Ellena

Ellena
56


__ADS_3

Ellena melihat semua persiapan pesta mewah di ballroom hotel yang terkenal itu. Nanti malam banyak undangan dari berbagai kalangan datang. Pesta ini harus sesempurna mungkin.


Bahkan Ellena malam ini mempersembahkan karya perdananya, dan seluruh pendapatan untuk amal.


Ada 3 set perhiasan dengan karya eksklusif dan hanya dikeluarkan 3 set itu saja. Tapi perset saja harganya hampir 80 milyar. Harga yang fantastis. Kalau 3 set perhiasan itu tak terjual, akan dirombak ulang, dijadikan perhiasan model lain.


Dan tak mungkin kalau tak laku. Persembahannya saat ulang tahun galery pertamanya dulu saja melalui lelang dengan harga mencapai 160 milyar hanya 1 kalung. Pelanggan pelanggannya banyak yang bodoh.


Ellena berjalan menyusuri ballroom itu, melihat para pekerja hotel mendekor ruangan.


Hampir semua mata memandang Ellena. Dress bunga bunga dengan high hell putih menopang wajah cantik Ellena apalagi dengan rambut dark brown yang tergerai.


Mata wanita itu menjelajah, sesuai keinginannya nuansa abu abu dan juga maroon.


Suram.


Ya itu yang dikatakkan Billa, Asistennya saat mendengar idenya.


Entah kenapa galery ini akan dia beri tema 'gender'.


Ya galery ini bukan hanya untuk kaum sosialita crazy rich. Tapi juga untuk pasangan  ataupun yang sedang meyakinkan pasangannya.


Ellena mendekati Billa, yang sedang sibuk dengan macbooknya.


"Bill... ada yang kurang?"


"Ah.. iya nyonya, anda sudah datang rupanya? Begini nyonya, pihak pemasok bunga membatalkan pengiriman"


"Lalu?"


"Saya sedang mencoba mencari agen bunga yang lain"


"Sudah ketemu?"


"Belum nyonya"


"Kalau begitu, kamu kedepanlah, didepan sana ada toko bunga"


"Tapi toko itu kecil, pasti tak lengkap"


"Daripada mencarikan? Lebih baik memanfaatkan yang ada"


"Emm baiklah,"


Billa segera berlari keluar, dan menyeberangi jalan. Ellena melihat Billa yang bersemangat. Dia bahkan segera kembali lagi dengan membawa pemilik toko.


"Nyonya...."


"Emmm iya ada apa?"


"Saya membawa pemilik tokonya, dia mau bertanya bunga apa saja yang dibutuhkan"


"Bawakan saja bunga bunga segar dan indah"


"Tak ada bunga khusus?"


"Tidak usah, inikan mendesak"


"Baiklah"


Billa segera berbicara pada penjual bunga itu dengan bahasa Indonesia. Untung dia memiliki asisten yang berkewarganegaraan Indonesia.


Ellena segera mengecek persiapan lainnya. Ballroom yang tak terlalu berisik itu, Ellena mendengar suara yang keras dari luar.


Dia seperti kenal suara ini.

__ADS_1


Ya beberapa hari yang lalu, diponsel Leo juga terdengar suara ini. Leo berkata kalau suara ini adalah panggilan untuk muslim beribadah.


Di Inggris ataupun Korea tak tahu seperti ini, karena memang wilayah Rumah Ellena tak berdekatan dengan wilayah muslim. Tapi disini, mayoritas warga negaranya muslim. Jadi wajar mungkin mendengar itu.


Tapi yang tak wajar disini adalah rasa penasaran Ellena.


"Nyonya, mari makan siang"


"Kamu makanlah dulu, aku ingin keluar"


"Baiklah"


Ellena segera keluar dan mencari sumber suara tersebut.


Ellena terus saja berjalan ditengah kota Jakarta yang panas. Dia hanya mencari asal suara Adzan.


Banyak orang yang memandang heran Ellena. Siapa yang tak heran dengan orang  berwajah seperti bule tapi garis wajahnya seperti ada darah timur tengahnya berjalan dibawah terik matahari yang banyak orang menghindinya, apalagi dengan dress branded serta tas jinjing merk terkenal paris, jangan lupa flatshoes bermerk juga yang menandakan wanita ini bukan kalangan biasa.


Ellena terus saja berjalan sampai dirinya melihat banyak orang masuk kesebuah bangunan yang lumayan besar tapi bukan rumah. Mereka memakai baju baju bersih dan penutup kepala. Terlihat sebuah papan tulisan besar didepan bangunan itu 'Masjid Al-Iklas'. Bangunan apa ini?


Ellena ingin mendekat tapi takut.


"Mbak..."


Ellena menoleh saat disampingnya ada seorang lelaki paruh paya yang berhenti dan berbicara sesuatu. Ellena mengamati lelaki itu, memakai baju putih serta bawahan kain kotak kotak.


Ellena mengerutkan keningnya, harusnya tadi Ellena membawa Billa. Agar tahu lelaki ini tadi berbicara apa.


"Hah???"


Lelaki itu ganti mengerutkan keningnya, kenapa tak terpikirkan kalau wanita tak biasa ini tak bisa berbahasa Indonesia apalagi dari penampilannya dia terlihat sangat bule.


"My name Rahmad, what are u doing in here?"


"I am just looking for the source of a loud sound, and the source of this building"


"Do you want a pray?"


"Pray?"


"Yes, this building is muslims pray place"


"Oh...No, im not a muslim"


"So, what do you doing miss...?"


"Ellena, my name is Ellena... emmm  i want discuse about recent convert to Islam, i want a found with ustadz"


"Oh... Subbahanallah.... desire from Allah, im Ustadz in here..."


"Oh.. do you want discuse with me, sir?"


"Yes.. i want... but i must a pray now"


"Its okey, i will wait"


"Pak ustadz, sudah waktunya iqomah"


"Iya, tunggu dulu saya kesana sekarang... okey, see u last minute"


Lelaki bernama Rahmad itu pergi, Ellena akhirnya berinisiatif untuk menunggu lelaki itu dikedai kopi modern samping masjid.


Ellena tak menyangka, perjalanannya sampai ketitik ini. Ellena menghela nafas setelah sebuah espresso diantar pelayan kemejanya. Tak pernah terbayang apapun itu.


Ellena hanya punya niat memiliki galery dinegara ini bukan untuk mengubah identitasnya tapi ternyata hal lain begitu mengesankan.

__ADS_1


Setelah 30 menit Ellena menunggu, lelaki paruh baya itu datang setelah melihat Ellena duduk dikedai.


"Maaf menunggu lama..."


"Oh tak apa tuan, emmm ini..?"


Pertanyaan Ellena mengacu pada wanita berbaju sangat tertutup disamping ustadz Rahmad.


"Kenalkan ini istri saya, Siti."


"Selamat siang bu, saya Ellena"


"Pak, saya ndak bisa bahasa Inggris lho!"


"Tak apa, dia mengenalkan dirinya, namanya Ellena"


"Oh... saya siti mrs. Ellena"


Ellena tersenyum. Ellena melihat sepasang suami istri ini begitu romantis.


"Mari duduk, silahkan pesan mau minum atau makan apa?"


"Tak perlu, kami berdua sedang puasa"


"Puasa"


"Ya, puasa itu kami harus menahan lapar dan haus serta tahan akan godaan para setan neraka dari terbit fajar sampai terbenam fajar"


"Lama ya..."


"Hanya sebentar"


"Tentang niatan saya tadi..."


"Saya faham, besok datanglah kealamat ini, biarkan anak perempuan saya yang membimbing diskusimu"


"Oh... kenapa bukan anda saja?"


"Saya lelaki dan anda perempuan, tak baik kalau berbicara terlalu lama, dan juga saya tak ingin terjadi dosa dipertemuan ini. Ini juga alasan saya membawa istri saya"


"Oh...baiklah.. emm ini sudah menjelang sore saya harus pergi.. sampai bertemu besok pak Rahmad dan juga ibu Siti"


"Hati hati,sampai berjumpa besok"


"Baik pak, sampai jumpa besok"


Ellena mengeluarkan uang 100 ribuan  dan menyelipkannya dibawah gelasnya tadi dan segera pergi.


Sepasang suami istri itu melihat perilaku Ellena hanya tersenyum.


"Wanita tadi siapa sih yah?"


"Dia wanita yang akan diberkahi oleh Allah, bunda"


"Dia akan menjadi mualaf?"


"Iya, dari sikapnya kita tahu dia memang asli orang yang Baik bunda, hanya ingin merubah jalan"


"Semoga ya yah..."


"Iya, mari pulang.. Julia pasti menunggu"


"Ayo yah..."


*******

__ADS_1


__ADS_2