Ellena

Ellena
25


__ADS_3

El semakin hari semakin baik, dia menjalani aktivitasnya dengan baik. Dia tetap tinggal diapartmentnya, tak mau ikut dengan Leo. Jadilah Leo sering menjenguknya diapartment karena memang jarak antara apartment dan kantornya jauh apalagi Leo sering mengikuti rapat luar kota ataupun luar negeri, dan semua itu lumayan membuatnya lelah, jadi dia sekarang membawa Liam kemanapun.


"Leo.. kau tak pulang kerumah?"


"Entahlah, aku khawatir meninggalkan Ellena sendiri"


"Kau juga butuh istirahat dengan baik"


"Ingin rasanya juga begitu tapi aku tak bisa"


"Ajak saja Ellena kerumahmu, disana juga ada istrikukan"


"Dia tak mau, Liam.. aku tak mau memaksanya"


"Jangan terlalu berkorban untuk yang tak pasti"


"Kau tak tahu, Ellena adalah penunjuk arahku, dia yang membuatku menjadi orang yang sukses"


'Aku tahu kamu begitu mencintainya, mintalah kepastian"


"Hmmm"


Leo hanya melihat kedepan tak menengok lagi kepada Liam yang sedang menyetir. Dia tak mau berdebat dengan Liam karena separuh perdebatan itu membuatnya jatuh tersungkur dengan fakta yang terjadi.


Liam tak sama dengan Roy. Roy akan mudah menurut apapun keputusa Leo tapi Liam akan menghujaminya dengan hujatan dan makian kalau itu tak beralasan yang logis, seperti saat ini. Liam lebih bersikap seperti keluarga dengan Leo dan sikapnya itu kadang kurang ajar.  Tapi mereka adalah saudara saudara tak sedarah yang baik dan terpercaya.


Saat ini dia memegang sebuah undangan pernikahan, pernikahan yang ingin dihindari oleh Leo demi Ellena. Tak tega rasanya mengabarkan Dav akan menikahi Lea. Tapi mau bagaimana dia harus tahu agar tak mengharap lelaki bajing*n itu.


Dia terus saja melamun sampai dia tiba didepan Apartment. Leo menghela nafas kasar saat akan turu.


"Katakan apa yang harus kamu katakkan"


Itu kata kata Liam sebelum dia melesat untuk pulang.


Leo segera naik dan melihat wanitanya.


Memasuki unit apartment itu, Ellena sedang menonton tv saat Leo masuk.


"El...."


"Leo kamu sudah pulang, ayo makan?"


"Dav akan menikah"


"Dengan Lea? Apa kita harus datang?"


"Terserah kamu, apa kamu tak apa?"


"Kita harus datang"


"Tapi..."


"Aku tak apa,  kita kesana"


"Baiklah"


**


Ya setelah 1 minggu Ellena ahu kabar itu, akhirny mereka akan menghadiri pernikahan Dav dan juga Lea. Mereka datang sebagai pasangan.


"Kamu mau pakai gaun yang mana?"


"Yang serasi dengan tuxedomu"


"Baiklah, kamu selalu memikirkan fasionmu"


"Aku akan segera bersiap"


"Aku tunggu kamu didepan ya"


"Hmm"


30 menit Leo menunggu, Leo sampai bosan menunggu sang wanita.


Tapi saat wanita itu keluar dari kamar, kekesalan Leo terbayar sudar dengan pemandangan didepannya. Ellena mengenakan gaun malam panjang yang memperlihatkan punggung putihnya serta makeup natural sesuai umurnya. Rambut yang digelung itu memperlihatkan betapa jenjangnya leher Ellena.


"Sugar, bisa kita dirumah saja dan menghabiskan malam kita sendiri?"


"Tak bisa, ayo segera berangkat"


"Tapikan... hah.. baiklah"


**


Saat memasuki ballroom besar ini semua mata memandang kearah mereka tepatnya kearah Ellena, ada yang menggunjing dan memuji Ellena dari belakang tapi tetap saja membuat panas telinga.


"El, apa kamu tak risih?"


"Jangan dengarkan mereka"


"Hmm... tapi aku punya telinga el"


"Bagaimana kalau kamu pulang?"


"Hmmm... aku diam"


"Anak pintar"

__ADS_1


**


Saat menemani Leo menyapa beberapa tamu yang Leo kenal, tiba tiba dari belakang ada seorang wanita yang suaranya sangat familiar ditelinga Ellena menyapanya.


"El"


"Ibu..."


"Maafkan kelakuan anak kami Ell"


"Aku sudah maafkan bu, dan aku juga mendoakan agar Dav bahagia dengan pilihannya"


"Aku tak paham dengan anak itu"


"Gak apa apa bu, aku paham kok dengan keputusan mereka, toh Lea juga hamilkan, tak sepertiku"


"Ell.. maafkan keluargaku yang sempat meragukanmu, aku sangka kalau kamu mandul"


Leo mendengar itu semua agak tersinggung, apalagi kata kata itu harusnya tertuju untuk anak mereka.


"Seharusnya yang kalian pertanyakan kemandulannya itu anak kalian tuan.. Ellena saja bisa hamil dan mempunyai anak kalau menantu kalian itu tak berulah yang mengakibatkan Ellena keguguran... coba tanyakan lagi tes yang dijalani Dav itu akurat atau tidak, jangan jangan didalam kandungan menantu barumu itu bukan pewarismu tuan"


"Leo sudahlah jangan buat ribut"


"Ini siapa Ell, kenapa dia lancanf sekali?"


"Kenalkan ini Leo, calon suami Ellena"


Wow~leo


"Semoga kalian bahagia sayang, maafkan anakku dan juga perkataan suamiku"


"Iya bu, tak apa"


Resepsi pernikahan dav dan lea berjalan lancar,  hanya saja ada insiden kecil. El menghilang  setelah bicara 4 mata dengan dav.


Sempat frustasi Leo mencari wanita itu, tapi rupanya dia pergi ketoilet menenangkan diri.


"Ya ampun El, hampir frustasi aku mencarimu"


"Maafkan aku leo"


"Ayo pulang"


"Iya"


***


LEO POV*


Diperjalanan pulang


"Leo"


"Hm"


"Leo kenapa kamu mendiamkan ku?"


"Aku tak mendiamkanmu"


"Kenapa nada bicaramu datar begitu?"


"Tak apa"


"Kamu cemburu? Kamu marah"


"....."


"Stop leo! Berhenti disini"


Aku menepikan mobil kenapa lagi dengan wanita ini.


"Apa?"


"Baiklah aku nekat"


Nekat? Dia melepas sabuk pengamannya dan tanpa ku duga dia naik diatas pangkuanku.


"Kamu ngapain?"


"Merayumu! Agar tak marah lagi"


Dimenyambar bibirku yang sempat terkejut dengan perilaku wanita ini. Tapi setelah kucerna dengan baik akhirnya aku ikut dalam permainannya.


"El, ayo kita teruskan dirumah"


"Tak mau! Aku maunya disini"


"Disini sempit"


"Tapi kita kan belum bercinta didalam mobil"


Setelah mendengar jawaban dari El seperti itu, adrenalinku terpacu.


Kenapa wanita ini, bersemangat sekali?


Saat aku akan menyentuhnya, dia menahan tanganku.

__ADS_1


"Jangan itu  kotor.... jangan disentuh"


"Kotor?"


"Tolong"


Pasti ada sesuatu.


Ellena bergerak bebas diatas, dan aku mengamatinya dengan bingung.. apa yang terjadi.


Dia terus memimpin permainan, entah berapa lama aku dan Ell berperang didalam mobil tapi yang kulihat Ell sesekali menitikkan air mata. Ada apa dengan wanita?


El terus saja mendesah dan aku mengejar puncakku,kasian Elk pasti lelah dengan posisi seperti ini.


Tak berapa lama, aku dan Ell mencapai puncak bersama. El langsung duduk lagi disampingku,


"Puas?"


"Belum, aku ingin lagi Leo!"


"Dirumah saja"


El tak menjawab. Dia memalingkan wajahnya kearah jendela, sepertinya dia ada masalah.


"Kenapa kita pulang kerumahmu?"


"Aku lebih leluasa suka dirumah sayang"


"Hmmm"


"El kenapa kamu hari ini?"


"Aku sangat mengingikan mu leo"


"Bohong!! Ada apa?"


"Aku juga tak tau, aku sangat ingin disentuh!"


"Kamu habis disentuh dav?"


"Ya! Dia mencoba lagi!dan itu membuatku kotor!"


"Aku sudah menduganya.. El, maukah kamu menikah denganku agar aku bisa menjagamu"


"Aku belum siap mengambil komitmen lagi... aku takut"


"Akan ku tunggu waktu kamu menjawab itu"


.


.


.


.


Setelah lamaran yang ditolak itu El lebih mendiamkanku, dia hanya berbicara kalau penting dan selebihnya hanya diam.


Sial.


Aku pun mulai memahami dia, dia butuh waktu menenangkan diri maka dari itu akan kuberi dia ruang sebebas bebasnya.


Aku jarang sekali pulang, pulang kalau memang ada yang penting apalagi aku mendapat proyel besar di Miami, aku akan bekerja keras agar bisa membuat Bisnis di Miami menjadi milikku.


Dia tak menanyaiku kenapa jarang pulang, jadi kudiamkan saja dia. Biarkan dia sendiri.


Akhirnya aku tak pulang, lebih nyaman tidur dikantor dari pada dirumah didiami orang tersayang.


"Kau tak pulang lagi, hm ..?"


"Kau pulang dulu"


"Untung aku sudah rumah sendiri jadi tak perlu menonton drama tak penting ini"


"Liam!! Pergi"


"Baik baik"


Hampir setiap pulang kantor pasti ditanyai seperti itu oleh Liam, dan berakhir pertikaian bocah. Bahkan orang kepercayaanku bilang aku bangkrut sehingga tak punya rumah.  Ayolah aku ini Leo,pemegang perusahaan besar. L's enterprise ditanganku.


Pekan ini ada rapat penting, sangat menguntungkan nilainya. Dan lembur itu makanan utama.


Ya sedikit mengurangi pikiranku terhadap El ku.


**


Tak terasa sudah satu bulan aku disini tanpa pulang. Setelah tender proyek ini dinyatakan berhasil, aku pulang mengajak Ell makan malam.


Kulajukan mobil sportku membelah jalanan dan berhenti ditoko bunga membeli mawar untuk ellena.


Kupercepat mobilku, lumayan lengang untuk jam 7 malam. Ku masuki pekarangan rumah yang lumayan luas. Rindu juga dengan rumah ini.


Ku buka pintu depan dan ku panggil nama wanita kesayanganku itu.


"Elll"


"LEEEOOO"

__ADS_1


************


__ADS_2