Ellena

Ellena
57


__ADS_3

Setelah pertemuan tak terduganya dengan lelaki muslim itu, Ellena segera menelpon supirnya untuk menjemputnya.


Sesampainya dikamar hotel, semua sudah tersiap. Billa sangat bersemangat.


Ellena merogoh ponselnya lagi dan menelpon Billa, sang asisten pintarnya.


"Ya nyonya, siap menerima tugas"


"Apa semua sudah siap?"


"98% sudah nyonya"


"Billa..."


"Ya nyonya?"


"Terima kasih"


"Nyonya, aku tulus bekerja denganmu..."


"Bersiaplah, mungkin kau akan mendapat jodoh"


"Mungkin, banyak pengusaha kaya"


"Ehm... aku akan bersiap"


"Baik nyonya..."


Panggilan itu tertutup. Ellena menanggalkan seluruh bajunya dan berjalan kearah kamar mandi.


Entah berapa lama dia bisa serileks ini saat mandi. Ya, biasanya dia akan direcoki oleh anak kembar itu. Ellena jad rindu. Ini kali pertama Ellena meninggalkan mereka.


Setelah hampir 1 jam Ellena menjalani ritualnya, Ellena akhirnya keluar.


Ellena begitu teliti merawat tubuhnya, sepertinya seinci saja tak terlewat. Ellena tak suka memakai parfume, dia lebih suka memakai body butter dengan harum mawar dan citrus. Tapi Ellena suka mencium aroma parfume Leo, antara perpaduan pinus dan musk serta sedikit mint.


Ellena suka.


Ellena memakai gaun malam berwarna navy, serta high heel 8 cm berwarna silver. Lumayan tertutup, dengan lengan yang panjang serta menutup sampai leher. Tetapi memperlihatkan punggung yang begitu putih bersih.


Billa begitu all out. Billa tahu betul Ellena sangat tak suka baju terbuka,tapi ini malah punggung terbuka keseluruhan.


Mungkin robek sedikit saja bokong mulus miliknya akan terpampang jelas.


Dia harus memberi lembaran aturan baru.


Ellena merias dirinya senatural mungkin tanpa make up tebal. Natural flawless dengan rambut yang dia sanggul keatas memperlihatkan leher putih jenjangnya.


Tak lupa menyematkan perhiasan di setiap bagian tubuhnya. Tak mungkin penjual perhiasan tak memakai perhiasan.


Setelah selesai berdandan, Ellena memasukkan alat touch up, tisu, serta ponsel. Hanya itu. Ellena menghela nafas saat teringat Leo yang tak memberi kabar sama sekali. Apa dia sibuk?


Ellena melangkahkan kakinya untuk menuju tempat berlangsungnya acara. Ellena menghela nafas lagi saat bokongnya mendarat diatas jok penumpang mobil alphartnya.


"Nyonya, sepertinya murung saja"


"Aku rindu rumah"


"Itu wajar nyonya, anda sedang meraih bintang untuk mereka"


"Ehmm..."


Ellena hanya menggumam, dan memejamkan matanya. Riasan mata yang terkesan natural tapi garis tegas itu tetap mendominasi. Ellena harus menambahkan bulu mata palsu untuk hasil yang maksimal dan Ellena benci bulu mata.


Seandaikan aku tak memilih jalan ini, apa aku akan baik baik saja?"


Entah.. ya hanya Entah...


Apa jalan yang diambil dulu benar atau malah menjadi lebih buruk.

__ADS_1


Tak sadar kalau mobil itu sudah berhenti dan sang sopir membuyarkan seluruh lamunannya.


"Nyonya, kita sudah sampai ditempat"


"Terima kasih"


Sopir itu hanya tersenyum dan membukakan pintu samping untuk Ellena.


Ellena disambut kilatan flash dari kamera para wartawan. Ellena sudah mennduga.


Selain El's galery sudah masuk jajaran galery perhiasan top dunia serta masuk di majalah forbes, malam ini Ellena mengundang para petinggi, sosialita bahkan business-man internasional.  Ini ajang mencari berita untuk mereka.


"Selamat malam semuanya...."


Ellena tersenyum menyapa berpuluh puluh wartawan yang berjejer rapi disamping red carpet.


"Selamat malam kembali mrs. Ellena"


Mereka sangat kompak...


"Bagimana kabar anda mrs. Ellena?"


"Apa tak mengajak ayah si kembar?"


"Emm.. apa benar mrs. Ellena sedang dekat dengan mr. Dominic?"


"Apa mr. Dominic tak diundang?"


"Kalian berdua sangat cocok..."


Rentetan pertanyaan yang hampir sama membuat kepalanya pening. Ellena hanya tersenyum ramah. Wartawan suka mewawancarai Ellena karena walaupun Ellena tak menjawab, tapi tetap tersenyum. Menyuruh berspekulasi sendiri.


Ellena terus berjalan dengan anggun, sudah banyak yang datang.


Ellena terus saja tersenyum. Menampilakan senyum manisnya, walaupun Ellena tahu dibelakangnya selain pujian tak henti, juga hinaan yang tak bermoral juga ada. Dia hanya butuh tersneyum.


Apapun situasinya, seorang lady harus tetap anggun harus bisa mengontrol emosi yang berlebih. Berjalan dengan membusungkan dada, seanggun apapun kita harus terlihat kuat.


Oh... Ellena harus berterima kasih sepertinya, tiba tiba perkataan madame Wivina terngiang.


Berbagai mata memandang heran. Bagaimana bisa seorang wanita secantik ini tak jelas siapa suaminya?


Pembawa acara terus saja berbicara menyampaikan acara acaranya. Ellena sudah duduk dimejanya bersama Billa yang menggandeng Reynald seorang pengusaha batu bara.


Ellena hanya tersenyum dan sedikit meringis melihat perilaku Billa. Billa memang orang Indonesia tapi dia sudah terlalu lama di luar negri dan sifat agresifnya benar benar bisa diacungi jempol.


Dan tibalah Ellena memberi sambutan untuk para tamunya.


Ellena sedikit membungkuk, dan berjalan kedepan. Sedikit dibantu oleh pembawa acara saat akan naik ke atas stage.


"Selamat malam para hadirin semua,


Terima kasih anda semua telah datang diacara sederhana ini..


saya sangat bersyukur, El's galery sudah sampai dititik ini dan menjadi bagian dari anda semua. Dan malam ini selain launching cabang, saya mengadakan sebuah lelang amal... ya saya melelang 3 set perhiasan dengan tema masing masing. Dan perhiasan ini hanya keluar malam ini saja.."


Suara bergemuruh dan histeris para perempuan sosialita memenuhi ruangan. Ini tujuan Ellena mengundang para pengusaha dan para crazy rich keacara ini.


"Saya akan memperkenalkan perhiasan itu sendiri"


Terlihat berpuluh puluh pasang mata berbinar melihat ketiga set itu dibawa keatas stage. Perhiasan itu ditempatkan dikotak kaca tebal yang anti peluru. Perhiasan itu memancarkan cahaya masing masing.


Ellena mengangkat sebuah kotak perhiasan, dan mempelihatkannya"


"Kami mengusung tema 'gender' untuk cabang ini. Dan ketiga produk ini adalah luncuran produk pertama gender... yang pertama ada ditangan saya ini adalah real love, satu set berwarna merah menyala ini begitu anggun jika anda pakaikan untuk pasangan anda"


Ellena membuka kaca pembatas itu, dan mengambil kalung yang berliontin bentuk hati dengan ukiran bungan  serta berlian merah menyala didalamnya. Simple tapi begitu menggiurkan.


Ellena terlihat senang saat para tamunya segera memencet ponselnya. Ya Lelang ini memang memakai aplikasi khusus.

__ADS_1


Sampai aer-piece ditelinga kiri Ellena berbunyi.


"Selamat untuk tuan Teo, anda sudah membeli real love dengan harga 2 milyar, terima kasih banyak"


Setelah memberikan perhiasan yang terjual kearah bodyguardnya, Ellena mengambil kotak selanjutnya. Ini bukan perhiasan untuk perempuan tapi jam tangan untuk lelaki.


"Tadi sudah para lelaki yang berjuang untuk para wanita, sekarang biarkan wanita kalian bergerak... jam ini istimewa, suamiku saja belum saya buatkan... ini terbuat dari bebatuan di gunung Fuji, serta terdapat berlian hitam didalam jam ini"


Ellena memperlihatkan jam tangan itu kearah depan. Jam relik itu begitu berkilau dengan warna hitam mendominasi.


Ellena terdiam lagi melihat para wanita gila harta itu begitu bersemangat.


"Selamat untuk nyonya Albert, anda telah membeli dengan harga 4 milyar, terima kasih untuk partisipasinya"


Banyak wanita yang mendesah kecewa.


"Jangan kecewa, barang yang terakhir sangat spesial... 1 set untuk berpasangan, yang akan menikah atau anniversary? Satu set ini terdapat, anting, gelang, kalung, gelang kaki,  sepasang cincin, serta jam tangan"


Bodyguard disamping Ellena mengangkatnya dan membuka penutupnya. Perhisan perpaduan warna silver dan juga merah muda itu begiti cantik dan elegan.


Tanpa perlu menjelaskan lagi, dalam kurun waktu 4 menit, harga perhiasan itu melejit.


"Selamat untuk tuan dan nyonya Stomhart, anda telah membelinya dengan harga 38 milyar"


Semua orang tercengang, pembeli itu dibarisan terdepan dan nampak sang wanita mengomel karena membeli semahal itu. Ellena tersenyum. Bukankah kaun crazy rich suka bermewah?


"Terima kasih untuk partisipasinya, keuntungan dari penjualan ini akan saya amalkan semua.."


Ellena membawa perhiasan terakhir itu kearah pasangan Stomhart.


"Permisi tuan dan nyonya... ini milik kalian.. kalian sangat serasi.. semoga hal baik selalu ada untuk kalian"


"Terima kasih Ellena Dominic, kamu memang cocok untuk lelaki dingin itu"


"Terima kasih pujiannya tuan, silahkan nikmati pestanya"


Ellena berjalan keluar, berdiri dibalkon menatap bintang. Dia sangat rindu.


Tiba tiba ada sepasang tangan kekar yang melingkar diperutnya. Ini parfume milik Leo.


"Aku merindukanmu"


"Kamu datang..."


"Tentu, aku sudah berjanji akan datang"


"Aku merindukanmu"


"Ayo berdansa, waktunya berdansa"


'Emmm".


Leo menggandeng tangan Ellena untuk masuk, dan bergabung di lantai dansa. Ellena menautkan sepasang tangannya keleher  Leo sedangkan Leo memegang pinggang Ellena.


"Apa kamu kesepian disini?"


"Sangat"


"Menikahlah denganku Ell"


"Biarkan aku sama dahulu sepertimu Leo"


'Sama?"


"Rintangan terbesar kita adalah kita tak sama, jadi biarkan aku belajar dan sama sepertimu"


Leo tersenyum. Dia tahu, Ellena pasti akan mengambil jalan ini, walaupun dia tak tahu jalan apa yang Tuhan pilih untuk Ellena.


********

__ADS_1


__ADS_2