
Pelarian Ellena tak berjalan lancar, dia dihadang oleh Dav saat akan kebadara.
"Ellena"
"Apa?"
"Kamu berkhianat!"
"Aku berkhianat? Maksudmu apa?"
"Kamu hamil anak orang lain!!"
"Lalu?"
"Kamu menipuku!! Kamu telah mempermalukanku!"
"Hahaha Dav.. kamu bercanda? Siapa yang terlebih dahulu berkhianat? Aku atau kamu? Aku hanya menirumu Dav! Ah ya, menurutmu kebohonganku besar? Lalu yang diam diam memberi aset aset besar pada selingkuhannya bukan pada istrinya itu bukan pengkhianatan besar.. harusnya kamu bersyukur, waktu itu aku hamil, jadi aibmu itu tak terbongkar oleh keluargamu, tapi sayang selingkuhanmu itu malah membuat kesalahan, ah ya dia hamilkan? Itu anakmu atau lelaki entah berantah yang dia temukan di kelab malam? Kasihan hidupmu Dav"
"Kauu!! Dasar ******* murahan..."
"Kalau aku pelac*r murahan lalu Leamu itu apa?"
"Kau!!!"
"Berhenti!! Kau berani menyentuh nyonya saya, kupatahkan seluruh tulangmu tak tersisa!!"
"Liam..."
"Hahaa.. menyentuhnya? Dia kekasih Leonard Dominic kan? Kasihan sekali tuan Leomu Liam dia mendapat bekasku"
"Kamu salah Dav, malam pertamaku sudah kuberikan untuknya, bukan hidung belang di kelab malam seperti Leamu itu, aku lebih berharga, sampai bisa diperjuangkan oleh orang sekaya dan sehebat Leo, aku pergi dulu mantan suamiku, ayo Liam kita pergi"
"Sial!! Tunggu pembalasanku"
"Omong kosong apa itu? Pembalasan untuk apa? Sudah cukup kita bermain main Dav! Tak.ada pembalasan disini! Kau yang sudah melukai cinta yang kuberikan, jadi ku yang bersalah!!, aku pergi dulu Dav, ayo Liam, mungkin Leo mennunggu"
"Baik nyonya"
Ellena segera memasuki mobil mewah itu, dan sedikit melihat Dav yang menahan emosi. Lelaki itu tetap sama, mudah tersulut emosi.
"Mau kembali kerumah Leo?'
"Antar saja kebandara"
"Mau kemana?"
"Rahasia, kalau kamu kuberitahu pasti Leo tahu juga"
"Istirahat dulu dirumahku ya, aku takut kandunganmu terjadi apa apa, apalagi kau sudah terlihat pucat"
"Ya sudah, tapi tolong jangan beritahu Leo"
"Iya"
Liam memutar balik dan segera kerumahnya.
Sesampainya dirumah Liam, Hana menyambutnya.. dikira hanya suaminya rupanya juga Ellena yang terlihat tak baik baik saja.
Hana melihat itu, segera saja memeluk Ellena sambil menangis.
"Hana ada apa?"
"Aku takut kamu kenapa napa, bagaimana keadaanmu? Leo tak berbuat jahatkan?"
Mendengar perkataan Hana, Ellena hanya bisa tersenyum kecut, pertanda buruk.
Liam hanya bisa diam, dia menjadi saksi bisu keganasan Leo semalam dan hari ini.
__ADS_1
Liam kecewa dengan boss dan juga sahabatnya itu.
Tapi dia berkuasa, mau bagaimana lagi selain diam.
"Antar Ellena istirahat Hana, dia lelah"
"Hana..."
"Ellena kenapa kamu menangis?"
Ellena tiba tiba memeluk Hana dan menangis sejadi jadinya.
"Leo tak menerima anak ini dan memintaku menggugurkannya"
Seperti tersambar petir Liam dan juga Hana. Liam tak menyangka akan menjadi seperti ini.
Hana ikut bersedih, mengingat betapa bahagia Ellena seminggu ini dengan kehadiran sang janin, dan sekarang ayah sang bayi meminta Ellena untuk menggugurkannya. ******** bukan.
"Tak ada yang bisa mengambil janin ini darimu Ell, kau ama! Ayo istirahat"
Ellena diajak kekamar yang ditempatinya kemarin untuk istirahat. Hana tahu betapa berat seorang wanita hamil muda dan juga tak dapat dukungan dari ayah sang bayi.
Setelah memastikan Ellena tidur, Hana menemui suaminya didalam kamarnya.
"Bagaimana ini?"
"Entah, aku tak tahu jalan pikiran Leo"
"Aku kasihan pada Ellena"
"Aku juga, kukira Ell akan bahagia bersama Leo tapi Leo malah menambah sakit dan membebani pikiran Ellena"
"Kita rahasiakan saja ya dari Leo, agar Ellena memilih sendiri tanpa campur tangan kita"
"Apa yang akan aku katakkan pada Leo kalau dia bertanya?"
"Bilang saja, Ellena menyuruhmu mengantarkannya kebandara"
"Kamu bilang saja tak tahu, kau hanya mengantarkannya sampai depan bandara"
"Tapi..."
"Sayang, aku perempuan! Aku tahu betapa sakit hati Ellena"
"Baiklah, aku akan usahakan itu"
Saat mereka asyik mengobrol, Ellena bangun, ya dia berpura pura tidur untuk mengecoh Hana.
Dia mengendap ngendap untuk pergi untung barang bawaannya tak banya jadi dia tak perlu repot repot lagi.
Ellena keluar dari rumah besar itu sedikit cepat dan segera menyetop taksi.
Liam tahu itu, karena saat Ellena keluar dia ada ditepi jendela. Liam hanya diam. Biarkan Ellena memilih.
"Aku akan melihat Ellena"
"Tak usah, dia sudah pergi"
"Pergi?"
Hana juga melihat kearah jendela, ya Ellena sudah menaiki taksi siap pergi.
"Liam,ayo cegah dia"
"Tidak Hana, sudah cukup kita mencampuri urusan mereka, biarkan mereka dewasa"
"Tapi Liam, kasihan Ellena.. dia mengandung"
__ADS_1
"Biarkan Hana, Ell sudah dewasa dia tahu yang terbaik"
"Hah.... semoga dia mendapat kebahagiaan"
*
Ellena sudah sampai di Salford, didepan rumah kakek dan neneknya.
Ellena mengetuk rumah gaya victoria itu, dia sudah tak kuat, pening dikepalanya.
Pintu utama rumah itu terbuka, Ellena dapat melihat kepala pelayan yang sudah berumur didepannya. Tapi sebelum dia menyapa lelaki itu, Ellena tumbang lebih dahulu.
***
Entah berapa lama dia pingsan, Ellena tersadar saat cahaya matahari menyilaukan matanya.
Ellena tersadar dan duduk menyandar di kepala ranjang, ini kamar masa kecilnya, boneka boneka mainannya dulu masih tertata rapi dirak rak serta buku buku cerita dan novel masih ada. Melihat sekeliling terdapat foto masa kecilnya bersama ibu dan ayah kandungnya. Lelaki Turkey itu mengingatkannya dengan Leo, karena memang ayahnya saat masih muda berperawakan seperti Leo.
Leo,
Kenapa harus memikirkan itu.
"Kau sudah sadar cucuku"
"Kakek.."
"Ya, kau tak apa, Ziu sudah memeriksamu tadi"
"Ziu? Dia disini?"
"Kemarin dia datang, tapi hari ini dia sudah berangkat ke Jerman"
"Oh..."
"Ziu tak mungkin berbohong dengan kondisimu, kakek bertanya langsung, apa benar itu"
"Apa maks,,,"
"Kamu hamil! Anak siapa itu? Lelaki mana yang tak mau bertanggung jawab itu!"
"Kek...aku tak bisa memberitahumu, tolong jangan beritahu papa dan mama"
"Lalu? Membuarkanmu membesarkan anak ini dan keluarga akan menanggung aib?"
"Kek, biarkan aku puling dan secepatnya aku pergi"
"Mau kemana? Hidupmu tak jauh dari London dan Manchester Raya ini Ell"
"Tolong percayalah kek, aku bisa melewati ini"
Sebenarnya kakeknya tahu, ulah siapa ini, tapi dia memilih untuk diam tak menanggapi lagi cucu keras kepalanya. Dia memilih pergi keluar kamar daripada berdebat dengan cucunya itu.
"Ellena, kakek percaya! Tentukan pilihan yang menurutmu bagus"
"Iya kek"
Ellena menghela nafasnya, mengambil ponselnya dan segera mengurus kepergiannya.
Singapore.
Ya daerah tujuannya adalah Singapura. Mengalihkan fokusnya hanya pada Leo. Dia harus melawan ini semua.
Leo sudah menyakiti hatinya.
Ellena segera berbaring lagi setalah merasakan kram diperut bawahnya. Dia harus kuat.
Ellena akan hidup mandiri tanpa siapapun. Tanpa Leo dan juga keluarganya.
__ADS_1
Ellena memejamkan matanya dan kembali kealam mimpinya. semoga semua kesakitan ini hanya mimpi
******