
Leo memata matai ruang rawat Ello untuk melihat aktivitas kedua anaknya dan juga Ellena.
Tepat pukul 9 pagi Ellena keluar untuk ke Galery, karena ada banyak pesanan termasuk punya Mei yang belum rampung. Ellena menitipkan kedua anaknya pada suster agar bisa menjaganya.
Setelah memastikan Ellena pergi, Leo datang membawa makanan dan juga mainan.
"Hai Hero... how are u?"
"Aku lebih baik uncle"
"Syukurlah, mau makan puding? Uncle bawa puding jagung dan coklat"
"Uncle tahu puding kesukaanku dan Ella"
"Benarkah puding ini kesukaanmu dan Ella? Sebenarnya uncle tak tahu, uncle tadi makan puding ini dan ingat kamu sama Ella"
"Oh, aku suka puding jagung"
"Akan uncle ambilkan pudingnya, Ella dimana?"
"Dikamar mandi, uncle beli atau masak sendiri?"
"Masak sendiri, uncle tak terbiasa makan makanan delivery"
"Oh...."
"Uncle tampan"
"Hai.. princess"
"Uncle kenapa disini? Kalau mommy tahu, dia pasti mengusir uncle lagi"
"Maka dari itu, uncle kesini saat mommy kalian tak ada"
"Crafty"
"Its my midle name"
"Uncle, Ella ingin bertanya boleh?"
"Tentu princess..."
"Apa benar yang dikatakkan mommy kemarin?"
"Yang mana?"
"Uncle tak menginginkan kami..."
Leo termenung, harus jawab bagaimana? Baru kali ini lelaki penakluk wanita dibuat kebingungan.
"Kalian ingin uncle jawab bagaimana?"
"Uncle jujur saja"
"Baiklah, sebenarnya dulu uncle sangat menginginkan kalian, tapi ada salah paham yang membuat mommy kalian pergi"
"Jadi benar?"
"..."
"Daddy"
Leo tertegun saat kedua anak kembar itu memanggilnya dengan sebutan daddy. Leo menatap kedua anaknya kian lekat, tak terasa dia meneteskan air mata.
Leo segera menghambur kepelukan sang anak, seperti ini bahagianya mendapat pelukan dari anaknya.
"Oh my daughter, i miss u so much"
"I miss u too dad, jangan tinggalkan kita lagi"
"Tidak akan, daddy akan selalu disamping kalian apapun yang terjadi"
"Dad, bagaimana hubunganmu dengan mommy?
"Masih buruk, tapi daddy berjanji demi kalian apapun akan daddy lakukan untuk berbaikan dengan mommy kalian"
"Masih mencintai mommy?"
"Sejak dulu cinta daddy tetap sama"
"Oh..."
"Oh iya son, masih ada yang sakit?"
"Tak ada dad, hanya kadang pusing"
"Syukurlah, kalau ada keluhan atau sakit lagi segera panggil dokter ya, daddy sudah menempatkan dokter keluarga disini"
"Siapa?"
__ADS_1
"Aunty Natasha, tak perlu takut dia datang dari keluarga Dominic, kalau dia berbuat tak sopan jangan sungkan membuat dia menangis"
"Dia pasti bukan anak kecilkan dad"
"Kalian pasti tahu maksud daddy, anak daddykan pintar?"
"I know dad"
"Daddy sudah pasang cctv, maafkan daddy tak bisa selalu disini..."
"Kapan daddy akan berbaikan dengan mommy"
"Daddy menunggu mommy agar sedikit tenang.. mungkin menunggu Ello sembuh dulu"
"Baiklah, kami akan menunggu"
"Oh iya Ella, kenapa kamu tak sekolah?"
"Ella keras kepala dad, sudah ku suruh sekolah masih saja disini"~Ello
"Aku tak tega meninggalkan kak Ello sendiri"
"Akukan ada suster"
"Tapikan.. aku tak ada yang jemput"
"Anak gadis daddy ini ya... banyak alasan, besok mulai sekolah ya, daddy yang jemput"
"Jalan jalan?"
"Jalan jalan? Tunggu Ello sembuh dulu ya"
"Dad, ajak saja dia pergi, aku pusing mendengar ocehannya"
"Gak nyesel kalau kembaran manismu ini daddy bawa kabur"
"Gak! Biarkan telingaku istirahat"
"Baiklah, besok daddy jemput dan kita jalan jalan"
"Yeah... biarkan kak Ello mati kebosanan disini"
"Aku bisa istirahat total"
"Oh iya, anak anak daddy jangan bilang mommy ya kalau daddy kesini, bisa bisa mommy kalian jadi monster dan siap memakan daddy"
"Siap sayang... kalau begitu daddy pergi dulu ya, daddy harus bekerja"
"Dad..."
"Yes son..."
"Aku butuh laptop"
"Untuk apa?"
"Bermain..."
"Okey, nanti sore akan diantar uncle Liam kesini ya"
"Uncle Liam?"
"Uncle Liam itu bawahan sekaligus sahabat daddy, dia sangat baik"
"Kalau uncle Roy?"
"Uncle Roy juga sama tapi sifatnya lebih tegas, dia jago bela diri"
"Kalau daddy jago apa?:
"Maunya daddy jago apa?"
"Apapun harus jago"
"Tentu darl... daddy jago..."
"Kalau aku sudah sembuh, daddy mau mengejariku memanah, menembak, bela diri dan yang lain?
"Tentu, daddy punya itu semua,, tapi kita harus pulang ke New York"
"Bukan ke Inggris?"
"Di London sudah banyak kenangan daddy dan mommy, setelah mommy kalian pergi, daddy juga pindah ke New York"
"Oh..."
"Daddy pergi ya, daddy ada rapat, kalau mau apapun saat uncle Liam kemari bilang saja"
"Okey, hati hati dad"
__ADS_1
"Okey...Ella tak ingin apapun?"
"Tidak, nanti saja kalau kepikiran"
"Baiklah, bye... sampai jumpa besok"
Leo keluar dari ruangan itu setelah mengecup pipi kedua anaknya. Entah kenapa hatinya menghangat melebih saat dulu dia jatuh cinta pada Ellena.
Dia merasa lengkap, hanya satu yang kurang menikahi Ellena. Ya, tujuan selanjutnya adalah membuat Ellena mau menikah denganya, apapun caranya.
Leo masuk kedalam Aston Martin putihnya, disana sudah ada Liam yang menatapnya horor.
"Kau kenapa menatapku seperti itu?"
"Kau seperti remaja labil yang habis merasakan ciuman pertama"
"Apa sebegitu konyol ekspresiku?"
"Menurutmu, sepanjang kau berjalan kesini tadi kau terus saja tersenyum tak jelas sampai para suster hampir pingsan"
"Berarti di umurku ini aku masih mempesona"
"Berat kuakui kalau memang kau seperti remaja"
"Maka dari itu, Ellena masih saja mencintaiku"
"Jangan besar kepala, banyak yang menyukainya tinggal pilih saja, siapa yang mau dia ajak keatas altar"
"Maksudmu apa?"
"Lihatlah didepan sana, Ellena semakin cantik"
Leo menghadap kedepan melihat wanita cantik yang keluar dari ferarri hitam, siapa lagi kalau bukan Ellenanya. Dia tampak ramah dan sesekali mengangguk. Baju kasual itu membungkus tubuh Ellena dengan apik apalagi dengan rambut hitam dikucir kudanya. Leo tersenyum sendiri saat membayangkan Ellena berganti marga Dominic.
"Tak ingin menghampirinya, dan menyapanya?"
"Tidak, aku takut sapaanku malah dihadiahi sepatu hak tingginya, itu sepertinya sakit"
"Haha rupanya kamu takut dengan sepatu hak tinggi ya"
"Hanya sayang saja kalau sepatu itu melayang kewajah tampanku, nanti terlihat tuanya"
"Terserah, kita sudahi bercanda ini, kita harus ke Universitas Nasional Seoul"
"Hah...sebenarnya aku malas menjadi pembicara, tapi ini demi bisa disini"
"Ya hitung hitung kamu membayar sakit hatinya Ellena"
"Nah itu tahu.. oh iya Liam, tolong nanti sore beri Ello satu laptop keluaran terbaru dan juga satu set barbie untuk Ella"
"Baik daddy"
"Menjijikan kalau keluar dari mulutmu"
"Ini terlihat cute tahu, seperti Rio, Daddy"
"Menjijikan Liam, ayo cepat kita berangkat"
"Baiklah"
**
Disisi lain, Ellena masuk keruangan Anaknya dengan wajah sedikit lesu karena banyak sekali pesanan yang minta dipercepat.
Ellena mendudukkan tubuhnya di sofa, memejamkan matanya tanpa menyapa dahulu kedua anaknya yang terlihat bingung dan khawatir dengannya.
"Mom..."
"Yes Ella, let me rest for a minute, Ella..."
"Are u tired mom?"
Ella beranjak dari duduknya dan membawakan puding strawbarry untuk ibunya. Dan Ellena menerima itu dengan senang, lalu mengecup pipinya.
Ellena membuka gelas plastik itu dan segera memakan puding kesukaannya, entah sudah berapa lama dia tak makan puding lagi dn hari ini dia memakannya.
"Emm... rasanya seperti mommy kenal?"
"Benarkah? apa enak?"
"Enak... dan... emmm apa ini dari lelaki kemarin Ella?"
"Itu..dari.. bukan"
"Honest!!"
"Mom! Jangan membentak Ella! Memang kalau puding itu dari daddy kenapa?"~Ello
**********
__ADS_1