
COEX MALL~GANGNAM-GU-SOUTH KOREA
Ellena memborong berbagai perlengkapan bayi dan lainnya, Terlihat Ellena sangat antusias saat memilih berbagai hal itu.
Dan bisa ditebak COEX mall dibuat heboh karena pengawal keluarga Robert Russel berdatangan karena tuan putrinya memborong disana. Kalau saja pengawal pengawal itu berwarga lokal, mungkin mereka akan biasa saja tapi pengawal pengawal itu berwajah eropa dan juga mereka tampil dengan jas jas formal hanya untuk membawa barang barang milik ketiga orang itu.
Liam yang akan menyapa Ellenapun dibuat geleng kepala akibat ulah Ziu itu. Liam tak habis pikir dengan si tua Russel yang bisa bisanya mengirim pengawal kepercayaannya untuk menemani Ellena berbelanja. Apa kurang seorang perwira mengikutinya?
Akhirnya Liam memilih pergi. Dan menemui bossnya ditempat pembangunan.
"Kau darimana?"
"Mencari kopi"
"Kau dapat?"
"Tidak, Roy sudah menghubungiku sebelum aku memasuki cafe"
Liam berbohong. Roy tahu dia dibuat alasan hanya menggeleng pasti ada sesuatu.
"Kalau begitu ayo pergi bersama"
"Rapatmu selesai?"
"Ditunda, moodku tak baik"
"Oh"
Liam dan Roy saling bertatapan. Dan Liam tahu ini pasti gara gara ibu hamil itu.
Akhirnya ketiga lelaki tampan itu menaiki Aston Martin dan meluncur kearah COEX mall. Roy mengemudikannya, karena memang Roy sering kesini daripada 2 lelaki lainnya. Liam tahu tujuan mereka, segera saja mengajukan pertanyaan pada Roy.
"Kita akan ke COEX?"
"iya, disana ada cafe yang bagus"
"Kenapa tak kedaerah stasiun Samsoeng saja?"
"Ikuti saja Roy! Dia lebih tahu"
"Emm baiklah"
Liam diam, Leo sudah berbicara jadi dia tak bisa membantah.
Sampai mereka didaerah COEX Mall, mereka melihat mobil mobil hitam berjajar rapi dengan pengawal pengawalnya.
"Ada kunjungan bangsawan?'
"Emm sepertinya bukan boss, pengawal mereka orang Eropa"
"Mungkin ada bangsawan Inggris datang"
"Mungkin, tapi aku seperti pernah melihat mereka? Kau tahu Roy?"
Ya, Leo lebih baik bertanya dengan roy yang mudah menghafal wajah orang dibanding Liam.
"Sepertinya yang paling depan adalah Smith, pengawal pribadi Tuan Robert Russel"
"Dia mengawal Ellena dan Ziu"
"Mungkin..."
"Liam! Kau sebenarnya tahu?"
"Begitulah, tapi aku tak bisa mencegah bukan?"
Leo masih setia didalam mobil walau dua bawahannya itu sudah keluar dan mencari tempat duduk.
Leo masih mengamati Ellena yang diseberang sana, sampai penglihatannya melihat seorang pria lokal meremas bokongnya. Leo mengepal, ingin meninju lelaki itu tapi Ellena membuatnya terkejut.
Ellena menarik tangan lelaki itu, dan segera menamparnya.
__ADS_1
"Maksudmu apa?"
"Kau seperti jal*ng nona!memakai baju seperti itu saat hamil"
"Kau mau tanganmu yang bolong atau kepalamu!"
Entah kapan Ellena merebut pistol dari tangan Smith dan mengacungkannya kedepan lelaki itu. Pengawal lainnyapun menodongkan pistol.
"Nona kau psikopat!"
"Aku psikopat? Kau benar! Aku bahkan bisa menggunakan Deagle (desert Eagle) ini dengan baik tuan... ini pistol favoritku!"
"Kau..."
"Kau ingin coba? Sensasi peluru ini bukan hanya menembus tapi juga meledak"
"Nyonya, biarkan kami yang membereskannya!"
"Tak usah, aku pengampun! Aku akan lepaskan dia tapi aku lebih dulu akan.. krakk~"
Leo menyipit, Ellena mematahkan tangan Kanan lelaki itu. Dia tahu Ellena itu sabuk hitam taekwondo dan juga pernah berlatih senjata tapi tak tahu daya dominasi dan ancamnya sebegitu besar.
Lelaki itu berteriak, sampai orang disekitar ngeri melihatnya. Sontak lelaki itu berlari karena ketakutan.
Semua orang disana melongo termasuk Ziu dan Sarah.
Ibu hamil satu ini ada ada saja.
"Ziu aku lelah"
Ellena bergelanyut manja pada Ziu yang menggeleng. Kemana perginya wanita kuat tadi?
Sarahpun juga menggeleng atas perilaku wanita ini, cemburu? Tidak, bukan tak sayang tapi dia tahu bagaimana kondisi Ellena dan riwayat kesehatan Ellena.
Haphephobianya belum sembuh, dia lebih mengandalkan kekerasan saat seperti tadi bukannya melemah.
Sarah malah kasihan pada wanita ini.
Sedangkan Leo menggeram, bisa bisanya Ellena bergelanyut manja pada Ziu. Dan lelaki itu juga biasa biasa saja malah mengusap rambut hitam Ell.
Terlihat Wanita disamping Ziu berbicara dan setelah itu Ziu mengangkat Tubuh Ellena kedalam mobil.
Ziu keluar lagi dan menghampiri wanita itu, dia mengendarai mobil yang berbeda? Ellena hanya dengan Smith.
Leo mencoba menetralisir semuanya dan keluar dari mobilnya.
Leo melihat kedua bawahan sekaligus sahabatnya itu melamun. Pasti tahu tentang Ellena. Mereka menghadap jendela tak tahu dengan kehadiran Leo dibelakangnya.
"Aku jadi takut dengan Ell"
"Aku juga, tapi bisa bisanya dia bergelanyut manja dengan Ziu"
"Kukira kalau boss tahu, dia akan mempertimbangkan untuk tinggal disini"
"Iya, aku tahu Leo masih sangat berharap, sayangnya Ell memilih bayinya"
"Ya, setidaknya apa yang dia inginkan tercapai, memiliki anak"
"Aku ingin tahu anaknya mirip dengan Ell atau sang ayah"
"Aku juga penasan, bagaimana reaksi boss melihat Ellena bersama anaknya kelak"
"Kita tunggu saja"
Leo hanya menggeleng, menunggu kedua lelaki itu beebalik dan apa respon mereka.
Dan ketika kedua lelaki itu berbalik, mereka baru tahu kalau orang yang mereka bicarakan ada dibelakangnya.
"Boss"
"Sudah selesai bergosipnya?"
__ADS_1
"Sudah, mau makan?"
"Aku ingin memakan kalian berdua.."
"Boss, kita hanya bercanda"
"Tak ada tapi tapian, kalian kupotong gaji"
Oke, eksekusi mereka telah dijatuhkan, mereka potong gaji. Mereka hanya menghela nafas.
Kalau saja Ellena tak memilih jalan itu mungkin tempramen Leo sedikit berkurang.
"Roy tangani proyek disini sampai selesai!"
"Baik boss"
"Liam, siapkan penerbangan ke Istambul"
"Baik, apa jadi melebarkan sayap kesana!"
"Baiklah"
Liam dan Roy segera melaksanakan tugasnya.
Sebenarnya Liam agak heran dengan bossnya itu, karena dulu Leo tak tertarik dengan bisnis timur tengah.
Sedangkan Leo melamunkan kejadian tadi. Dulu sebelum dia berpisah dengan Ellena, wanita itu juga bersikap manja seperti itu. Seandainya mereka masih bersama...
Leo sedikit murung mengingat Ellena diistimewakan oleh Ziu. Tiba tiba lamunannya hilang saat Ziu datang dan ikut duduk dimejanya.
"Kenapa kau disini?"
"Aku tahu kau melihat segala adegan tadi, apa kau cemburu tuan Dominic?"
"Untuk apa aku cemburu?"
"Untuk cintamulah..."
"Lelucon apa itu?"
"Kuberitahu Dom.. jangan harap bisa bersama Ellena selama kau tak mau menerima anaknya"
"Apa aku mengatakkan kalau aku akan kembali dengan Ellena?"
"Bagus, kuanggap kau sudah melupakan Ellena, dia sudah cukup bahagia dengan kehidupannya sekarang, jangan kau kacaukan lagi!"
"Tenang saja aku akan segera pergi dari sini untuk ke Istambul'
"Lebih baik begitu, apapun yang terjadi tolong jangan kau gampiri Ellena kalau kau hanya bisa menyakitinya... gara gara penolakanmu saat itu Haphephobianya kambuh lagi, kalau kau tadi melihat Ellena mematahkan lengan seseorang, ya sakitnya kambuh, dia mempertahankan dirinya dan anaknya dengan cara seperti itu.... aku berbicara sebagai saudara Ellena, Dom"
"Ya, tenang saja,, "
"Aku pegang omonganmu, aku pamit"
Ziu keluar begitu saja tanpa mau melihat kebelakang lagi. Sedangkan Leo masih menatap punggung Ziu, Leo sangat ingin memeluk wanita itu tapi sayang dia belum bisa menerima anak dari Ellena. Sebersit pikiran ingin mengelus perut itu dan mendengar bagaimana keluh kesah Ell selama hamil ini tapi dia tak bisa.
Leo menyentuh dadanya, ada seberkas rasa sakit saat Ziu mengatakkan semuanya. Ellena masih sakit dan harus menanggung semuanya sendiri.
Liam dan Roypun juga kaget atas penuturan Ziu, wanita itu sakit lagi. Mereka melihat Leo bersamaan, lelaki ini apa tak memiliki hati, membiarkan wanita yang mengandung anaknya mengalami hal itu. Dimana letak kemanusiaanya?
Lamunan mereka bertiga terganggu akibat ponsel Leo berbunyi. Leo segera membukanya, ya Leo tahu siapa si penelpon walau nomornya tak tersimpan diponselnya.
"Ada apa?"
"Aku butuh uang 40 juta, bisa pinjankan?"
"Jaminannya apa?"
"Terserah padamu!"
"Baiklah, biar Liam kirim nanti"
__ADS_1
**********