
*Blue Mosque- Istambul
Leo memarkirkan mobilnya setelah perjalanan yang sangat romantis, bagaimana tidak kalau mereka seperti remaja yang dilanda kasmaran. Leo terus memegang tangan Ell, dan Ell sendiri bergelanyut manja pada Leo.
Setelah memarkir mobil, Leo mengajak turun Ell. Dan disambut kernyitan dahi dari Ellena.
"Ini masjid yang kemarin?"
"Iya.. kita belum berkeliling bukan?"
"Ini semua berwarna biru?"
"Iya, semua keramiknya berwarna biru.."
"Oh jadi ini kenapa dinamakan masjid biru?"
"Salah satunya, masjid ini juga disebut dengan masjid sultan ahmed, dan usianya sudah 450 tahun.."
"Wow, ini masih berdiri dengan kokoh! Lalu kenapa harus kesini?"
"Ini waktunya sholat dhuha, kita beribadah disini"
"Baiklah... wah... banyak sekali menaranya?"
"Ada 6 menara disini, megah bukan?'
"Emmm..."
Ellena dan Leo mengambil jalan yang berbeda. Tentu lelaki dan perempuan dipisahkan. Ellena semakin takjub, kemarim dia tak memperhatikan detail masjid ini, tapi sekarang dia bisa tercengang dan terharu. Ini sangat indah.
Ellena dan Leo meneduhkan hati didalam masjid itu, dan kembali pertemu dipelataran masjid. Ya, dipelataran itu ada tempat duduk yang sudah disiapkan, pohon pohon menjadi penyejuk.
Ellena lebih dulu keluar dari masjid dan menunggu ditempat berteduh sambil sesekali tersenyum pada orang orang yang melewatinya.
Dari kejauhan Leo juga ikut tersenyum, melihat wanitanya sangat ramah. Leo mengambil ponselnya, dan memfoto sang istri secara diam diam. Ya, sebelum mereka kemari, Leo menyuruh Ellena untuk berganti baju dengan baju yang lebih tertutup serta memakai kerudung, walaupun kerudung itu hanya disampirkan begitu saja. Tapi ini sudah lumayan cantik.
Leo memposting foto itu di media sosialnya, memperlihatkan pada dunia bahwa wanita ini adalah miliknya. Baru beberapa menit dia memposting foto tersebut, tapi sudah banyak yang memberi tanda suka dan tentunya banyak yang berkomentar kalau wanita ini sangat cantik.
Tentu cantik, kecantikannya ini juga yang membuat Leo tergila gila.
"Lama sekali?"
"Emm... tadi masih berbicara dengan penghulu kita kemarin"
"Dimana dia? Aku ingin berterima kasih"
"Sudah pergi..."
"Oh.. kita akan kemana?"
"Emmm.. bagaimana kalau ke Hippodrome Square?"
"Seperti pernah dengar.."
"Kita akan mengunjunginya, ayo... jalan kaki saja"
"Tapi... aku memakai stelleto!"
"Sebentar"
Leo mendudukkan Ellena lagi ditempatnya tadi, dan melepas stelleto yang direngeki oleh Ellena.
"Tunggu disini!"
Leo berlari menjauhi Ellena sambil membawa stelleto milik Ellena. Ellena hanya tercengang dengan perilaku sang suami.
Tak berapa lama, Leo sudah datang kembali dengan sepasang flatshoes berwarna coklat. Setelah sampai didepan Ellena, Leo kembali berjongkok dan memakaikannya.
"Sudah, ayo jalan!"
Ellena tersenyum dan tanpa aba aba menubruk tubuh besar Leo sambil mengecup pipinya sekilas.
"Kau memang suami idaman"
Leo hanya tersenyum dan mengikuti langkah cepat Ellena yang meninggalkannya. Leo menyejajarkan langkahnya dengan langkah Ellena, dan segera merangkul bahu Ellena.
"Apa kau suka suami idamanmu ini?"
__ADS_1
"Emmm.. aku akan suka, kalau kamu memberiku berbagai kejutan.."
"Benarkah?"
"Emm..."
"Ayo kalau begitu!"
Leo memegang tangan kanan Ellena dan mengajak Ellena berlari menjauhi masjid. Ellena tertawa lepas, dan diikuti orang sekitarnya yang juga ikut tertawa melihat tingkah konyol pasangan itu.
**
Hippodrome Square- Istambul
Leo dan Ellena sudah sampai didepan sebuah monumen. Tapi..
"Ini...?"
"Hippodrome Square.. kamu tahu?"
"tempat berkumpul pada zaman Bizantium"
"Iya..Dulunya tempat ini digunakan sebagai arena perkelahian gladiator yang terkenal, tempat balap kereta, balap kuda, hingga peristiwa berdarah lainnya..."
"Sekarang menjadi monumen?"
"Seperti itu... kalau aku hidup dizaman itu, aku siap melakukan semua atraksi itu untuk membuktikan cintaku padamu Ell"
"Itu bukan pembuktian, tapi ingin mati dengan cara konyol!"
"Emmm mau berkeliling?"
"Disini panas!"
"Kalau begitu, ayo ke tempat bersejarah selanjutnya!"
"Emmm... kemana lagi?"
"Nanti juga tahu..."
Leo kembali menarik Ellena untuk mengikutinya. Ellena hanya bisa tersenyum dengan tingkah Leo.
**
"Ini Topkapi Palace kan?"
"Iya, kita mengenang zaman Turki Ustmani"
"Ya, kejayaan Islam di Turki waktu itu"
"Kamu tahu banyak!"
"Papa yang memberitahuku dulu, disini sejarah islam berkembang, bagaimana dulu anatolia didominasi dengan kristen dengan bahasa Yunani menjadi berdominasi muslim dengan bahasa Turki..."
"Ya, kejayaan Kekaisaran Utsmaniyah menaklukkan Kekaisaran Bizantium dengan menguasai ibu kotanya, Konstantinopel.. cerita ini sangat melegenda, bahkan aku yang dulu seorang nasrani sangat kagum dengan cerita itu..."
"Kamu juga tahu?"
"Ya, aku dulu tak percaya, menganggapnya cerita belaka, tapi beberapa tahun lalu aku sengaja mencarinya dan bertemu dengan Tokapi palace ini... aku kagum!"
"Banyak kaligrafi yang indah dan ingin kubawa pulang"
"Pilih salah satu..."
"Ini semua untuk pameran Leo, tak boleh dibawa pulang!"
"Aku belum selesai bicara istriku! Pilih mana yang kamu suka, dan aku akan memesankan tiruannya.."
"Tiruannya sangat mahal, Leo!"
"Tak apa! Apapun demi kamu!"
Ellena dan Leo berkeliling, mungkin ini hari sabtu jadi banyak orang yang mengunjungi tempat bersejarah ini.
"Sudah puas?"
"Kita akan kemana lagi?"
__ADS_1
"Hagia Sophia..."
"Kita harus cepat kesana kalau begitu!"
"Kenapa?"
"Aku sangat ingin pergi kesana, tempat yang sangat bagus"
"Oke, ayo kesana"
Sekarang ganti Ellena yang menarik Leo. Ellena sangat ingin melihat bagaimana keadaan Hagia Shopia.
Ellena terus saja berlari tanpa memberi jeda pada Leo.
"Ell.. stop! Ini sudah waktu sholat dhuhur dan makan siang! Ayo"
'Tapi.."
"Ellena!"
"Baiklah, ayo..."
Akhirnya Leo mengajak Ellena makan dikedai pinggir jalan, memakan kebab dan jus jeruk. Setelah kenyang, mereka berdua baru pergi kemasjid terdekat untuk sholat dhuhur.
Mereka berpisah lagi, karena memang pintu jama'at lelaki dan perempuan berbeda.
Setelah hampir 45 menit akhirnya mereka bertemu lagi di serambi masjid.
"Belum satu jam, aku sudah rindu!"
"Kamu selalu gombal, Leo!"
"Emm begitulah aku disampingmu..."
"Ayo cepat kesana!"
Ellena segera menarik tangan Leo. Terlalu lama berdiam diri dengan Leo, membuatnya mengambang diudara hanya dengan gombalan suaminya ini.
**
Hagia Shopia, Istambul.
Sampai didepan bangunan megah ini, Ellena segera memeluk sang suami, sambil menangis.
"Ada apa?"
"Aku bahagia..."
"Sebegitu bahagia..?"
"Ya, aku kira dulu dengan bulan madu di Paris bisa merasakan suasana romantis, tapi ini hanya dengan pulang ke kampung halaman bisa mennggetarkan hatiku.. Hagia shopia..."
"Ayo masuk..."
"Emmm..."
Ellena melihat sekeliling, ini sangat menakjubkan.
Ornamen ornamen gereja Ortodoks serta kaligrafi muslim berpadu padan disini. Apalagi budaya Eropa dan Asia bercampur begitu kental.
"Hagia Shopia..."
Ingin sekali Ellena bersujud disini, teringat bagaimana ayahnya membanggakan Hagia Shopia dulu, dan sekarang dia masuk kedalamnya. Sayang sekali, disini dilarang melakukan kegiatan keagamaan.
Ellena melihat sekeliling. Bagaimana sebuah patung Yesus berdiri berdampingan dengan kaligrafi asma Allah dan nabi Muhammad. Ini indah.
Ya, menandakan kedamaian disini.
"Bagaimana perasaanmu?"
"Sangat hangat..."
"Ayo kita ke tempat selanjutnya .."
"Sekarang?"
"Iya... kita akan ketempat yang lebih romantis"
__ADS_1
"Baiklah..."
********