
Sudah 1 minggu ini Ellena dan Dav tinggal di London.
1 minggu juga Ellena tetap seperti biasa dan tak bertanya tentang masalah itu.
1 minggu juga Dav selalu lembur.
1 minggu juga Ellena memulai bisnisnya.
1 minggu juga Ellena hanya melihat suaminya sesekali saat bangun tidur ataupun malam hari saat akan tidur. Itu karena Dav akan pergi saat agi sekali sebelum Ellena bangun dan akan pulang saat Ellena sudah tertidur.
1 minggu pula Ellena merasa jengah atas sikap Dav. Dia memutuskan untuk pergi menghibur diri, kelab malam yang lumayan elit didaerah South Bank
"Sex on the beach"
Ucap Ellena pada Bartender. Bartender itu heran sangat jarang pengunjung baru disini, crazy rich mana lagi yang ingin unjuk diri. Tapi saat dilihat wajah wanita ini unik, ada darah Inggris dan juga timur tengah. Apa dia percampuran?
Ya menurut bartender itu yang mampu ke kelab tempatnya bekerja hanya crazy rich yang tingkat sombong dan sok berkuasa sangat tinggu, bisa dilihat dari pengunjung lain yang terlihat mewah dan glaour. Tapi wanita ini terlihat tak glamour dan lebih sederhana bisa masuk, apa mungkin dia pihak banngsawan? Bangsawan punya kelab pribadi.
"Ini nona, sex on the beach pesanan anda"
Ellena tersenyum, dan menyesap sedikit, kadar alcohol cocktail ini tinggi, sama dengan perkataan Dav. Ini lumayan menyengat walau aroma buah juga dominan.
Saat akan memnyesapnya lagi, Cocktail itu berpindah tangan.Sebelum memarahi sang empunya tangan, Ell berbalik. Terkejut, bukannya lelaki didepannya di New York.
"Leo!!"
"Tak baik wanita program hamil minum minuman keras.."
"Siapa yang program hamil.. mana minumanku"
Leo segera menenggak habis minuman itu. Leo meletakkan kembali gelasnya.
"Kenapa kamu disini?"
"Harusnya aku yang bertanya Ell.. kenapa kamu disini? Bertengkar dengan Dav.."
"Jawab dulu pertanyaanku"
"Emm sebenarnya aku mengikuti wanita cantik yang turun dari ferrary merah yang terlihat frustasi"
Ellena mendelik, dia tahu yang dibicarakan Leo adalah dia.
"Carilah dia, dia pasti tersanjung diikuti oleh middle-east billionaire sepertimu"
"Aku sedang mencarinya, mungkin mau kujadikan istri kedua"
"Ih...."
"Kenapa? Bukankah ditimur tengah biasa dengan poligami?"
"Bukan biasa Leo, itu kalau kamu mampu bersikap adil, tapi kurasa kamu jauh dari adil"
"Kamu tahu banyak tentang itu"
"Kamu lupa rupanya, ayahku dulu seorang muslim yang tahu hukum itu semua, tapi sayang dia memilih istri yang tak tepat"
"Tapi menghasilkan kamukan?"
"Yups..."
"Kamu belum berdamai dengan ibumu?"
"Belum, jauh dari kata damai"
"Kehidupan rumah tanggamu jauh dari damai kalau kamu tak mau memaafkan ibumu dan memaklumi dia Ell"
"Jangan berceramah, berceramahlah digereja atau masjid bukan kelab malam"
"Hmm.. ngomong ngomong, aku lama tak melihatmu digereja Ell..."
"Leo, please aku kesini untuk bersenang senang bukan ceramahmu!!"
Ellena pergi begitu saja meninggalkan sang pebisnis naik daun itu.
__ADS_1
Ellena melesatkan mobilnya untuk pulang ke apartment.
Saat masuk, disofa sudah ada Dav yang menunggunya.
"Dari mana?"
"Jalan jalan, mau makan?"
"Aku sudah makan, aku ingin makan malam denganmu tapi malah kamu tak ada,"
"Kamu pesan makan?"
"Sekertarisku kusuruh mengantar makan?"
"Ana? Roy sudah kamu pecat sampai apa apa harus Ana?"
"Roy sedang kembali ke Manchester, hanya Ana yang mengerti semua kebutuhanku"
"Oh, kalau aku tak mengerti? Apa aku tak mengerti apapun tentangmu? Apa aku tak mengerti tentang selera bercintamu, sampai sampai kamu mengajak sekertarismu itu kedalam hotel?"
"Maksudmu apa? Aku tak pernah melakukan itu!! Atau jangan jangan kamu yang melakukan itu, kau habis bertemu Leo? Membicarakan apa? Jadi istri keduanya?"
plak...
Ellena menampar Dav.
"Itu untukmu yang menuduhku sembaranga!! Aku tak melakukan apapun dengan Leo! Tapi kamu malah.. ahhh... aku bahkan melihat siaran berciuman kalian diberbagai stasiun berita!! Aku ini apa Daav!! Apa bagimu?? Istrimu atau hanya penghangat ranjangmu yang sah, apa Davv!!"
"Ellena, kamu berani membentak suamimu!! Seorang boss dengan sekertaris itu biasa melakukan itu!!"
"Biasa katamu!! Kalau begitu kau juga harus biasakan melihat istrimu ini jarang pulang!!"
"Berani kau!!"
Dav menyeret Ellena kedalam kamarnya, membantingnya kedalam ranjang dan segera menindih istrinya itu. Merobek seluruh kain yang menutupi tubuh Ellena. Ellena menangis tergugu dan menjerit kala Dav segera menerobos tanpa memperdulikan Ellena.
Ellena kesakitan, entah sampai jam berapa Dav terus menguasai tubuh Ellena. Dav menggila.
Ellena roboh dan pingsan tanpa kepuasan ataupun senyuman.
Dav telah selesai. Melihat Ellena tak sadarkan diri dan bercak merah memenuhi tubuhnya.
Dav berbaring disampingnya. Menutup matanya dan menangis.
Bisa bisanya dia lepas kendali dan membuat Ellena seperti itu.
Alasan dia meniduri Ana adalah dia tak mau menyakiti Ellena dengan kebiasaan kasarnya. Dan kali ini dia sudah membuat kenangan pahit untuk Ellena.
Dia memakai bajunya kembali dan menyelimuti Ellena. Memberinya saleb untuk luka memar dan juga diarea sensitivnya.
"Aku menyesal Ell.."
Dav keluar dari kamar dan mengambil wine dari kabinet penyimpanan.
Dia begitu frustasi. Dia termakan omongan sekertaris sialan itu.
Dav merogoh sakunya dan mengambil ponsel.
"Roy"
"Perlu bantuan tuan?"
"Ya, singkirkan sekertaris Ana sekarang, aku mau besok pagi wanita itu lenyap"
"Siap tuan"
Dav sudah marah sangat marah. Dia ingin menghabisi wanita itu dengan tangannya sendiri.
"Ana terima hukumanmu!!"
***
Ellena membuka matanya. Dia menatap langit langit. Badannya sakit semua. Dia mengingat bagaimana menggilanya sang suami sampai Ell harus pingsan.
__ADS_1
Ellena menengok kearah pintu kamarnya yang terbuka. Dav datang dengan senampan sarapan.
"Sudah bangun? Ayo sarapan"
Ell tak bergeming hanya menatap pergerakan suaminya.
Dav duduk ditepi ranjang dan mengambil sendok untuk menyuapi Ellena.
"Ayo makan akan kusuapi"
Ellena hanya mengangguk dan membuka mulutnya. Memakannya hanya beberapa suap.
"Aku kenyang"
"Kan belum habis"
"Aku kenyang"
"Baiklah, mau mandi? Akanku siapkan air panasnya"
Ellena tak menjawab, Dav mengela nafasnya dan segera berlalu. Dia takut bertengkar lagi.
Setelah selesai menyiapkan air hangat, Dav kembali lagi kekamarnya. Menggendong Ellena dan meletakkannya dalam air. Menuangkan aroma terapy pada air mandi Ellena.
"Keluarlah"
"Aku akan menemanimu mandi"
"Keluar, aku tak butuh belas kasihanmu"
"Ellena aku suamimu"
"Keluar"
Dav segera keluar sebelum itu dia menyiapkan semua keperluan Ellena dari handuk sampai baju ganti.
Ellena marah, pikir Dav.
Seperginya Dav, Ellena menangis, badannya bergetar.
Sakit.
Pedih.
Dan kecewa.
Ellena tak bisa melupakan kejadian semalam walau Dav berbuat manis padanya.
Dia sedih sangat sedih.
20 menit dia meratapi kehidupannya. Apa benar perkataan Leo semalam. Apa dia harus berdamai dengan masa lalunya, berdamai dengan ibunya.
Ellena keluar dengan rambut basahnya. Dav masih duduk ditepi ranjang menunggu Ellena.
Saat Ellena sudah duduk dimeja riasnya, Dav datang dan berlutut didepannya.
"Maafkan aku Ell... aku mohon maafkan aku"
Ellena berbalik. Dav berlutut dengn wajah mengahadap kebawah.
"Aku salah, aku bodoh... aku termakan rayuan Ana.. aku bodoh.. betapa besar cintamu dan kusiasiakan. Ellena maafkan aku"
"Aku memaafkanmu"
"Terima kasih Ell, aku berjanji tak akan mengkhianatimu lagi"
Ellena hanya tersenyum. Entah bagaimana perasaan Ellena pada Dav lagi, yang dia tahu sekarang adalah memaafkan. Memaafkan lebih baik.
Dav duduk didepan Ellena dengan kepala dipangkuan Ellena. Menikmati betapa beruntungnya Dav mendapatkannya. Menikmati indahnya kata maaf. Menikmati halusnya telapak tangan Ellena dikepalanya.
Dia menikmati itu. Walau Dav tahu, sangat sulit Ellena untuk mengikhlaskan itu semua.
Dia harus memperbaikinya.
__ADS_1
**********