Ellena

Ellena
72


__ADS_3

Leo memacu mobilnya, dengan kecepatan tinggi dia membelah jalanan Istambul.


Leo merapalkan segala doa untuk keselamatan Ellena.


Leo begitu cemas dengan istrinya. Apalagi dia dibawa oleh Dav, lelaki yang sangat pendendam.


**


Ditempat lain, Ellena baru saja sadar. Dia sekarang duduk dikursi roda dengan tangan dan kaki yang tertali erat.


Matanya kian membelalak saat tahu apa yang dia pakai. Gaun pengantin putih yang memperlihatkan setengah dadanya dan bahu terbuka, serta sebuah tudung kepala. Ini tak benar. Kenapa dengan semua ini.


Mata Ellena memanas apalagi dia sendiri tak ada siapapun, dialam terbuka lebih tepatnya di sebuah reruntuhan dengan bangunan gaya romawi kuno. Ini seperti di Selçuk,  kota peninggalan Ephesus.


Kenapa Ellena disini? Bukannya tadi diculik oleh Dav.


"Kau sudah sadar?"


Ellena menoleh kesisi kirinya, terlihat Dav beserta rombongan yang memakai pakaian resmi datang.


Dav melangkah maju, ini tak benar, kenapa Dav memakai tuxedo putih juga? Ada apa ini?


"Apa maumu?"


"Menikah denganmu!"


"Kamu gila! Aku sudah menikah!"


"Oh, kalian sudah menikah rupanya? Aku tahu itu, tapi aku tetap mau memilikimu..."


"Kamu gila!"


"Tentu aku gila! Ell, kau sudah disentuhnya bukan, sekarang biarkan ku menyentuhmu, tenang saja kau tak akan hamil"


"Jangan coba coba mendekat!"


"Ellena, bagaimana aku bisa menyentuhmu kalau aku tak mendekat?"


"Davidson Wira! Kamu bajing*n!"


"Oh darl, its my midle name..."


Air mata Ellena luruh saat Dav membuka tudungnya. Menyentuh permukaan kulit wajah Ellena.


"Apakah kamu mau bercinta di tempat terbuka, mungkin itu meningkatkan gairahmu!"


"Jangan sentuh aku!"


"Oh, apa kamu ingin bermain dengan bondage?"


Ellena meremang, apa ini akhir dari perjalanannya? Kalau sampai Dav benar benar menyentuhnya, Ellena akan memilih mati saja.


Dav mengambil pisau lipat dari dalam tuxedonya. Mengayunkannya dan terlihatlah sebilah mata pisau yang mengkilap.


"Ellena, mau dari mana dulu?"


"Lepaskan Dav!"


"No... Ellena kau tak ingin melepaskannya untukku, biar aku yang melepaskannya sendiri.."


Dav memotong kain tudung milik Ellena, sebagian rambut Ellena juga ikut terpotonng, rambut hitam itu berceceran menghiasi gaun putih bersih itu.


"Oh, bukankah dulu kamu benci dengan rambut hitammu? Kenapa sekarang ku biarkan terlihat? Sini aku bantu mengganti gaya rambutmu"


Ellena tergugu saat helai demi helai terpotong dengan sembarangan bahkan kulit lehernya ada yang tergores dibeberapa bagian.


Setelah selesai dengan karyanya, Dav beralih pada gaun Ellena.


"Sebenarnya aku sudah memesan gaun yang sangat simple, tapi ini masih saja susah, kita potong saja ya... apa kamu ingat saat malam pengantin kita Ell? Aku juga memotong gaunmu.."

__ADS_1


Ya benar, Dav merobek bagian depan gaun itu dengan pisau. Akibatnya terdapat luka panjang didada sampai perut Ellena.


Ellena merasa perih, saat darah itu merembes membasahi  gaunnya.


"Psikopat!"


"Sstt.... jangan begitu! Kamu harusnya merasa berdebar karena kamu akan mendapag surga dunia"


Ellena memejamkan matanya, jijik. Dav terus meraba badannya yang terbuka. Dav memperhatikan lekuk tubuh yang hanya berbalut dengan dalaman hitam. Sungguh cantik.


Dav siap membuka kaitan bra milik Ellena, tapi saat akan melakukannya, telapak tangannya tertembak.


Dorr...


"Akkhhh..."


Dari arah belakang Ellena, seseorang berjalan dari kejauhan, lelaki berjas hitam dengan pistol kesayangnnya ditangan kanan.


Ya, itu Leo. Leo menembak tepat sasaran. Leo seorang sniper handal, menembak adalah pekerjaan mudah baginya.


"Sial! Pengacau!"


Ellena tergugu saat suara tembakan itu memekakkan telinga. Ellena tahu, itu pasti suaminya.


Entah apa yang terjadi, selain terdengar suara suara tembakan juga terdengar umpatan dari Dav.


Bisa dilihat, Dav kalah telak.


Dav tak ada pilihan lain selain mengancam Leo.


"Kalau aku tak bisa mendapatkan Ellena, siapapun tak akan mendapatkannya juga!"


"Jangan kau sentuh istriku!"


"Istri? Aku juga sudah menikahinya!"


"Menikahinya? Apa kau ingin mati?"


"Memang, tapi apa nasrani mengijinkan umatnya menganiyaya ataupun memperkosa? Tidak bukan?"


"Kau!"


"Aku tak pernah membawa agama Dav, tapi kau! Aku hidup dengan Nasrani lebih lama darimu dan kau berani membicarakan agama saat menelanjangi istri orang lain, huh?"


"Hahaha.. kalaupun aku tak menelanjangi, Aku sudah tahu bagaimana lekuk tubuh Ellena!"


"Hahaha kau percaya diri dengan itu? Kalau aku pasti sangat malu, karena membicarakan itu didepan suaminya"


"Ellena milikku, kau banyak bicara! Oh apa kamu ingin melihat secara live aku memperkosanya atau membunuhnya?"


"Dav, jangan sakiti Ellena!"


"Kenapa? Hahaha"


Leo terbelalak saat Dav memainkan pisau di wajah Ellena.


"Akkkhhhh...."


"Ups.. maaf darl, tanganku licin!"


Ya , Dav sengaja menggores pipi Ellena lalu turun kelehernya dan kedada. Goresan demi goresan terlihat mengerikan.


Leo mengepalkan tangannya.


Doorrrr...


Leo menembak tepat pada perut Dav. Biarkan saja dia masuk neraka karena membunuh orang. Ellena sekarang lebih penting.


"Sialan!!"

__ADS_1


"Akkhhh..."


Dav mengayunkan pisau lipatnya dan menusuk perut Ellena. Ya, kalau dia mati, Ellena juga harus ikut dengannya.


Leo berlari, menghadiahi Dav dengan peluru tepat dijantung sekarang. Ellena lebih penting.


Leo meringis saat tahu bagaimana kondisi Ellena.


"Leo..."


"Jangan banyak bicara, simpan tenagamu!"


Ellena hanya diam saja, sakit menjalar ke seluruh tubuh dan juga pening. Mungkin banyak darah yang keluar.


Setelah melepas tali pada tangan dan kaki milik Ellena, Lel segera menggendong Ellena untuk kerumah sakit.


"Bertahanlah sayang..."


Ellena sudah tak mampu berkata kata lagi, dia sangat kesakitan.


"Ellena, anak anak akan segera datang... please bertahanlah..."


Ellena sudah tak mendengar apa apa, pandangannya menggelap. Dia tak sadarkan diri.


Leo segera memacu mobilnya untuk kerumah sakit terdekat. Ellena harus selamat.


**


Setelah sampai di rumah sakit, Ellena segera dibawa keruang operasi.


Leo terduduk dikursi tunggu. Leo menunduk, menatap lantai marmer putih dibawahnya.


Dia dan Ellena baru saja bahagia, tapi kenapa ini semua terjadi.


Pendengaran Leo menajam, saat hentakan hentakan sepatu berlari kearahnya, dia tahu itu tapi tak ada niatan untuk melihat siapa yang datang.


"Bagaimana keadaan Ellena?"


"Dia didalam.."


Suara lemah Leo menjawab pertanyaan dari Aryid, ayah mertuanya. Aryid dan yang lainnya terdiam, mereka tahu kalau Leo terpukul dengan serangan dari Dav.


"Siapa dalangnya?"


"Mantan suami Ellena, Davidson Wira"


Tiba tiba ear-piece ditelinga kiri Leo berbunyi, ada laporan masuk.


"Semua urusan sudah terselesaikan boss, Dav bisa tahu keberadaan boss dan nyonya karena informasi dari nyonya Ami.."


Tangan Leo mengepal marah. Ami, ibu dari Ellena. Wanita itu tak oantas disebut ibu, lebih pantas disebut iblis.


"Ada apa Leo?"


"Aunty Ami yang membocorkan kami disini, Ami yang mengundang Dav kemari"


"Tujuannya?"


"Aunty Ami tak setuju dengan pernikahanku dan Ellena, dia lebih setuju dengan Dav yang bisa memenuhi kebutuhannya"


"Bukannya Kak Leo lebih kaya dari si Wira itu?"


"Aunty Ami tak tahu real dari kekayaanku.. dan di Inggris sendiri kedudukanku dibawah keluarga Wira, papa aku harus bagaimana?"


"Kamu ingin apakan?"


"Entah, aku sangat marah dengan perempuan itu tapi disisi lain dia adalah ibu dari Ellena"


"Bicarakan dengan Ellena saja.."

__ADS_1


"Hmmmm..."


********


__ADS_2