Ellena

Ellena
40


__ADS_3

"Kemauannya, seperti mainan dan kasih sayang... kalau ayahnya tak bisa memberi itu, tolong luangkan waktumu"


"Baiklah terima kasih miss Natasha!"


Dokter Natasha tersenyum dan keluar begitu saja dari kamar rawat Ello. Sedangkan Ellena entah mengapa sangat sebal dan sesak didadanya.


Wanita tadi cantik, memiliki karir gemilang, sexy dan dia sangat ramah....


Entah mengapa Ellena menilai lebih pada dokter Natasha, yang kedudukannya lebih unggul. Ellena merasa kedudukannya seperti butiran debu yang tak terlihat.


"Kau benar, lebih baik dia mendapatkan anaknya saja tak usah ibunya juga,, karena sedalam apapun dia berkata tak akan mungkin kau terima"


Dan sekarang apa? Perkataan Liam berputar lagi... oh No!


"Mom are u okey?"


"Mommy baik baik saja sayang, kalian ingin makan apa?"


"Tak usah mom,  dad tadi pagi juga membawakan makanan"


"Oh...."


"Mom memikirkan dad?"


"Tidak, mom memikirkan desain desain mommy yang belum selesai"


"Oh... oh iya mom, aku besok ingin jalan jalan dengan daddy"


"Daddymu sibuk!"


"No moms.. dad sendiri yang bilang kalau aku akan diajak jalan jalan"


"Tapi ingat pulang, jangan sampai kamu dibawa ke Inggris"


"Dad sudah tak tinggal di Inggris Mom, dia di New York"


"Maksudmu?"


"Mommy payah,, masa tak tahu sih? Daddy sudah lama tak tinggal di London"


"Tahu dari mana kalian?"


"Dari daddy sendiri"


'Oh..."


Ellena diam lagi, sejak kapan Leo pindah ke New York? Kenapa dia tak tahu? Lalu nasib perusahaan sang ayah bagaimana kalau Leo pindah?


Ellena bukan tak tahu apa yang terjadi di Inggris, dia tahu hanya saja dia tak mau ikut campur.


Menerawang kesetiap percakapannya dengan Smith yang mengabarkan tentang keluarganya.


Ibunya yang sudah berubah dan mau membuat toko kue lagi, karena semua aset sosialitanya diambil oleh Alleo. Ayahnya yang membanting tulang untuk mempertahankan Perusahaannya. Dan Alleo yang tiba tiba hilang karena tuduhan penggelapan dana di perusahaannya Leo, L's International.


Ellena bukan tak cinta tapi merasa cukup malu dengan perilaku Alleo, apalagi hasil curian itu melebihi omsetnya beberapa tahun ini. Kalaupun mau dikembalikan, bisa dipastikan Ellena menjadi gelandangan setelah ini.


Hari beranjak malam, Ellena ingin sekali pulang saat melihat Ella yang terlihat lelah, dan pasti tak nyaman. Tapi melihat Ello yang terbaring diranjang dia juga tak tega. Seandainya ada Smith ataupun Maria.


Sampai pukul 8 malam, seseorang membuka pintu kamar rawat Ello. Siapa lagi kalau bukan Leo.


"Kenapa kesini?"


Itu sapaan pertama dari Ellena untuk Leo, dia masih sebal dengan lelaki ini.


"Aku akan membawa Ella"


"Untuk apa? Biarkan dia disini!"


"Biarkan dia tidur di penthouseku, besok pagi akan kuatarkan dia ke playground"


"Tidak! Kau pasti akan membawanya pergi!"


"Tidak Ell... kalau sampai aku membawanya pergi,kau bisa menuntutku!"


"Dad...??"


"Hay little princess... kenapa bangun?"


"Mom dan dad berisik,dan tidur  disini juga tak enak"


"Mau tidur dengan dad di penthouse"


"Mau!!"


"Baiklah, ayo daddy gendong"


"Yeay..."

__ADS_1


"Ell..tak usah khawatir, besok kau fokus dengan galerymu dan Ello, akan ku jaga Ella"


"Aku pegang omonganmu"


"Iya..."


Leo mengecup puncak kepala Ello yang tidur, mungkin tadi dia minum obat. Leo keluar begitu saja tanpa berpamitan pada Ellena.


Ellena yang melihat itu sedikit sebal, tak punya sopan santun.


Ellena akhirnya berbaring disofa tempat Ella tidur tadi dan memejamkan matanya.


"Lumayan nyaman"


Ellena akhirnya tertidur.


Disisi lain, Leo menggendong Ella yang sudah mendengkur halus lagi untuk masuk ke Lamborgini venenonya.


Leo mendudukan anak perempuan itu disamping pengemudi. Sedikit direbahkan sandaran bangku mobil mewah itu dan memasangkan safety belt untuk Ella.


Leopun duduk dikemudinya, dan melepas jasnya untuk diselimutkan pada Ella yang sudah nyenyak.


"Anak gadisnya Daddy doakan daddy bisa membuatkan kalian keluarga utuh lagi"


Leo segera melajukan mobilnya, Leo juga cukup lelah.


Leo mengangkat tubuh mungil Ella dan segera masuk ke penthousenya setelah memarkirkan mobilnya di basement.


Leo menyelimuti Ella dan dia segera mandi. Setelah menyiram tubuhnya dengan air dingin, Leo segera membaringkan tubuhnya disamping anaknya dan lekas memejamkan mata. Besok hari yang lebih melelahkan.


*


Mungkin sudah menjadi kebiasaan Leo bangun saat dini hari sejak beberapa tahun ini. Walau dia sangat lelah dia tetap bangun untuk menunaikan kewajibannya.


Ya, dia seorang mualaf. Beberapa tahun yang lalu, dia begitu terpuruk dan begitu menyedihkan. Dia mabuk di jalanan kota New York, tak ada yang mau menolong. Sampai ada seorang lelaki berusia 50 tahunan menolongnya, membawanya kerumahnya.


Sampai dipagi hari, dia terbangun dengan baju khas muslim Amerika, baju besar besar dan sedikit lusuh. Seingatnya semalam dia menggunakan jas, apa jangan jangan semalam saat mabuk dia dirampok?


Kepalanya sedikit pusing, mabuk semalam tak membuahkan hasil, dia malam terdampar entah dimana ini.


Kamar sempit, single bed, banyak kaligrafi kaligrafi arab, sebuah nakas dan almari kecil. Siapa pemilik kamar ini? Bagaimana dia hidup seperti ini.


Walaupun Leo memulai semua dari Nol tapi dia tak terbiasa hidup dengan seperti ini.


Saat acara lamunannya berlangsung, lelaki itu datang untuk membawakan sarapan.


"I..iya... anda siapa?"


"Saya Ahmed, semalam aku melihatmu mabuk diujung gang sana, jadi aku bawa kamu kesini, tak mungkin saya membiarkanmu terlantar dan menjadi bahan rampasan kriminal jalanan"


"Terima kasih banyak, lalu pakaian saya?"


"Dicuci oleh istri saya, semua barangmu aman dilaci itu"


Ahmed menunjuk laci nakas lalu lekas berdiri.


"Istirahatlah dulu Mr. Dominic, saya akan berangkat bekerja"


"Leo panggil saja Leo, saya lebih muda darimu"


"Okey, lebih baik kamu disini dahulu saja, pulihkan tenagamu baru menelpon keluarga, tadi subuh saya mencoba menghubungi keluarga anda tapi tak dijawab"


"Mungkin masih tidur, akan segera saya hubungi"


"Baiklah"


Ahmed keluar, Leopun memilih untuk memakan sarapannya roti selai coklat dan susu. Hanya itu tapi terasa nikmat.


Setelah selesai Leo keluar sambil membawa nampan itu, kemungkinan rumah ini tak ada pembantu.


Tapi sebuah pemandangan dramatis hadir didepan mata. Anak anak kecil usia sekolah mungkin 7 sampai 11 tahun mengantri untuk berangkat sekolah, bukan itu yang membuatnya tercengang, disana ada Ahmed dan juga istrinya mungkin berdiri disamping pintu keluar sambil menyalami anak anak itu, dan anak anak itu mencium tangan sepasang manusia itu.


Setelah melihat pemandangan itu, Leo baru tahu kalau dia berada di rumah seorang Muslim.


"Kenapa bangun?"


"Aku tadi ingin mengembalikan nampan ini"


"Berikan pada istriku saja"


Wanita berkerudung itu melangkah kedepan dan menerima nampan dari Leo, setelah itu dia pergi begitu saja.


"Duduklah"


"Iya"


Leo mendudukkan tubuhnya di kursi kayu dan didepannya ada Ahmed dan istrinya yang keluar dari dapur membawa kopi untuk Leo.

__ADS_1


"Silahkan kopinya"


"Terima kasih"


"Eliza, kebelakanglah!"


"Baik"


Leo menaikkan satu alisnya, bagaimana bisa kedua orang ini dinamakan suami istri?


"Mr Ahmed, boleh saya bertanya?"


"Iya tentu"


"Siapa anak anak tadi?"


"Mereka anak asuh saya, istri saya belum bisa hamil"


"Oh maafkan aku... saya tak bermaksud menyinggung perasaan anda tuan"


"Tak apa, karena memang itu kekurangan kami..."


"Lalu anda bekerja apa?"


"Supir taksi"


"Istri anda?"


"Dia dirumah, mengurus rumah tangga"


"Lalu untuk pembiayaan anak anak bersekolah?"


"Hasil kerja saya sendiri, dan juga kakak kakak mereka yang sudah bekerja, kadang ada donatur"


"Oh, berapa banyak yang tinggal disini?"


"15 anak, kakak kakaknya sudah berumah sendiri semua"


"Anda muslim?"


"Iya, saya muslim"


"Dan semua anak anak anda muslim?"


"Sebagian besar muslim, dan yang sudah dewasa mereka memilih sendiru jalannya, tapi kebanyakan tetap muslim"


"Oh... tuan, bisakah saya tinggal disini sampai sore? Sahabat saya sepertinya bisa menjemput sore nanti"


"Tak apa, hari ini saya juga tak bekerja"


"Baiklah.. terima kasih banyak tumpangannya"


"Tak apa, tenang saja"


Ahmed pergi kehalaman untuk membantu istrinya menjemur baju anak anak, sedangkan Leo kembali kekamar untuk mengabari Roy dan Liam.


Dia menyuruh kedua orang itu untuk meneruskan akusisi perusahaan dan menjemputnya nanti jam 4 sore dialamat yang sudah dia kirim. Dan juga membawakan bingkisan untuk 15 anak kecil dan juga bahan makan serta cek ataupun uang tunai dengan nominal yang sudah diberikan oleh Leo.


Leo hanya ingin mrnghargai perjuangan seorang ayah yang membesarkan anak ank kurang beruntung walau keadaannya kurang baik.


Leo segera mandi, di kamar mandi belakang yang memang hanya ada dua untuk bergantian. Leo miris. Nanti mungkin kalau Ahmed mau, dia akan membantunya lebih.


Hari beranjak siang, anak anak Ahmed sudah pulang sekolah, dan mereka melakukan ibadah dan juga membaca Al-Quran. Leo sampai heran, kenapa yang makan siang hanya dirinya, tapi setelah bertanya rupanya mereka semua berpuasa karena bulan Ramadhan.


Leo malu tak tahu tentang itu, jadilah dia seharian membantu anak anak itu segala hal, dari mengerjakan  tugas sekolah sampai menyapu.


Saat siang menjelang sore mereka segera mandi dan berkumpul diruang tengah, melaksanakan sholat ashar katanya dan juga membaca Al--Quran sampai waktu mereka makan tiba.


Dan tepat setelah mereka semua makan, Liam dan Roy datang dengan 1 kontainer permintaan Leo datang.


Mereka semua tercengang.


"Leo, maafkan sayaa yang berprasangka buruk padamu"


"Maksud tuan?"


"Kukira kau seperti orang diluaran sana yang mabuk karena bangkrut ataupun ada masalah finansial"


"Memang tuan, tapi tak ada salahnya bukan saya memberi"


"Ini terlalu banyak Leo"


"Tak apa tuan, ini setimpal dengan pertolongan tuan pada saya"


Semenjak itulah Leo memilih tinggal di New York, dan sering bersosialisai dengan penduduk muslim. Dari situ juga dia bertemu dengan Albert Yusuf. Orang yang memasukkannya kedalam Islam dan juga mengajarinya segala hal tentang Islam.


*********

__ADS_1


__ADS_2