Ellena

Ellena
76


__ADS_3

Hari berganti begitu cepat, rasanya malam untuk mengistirahatkan badan itu kurang.


Pagi ini, pagi pagi sekali Luna beserta pengawalnya telah sampai dimansion Dominic untuk membahas segala hal tentang Ami, mama Ellena.


Dia tak sediri selain dengan rombongan, Luna juga membawa adik iparnya, Mariska Lee.


"Maafkan aku, bisakah adikku bermain dengan nona muda Dominic? Pengasuhnya hari ini cuti..."


"Tak apa, Ella pasti suka mendapat teman baru... biarkan dia kelantai tiga..."


"Terima kasih..."


Mariska Lee segera dibawa ke lantai 3 tempat Ella dan Ello bermain. Luna tak mungkin membiarkan satu pengasuh, mengasuh 2 anak sekaligus.


Luna segera berkutat lagi dengan berkasnya sambil menunggu Leo dan juga Ellena datang. Ya, dari informasi yang dia dapat tadi, Ellena masih menemani Leo dilapangan tembak.


Keluarga ini begitu kaya.


Setelah 30 menit Luna manunggu, datanglah sepasang suami istri memakai baju training. Luna mengamati sepasang manusia itu.


Ya, Leo Dominic memang tampan, tapi dia lebih arogant daripada suaminya, Morgan Lee. Sedangkan Ellena Dominic dia memang terlihat wanita yang bebas, terlihat dari pakaiannya, hotpant dan juga tangtop ketat melekat disana. Tapi wanita 2 anak itu memang cantik, darah Turki dan Inggrisnya memperlihatkan kecantikan yang khas.


"Selamat pagi pengacara Lee, maaf menunggu lama"


"Tak apa, aku juga baru saja selesai membaca berkas"


"Oh, kalau begitu mari sarapan bersama dulu..."


"Sepertinya kalian saja, aku tadi sudah sarapan..."


"Benarkah? Jangan sungkan..."


"Tak apa... kalian sarapan saja, aku tunggu disini"


'Baiklah..."


"Oh iya, aku tadi membawa adikku, tak apa bukan bermain denga anak kalian...?"


"Tak apa, tenang saja..."


*****


Setelah hampir menunggu 2 jam lamanya, akhirnya mereka semua berangkat kekediaman Lopez.


Ya, diantara Leo, Ellena dan Luna, terdapat juga sikembar, Mariska Lee, dan juga mr. Arsyid beserta rombongan pengawal mereka masing masing.


Ellena dan Leo, berada satu mobil. Luna dan Mariska juga demikian. Juga si kembar dan mr. Aryid memakai mobil lain juga.


Dimobil si kembar dan juga mr. Arsyid sangat ramai. Celoteh kedua anak itu begitu riyuh disana. Apalagi Ella yang memilih duduk dipangkuan sang kakek, itu membuat Ello merasa iri, jadilah mereka sedikit berdebat. Dan akhirnya Ello yang mengalah, setelah kakeknya berdehem agak keras.


"Kakek"


"Iya Ella, ada apa?"


"Emm... apa nenek itu jahat?"


"Tidak, kenapa Ella berkata begitu...?"


"Emm.. kak Ello kata kalau nenek yang akan kita kunjungi ini sudah membuat Mommy celaka"


Mr. Arsyid terdiam, lalu menoleh kearah Ello yang berpura pura tak tahu apapun. Ello ganti menatap sang kakek, lalu menyengir kuda.


"Ello! Kau dalam masalah besar"


Ya, Ello sadar kalau kakeknya ini sebenarnya sangat menyeramkan, hampir sama dengan sang daddy. Kebanyakan orang, termasuk Ella terkecoh dengan nada lembut sang kakek, tapi Ello tahu ada sifat keras disana.


Jadi, saat mendapat tatapan itu Ello seolah olah meminta maaf dan memohon ampun.


"Haih.. kalian akan tahu disana nanti..."


"Emmm...baiklah"


Senyap akhirnya, hanya deru mobil mobil yang terdengar. Serta Sean, pengawal Ella yang berada didepan sedang berbicara melalui aer-piece. Ya, hanya itu, sebelum Mr. Arsyid mulai berbicara lagi.


"Ella..."

__ADS_1


"Iya kakek, ada apa?"


"Bagaimana sekolahmu grammar?"


"Baik, aku sudah dipanggil Young lady..."


"Latihan menembakmu?"


"Emm.. kak Sean masih melarangku untuk berlatih"


"Kenapa?"


"Emmm..."


Ella menggelengkan kepala, ya Ella sudah lama ingin mengadu soal ini. Tapi tak ada waktu yang tepat.


"Sean! Bisa jawab!"


"Mohon izin menjawab Tuan besar! Saya melakukannya karena cidera ditangan kanan nona kecil Ella belum sembuh secara sempurna!"


"Seperti itu... Ella! Kamu dengar itu? Jadi jangan malas mengobati lukamu itu!"


"Baik kakek"


Ya, memang sebelum Ella dan Ello terbang ke Turki. Ella sempat mengalami cidera sedikit pada pergelangan tangannya saat mencoba memanah tapi itu sudah membaik.


Sedangkan Ello sudah berkutat lagi dengan Macbooknya.


"Ello!"


"Siap kek, ada apa?"


Ello segera menutup macbooknya, bukannya tak ingin memberi tahu sang kakek apa yang dikerjakannya. Tapi mommynya selalu berkata, setiap diajak bicara siapa saja harus memperhatikan. Dan semua nasehat mommynya mendarah daging didiri Ello dan juga Ella.


"Bagaimana perkembangan sistemmu?"


"Emm.. entah kek, aku tak bisa meneruskan.. aku sibuk"


"Sibuk apa?"


Mr. Arsyid seketika tergelak, apa yang diharapkan dari anak kecil ini selain lelucon yang merilekskan otak.


Mereka asyik bercanda. Dilain mobil itu, Ellena dan Leo sedang berpacaran.


Ya, Leo bermanja manja dengam Ellena. Tidur dipangkuan Ellena dan mengobrol santai, Leo tahu Ellena tengah khawatir sekarang.


Penyekat antara tempat penumpang dan pengemudi diturunkan, terpampang tv ukuran besar disana.


"Ellena..."


"Emmm..."


"Ingin rasanya aku mengurungmu dirumah saja..."


"Kenapa?"


"Haih... apa kamu tidak sadar dengan kecantikanmu? Semua lelaki pasti menatapmu"


"Lalu? Kalau aku cantik, pasti sedari dulukan... kenapa baru protes sekarang?"


"Karena kamu milikku... berdandanlah cantik saat berada dikamar"


"Kenapa begitu?"


"Emmm... agar aku saja yang melihatnya..."


"Kamu bergitu protektif!"


"Ini demi kebaikanmu, darl..."


"Lalu kalau aku mau pergi, aku harus bagaimana?"


"Berdandan sederhana saja.."


"Aku kurang sederhana?"

__ADS_1


"Emmm..."


"Leo.. aku ini sudah tak memakai make up tebal tapi masih kurang sederhana?"


"Hah... itu yang aku bingungkan... daya tarikmu begitu besar..."


"Dan kamu perayu yang sangat handal sayangku"


"Hahahaha.... sayangku..."


"Emmm kenapa tertawa?"


"Tak apa.. terasa aneh saat kamu memanggilku sayang, darl"


"Tak mau dipanggil sayang? Kalau begitu yeobo"


"Ye... apa? Yeobo? Itu bahasa apa?"


"Kamu ingin tahu?"


"Iya..."


"Sayangnya aku tak ingin memberitahumu, yeobo"


"Sebentar... dari aksen bicaranya ini seperti bahasa asia"


"Emmm?"


"Aku hampir lupa kalau istri dan anak anakku ini sudah lama tinggal di Korea..."


"Lalu...."


"Lalu kamu dan anak anak sama saja.."


"Kenapa?"


"Ya, tadi kamu berbicara bahasa Korea, dan juga anak anak kalau mereka merahasiakan sesuatu pasti memakai bahasa Korea.. ya Tuhan, aku baru sadar tentang itu.. kenapa kalian tak memakai bahasa Inggris saja?"


"Karena... anak anak sudah terbiasa dengan bahasa itu, Leo... dan juga ada hal yang tak perlu kita tahu, biarkan menjadi privasi mereka saja"


"Kamu juga membela mereka?"


"Bukan membela, sayang... tapi biarkan mereka memiliki privasi, selama tak membahayakan mereka dan orang lain, tak apa bukan?"


"Baiklah, baiklah... oh iya Ellena, setelah masalah ini selesai kita kembali ke New York ya?"


"Kenapa?"


"Pekerjaanku semua disana, kamupun bisa lebih mudah mengembangkan bisnis perhiasanmu disana"


"Emm baiklah, tapi tanya pendapat anak anak dulu ya?"


"Baiklah... aku sudah menyiapkan villa disana"


"Villa?"


"Ya, di Manhattam"


"Mansionmu?"


"Haih... itu sudah seperti pasar.. mansion itu akan kujadikan camp para mercenary milikku"


"Emmm?"


"Apa lagi? Kamu tinggal mengatakkan apa keinginanmu, pasti akan kukabulkan"


"Aku sudah cukup dengan adanya keluarga yang bahagia..."


"Hmmm.. aku sangat mencintaimu Ell, aku juga bahagia memiliki keluarga kecil denganmu dan juga anak anak... hidupku kembali berwarna, bahkan aku sekarang berani menjadi tameng kalian dan mengorbankan segalanya.."


"Leo, kita akan bersama selamanyakan?"


"Tentu...kenapa pertanyaanmu menjadi begitu?"


"Jadi mari kita lewati bersama, saling menjadi tameng dan penenang..."

__ADS_1


*********


__ADS_2