
Author Pov^
Ellena menghambur pada pelukan Leo, dia menangis didada lelaki itu.
"Ada apa Ell? Ada yang menyakitimu atau mengganggumu?"
"Kamu dari mana saja? Kamu membenciku?"
"Untuk apa aku membencimu? Aku ada proyek di Miami dan harus mengerjakan hal hal yang penting, ada apa hemm?"
"Jangan pergi, kamu tega meninggalkanku sendiri disini!"
"Aku tak pergi sayang, aku tetap disini"
"Leooo.. kamu jahaat"
"Hey... ayo mau makan malam bersama?"
"Dimana?"
"Terserah, atau mau ke London Eye?"
"Itu jauh Leo, dirumah saja ya, aku masak".
"Ya sudah ayo, hitung hitung aku berhemat"
"Ya ampun Leo, kamu bangkrut? Lalu bagaimana bisnis kamu, rumah kamu disita?"
Leo mengerutkan keningnya, Leo bangkrut? ayolah kekayaan Leo yang dia timbun sudah kekayaan bersih walaupun perusahaannya bangkrut dia tak jatuh miskin.
Seketika, setelah mencerna perkataan Ellena, tawa Leo meledak.
"Ketawa?"
"Ya kamu, akukan hanya bilang kalau aku bisa berhemat bukan aku akan bangkrut! Tak ada kamus Leo bisa bangkrut okey?"
"Kamu sekaya itu?"
"Lalu menurutmu kalau aku tak kaya, tak mungkin bisa menyandera kamu disini"
"Hmmm... mandilah, aku akan memanggang ayam"
"Baiklah"
Leo naik kelantai atas untuk mandi dan berganti baju. Ya, rumah Leo memang tak sebesar mansion Dav tapi rumah ini lumayan nyaman.
Menurut Ellena, rumah modern minimalis ini sangat nyaman, apalagi Leo menambahkan taman hampir disekeliling rumah.
Leo membangun rumah ini dengan penuh keyakinan dengan masa depannya disini tapi sayang belum sampai membawa istrinya dia sudah minta bercerai. Akhirny kekasih kecilnya yang menempati rumah ini.
Setelah Leo menyelesaikan ritual mandinya, Leo segera membuka laptopnya dan mengecek email yang masuk.
Tanpa sadar Ellena dibelakangnya, memeluk perut berototnya.
"Yes darl... ada apa?"
"Ayo makan, aku lapar?"
"Makan dimeja makan atau diranjang?"
"Leo makan yang dapat dimakan, makan ayam panggang"
"Baiklah, ayo kita makan"
Leo menutup laptopnya dan segera menggandeng tangan Ellena dan sesekali mencium pelipis wanita itu.
Leo tersenyum, makanan rumahan sudah terhidang disana. Dia lumayan rindu dengan masakan seperti ini setelah memutuskan untuk berkelana.
Leo dan Ellena duduk berseberangan. Ellena dengan telaten mengambilkan nasi untuk Leo, karena memang Leo pemakan segala apalagi karbohidrat, harus ada karbohidrat dimakanannya sedangkan Ellena lebih suka kentang daripada nasi seperti Leo.
"Tak makan nasi?"
"Kentangkan sama saja dengan karbohidrat"
"Tak akan mengenyangkan Ell"
"Kenyang Leo, aku sudah terbiasa dengan kentang.. dan lagi pula kenapa kamu makan nasi?"
"Karena enak dan aku suka"
__ADS_1
"Awas otot perutmu hilang terlalu banyak makan nasi"
"Hahahaaha.. Ellena kau tahu dari kecil aku makan nasi sampai sekarang dan ototku tetap ditempatnyakan"
"Hmm.. dasar tukang debat"
"Ayo makan..."
Ya Leo tahu kalau perdebatannya ini akan berakhir dengan Ellena merajuk dan tak mau makan. Leo kapok melihat Ellena merajuk gara gara perdebatan kecil seperti ini.
Setelah makan dan mencuci peralatan kotornya, Ellena dan Leo menonton tv. Bukan Ellena yang melihat tv tapi Leo yang melihat channel bisnis itu. Ya Leo melihat rangking bisnisnya dan juga pasar saham, serta gosip gosip tak jelas. Dan acara itu membuat Ellena jenuh. Dia bermain jari jamari Leo.
"Kau tak punya pekerjaan lain sayang?"
"Aku bosan melihat acara itu Leo"
"Lalu?"
"Aku mau tidur"
"Tak ingin olahraga malam dulu?"
"Lari keliling rumah? Atau berenang?"
"Maraton ranjang"
"Hahahaha... maraton ranjang?"
"Ayolah Ell"
"Apa kamu gak lelah?"
"Kalau untuk maraton ranjang aku masih punya tenaga"
"Leo mesum!!!"
Leo mengangkat tubuh Ell begitu saja dan segera membawanya kedalam kamar mereka melakukan malam panjang nan panas lagi.
**
Keesokan harinya Leo terbangun dengan tubuh tanpa busana hanya tertutup selimut. Tirai kamar sudah tersingkap itu artinya Ellena sudah bangun.
Ellena.
Wanita lebih muda 8 tahun darinya bisa memporak porandakan hati dan juga tubuhnya.
Leo segera membuyarkan lamunannya dan segera mandi. Dia akan menumpuk uang lagi untuk Ellena dan masa depannya.
Leo turun setelah mandi dan memakai setelan kerjanya. Leo melihat Ellena duduk sambil meminum tehnya.
"Pagi, sugar"
Leo menghampiri Ellena dan mencium kening wanita itu sebelum duduk didepannya.
"Pagi, ayo sarapan kubuatkan nasi goreng"
"Emmb.."
"Leo nanti kamu pulang malam lagi"
"Belum tahu sayang, aku masih harus menemui beberapa klien nanti, ada apa?"
"Aku hanya takut?"
"Takut apa? Dirumah ada pengawal kenapa takut?"
"Aku takut kamu tak pulang"
"Aku pasti pulang... kamu tenang saja"
"Janji...?"
"Janji... apa kamu mau menjawab pertanyaanku sebulan lalu?"
"Mungkin..."
"Pikirkan matang matang Ell..."
"Aku sudah pikirkan"
__ADS_1
"Benarkah?"
"Iya"
"Kalau begitu tunggu aku pulang kantor,sebelum itu pikirkan lagi, okey?"
"Okey... kamu berangkat sendiri?"
"Tidak, aku akan berangkat dengan Liam, ada urusan penting katanya"
"Oh, ayo kuantar sampai depan"
"Emmm.."
Leo dan Ellena berjalan berdampingan keluar dari rumah, didepan rumah sudah ada mobil mewah menunggu Leo.
"Kau cepat pulangkan?"
"Tentu aku cepat pulang, kau mau kemana hari ini? Biar diantar salah satu pengawal"
"Tak kemana mana mungkin, aku akan menunggumu dirumah"
"Baiklah, aku tinggal ya, baik baik dirumah"
"Emmm...kamu juga hati hati"
Leo mengecup kening Ellena sekilas, menandakan betapa dia sangat mencintai Ellena.
Ellena hanya tersenyum dan melambaikan tangannya pada Leo yang lekas pergi dengan Liam.
"Rupanya Ellena tipe wanita idaman"
"Emm... kau tahu itu"
"Ellena bagai brandy bukan atau kokain?"
"Lebih dari itu, kadang aku bisa saja mati tanpa dia"
"Matipun tak akan pernah merubah kenyataan bahwa dia adik rivalmukan?"
"Ya, cepat atau lambat dia akan tersingkir dengan mudahnya dari keluarga Ellena"
"Dia ingin bertemu denganmu pagi ini"
"Dimana?"
"Sunrise cafe"
"Hah... baru saja aku tersenyum dia sudah akan membuat ulah!"
"Kau sampai hafal dengan perilakunya"
"Lebih dari 10 tahun aku kenal dengan iblis kecil itu dan aku bisa jatuh cinta pada malaikat yang hidup berdampingan dengan iblis itu"
"Kau juga iblis ingat itu"
"Aku ingat,.. sangat ingat"
"Bagaimana kabar Laura ataupun Sabrina"
"Laura dia di Las Vegas, dia terkurung disangakar emasnya Alleo, sedangkan Sabrina bukannya dia hamil anaknya Alleo"
"Ya, dia sekarang ikut keluarganya Alleo untuk menghindari tindak kekerasan dari Alleo"
"Aku ingin tahu rencana apa yang dibuat iblis kecil itu"
"Pasti bersangkutan dengan Ellena agar bisa menghancurkanmu"
"Ellena ya... dia salah, kalau sampai dia menghancurkanku lewat Ellena pasti akan menghancurkannya sendiri, karena obsesinya terhadap Ellena begitu besar..."
"Kau seperti kaisar iblis Leo, kau dengan dia sama sama iblis, hahaha..."
"Tapi licik akukan, dan berpengalaman aku juga"
"Kau tetap sombong..."
"Ayo cepat, aku tak sabar bertemu calon kakak iparku"
"Baik tuan muda Dominic"
__ADS_1
Liam lekas mengijak pedal gasnya dan melaju lebih kencang untuk sampai tujuhan.
*******