Ellena

Ellena
15


__ADS_3

Sudah hampir satu tahun Ellena dan Dav menikah, 2 minggu lagi mereka merayakan 1 tahun pernikahan mereka.


Dan Ellena hampir setiap bulan datang ketempat Mella untuk mengecek keadaannya. Kenapa dia tak hamil hamil.


"Kamu itu sangat subur Ell, tak ada kendala apapun"


"Tapi kenapa aku tak kunjung hamil, aku bisa depresi mendengar hinaan ibu mertuaku Mell"


"Ibu mertuamu menghinamu?"


"Ya, hampir setiap bulan saat aku berkunjung dia akan menjelek jelekkanku"


"Apa kamu tes saja suamimu?"


"dia pasti tak mau, aku dulu sudah pernah mengajaknya dan dia malah memarahiku mentah mentah"


"Lakukan diam diam"


"Maksudnya?"


"Yang mengurus semuanya Roy kan?"


"Iya"


"Mintalah Roy untuk mengecek itu sekalian, dan jangan beri tahu Dav apapun hasilnya"


"Hm? Untuk apa aku harus mengecek kalau tak ku beri tahu padanya?"


"Untuk senjata darurat"


Ellena berpikir sebentar, senjata darurat?


Ellena tersenyum, dia tahu apa maksud Mella.


"Baiklah, mungkin minggu ini dia akan cek kesehatan, aku pulang dulu untuk meminta tolong Roy"


"Baiklah, semoga sukses"


Ellena berjalan keluar, beruntung hari ini dia ditemani Roy jadi dia bisa melancarkan aksinya.


"Roy, mampir ke Sunrise cafe ya"


"Baik nyonya..."


Mobil yang ditumpangi Ellena melesat beberapa kilometer dan berhenti dengan mulus didepan cafe yang dimaksud Ellena.


"Ayo ikut masuk, makan siang sekalian"


"Tak usah nyonya, nanti saja"


"Aku tak ada teman, dan aku juga tak mau dianggap nyonya yang kejam"


"Baiklah nyonya"


Ellena masuk terlebih dahulu diikuti Roy.


"Pesan apapun sesukamu"


"Baik nyonya"


Ellena dan Roy memesan makanan.


"Roy.."


"Ya nyonya, perlu bantuan?"


Waktunya berakting~Ellena


"Kau tahu Roy, aku sudah satu tahun menikah dan belum diberi anak"


"Nyonya semua butuh waktu, mungkin Tuhan mencoba..."


"Aku sangat subur Roy, setiap bulan aku pasti mengeceknya, aku lelah setiap saat selalu dipojokkan oleh keluarga Wira"


"Nyonya ..."


"Tolong bantu aku Roy"


"Apa itu nyonya?"


"Satu minggu lagi Dav akan pemeriksaan kesehatan, aku mau kau juga memeriksakan kesuburan Dav.. tolong jangan beri tahu Dav"

__ADS_1


"Tapi nyonya.. kenapa tak anda sendiri yang mengajaknya"


"Dia tak mau, dia malah memarahiku dan menamparku"


"Nyonya..."


"Aku hanya ingin Tau Roy, aku lelah dikambing hitamkan terus menerus oleh keluarga Wira"


"Hah.... baiklah nyonya, saya akan berusaha"


"Terima kasih Roy,, aku berhutang jasa padamu"


"Anda nyonya saya, sudah sepatutnya saya menerima semua perintah nyonya"


"Terima kasih"


Senyum Ellena mengembang, setidaknya dia tahu apa yang harus diperbuat.


Ellena dan Roy segera menghabiskan makanannya. Dan pulang.


2 minggu suda berlalu, dan malam ini adalah perayaan anniversary pernikahan mereka yang pertama.


Ellena tampil cantik dengan gaun malam berwarna Navy, potongan dada rendah serta punggung terbuka membuat semua mata memandang takjub dengan nyonya muda Wira apalagi dia memakai make up natural dan rambut bersanggul, leher jenjang yang memikat.


Ellena turun bergandengan dengan Dav yang nampak serasi. Dav mengenakan tuxedo yang melekat pas dibadannya, sepatu fantofel mengkilap itu mengetuk ngetuk lantai beriringan dengan high heel Ellena yang tinggi. Dav nampak tampan dengan rambut yang disugar kebelakang nampak fres.


Leo dan juga Laura datang untuk memberi selamat pada Sepasang suami istri itu.


"Selamat ya Dav, Ell semoga kalian langgeng"


"Terima kasih Leo"


"Emm.. ngomong ngomong kalian sudah lama menikah lo, gak ingin punya anak"


"Kita sedang merencanakan itu kak Lau"


"Oh... semoga cepat berhasil"


"Kak Laura sendiri kenapa tak hamil hamil?"


"Aku belum ingin punya anak"


"Kau sudah tua kak, tak baik wanita tua itu hamil"


"Yang Ellena katakkan itu fakta sayang, dia peduli denganmu"


"Kak Leo benar kak"


Laura menahan amarah, dia kesal dengan ucapan Ellena. Dia harus segera hamil.


Acara terus berlangsung, sambutan sambutan telah selesai. Semua orang duduk di kursi masing masing untuk menikmati makan malam.


Mereka bersulang bersama.


Jamuan itu terlihat meriah. Terlihat rona bahagia didalam jamuan itu.


"Ell..."


"Iya bu..."


"Kapan kamu memberi ibu cucu"


"Mama juga ingin satu darimu Ell"


"Ibu dan Mama, aku sedang berusaha"


"Apa kamu sudah cek keadaanmu, jangan jangan terkendala kamunya lagi?"


"Aku sehat bu, aku setiap bulan pasti cek"


"Jangan jangan Dav yang bermasalah"


"Tak mungkin Anakku bermasalah"


Kedua wanita itu terus saja berdebat mempermasalahkan itu semua.


"Dav tak mau kuajak memeriksakannya"


"Tuhkan, dia pasti takut"


"Takut apa? Dalam keluargaku tak akan ada yang seperti itu"

__ADS_1


Ellena pusing dengan tingkah kedua ibunya, mereka pasti tak mau mengalah.


Ellena melihat sekeliling, Dav sedang berbincang dengan kliennya.


Para ayahnya berbincang dengan Leo dan All. Mereka terlihat akur saja tak seperti kedua ibunya.


Ellena bosan, mendengar pembicaraan tak penting kedua ibunya, ingin rasanya dia lenyap.


"Ell..."


"Dav... kenapa?"


"Ini hadiah anniv kita, bukalah"


Ellena menerima kotak merah itu dan membukanya didalamnya ada lagi kotak kotak kecil.


Ellena membuka kotak merah persegi panjang, kalung berlian berliontin hati. Ellena mengerjabkan matanya melihat kalung yang begitu indah.


Dav memakaikan itu pada leher jenjang Ellena. Semua orang bertepuk tangan melihat adegan mesra itu.


Ellen segera membuka kotak yang kedua, dua buah tiket pesawat,


"Dav...?"


"Ini impianmu dulu"


"Jepang..."


"Kita akan kesana"


Ellena memeluk Dav dengan erat, akhirnya dia bisa honeymoon.


Setelah acara selesai, mereka segera istirahat, karena mereka besok melakukan penerbangan pagi. Semua hal sudah disiapkan oleh Roy.


Dan sekarang mereka kembali ke rumah utama, karena Marge memaksa mereka untuk pulang ke rumah utama.


"Kalian kapan akan punya anak?"


Ellena terlihat kecewa dengan omongan ibu mertuanya. Dia sudah kenyang dengan pertanyaan itu. Sedangkan Dac hanya menanggapinya dengan senyuman.


"Tergantung Tuhan bu"


"Aku lelah ingin istirahat"


Ellena segera naik kelantai dua, dan diujung tangga paling atas dia mendengar ibu mertuanya mengoceh menjelek jelekannya.


"Dia mandul Davv!!"


"Bu, nanti Ellena dengar! Aku mencintai dia apa adanya, kalau memang Ellena tak bisa hamil, kami bisa mengadopsi anak bu"


"Kalau bukan darah dagingmu sendiri, jangan harapkan sepeserpun warisan itu kalau bukan darah dagingmu!!"


"Ayah.. kenapa ayah berkata seperti itu!"


"Karena ayah tak mau darah Wira terputus!"


"Pikiran kalian sungguh picik"


Dav naik keatas menyusul Ellena, dia takut Ellena mendengar itu semua.


Dav masuk, melihat Ellena sudah tidur.


Dav mendekati Ellena dan mengusap rambut halus istrinya itu, dan mengecupnya.


"Maafkan orang tuaku sayang"


Dav mendekap perut ramping istrinya. Berharap istrinya hamil dan memberikannya anak.


Dav tertidur. Sedangkan Ellena tak tidur, Ellena menerima pesan dari Roy, hasilnya sudah keluar.


Dan sedikit terkejut saat email masuk keponselnya.


David yang tak bisa menghamilinya karena bermasalah dengan spermanya, kemungkinan bisa membuahi 35%.


Kenyataan konyol apa ini?


Selama ini Ellena yang dikambing hitamkan, tapi nyatanya Davidlah yang sulit membuahinya.


Dan kemungkinan besar David tahu itu, karena setiap Ellena mengajak Dav memeriksakan diri, dia pasti berdalih dan marah.


Ellena harus apa?

__ADS_1


*********


__ADS_2