Ellena

Ellena
24


__ADS_3

"Aku berangkat, terima kasih untuk semalam dan hari ini"


"Sama sama, dan jangan berharap lagi.. kau sudah menyusahkanku semalam"


"Hahaha.. bahkan sekarang aku mulai mendamba"


"Dasar mesum"


"Kalau ada apa apa, cepat hubungi aku"


"Iya iya"


"Aku ingin punya Leo junior lagi"


"Leooo..cepat berangkat"


"Iya iya"


.


.


.


Dav pov


Aku pagi pagi sekali melesat ke apartemen ellena. Entah kenapa aku begitu merindukan dia. Kubawakan sebuket bunga dan sekotak sarapan kesukaannya.


Semoga ini bisa memperbaiki hubunganku dengan Ellena.


Aku naiki lift apartemen ini, masih sepi, mungkin karena masih pagi. Saat aku berada diujung lorong aku melihat di kearah unit apartemen El, senyum yang kuumbar sirna, aku melihat Leo keluar dengan El sambil tertawa tawa. Dan lihat El hanya menggunakan baju setipis itu.


Jadi ini yang membuat pengacara perusahaan L's yang mengirim surat cerai bukan pengacara Ellena sendiri, ada konspirasi.


Ku bersembunyi dibalik lorong menunggu Leo pergi. Akan ku minta penjelasan El.


.


.


.


.


Sesaat setelah Leo pergi, aku berlari ke unit El. Aku tak sabar menanyakan kebenaran nya.


Ting tong ting tong


"Apa lagi le...eh Dav ada apa kamu kesini?"


"Kamu berharap leo yang kesini el, bukan aku"


"Ada apa kamu kesini?"


"Apa aku tak kau perbolehkan masuk"


"Tidak"


"Apa cuma leo yang bisa masuk dan menginap disini"


"Bukan urusanmu!"


Plaakk


"Aw... pergi kamu"


Brraakkk


Kudorong tubuh el lebih masuk kedalam dan menutup pintu.


"Bahkan saat bersama leo kau berani memakai gaun tidur setipis  ini?"


"Iya kenapa?"


"Murahan"


"Ya aku murahan dav, jadi sekarang pergilah"


"Pergi? Aku bahkan sekarang berniat menidurimu secara brutal sayang"


"********"


Sraakk srakkk


"DAVVVVV PERGI KAMU"


ku susuri seluruh tubuh yang ku rindukan, menciumi wangi yang memabukkan ini. Bukan leo saja yang akan ketagihan dengan wanita ini tapi aku juga.


Kuciumi setiap inci  tubuhnya. Tapi apa yang ku dapat hanya isakannya aku ingin desahannya.


"Mendesahlah bit*h"


Apa yang dia harapkan, kenapa dia sampai menangis seperti itu.

__ADS_1


"LEPASKAN EL"


Leo pov


Aku sampai parkiran yang pikiranku terus tertuju untuk El, apa terjadi sesuatu dengan wanitaku. Kumasuki mobilku, ah ponselku tertinggal. Aku harus ambil dahulu. Mungkin sekalian meminta kecup pagi hari.


Kumasuki lift, saat sampai dilantai unit terdapat sebuket bunga mawar dan sekotak nasi. Siapa yang membuang buang makanan. Tak mensyukuri nikmat.


Kuberlari kecil ke unit apartemen El. Kubuka pintu el, kenapa pintunya tak dikunci. Sangat ceroboh. Apalagi dia memakai baju seperti tadi pagi.


"Mendesahlah *****"


Ini suara Dav, aku langsung menerobos masuk. Siaal aku kecolongan.


"LEPASKAN EL BRENGSEK!


"LEEOOOO"


"Hahaha rupanya kau mencoba jadi pahlawan ya"


"Lepaskan dia"


"Kenapa? Kamu takut jejakmu kutambah?"


"********!"


Kutarik tubuh Dav, kupukul dia sampai babak belur. Amarahku memuncak saat melihat El dengan keadaan yang mengenaskan.


Entah berapa lama aku adu jotos dengan Dav, yang ku tau Dav sudah tergeletak pingsan. Dan Ell sudah luruh dilantai dengan tangis yang memilukan.


"Bawa orang ini pergi jauh, aku tak mau melihat wajah ******** ini"


"Siap boss"


Anak buahku menyeret Dav pergi menjauh, itu akibat mengusik hidup tersayangku.


Kuhampiri El, di tersungkur menyedihkan. Maafkan aku El tak bisa menjagamu. Ku selimuti dia dengan jasku, dan ku angkat ke ranjang.


"Aku takut"


"Aku akan menemanimu El"


Dia diam, hanya air mata yang terus menetes.


"Tidurlah"


Tetap diam, dia masih syok. Lalu aku pergi dari kamar, kuambilkan segelas air. Aku hanya takut, trauma masa lalunya kembali lagi.


Dia diam tapi tetap meminumnya. Aku beranjak dari tempat tidur, berniat menghubungi, Liam untuk menghandle seluruh pekerjaan tapi tanganku ditahan oleh Ellena. Dia masih pucat.


"Temani aku"


"Aku pasti menemanimu, tidurlah. Aku takkan kemana mana"


Aku memposisikan tidur disampingnya, dan membelai rambut hitam panjang Ellena, bersiap mengantarkannya tidur. Setelah 15 menit kami saling diam, kumerasakan nafas Ellena mulai teratur, dia tertidur dalam keadaan tetap mengenaskan.


Aku keluar dan merogoh ponselku disaku celana. Kutelpon All.


"Ada perlu apa?"


"Dav mencoba memperkosa Ell"


"Brengsek, kemana kau sampai dia bisa masuk"


"Dia datang saat aku berangkat kerja, untung aku cepat datang. Bisa kau bawa sabrina kesini biar menghibur El"


"Brina tak disini, dia pulang ke rumah orang tuanya"


"Oh, ya sudah... tenang saja aku hari ini bolos kekantor untuk menemani El, sedangkan Dav sudah dibuang jauh oleh anak buahku"


"Hm"


Kumatikan sambungan telpon itu,semakin pusing kepala ini kalau terus berbicara dengan All. Kenapa El harus punya saudara seperti dia.


Kiingat lagi bagaimana aku bisa bercerai dengan Laura. Dia hamil anak All, dan terang terangn meminta cerai karena itu. Menurutnya itu bukan aib tapi kebanggaan. Terpuruk, pasti beberapa hari Leo merasa gagal menjadi pemimpin keluarga, tapi untuk ada kejadian malam di Jepang saat itu. Dia sadar Laura bukan jodohnya.


.


.


.


.


.


Ku masuki kamar El, dia duduk menghadap jendela luar. Mengenaskan, dia melamun.


"Sudah bangun?"


"Dari mana?"


"Diluar ngerjain berkas kantor"

__ADS_1


"Hm"


"Ayo makan, aku buatkan hotpot"


"Aku tak ingin makan"


"Hah....  kalau gak mau makan, kamu sakit dan kalau kamu sakit, aku akan dirumah terus, dan kalau aku dirumah pasti dalam wakti 1 minggu saja sudah tertanam penerus L's corp diperut rampingmu itu"


"Mesum! Dalam keadaan seperti ini masih mesum"


"Hahahaha... kalau begitu ayo makan"


"Baiklah"


.


.


.


.


.


.


"Apa enak makanannya?"


"Lumayan, rupanya kamu bisa memasak"


"Kalau begitu habiskan ya, aku ingin keluar sebentar"


"Kemana?"


"Ada urusan'


"Hmm leo.... bagaimana keadaan Dav"


"Dia baik baik saja"


"Oh"


Sudah disakiti masih saja mengkhawatirkan lelaki brengsek itu. Hah bagaimana caraku mengketuk hati El kembali. Entah kenapa aku ingin membunuh lelaki itu.


.


.


.


.


Aku keluar dari apartment, aku turun untuk bertemu Roy dicafe seberang. Roy sudah kembali lagi kemarkasku, dia tangan kanan yang setia.


"Bagaimana?"


"Lapor boss... laki laki itu sudah dikirim ke Afrika"


"Jangan biarkan kembali"


"Siap boss"


Afrika? Masih terlalu dekat, tapi itu sudah lumayan membuatnya menjauh.


Aku akan tetap membuat Dav, pergi tanpa jejak apapun kalau dia sampai membuatku susah lagi.


Roy tetap didepanku menerangkan proyek apartment di New York tapi aku tetap tak berkonsentrasi. Ini terlalu sulit.


"Roy.."


"Ya boss,"


"Tangani proyek itu sampai tuntas,, dan jalankan perusahaan Dominic yang Di New York, kalau kau mencapai lebih dari target akan ku beri kamu reward"


"Boss.. aku sepenuh hati mengikuti boss, tanpa anda memberi embel embel imbalan berlebih aku akan tetap menjalankan misi apapun dari boss"


"Kau tangan kananku yang terbaik.. umurmu sudah mencapai 30 tahun Roy, waktunya kamu memilih pendamping hidup dan meraih kesuksesanmu sendiri, pergilah kesana dan jadilah orang normal tanpa misi apapun, aku mau kamu membangun hidupmu sendiri tanpa harus aku arahkan"


"Boss, boss tahu aku tak akan menjai seperti ini tanpa boss, aku berhutang nyawa dan budi pada boss"


"Aku hanya menyelamatkan pemuda yang dibully waktu itu dan juga itu karena kamu pandai bisa sampai sekarang, pergilah"


"Baik boss, saya pergi kalau anda menginginkan saya pergi"


"Aku tak menginginkanmu hengkang dari L's tapi aku ingin kamu dan Liam tak hanya melihat kesuksesanku, aku ingin kalian menyaingiku, bisa?"


"Bisa boss"


"Bagus, panggil aku Leo bukan boss,kita dulu temankan bukan bawahan dan atasan"


"Ya Leo"


*****

__ADS_1


__ADS_2