
Ellena dan Leo menoleh kesumber suara. Terlihat terdapat kekagetan dari mereka. Ellena tak menyangka Julia akan mengenal Leo dan sebaliknya. Sedangkan Julia marah saat Ellena datang dengan Leo-nya.
"Julia..."
Ellena dan Leo saling bertatap, masing masing juga kenal.
"Kok datang kesini dengan Ellena, dia tak sama dengan kita..."
Terlihat wajah marah dari Julia tapj segera tersamar dengan wajah polos Julia. Tapi sayang Julia tak tahu, siapa Ellena dan Leo sebenarnya.
"Julia jaga bicaramu"
Terdengar suara lelaki dari belakang, itu pak Rahmad, ayah Julia yang diikuti ibu Julia.
"Pak Rahmad, ibu..selamat malam"
"Selamat malam Ellena, ini siapa?"
"Kenalkan ini Leo"
"Saya Leo pak, tolong bimbingannya"
"Saya Rahmad, ini istri saya Siti, dan anak saya Julia, bagaimana kalian bisa disini?"
"Saya tadi diajak Leo kesini"
"Oh..."
"Saya diundang anak bapak untuk mengikuti pengajian disini pak"
"Oh, baiklah,, Ellena bagaimana keteguhanmu?"
"Sebenarnya, saya sudah teguh pak, pumpung disini ada saksi dan juga Leo, saya ingin masuk islam!"
"Darl... serious?
"Yes..."
Leo tersenyum dan menyentuh kepala Ellena. Dia bangga memiliki wanita seperti Ellena.
Interaksi sepasang kekasih itu, tak luput dari sepasang mata yang menyorot tak suka.
Ellena diajak masuk oleh bu Siti dan disuruh duduk dibelakang agar bisa melihat.
Ellena hanya mengangguk. Ellena tahu, Julia menaruh hati pada Leo tapi lelaki itu tak menggubrisnya.
Setelah sholat magrib, Ellena dan Leo mengikuti pengajian yang membahas tentang keindahan islam. Ellena tahu, pak Rahmad melakukan itu agar Ellena lebih mantab.
Setelah pengajian itu, Ellena diajak kesamping pak Rahmad yang ditemani istrinya.
Ellena memperkenalkan diri, bahkan anak anaknya yang sedang bervideo call juga dikenalkan tapi tak mengatakkan tentang ayah sianak. Belum waktunya.
"Ellena, apa kau siap masuk ke Islam?"
"Aku siap"
Ellena mengikuti setiap instruksi dari pak Rahmad dan segera mengucapkannya, Ellena sangat fasih mengucapkan dua kalimat syahadat itu. Ada perasaan lega dan berbunga bunga.
Ellena melihat Leo yang tersenyum,
Kita sama....
Ellena diberi satu set alat sholat oleh pak Rahmad dan keluarga, sebagai tanda syukur.
Setelah acara itu, semua orang segera bersiap untuk sholat isya' dengan khusyuk.
Ellena juga mengikutinya, tak apa belum bisa, masih belajar nanti belajar pelan pelan yang terpenting harus menjalankan sholat.
Setelah selesai sholat, Ellena segera keluar, nampak Julia sedang berbicara dengan Leo. Ellena tertawa kecil ketika Leo tak terlalu menanggapinya.
"Julia, besok bimbingan jam berapa?"
"Selesai dhuhur saja, aku pagi masih ada kerjaan"
"baiklah"
"aku besok ikut boleh?"
"tentu boleh mas, aku senang mas Leo mau datang juga"
Ellena memutar bola matanya jengah, wanita ini tak tahu malu atau bagaimana?
"Baiklah, ayo dalr kita pulang!"
"Ayo, Julia kami permisi dahulu, assalamuallaikum"
"Wa'allaikum salam"
__ADS_1
Ellena dan Leo berjalan bersama menuju mobil. Sedangkan Julia tetap ditempat memandang tak suka kedekatan mereka berdua.
"Jangan kamu pelihara setan hati itu, nak!"
Julia terjengat mendengar suara ayahnya dari arah belakang. Terdengar memperingati.
"Maksud ayah apa? Aku tak pernah memelihara setan hati"
"Setan hati itu muncul saat kamu menyukai berlebih lawan jenis, akan sia sia belajarmu selama ini!"
"Ayah, aku wanita! Apa aku salah suka pada mas Leo yang seorang lelaki lajang"
"Tapi kamu tahu bukan, kalau Leo mencintai Ellena? Suka itu wajar, tapi menganggap orang lain menjadi saingan itu berdosa"
Sebelum Julia menjawab sang ayah sudah berlalu untuk pulang. Sebelum Leo menikahi Ellena, belum terlambat bukan untuk membuat Leo jatuh cinta padanya?
Julia merasa dirinya lebih pantas daripada Ellena yang masih baru di dalam agama islam. Banyak hal yang bisa digunakan untuk mendapatkan Leo.
**
"Tuan Dom..."
"Yes nyonya Dom"
"Julia sepertinya menyukaimu?"
"Hampir setiap wanita yang kutemui menyukaiku, nyonya Dom!"
"Tapi, kamu juga menyukai Julia?"
"Tidak"
"Juliakan cantik"
"Baiklah baiklah, kalau Julia menyukaiku kenapa? Aku tak harus menyukainya, bukan?"
"Emmm.."
'Apa lagi? Aku hanya menyukaimu nyonya Dom! Kecuali kamu menyuruhku poligami!?"
"Kamu sangat antusias dengan hal poligami?"
"Bukan antusias, membayangkan serumah bahkan sekamar dengan dua wanita yang berbeda mungkin meningkatkan adrenalin"
"Ehm... yang terpenting didalam kamar itu bukan aku!"
"Kamukan akan menjadi istriku?"
"Kalau begitu aku tak akan berpoligmi"
"Itu hakmu!"
"Aku tahu itu, jadi aku tak mau berpoligami kalau itu menggadai kamu dan anak anak"
"Kamu suka dengan Julia?"
"Tidak, aku tak akan berpaling dengan apapun yang terjadi"
"Tuan Dom!!"
"Ya darl... kamu terharu??"
"Bukan, aku lapar!"
"Ehm.. baiklah, ayo kita makan!"
"Makan disana ya?"
"Kamu serius makan di pinggir jalan?"
"Serius!"
"Ayo kalau begitu!"
Leo menepikan mobilnya, dan segera berhenti didepan penjual sate dipinggir jalan.
"Pak, sate dua porsi"
"Iya mas"
Leo ikut Ellena duduk ditrotoar yang sudah dialasi tikar, duduk bersandar di pundak sang wanita.
"Indah ya kalau malam... lampu lampun digedung menyala"
"Di Inggris ataupun New York juga terlihat seperti inikan?"
"Entah, mungkin terlalu sibuk jadi tak memperhatikan itu semua"
__ADS_1
"Setelah ini aku pastikan kita akan sering seperti ini bersama anak anak"
"Mas Leo...assalamuallaikum.."
"Wa'allaikum salam, Julia, bu Siti"
"Kalian belum pulang?"
"Belum bu, Ellena tadi minta sate, mari makan sekalian"
"Kalian ini seperti anak muda saja"
"Pumpung disini, kalau sudah dirumah pasti sibuk mengurus kerjaan dan anak anak"
"Oh sudah punya anak?"
"Sudah, kembar!"
"Barakallah, semoga jadi anak yang sholeh dan sholeha"
"Aamiin, mari makan!?"
"Tak usah, kami segera pulang saja, tak baik untuk Julia, assalamuallaikum"
"Wa'allaikum salam"
Ellena tetap diam saja, selain memang tak bisa berbahasa Indonesia, Ellena sangat malas melihat Julia yang memandang Leo penuh minat.
"Jangan seperti itu, ayo makan!"
"Julia itu sempurna ya..?"
"Tidak.."
"Hah?"
"Manusia tak ada yang sempurna"
"Leo..."
"Aku tak suka kamu selalu memandang rendah dirimu sendiri Ell, cobalah menampakkan keunggulanmu! Mana Ellena yang siap angkat senjata untuk melindungi orang lain?"
"Iya Leo, ayo makan?"
"Emmb..."
Mereka makan dengan diam, tak ada yang mau berbicara lebih dahulu. Sibuk dengan pikiran masing masing.
Sampai di Hotelpun, mereka tetap diam, enggan mengatakkan apapun.
"Leo..."
"Ada apa?"
"Kamu marah?"
"Tidak..."
"Kenapa diam?"
"Agar kamu sadar!"
"Leo.."
"Apa lagi?"
"Ayo pulang ke Inggris!"
"Sebelum kamu lancar sholat kita tak akan pulang!"
"Tapi kan..."
"Kamu tak percaya aku?"
"Percaya!"
"Jadi jangan khawatirkan apapun?"
"Apapun?"
"Julia, wanita muslim lain ataupun anak anak, mereka aman dan nyaman disana"
"Tapi..."
"Ellena, ini jalan yang kamu pilih, jadi kumohon teguhlah!"
"Aku akan teguh..."
__ADS_1
"Bagus... kamu akan menjadi wanita tangguh dengan keteguhanmu"
*******