Ellena

Ellena
52


__ADS_3

Entah berapa lama Leo tertidur, tapi sekarang dia terganggu dengan guncangan kuat diranjangnya.


Ayolah... apa terjadi gempa?


Gempa? Leo terperanjat, dia segera bangun.


Setelah kesadarannya benar benar terkumpul, dia tertawa terbahak bahak.


Pasalnya yang dia kira gempa bumi tadi adalah kedua buah hatinya yang meloncat loncat tak jelas diatas ranjangnya.


"Daddy kira ada earthquake, ternyata dua monster kecil ini..."


"Daddy, monster tak ada yang kecil"


"Lalu, ini apa? Meloncat loncat disini? Tak ada trampolin diluar?"


"Kita menunggu mommy yang mandi, dan melihat daddy yang masih tidur saja kita bangunkan"


"Ayolah nak, biarkan Daddy  tidur lagi, daddy sangat mengantuk"


"Tak bisa daddy?"


"Memang ada apa?"


"Daddy harus mengantarkan kami kerumah kakek Smith."


"Untuk apa kesana?"


"Sarah melahirkan"


"Oh... daddy akan bersiap"


"Yeah ... "


Leo bangkit dari tidurnya, dan segera mengecup kening kedua anaknya dan berjalan kearah Ellena yang memakai kimono mandi.


Memeluknya sebentar. Dan membisikan sesuatu.


"Kukira mau mandi bersama tadi"


"Jangan memulai Leo!"


"Hahaha... aku mandi dulu"


Leo berlalu begitu saja setelah membuat rona merah dipipi Ellena. Ayolah, Ellena tetap luluh dibuat seperti itu.


Kemungkinan besar Ellena memang tak bisa keluar dari kubangan Emas milik Leo.


Ya ampun.... begitu memabukkan seluruh perlakuan Leo.


"Mommy cepat ganti baju"


"Ya.. mommy akan bersiap"


Ellena tersadar akan sikap bodohnya tadi apalagi didepan kedua anaknya.


Setelah ampir 45 menit bersiap akhirnya Ellena selesai dan disambut dengan gerutuan kedua anaknya dan juga Leo.


"Sebenarnya apa yang kamu lakukan didalam sana?"


"Bersiap"


"Selama itu?"


"Namanya juga wanita"


"Mommy aku sampai kelaparan menunggu Mommy"


"Oh benarkah? Ayo kita makan, apa daddy tak mengajak kalian makan?"


"Sudah, tapi aku takut kalau mama tak berani makan sendiri nanti"


"Kenapa?"


"Di drama drama korea, seorang menantu baru pasti takut pada mertua"


Seketika Leo dan juga Ello tertawa terbahak bahak. Sedangkan Ellena seperti dihantam palu besar dikepalanya.


Oh.. aku dulu bagaimana bisa hamil kembar yang sangat menyebalkan ini..


"Kenapa tertawa? Ada yang lucu?"


"Tak ada.. ayo makan, kakek dan nenek pasti menunggu"

__ADS_1


"Emmm.. Leo"


"Ya, ada apa? Kamu benar benar takut?"


"Bukan, aku besok harus kembali ke Korea"


"Kenapa?"


"Ada banyak pekerjaan"


"Pekerjaan apa yang tak bisa kau tinggal?"


"Aku harus mengurus pembukaan cabang di Indonesia"


"Kenapa tak yang lain saja?"


"Akukan pemiliknya"


"Hah... berliburlah lebih lama, anak anak sangat suka disini"


"Tapi aku tak bisa Leo!"


"Baiklah baiklah... tapi biarkan anak anak disini"


"Tapi mereka anakku!"


"Mereka lebih aman dan terurus disini"


"Aku bisa mengurusnya, aku ibunya"


"Aku tahu Ellena, sangat tahu... tapi kau akan sibuk, Maria dan Sarah juga tak ada, bagaimana mereka mengurusi diri sendiri.."


"Leo!!"


"Percayalah, mereka tetap anakku dan anakmu! Mereka hanya butuh kasih sayang, kakek dan neneknya juga disini..."


"Hah.. baiklah... aku setuju.."


"Bagus..."


"Daddy, mommy..ayo kita makan"


Suara imut Ella sudah terdengar dari bawah, kemungkinan anak itu berteriak.


Ellena akan segera keluar tapi tangannya sudah tercekal oleh tangan kekar sang lelaki.


"Entahlah... aku hanya ingin bersamamu"


"Jangan menggombal..."


"Aku tak menggombal..."


"Ayo makan, aku lapar"


Leo tak menjawab, dia tahu kalau Ellena mengalihkan pembicaraan. Ya mau bagaimana lagi, Ellena terlalu berharga.


Cup~


Ellena mematung saat Leo mengecup keningnya, dan berlalu begitu saja.


"Dasar tak romantis"


Ellena menyusul Leo dan tetap menunduk. Ya mau bagaimana lagi, rona merahnya tak dapat ditutupi.


"Mom, dad kalian lama"


"Kalian makan dulukan bisa"


"Ya mana seru tak ada mom dan daddy"


"Hmm.. terserah kalian saja"


"Ehh mom..."


"Ya princess?"


"Apa blush on mommy terlalu tebal, pipi mommy sangat merah"


Blusss...


Selamat Ella, kamu membuat blush on alami...


Seketika sang nenek, kakek, dan daddy mereka tertawa mendengar pertanyaan Ella yang begitu polos.

__ADS_1


Mereka para orang dewasa sudah tahu kalau Ellena sedang merona. Entah apa yang dilakukan oleh Leo.


Dan dengan penuh emosi Ellena mencubit pinggang Leo yang disampingnya. Seketika wajah Leo masam.


"Kau akan mendapat kejutan sayang, jangan bermain main"


Pasangan ini sangat romantis, pikir kedua orang tua Leo. Ya, mereka belum ingin membahas apapun. Biarkan mereka mengatasi semuanya.


**


Seharian ini Ellena dirumah keluarga Russel bermain main dengan anak anaknya.


Sedangkan Leo, setelah mengatar anak dan pujaan hati kekediaman keluarga Russel. Leo tancap gas untuk kantor Dom's grub untuk mengurusi aset aset Luna.


Alleo sudah dijatuhan hukuman mati. Itu setimpal. Hampir seluruh kesalahannya berat. Narkoba, senjata ilegal dan juga penggelapan dana.. apalagi Leo juga terlibat dalam perencanaan penculikan dan juga pembunuhan.


Sekarang waktunya memastikan Ellena mau menikah dengannya atau tidak.


Leo terus saja membaca dokumen dokumen tersebut. Sampai disebuah map merah terdapat perjanjian kontrak barter antara Ellena dan tanah dipinggir Manchester raya.


"Ini perjanjian dengan Lucas dan..."


"Ami.."


Leo mendongak, disana ada sang asisten pribadi. Sama sedang mengecek berkas berkas penting lainnya.


"Maksudmu?"


"Tak sadar juga? Ellena dulu dijodokan bukan hanya masalah Lucas kaya... tapi ada niat lain yang membuatnya gila"


"Apa?"


"Pabrik minyak bukan sebatas gudang lusuh saja.. Ami kalah taruhan"


Leo mengeluh. Ayolah cepat selesai ini semua agar aku bisa menikahi Ellena.


"Hah... bawa Roy kesini, aku serahkan ini semua kepadamu!! Aku pusing"


Liam hanya melongo dan sepersekiam detik dia sudah menelpon Roy untuk membanntunya.


Sedangkan Leo keluar begitu saja. Menusul sang pujaan hati untuk pulang.


*


Ellena menggeliat, dia sangat lelah. Seharian ini menemani kedua malaikatnya bermain dilapangan belakang mansion.


Sayub sayub Ellena mendengar suara tak asing dan juga tak terlalu familiar. Ellena terbangun, kamar masih saja remang remang tapi Leo tak ada disampingnya.


Setelah pendengarannya dipertajam lagi, rupanya suara dari balkon.


Segera saja Ellena melihat suara itu, jangan jangan Leo bertelpon dengan wanita lain.


Suara merdu tapi berat itu semakin keras. Ini hampir dini hari, siapa yang bernyanyi, tapi ini bukan nyanyian.


Setelah melangkah pasti, Ellena tertegun. Dilantai terdapat Leo yang serius membaca buku yang dia tahu itu apa, Al-Quran.


Ellena seperti tersihir, dan duduk disamping Leo tanpa menyentuhnya.


Ellena masih ingat apa yang diajarkan Arsyid, ayahnya dulu.


Ellena dan Leo belum menjadi muhrim. Tapi dia sangat ingin bersandar dibahu Leo dan mendengarkan kalimat demi kalimat yang dia tak apa artinya.


Ellena tetap diam saja. Mendengarkan itu membuatnya mengantuk lagi.


"Kenapa disini, cuacanya dingin"


"Aku mendengarmu tadi, dan penasaran"


"Emm.. ayo masuk, kamu nanti sakit"


"Leo, kenapa tak membaca itu didalam saja"


"Aku takut membangunkanmu, ayo tidur lagi"


"Leo... aku bangga padamu"


*********


Selamat hari raya idul fitri ya guys....


Taqobbalallahu Minna Wa Minkum, Barakallahu Fikum


Tak usah berjabat tangan yang penting mulut dan hati memaafkan ya guys...

__ADS_1


Jangan lupa amplopnya disediakan....


I love u....


__ADS_2