
Setelah pagi pagi sekali mengantar Ellena langsung ke Korea, Leo segera kembali ke Manchester, walau perjalanan panjang yang melelahkan, berpuluh puluh jam dia harus berada dipesawat, Leo mau melewatinya.
Leo kembali lagi ke mansion keluarga Dominic, dan beristirahat sebentar dikamar, setelah mengecek anak anak.
"Liam,, aku akan istirahat sebentar"
'Tapi kau akan ada pertemuan di New York jam 1 nanti"
"Apa tak bisa diundur?"
"Tidak.. yang kau temui tuan Wiliam lho"
"Oh... aku akan bersiap"
Leo dengan malas pergi kekamar mandi, dan segera mengguyur tubuhnya dengan air dingin.
Leo turun keruang makan setelah memakai tuxedo mahalnya dan juga macbook ditangannya.
"Daddy...."
Leo tersenyum saat kedua buah hatinya berlari memeluknya.
"Hallo prince and princess..."
"Daddy... mau kemana?"
"Daddy akan pergi bekerja"
"Apa jauh seperti mommy?"
"Tidak... nanti sore daddy sudah akan pulang"
"Janji ya dad, aku tak mau ditinggal lagi"
"Daddy berjanji"
"Dad, apa perlu bantuanku"
"Tak usah .. kalian bermain main saja"
"Emmm... baiklah..."
Setelah Leo mencium kening kedua anaknya, Leo segera naik ke helikopternya dan mendarat di Helipad gedung L's Enterprise New York.
Leo menghela nafasnya kala lelah melandanya lagi. Beberapa hari tak tidur membuat konstrentrasinya terganggu.
"Liam, kurang berapa lama pertemuanku?"
"45 menit"
"Biarkan aku istirahat"
"Baiklah"
Leo menuju ruang istirahatnya di kantor untuk merebahkan diri sebentar.
Baru 20 menit dia tidur sebuah mimpi menyerbunya, mimpi tentang Ellena yang kembali pada Dav.
Leo terperanjat. Terengah. Kenapa mimpi ini?
Leo segera mengambil ponselnya dan menghubungi kekasihnya itu.
"Hallo"
"Ell..kau dimana?"
"Aku di Jakarta, sedang istirahat"
"Ell.."
"Ya.. ada apa?"
"Aku mencintaimu"
'Aku juga"
"Hati hati disana"
"Kau juga hati hati ya"
"Hmm"
Setelah memutus sambungan telpon itu, Leo segera keruang rapat.
Sangat malas rasanya menghadapai rapat hari ini, ingin rasanya terbang begitu saja ke Jakarta menemui Ellena.
Leo tetap terlihat dingin walau hatinya merindu. Wanita itu benar benar membuat gila seorang Dominic.
Leo memasuki ruang rapat yang rupanya semua peserta rapat sudah berkumpul. Leo melihat arlojinya, masih kurang 10 menit lagikan rapatnya?
"Selamat siang, maaf saya terlambat"
"Tuan Dominic tak perlu minta maaf, kami datang lebih cepat setelah melihat berita bahwa anda menjunjung tinggi ketepatan waktu"
"Oh... terima kasih tuan Wiliam... mari kita mulai rapat ini"
"Baiklah, kami merancang proyek pembangunan apartment ini akan memuaskan anda apalagi kami memiliki standart tinggi....."
__ADS_1
Setelah berkutat dengang rapat yang membosankan akhirnya kedua belah pihak berjabat tangan.
"Semoga kerja sama ini menjadia awal hubungan baik kedua perusahan"
"Iya"
Leo keluar dari ruang rapat yang diikuti seluruh stafnya.
"Liam"
"Ya..."
"Siapkan helikopter, kita segera ke Inggris"
"Baik"
Setelah 20 menit Leo beekutat dengan berkas berkas yang akan ditinggalkannya, Leo mendapat kabar kalau helikopternya sudah datang.
Leo bergegas untuk menuju ke helipad, dan terbang diatas gedung gedung pencakar langit.
Dia terlalu banyak melakukan perjalanan untuk memperjuangkan orang orang tersayangnya. Tapi kenapa rasa lelah itu seakan tak ada bandingannya dengan bagaimana Ellena berjuang sendiri membesarkan anak anaknya.
Terlalu lama Leo melamun akhirnya capung besi itu mendarat di helipad milik keluarga Dominic.
Leo menghela nafas, kalau dihitung hitung New York-Manchester seperti Manchester ke London.
Leo berjalan dengan aura tegasnya terlihat tak apa, tapi dia hanya menunggu tumbang saja.
"Kulihat dari tadi kamu belum makan?'
"Nanti aku makan, kau istirahatlah"
"Iya"
Liam dan Leo berpisah saat memasuki mansion. Liam memilih mengunjungi sang istri dan anak.
Sampai Leo didalam mansion tiba tiba kedua anaknya berlari turun dari tangga untuk menemuinya.
"Daddy...."
Leo tersenyum, dan berjongkok menyelaraskan tingginya dengan Kedua malaikatnya.
"kenapa kalian begitu antusias?"
"Emm kita dihukum kakek"
"Memang kalian berbuat apa?"
"Ella tak sengaja menembak pengawal"
"Sudah, maid sudah mengirim makanan kekamar"
"Kenapa harus dikirim ke kamar makannya?"
"Ella tak mau makan dimeja makan, marah dengan kakek yang menghukumnya"
"Memang kakek menghukummu seperti apa?"
"Hanya menyuruh Ella berdiri dipojok sana"
Ello menunjuk pojok ruangan keluarga dekat perapian.
"Berapa lama?"
"30 menit"
Leo menggeleng. Ayahnya dari dulu memang tak pernah berubah.
"Mari kekamar, daddy ingin mendengar cerita yang sesungguhnya"
"Daddy tak marah?"
"Kalau daddy bilang marah bagaimana?"
"Maafkan Ella, dad"
Leo segera mengajak kedua anaknya kedalam kamar, tak lupa menyuruh pelayan untuk mengantarkan camilan dan juga buah.
Leo naik kelantai dua dan segera masuk kekamarnya.
"Baik para setan kecil, coba siapa yang mau menjelaskan"
"Emm aku..."
Tok tok tok...
"Permisi tuan, ini buah dan juga camilannya"
"Taruh dimeja saja"
"Baik"
Terlihat Ella sedikit gugup dan takut. Dia merasa bersalah.
"Jadi... bagaimana?"
"Emm.. tadi aku .."
__ADS_1
Flashback on
Setelah Leo berangkat bekerja, semua orang sibuk sendiri sendiri.
Ella bingung harus berbuat apa, dia bosan bermain bersama boneka bonekanya terus diruang bermain.
Ella melihat sang kakak, Ello begitu serius menatap layar komputernya. Kakaknya selalu memiliki dunianya sendiri, dan sekarang semakin sibuk setelah menerima alat alat elektonik dari ayahnya. Ella sendiri bingung, kenapa kakaknya lebih cerdas dari anak anak sebayanya.
Ella pergi begitu saja saat kakaknya tengah asyik dengan jaringannya.
Ella melihat sekeliling, hanya maid yang berlalu lalang sedang bekerja. Tak mungkin dia mengganggu.
Mencari kakek neneknya, dan dimanapun tak ada.
"Emm apa kalian tahu dimana kakek dan nenek?"
"Maaf nona kecil, sepertinya nyonya besar sedang ada pameran perhiasan di Salford sedangkan tuan besar melihat pacuan kuda di London bersama bangsawan lain"
"Oh.. ya sudah"
Tak ada orang yang bisa diajak bermain. Ella duduk diayunan belakang mansion, sambil memainkan boneka barbienya. Sangat membosankan.
"Apa kau sudah waktunya istirahat?"
"Sudah, memang ada apa?"
"Ayo kita ketempat latihan, sepertinya ada samurai baru disana"
"Baiklah, aku juga lama tak bermain samurai"
Ella menoleh kebelakang, rupanya pengawal mansion.
Mereka mau kemana?
Ella ingat kalau dibelakang mansion ini ada lapangan latihan. Dia mau ikut.
"Paman"
Kedua orang dewasa itu menoleh, rupanya nona kecilnya yang memanggil.
"Iya nona kecil, ada yang bisa kami bantu?"
"Emm paman akan kemana?"
"Kami akan pergi latihan nona kecil"
"Bisakah Ella ikut?"
"Disana berbahaya nona kecil"
"Tapi aku bosan"
Ella menunjukkan wajah memelasnya, dan kedua pengawal itu saling bertatapan, bagaimana ini?
"Hah... baiklah nona kecil, tapi nanti disana hany duduk diam ya, menonton"
"Baik paman, terima kasih paman"
Ella begitu riang. Sampai ditempat latihan mereka tetap menjaga Ella takut kalau terjadi apa apa.
Sampai 30 menit dia duduk melihat para pengawal berlatih dengan apik, dia bosan kalau hanya menonton.
Bagaimana cara mengelabuhi para pengawal ini?
"Paman"
"Ya nona kecil, ada yang bisa kami bantu?"
"Aku haus, aku ingin orange jus"
"Akan saya ambilkan nona"
Setelah melihat satu pengawalnya tak terlihat, Ella berbicara lagi.
"Ah iya aku lupa, sekalian aku lapar ingin donat"
"Nona kecil tunggu sebentar ya, biarkan Dia kembali dulu"
"Kamu saja yang mengambilkan, aku tak akan nakal kok disini"
"Baiklah, tapi Nona kecil jangan kemana mana ya, takutnya terluka"
'Tenang saja"
Setelah kedua pengawalnya pergi, Ella turun dari sofa dan berjalan keruang sejata.
Banyak senjata disana, dari pedang, panah, berbagai jenis pisau dan juga ratusan pistol serta senjata laras panjang lain.
Dia mengambil sebuah pistol yang cukup mencolok, terdapat tulisan colt 1911. Warnanya gold sangat bagus.
Saat asyik mengamati pistol itu, tak sengaja membuka safeguard key pada pistol itu.
"Apa ini berfunsi ya"
"Nona kecil!!"
****************
__ADS_1