
Setelah rangkaian acara selesai, Ellena dan Leo segera keluar dari gedung. Walaupun didalam sana masih banyak yang bertahan karena urusan bisnis tapi Ellena tak mempermasalahkannya. Yang dia ingin segera pergi dan membaringkan tubuhnya.
Dan disinilah Ellena berada, diatas ranjang bersama Leo. Menatap langit langit dan tak berniat memulai apapun.
Ya setelah 45 menit yang lalu mereka berdua sudah selesai dengan ritual mandi masing masing. Hanya berbaring melepas penat.
"Jadi, apa yang dilalui calon istriku hari ini?"
"Banyak hal yang menakjubkan"
"Emmm... menakjubkan? Seperti pertemuan kita?"
"Leo... setiap pertemuan kita tak ada adegan yang baik.."
"Maka dari itu, malam ini aku datang untuk menjadikan pertemuan yang menakjubkan"
"Leo..."
"Emmm.."
"Selama beberapa tahun kamu menjadi muslim, apa hal yang menakjubkan dari itu?"
"Lebih berfikir positif,"
"Emm?"
"Begini Ell, aku dididik dengan agama yang bagus, kau tahu itu.. tapi dulu aku tak pernah sepositif ini.. sehari 5 kali aku berhadapan dengan Tuhan, dan itu lumayan membuatku waspada kalau aku berbuat salah"
"Tuhan itu seperti apa?"
"Apa bisa digambarkan? Tentu Tuhan itu penolong, Tuhan itu pemberi kekuatan, Tuhan itu yang mempertemukan kita"
"Kalau aku ikut denganmu bagaimana?"
"Aku senang, terpenting itu niatmu bukan paksaan karena ingin menikah denganku"
"Kalau alasannya memang itu bagaimana?"
"Itu tergantung keteguhan hatimu"
"Emmm.. aku besok sangat sibuk"
"Buka galery baru"
"Aku akan belajar"
"Aku ikut boleh?"
"Tak boleh, jangan lihat aku belajar"
"Baiklah baiklah"
"Ayo tidur"
Ellena segera masuk kealam mimpinya, meninggalkan Leo yang masih terjaga. Mengamati wajah lelah Ellena, dia tahu kalau Ellena tak sekuat kelihatannya tapi mau bagaimana lagi, tak mungkin juga kalau dia melarangnya.
***
Pagi pagi sekali Ellena sudah bersiap untuk berangkat kekantor, sedangkan Leo sedang lari pagi dengan diikuti para bodyguardnya. Sebenarnya Ellena sangsi Leo melakukan itu, ayolah siapa yang tak kaget kalau lari pagi saja diikuti para lelaki badan kekar serta tak ada yang jelek.
Dan 30 menit Leo keluar dari hotel, sudah menjadi tranding topik di media sosial.
Ellena menggeleng tak percaya, banyak yang memfotonya serta memviralkan 'pria tampan nan panas dari benua seberang'
Ellena hampir tersedak susu yang diminumnya. Saat menerjemahkan berbagai berita itu. Ayolah, dia itu duda dan memiliki anak dua yang sebentar lagi akan tumbuh menjadi remaja.
Ellena kadang tergelak saat membaca pesan dari Billa.
Billa Rosella
Sungguh tuan sangat menyita perhatian seluruh Indonesia....
__ADS_1
Ellena Rusell
Apa sebegitu mempesona?
Billa Rosella
Sangat... aku berani bertaruh pasti ada 6 roti sobek diperutnya....
Ellena Rusell
Aku sudah tahu... bahkan sebelum menjadi 6 aku sudah menyentuhnya..
Billa Rosella
Ya ya ya... nyonyaku yang bersamanya dari nol..
Ellena tersenyum. Wanita muda ini terlalu mesum.
Ellena segera menuju kantor barunya, pagi ini begitu macet.
Disisi lain, Leo masih berkeliling diikuti 6 bodyguard yang juga berpakaian training.
Lari pagi ini begitu menggemparkan. Bahkan ada yang meminta berfoto. Seperti artis menurutnya.
Sampai disebelah masjid sederhana Leo berhenti sebentar. Terlihat seorang wanita muda yang kerepotan membawa buku buku, seperti akan berangkat kuliah.
Leo menghampiri wanita itu. Sepertinya muslim, karena memakai kerudung walau terlihar modis dan kasual.
"Assalamuallaikum..."
"Wa'allaikum salah...??"
"Apa perlu bantuan?"
"Oh.. tak usah, saya hanya akan kemasjid ini saja..."
"Ini masih pagi, untuk apa membawa buku ke masjid?"
"Mulia sekali hati nona..."
"Terima kasih atas pujiannya.."
"Bisa meminta nomor telpon ataupun alamat anda nona"
"Tentu.."
"Nama anda?"
"Julia.."
"Leo"
"Senang bertemu denganmu mas Leo"
'Sama sama"
Setelah Leo mengantar Julia ke masjid, Leo bergegas pergi karena akan ada video conference.
Seandaikan imamku adalah mas Leo, pasti aku beruntung.
Ya, entah apa yang dipikirkan Julia tapi yang dia tahu Leo adalah sosok yang sempurna. Tampan, baik hati, kaya (terlihat dari pengawal yang mengawalnya), dan juga seiman. Siapa yang tak memimpikan itu?
Selang beberapa lama datang seorang perempuan muda, dengan dress selutut serta rambut digerai. Julia mengamati wanita itu, apa ini yang diceritakan ayahnya kemarin.
"Selamat pagi..."
"Pagi, mau mencari siapa?"
"Saya mencari Julia"
"Saya Julia, apa anda yang diceritakan oleh ayah saya kemarin?"
__ADS_1
"Mungkin, saya Ellena.. saya ingin bertanya tanya dengan anda"
"Silahkan.. ayo... pumpung anak anak tak terlalu banyak"
"Kamu mengajar?"
"Ya, kasihan anak anak jalanan yang tak bisa mengenyam pendidikan formal, setidaknya dia mendapat didikan agama"
"Aku salut padamu Julia"
"Kamu mau bertanya apa?"
"Tuhan itu seperti apa?"
"Tuhan itu pemberi kehidupan, pemberi pertolongan, pemberi kekuatan dan Tuhan juga yang mempertemukan kita saat ini"
Ellena mematung, ucapannya sama dengan jawaban Leo semalam.
"Emm...apa kamu tak terganggu dengan sholat 5 kalimu?"
"Kenapa terganggu? Setiap kali beribadah, pasti bisa menghindari hal buruk karena sering teringat Tuhan"
"apa aku bisa seperti itu?"
"Semua butuh belajar dan proses... aku sudah dari kecil jadi biasa saja, tapi tak ada yang tak mungkin untuk hambaNya"
"Ohh... aku besok ingin bertemu pak Rahmad, bisa?"
"Bisa, untuk apa?"
"Aku ingin masuk kedalam islam"
"Kenapa masuk ke Islam?"
"Aku tak ada alasan khusus masuk Islam, tapi aku ingin berubah"
"Teguhkan hatimu, kalau kau ingin masuk Islam. Kau setidaknya membuat tubuhmu itu tertutup"
"Aku tahu.."
"Siapa yang akan menjadi saksimu besok?"
"Kekasihku, dan juga kalian"
"Tak ingin membawa wartawan? Kamukan pengusaha perhiasan besar"
"Tidak, tak ada pengaruh apapun dipasar sahamku bukan?"
"Kalian orang kaya terlalu memandang semua dengan uang"
"Apa anda menyindirku?"
"Tidak"
"Nona, hati hati dengan lidahmu, takutnya akan membawa bencana.. aku harus pergi, sampai bertemu besok"
"Iya, hati hati"
Ellena meninggalkan Julia begitu saja. Ya, Ellena dapat melihat ketidaksukaan Julia padanya, entah kenapa itu.
Sedangkan Julia sedikit bingung kenapa dihatinya ada iri, mungkin tadi pagi melihat media sosial dan melihat wajah Ellena menghiasi berbagai macam surat kabar online, sebagai wanita dengan karir cemerlang.
Pasti kehidupan Ellena tak jauh jauh dari club malam, banyak lelaki, crazy rich, sombong, dan penuh intrik, fikiran fikiran itu terus berputar dikepala Julia. Apa bisa wanita kaya itu menjadi muslim yang benar?
Kenapa juga ayahnya dan ibunya begitu berkeras mau Ellena itu menjadi muslim dan Julia menjadi pembimbingnya. Apa ayah dan ibunya sudah disuap? Ugh apa bisa?
Julia lebih baik mengajar anak anak jalanan yang nakal daripada menjadi pembimbing seorang wanita crazy rich.
Julia menjadi teringat pria gagah tadi pagi, apa lelaki itu juga crazy rich? Tak mungkin, dari perilakunya tadi pagi mencerminkan kepribadiannya.
Julia ingin lelaki itu.
__ADS_1
*********