
Ellena pov*
Kehidupan ku setelah kejadian itu seperti baik baik saja ya, memang baik. Karena tak ada masalah dan Dav juga bersikap baik kepadaku. Kalau ada yang bertanya kenapa aku memaafkan Dav dan mau kembali jawabannya adalah aku mencintainya, bagaimana tidak, aku sudah menjadi istrinya dan aku diwajibkan untuk mencintai diakan? serta aku hamil. Itu dua alasan yang kuat untuk bertahan. Kalaupun ditanya, luka yang dibuat Dav dulu menggores atau tidak? Jawabannya jelas iya, itu bukan luka gores sayatan. Dan aku mencoba melupakan kejadian itu seiring membesarnya perutku.
Kandunganku memasuki usia 6 bulan, perutku mulai membesar. Hasil dari USG pun menunjukkan kalau anakku kelak adalah laki laki, semoga dia menjadi anak yang bertanggung jawab dan juga tampan. Aku selalu berdoa seperti itu.
Miris..
Ya miris, Dav memang mencukupi segala kebutuhan ku secara lahir ataupun batin. Tapi tembok pemisah itu masih ada. Setelah kejadian itu Dav memang lebih terbuka denganku tapi tembok itu masih ada bahkan semakin kokoh tak tersentuh. Aku hanya berpura pura tak merasakannya dan terus mengumbar senyum. Mood seorang ibu hamil sangat berpengaruh dengan janinnya, itu yang aku ketahui jadi sebisa mungkin aku bahagia agar anakku tak kenapa kenapa.
Seperti malam malam sebelumnya, aku selalu duduk disofa kamar sambil memegang ponsel, melihat perkembangan bisnisku dulu, dan lumayan berkembang pesat. Jam sudah menunjukkan hampir pukul 11 malam, tapi Dav masih setia diluar sana belum pulang.
Saat sedang asyiknya, pintu kamar itu terbuka, Dav muncul dengan wajah kusutnya. Aku menghampirinya.
"Sudah pulang Dav"
"Ell, ini sudah jam 11 malam kenapa belum tidur humm?"
"Aku gak bisa tidur"
"Ya sudah, aku akan bersih bersih dan menemanimu tidur ya sayang"
"Iya Dav, kamu sudah makan belum"
"Hmmm..tadi..hmm sudah kok,"
"Ya sudah mandilah"
"Iya"
Dia berlalu kekamar mandi, dan aku membaringkan badanku yang mulai susah bergerak keranjang.
Aku menghela nafas kasar.
Aku tahu dia berbohong, pasti ada sesuatu yang disembunyikan tapi apa?
20 menit aku menunggu Dav akhirnya keluar dari kamar mandi dengan piyama tidurnya.
"Sayang"
"Huumm?"
"Maaf ya, aku terus saja lembur tapi aku berjanji besok akan pulang awal menemanimu kedokter ya"
"Iya, kan kamu lembur demi aku dan anak kita juga"
"Iya sayang, ayo kita tidur ya, terima kasih sudah mengerti aku"
"Iya"
_________
Hari ini Dav berjanji akan menemani Ell kedokter kandungan. Ya memang sebelumnya dia tak pernah absen mengantar istri hamilnya itu ke rumah sakit. Dia bilang, dia juga harus tahu gimana keadaan anaknya.
Sebentar lagi jam 3 sore Ellena bergegas bersiap, sepertinya memakai dress selutut sangat nyaman. Ellena segera mandi dan berdandan. Perut yang mulai membesar itu tak menyurutkan keseksian dan juga kecantikan Ell.. dia tetap cantik.
Saat sedang dikamar, pintu kamar itu terbuka memperlihatkan seorang lelaki yang memakai kemeja putih yang terlihat tampan.
"Sayang aku pulang"
"Iya, kamu sudah makan?"
"Belum, nanti saja...Apa kamu sudah siap?"
"Iya ay,, huuueekkk huuekkkk"
"Sayang kamu kenapa?"
"Entahlah, kadang mencium aromamu membuatku mual"
"Aku akan mandi dulu"
Entah kenapa hati Ellena merasa sakit, dan perutnya mual. Dan itu terjadi hanya pada Dav saat pulang kantor tapi itu juga tak selalu. Seharusnya Ellena mual terus saat Dav pulang kantor tapi ini hanya sesekali mungkin cuma 3 kali dalam seminggu.
Setelah menungguh 20 menit Dav keluar dari walk in closet sudah siap dengan celana jeansnya dan juga kaos polo putihnya.
"Ayo kita berangkat!"
"Ayo, mual ini sungguh menyiksa tapi kenapa aneh ya aku mual hanya sesekali saat kamu pulang kerja"
__ADS_1
Deg deg deg
Dav sedikit terjengat dengan ucapan Ellena, apa iya seperti itu? Dav tak memperhatikan.
Apa anak yang ada didalam perut Ell tahu kalau Dav baru saja bertemu Lea tapi tadi Dav tak bercinta hanya makan siang bersama . Apa segitu bencinya pada Lea tapi Dav ingin anak itu hidup bersamanya dan Lea setelah Dav menceraikan El.
Ya itu yang dipikirkan Dav, dia masih bersama wanita itu.
"Kamu saja yang terlalu sensitif sayang"
"Mungkin,aku akan bertanya nanti"
"Setelah ke dokter, mau makan apa?".
"Aku ingin makan seafood"
"Oke, kita kerestoran biasa?"
"Hummm"
________
Setelah mengantri, karena memang Ell tak mau layanan eksklusif dan memilih ikut duduk lama diruang tunggu akhirnya terpanggil namanya. Dav sedikit kesal, dia tak suka mengantri apalagi dengan sikap para pasangan didepan mereka cukup membuatnya ikut mual.
Setalah memeriksanya dan juga cek USG, Ellena kembali keruang pemeriksaan.
"Bagaimana keadaannya dok?"
"Anaknya sehat, ibunya juga sehat. jangan terlalu banyak pikiran dan juga jangan lupa minum vitamin nya"
"Iya dok terima kasih"
________
Setelah mereka berpamitan pada dokter kandungan itu, Ellena dan Dav bergegas untuk pergi. Perut Ellena sudah ingin diisi lagi.
"Harus ingat pesan dokter tadi ya"
"Iya sayang, ah aku lapar tapi aku gak mau makan seafood"
"Lalu?"
"Oke, ayo kita kesana..."
______
Setelah perjalanan yang hampir 20 menit akhirnya mereka sampai dikedai Ramen langganan mereka, Ellena segera duduk karena kakinya lumayan pegal.
"Aku mau ramen dengan jamur"
"Iya iya sebentar"
25 menit kemudian
"Silahkan ramennya"
"Wah ini sepertinya enak"
"Emmm makanlah, aku juga sudah lapar"
"Oke"
.
.
.
Ya, Kalau dulu saat tak hamil Ellena tak akan bisa menghabiskan satu porsi ramen, tapi sekarang dia harus makan dua porsi, dan itu cukup membuat Dav geleng kepala.
"Akhirnya kenyang"
"Kalau sudah kenyang,, Ayo segera pulang dan istirahat"
"Tapi kita belum jalan jalan"
"Ini udah malam El tidak baik untuk kebaikkan kalian berdua"
"Tapi_"
__ADS_1
"Kapan kapan kita jalan oke"
"Ya sudah deh.."
Diperjalanan pulang mereka saling diam, entah apa yang Ellena pikirkan. Pikirannya menerawang kemana mana tak jelas.
Lamunannya terpecah. Saat Ellena merasa takut, takut apa yang Ellena tak kehendaki itu terjadi.
Ting
Ada pesan diponsel dav, Ellena menoleh kearah Dav, Ellena tahu siapa yang malam malam menghubungi dia. Ya pasti orang itu.
"Kenapa gak dibuka Dav? Aku buka ya?!"
"Tak usah, mungkin dari staf besok aja diselesaiin"
"Bener gak penting?"
"Iya, kalau sudah dirumah bukanya, ini waktu kita berdua"
"Emmm"
____________
Setelah sampai rumah, Dav segera mengajak Ellena istirahat. Dav tahu istrinya ini sekarang gampang sekali lelah.
"Kamu tidur duluan aja ya, aku mau ke ruang kerja"
"Ini sudah malam?"
"Iya s, tapi aku harus mempersiapkan bahan rapat besok"
"Jangan lama lama ya, kamu juga lelah"
"Iya sayang"
____________
Setelah sampai diruang kerjanya, Dav merogoh ponselnya yang terdapat panggilan dari nomor yang sangat familiar bahkan dia ingat diluar kepala.
Dav mengangkat panggilan itu dengan sedikit berbisik.
"Hallo kenapa kamu telpon aku,, aku dirumah?"
"...."
"APA?? Gila kamu!"
"..."
"Akan aku transfer uang, kamu harus pergi dari sini"
"..."
"Aku gak mau tau! Kamu harus pergi!"
"...."
"Aku gak percaya! Aku hanya bisa bantu itu"
"..."
"Pergilah"
Tut tut tut
Sialan!!! Dav mengumpat dan menyumpah serapah pada dirinya sendiri.
Kenapa harus begini, pondasi yang dia buat rusak sudah. Bodoh bodoh bodoh kenapa dia bisa sebegitu teledor!!!
Dav terus saja meneriaki dirinya sendiri, dirinya begitu frustasi, bagaiamana kalau Ellena tahu..
Bagaimana rumah tangganya?
Bagaimana anaknya?
Anak? Dav dan Ellena tak tahu fakta sebenarnya, sedangkan Roy dia bungkam tak mau ikut campur. Roy pasti melaporkan apapun tentang rumah tangga Dav dan Ellena pasa boss besarnya dan tentu keadaan bayi yang dikandung Ellena.
Bahkan masalah yang menimpa Dav ini sudah ditangan Leo, tinggal menunggu masalah itu meledak dengan sendirinya.
__ADS_1
*****