
Jantungnya nyaris lompat dari tempat dengan pemandangan didepannya.
Pemandangan yang membuat Ellena terkagum kagum. Hamparan rak buku memenuhi ruangan ini. Rak rak tinggi menyelimuti setiap dinding, sampai tak tahu apa warna cat dinding itu.
Tak ada orang.
Ya, hanya ada Leo dan Ellena.
"Assalamuallaikum mr. Arsyid"
Tak ada jawaban, Ellena semakin bingung.
Tiba tiba rak tinggi disisi kanannya bergeser, menampakkan seorang lelaki seumuran dengan ayah tirinya, Reynald Lopez.
Ellena mengerjapkan matanya, bentuk wajah, warna iris mata serta rambutnya sama dengan Ellena.
Ellena semakin kaget saat melihat keadaan sang ayah, bukan miris tapi jauh dari kata itu. Setelan jas mahal melekat ditubuhnya serta badannya masih segar bugar.
Apa ini ayahnya, lalu yang dikunjunginya dulu makam siapa?
"Mr. Arsyid?"
"Ya, apa ini mr. Dominic?"
"Benar, panggil saja Leo, saya jauh lebih muda dari anda tuan"
"Baiklah, ini...?"
"Ellena, Ellena Lopez"
Lelaki itu membatu, jantungnya terasa berhenti saat menndengar nama Ellena sudah berganti dengan marga lain.
"Ellena Lopez atau Ellena Arsyid?"
"Di surat surat legal semua bernama Ellena Lopez"
"Mari duduk terlebih dahulu, biar pekerjaku membuatkan minum"
"Terima kasih mr. Arsyid"
Ellena masih saja bungkam. Antara rindu dan amarah membuncah.
"Ellena, tak ingin mengatakkan sesuatu?"
Ellena menoleh pada Leo, dan ganti menoleh kearah mr. Arsyid. Dia lalu memejamkan matanya. Kepalanya pening.
"Kenapa? Kenapa kalian semua berbohong?"
Mr. Arsyid ganti terdiam. Ellena berhak tahu bukan?
"Aku dipaksa untuk pergi Ellena, aku harus pergi, nyawamu taruhannya."
"Maksudmu?"
"Malam kecelakaan itu memang terjadi, rem blong. Tapi aku sudah meprediksinya, jadi yang kecelakaan itu sopir baru ayah.. ayah turun dijalan sebelum truk besar menabrak mobil itu"
"Kenapa?"
"Karena mamamu sudah menemukan Reynald yang sangat lebih segalanya dariku, selama ini aku selalu mengawasimu, tapi sayang saat mamamu menikahi Reynald.. Reynald tahu keberadaanku dan memblokirku dari Inggris tapi dia berjanji menjagamu"
"Dia memang menjagaku"
"Syukurlah"
"Ayah tak mau bertanya, aku ingat ayah apa nggak?"
"Ayah sudah tahu"
"Tidak rindu dengan Ell"
"Ell..."
__ADS_1
"Apa selama ini ayah tak bisa mencari Ell, walaupun Ell sudah pergi kemanapun!"
"Ayah tak bisa"
"Kenapa?"
"Ayah sud...."
"Ayaahh... aku hari ini mendapat juara olimpiade sains lag... ups.. maaf ayah aku tak tahu kalau ada tamu"
Seorang gadis berseragam sekolah menengah atas, Ellena tercengang. Gadis ini kloning ayahnya.
"Saya tahu, maafkan saya tuan Arsyid, saya lancang"
Ellena segera berdiri, dan disusul oleh Leo. Ellena seperti mengemis kasih sayang pada ayahnya sendiri.
"Apa kau tak mau penjelasan apapun?"
"Tidak perlu tuan, masih ada daddy yang akan mau memberi penjelasan pada saya"
"Ellena Lopez.."
Ellena tersenyum getir, ayahnya yang dia harapkan rupanya juga memanggil namanya dengan marga Lopez.
"Anda salah tuan.. marga saya Rusell, saya pamit terlebih dahulu, ayo Leo"
"Ayo..."
Gadis itu terbengong. Siapa wanita ini? Kenapa rupanya sangat mirip dengan ayahnya, tapi dia seperti darah campuran.
Ellena siap menuruni tangga, sebelum semua kenangan diotaknya terus saja berputar seperti kaset kusut. Ellena terhuyung, kalau saja Leo tak menangkapnya mungkin dia sudah terjatuh dari tangga.
"Ell.. are you okay?"
"Leo... aku ingin pulang!"
Ellena mendekap tubuh Leo sambil terus menangis. Semua kenangan pahit itu berputar lagi.
"Ell..."
"Itukan mimpimu?"
"Aku tak mau! Leo.. apa salah aku menginginkan sebuah kebahagiaan!"
"Baiklah, ayo kita pergi, kita siapkan pernikahan kita"
"Aku tak ingin memiliki marga Lopez, rusell ataupun Arsyid, Leo! Mereka menyakitiku"
"Aku tahu, margamu hanya dominic!"
Tiba tiba Ellena pingsan dipelukan Leo. Leo sungguh merasa bersalah membawa Ellena kemari.
Tanpa disadari, dibalik pintu Arsyid dan anak gadisnya mendengar semuanya.
"Dia..?"
"Kakakmu.."
"Kenapa ayah tak cepat tanggap? Kasihan kakak!"
"Fatimah, masalah ini tak bisa diselesaikan begitu saja"
"Lalu apa? Ayah harus menunggu kak Ellena pergi lagi dibawa nenek sihir itu?"
"Fatimah?"
"Ayah, Fatimah tahu kalau Fatimah ini bukan anak kandung ayah, tapi tolong jangan untuk melindungi tanggung jawab ayah padaku, ayah melupakan anak ayah sendiri"
" mendiang Arsya, ayah yang hebat! Mendidikmu dengan sebagus ini! Ayah akan memperbaiki semuanya"
"Baguslah! Lalu siapa lelaki itu, dia tampan!"
__ADS_1
"Jangan sembarang bicara, dia hampir kepala empat, dan memiliki dua orang anak!"
"Aku hanya tanya saja! Kukira baru berumur awal tiga puluhan!"
"Jangan bercanda Fatimah! Selesaikan hafalan hadistmu!"
"Baik ayah"
Ya, Fatimah adalah anak dari Arsya, saudara kembar Arsyid. Dia meninggal saat Fatimah masih kelas dua sekolah menengah pertama, sedangkan ibunya meninggal saat melahirkannya. Jadi hak asuh Fatimah diambil oleh arsyid. Dan saat itu juga keluarga Lopez melarangnya menemui Ellena.
Disisi lain, Leo sudah membawa Ellena untuk beristirahat di apartment yang dia beli dulu. Masih terawat walau hanya sederhana dan lumayan sempit.
Ellena sudah terbaring diranjang selama 2 jam, tapi belum ada tanda tanda akan bangun.
"Dokter tadi bilang hanya kelelahan dan shock, kenapa selama ini?"
Akhirnya Leo memutuskan untuk memesan makanan dan mengecek pekerjaannya.
Leo harus menyiapkan semuanya, dia tak mau mengundur lagi pernikahannya.
Leo menghubungi Liam dan Roy untuk mengantar gaun yang akan dipakai Ellena dan dirinya ke Turki, apartment lamanya.
Lalu menghubungi Ello, mengabari mereka akan pulang satu minggu lagi karena akan mencari surat pernikahan Ellena dan Leo di Turki.
Ello hanya meng-iyakan saja. Toh, tak ada ayah dan ibunya, dia menjadi bebas melakukan latihan apapun. Kakeknya sangat memberi kebebasan pada Ello dan sedikit keras pada Ella, karena memang sifat Ella yang sedikit bar bar jadi harus didisiplinkan.
Leo berkutat dengan laptopnya untuk mengejar deadline proyeknya. Walaupun ada Liam dan Roy tapi ini tetap harus dicek ulang. Leo percaya pada dua lelaki itu tapi tak percaya pada tangan tangan lainnya. Berkat kewaspadaannya ini dia bisa sesukses ini.
"Leo..."
Leo menoleh saat seorang memanggilnya dengan suara serak khas baru bangun tidur. Itu Ellena, dia baru saja bangun.
"Sudah bangun? Kemarilah"
Ellena dengan kaki telanjangnya segera menuju Leo, dan duduk disamping lelaki itu. Dan menyenderkan kepalanya dibahu Leo.
"Lagi apa?"
"Hanya mengerjakan sesuatu, nanti gaunmu dan tuxedoku akan dikirim kemari..."
"Emmm... papa tak menghubungimu?"
"Kenapa? Dia akan datang, tenang saja"
"Tapi..."
"Apa? Papamu belum menjelaskan apapun, jangan membuat spekulasi sendiri"
"Aku tahu.... aku lapar"
"Ayo makan, aku sudah memesan pasta"
"Emmm..."
Leo menuntun Ellena kearah meja pantry dan mendudukkannya disana, sudah ada dua porsi pasta serta orange jus. Ya, Leo sudah lama tak meminum wine ataupun minuman beralkohol lainnya.
"Orange juss baik untuk tubuh"
"Aku tahu..."
"Besok kita menikah di masjd biru ya"
"Masjid biru?"
"Kau akan tahu besok saat sudah sampai disana..."
"Emmm... terima kasih Leo"
"Jangan terlalu cepat mengucapkan terima kasih, masih ada banyak moment kita yang belum terlewatkan jadi jangan mengucapkan itu dulu sekarang"
"Emmm baiklah..."
__ADS_1
*********