengek meminta bertemu kau san juga ibunya,


Ketujuh, mereka sekarang ada di mansion Dominic,


Kedelapan, semua cabang perusahaan sudah mengalami kenaikan saham.


Hanya itu untuk sementara"


"Bagus... untuk Diana, biarkan dia tetap disana, agar merasakan akibat dari menggoda, aku akan segera pulang dengan Ellena setelah makan"


"Baik"


Leo keluar dari ruangannya dan diikuti seluruh orang.


Ellena yang melihat itu, sedikit aneh. Sebegitu berkuasanyakah?


Leo mencium kening Ellena dan ikut makan disamping Ellena.


"Kita akan segera pulang ke mansion Dominic"


'Kenapa?"


"Kamu melupakan kedua hartaku, hanya untuk menyusulku kesini"


"Ya ampun..."


Ellena menepuk dahinya, melupakan fakta kalau dia meninggal kedua anaknya.


"Love, coba jelaskan kenapa kamu bisa disini?"


"Emm.. tapi jangan marah"


"Iya .."


Flashback on....


Ellena mengecek kekamar anaknya, melihat apa mereka terbangun. Rupanya masih terlelap. Ello dan Ella memang satu kamar.


Saat Ellena akan keluar, Ellena melihat layar komputer dan laptop Ello masih menyala. Niat hati hanya ingin mematikan tapi melihat hal menarik disana jadi dia membacanya dan memahaminya.


Ellena membekap mulutnya saat Leo baku tembak di daerah pelabuhan kumuh. Merasa khawatir, Ellena ingin menyusul Leo.


Berganti baju dan mengancam pilot pribadi untuk mengantarnya ke Manchester.


Ya, panggilan video itupun dia lakukan di dalam kabin pesawat tanpa memperlihatkan sisi kanan kirinya.


Sampai mendengar cek cok dengan sang wanita bernama Diana.


Agak geram, tapi mencoba santai.


Ellena semakin khawatir karena Leo keluar dari markas.


Setelah turun dari pesawat, Ellena melajukan mobilnya kedaerah perumahan tempat mansion Lopez berada. Instingnya mengajaknya kesana.


Melupakan fakta kalau dia lupa berpamitan dengan kedua anaknya.


Sampai disana dia menelpon rekannya yang seorang International Intellegent agent yang sedang memburu penyelundup ganja dari Tajuana, dan Ellena memberitahu kalau mereka ada di daerah sana.


Jadilah, para marcenary milik Leo mundur dan berjaga berjauhan, saat para sniper dan anggotan agent mengepung.


Tapi sayang, sebelum masuk Ellena dihadang oleh seorang lelaki tambun, dengan mengandalkan ilmu beladirinya dan juga tata guna belati, Ellena berhasil melumpuhkan pria tambun itu walaupun harus terkena gores.


Ellena masuk begitu saja, dan terjadilah hal tak diinginkan itu.


Flashback off....


"Besok besok lagi percayakan apapun padaku Ellena"


"Emm tapi..."


"Kau hanya perlu menjadi ratuku"


"Baiklah"


********

__ADS_1


__ADS_2