Ellena

Ellena
75


__ADS_3

Setelah beberapa hari dirawat dirumah sakit, akhirnya Ellena keluar dari sana.


"Kita langsung pulang saja ya?"


"Ke Inggris?"


"Iya, nanti papa dan Fatimah juga ikut.. masalah ini harus segera selesai"


"Baiklah.."


Ya, hari itu juga Leo beserta rombongan berangkat ke Inggris menggunakan pesawat pribadi milik Leo.


"Perjalanannya agak jauh, istirahat dibilik kabin ya?"


"Baiklah..."


Leo sangat memperhatikan kondisi istrinya. Baginya kesehatan sang istri sangat penting.


Seperti sekarang, Leo menggendong sang istri untuk istirahat, padahal kaki Ellena tak apa apa.


"Leo..."


"Ya darl... ada apa? Ada yang sakit?"


"Emmmbb kau tak ingin menemaniku tidur?"


"Apa itu kode untuk menelanj*ngimu?"


"Kau mau melakukannya?"


"Emmmbb.. sebenarnya aku sangat ingin tapi aku takut berlebihan"


"Leo..."


"Emm ya... jangan menatapku seperti itu darl... ahhh kau!!"


Leo memeluk lembut tubuh ramping Ellena, dan mencium bibirnya lembut. Ellena memejamkan matanya saat Leo mulai memperdalam ciumannya dan segera membaringkan Ellena diranjang kabin lagi.


"Katakkan bila sakit darl..."


"Emmm.."


Leo segera melancarkan aksinya, dan segera menelanjangi istrinya. Memberi apa yang istrinya inginkan. Ellena terus saja pasrah saat Leo dengan lembut menyentuhnya. Menyentuh setiap inci kulitnya yang begitu sensitif.


"Apa sakit?"


Ellena hanya menggeleng, menelan ludahnya menarik nafas berat.


Entah berapa lama yang pasti Leo menjadi singa jinak, dia melakukannya dengan lembut tanpa menyentuh luka Ellena bahkan sering mengelusnya untuk menenangkan Ellena.


Dan saat ini Ellena sudah tertidur disamping Leo yang mengecek macbooknya.


Leo sesekali melirik Ellena yang terlihat damai saat tertidur.


Setelahnya, Leo segera beranjak. Mengambil pakaian bersih untuknya dan juga untuk Ellena.


Tiba tiba Leo tersenyum, masih tak bisa mencerna setiap potongan ceritanya dengan Ellena. Bahkan saat inipun Leo seperti melihat fatamorgana.


Mendapat Ellena, Ello dan Ella.


*****


Setelah pendaratan di bandara tadi, Leo segera membawa keluarga besarnya menempati mansion Keluarga.


"Dad, kami akan istirahat dulu, nanti sore kami ada kelas bela diri"


"Baiklah, kalian istirahatlah, mungkin daddy dan mommy sedikit sibuk"


"Oke dad..."


Kedua anak itu segera berlari kelantai atas untuk istirahat sedangkan Leo dan Ellena segera pergi lagi untuk menemui Luna, pengacaranya yang sudah berada diruang kerja Leo.


"Selamat sore"


"Oh, selamat sore... bacaan anda begitu berkelas tuan"


"Terima kasih atas pujiannya, tapi buku buku ini memang harus keluarga saya baca"


"Kenapa?"


"Karena saya muslim, dan 80% buku buku disini menceritakan itu"


"Oh, baiklah..."

__ADS_1


"Emm apa bisa dimulai sekarang?"


"Bisa... aku sudah mempersiapkan semuanya.. mau langsung melaporkannya atau mediasi?"


"Lap-"


"Mediasi saja dulu..."


"Ellena! Kamu kenapa begitu?  Ini sudah kesepakatan bukan?"


"Emm.. tapi Leo, aku tak bisa sebegitu tega"


"Ehm ehm"


Luna segera menengahi sepasang suami istri yang akan bertengkar. Leo dan Ellena segera menoleh dan terdiam, menyadari bukan waktunya untuk bertengkar.


"Saya rasa usulan nyonya Dominic ada benarnya, ini bukan masalah hati anak ke ibu.. tapi bagaimana rasa menyesalnya nyonya Lopez yang sudah melakukan kejahatan"


"Tapi pengacara Lee, ini masalahnya wanita itu sudah hampir membunuh Ellena!!"


"Leo, jangan emosi, biarkan pengacara Lee berpikir..."


"El! Kamu begitu baik.. akkhh!! Kamu hampir mati El! Apa kamu tak berfikir bagaimana aku yang melihatmu sekarat kemarin!!"


Leo benar benar marah, emosi marahnya meledak. Sedangkan Ellena hanya menunduk, ya Ellena tak akan tega menjebloskan ibunya kepenjara.


"Baiklah, kalian jangan bertengkar.. besok kita kerumah keluarga Lopez, ajak juga anak anak, tuan Arsyid dan juga orang tua anda tuan Dominic"


"Apa tak berbahaya membawa begitu banyak orang?"


"Tuan Dominic ikuti saja rencanaku, jangan lupa bawa pengawal yang paling berkompeten"


"Baiklah"


"Jangan terlalu kasar pada istrimu, tuan... kami perempuan berfikir menggunakan hati... saya pamit"


Setelah Luna pergi meninggalkan ruangan mencekam itu, Ellena masih saja menunduk. Dia benar benar takut dengan Leo yang murka.


"Sayang..."


Ellena hanya diam saja, masih mencerna kejadian yang begitu mengejutkannya tadi.


Sedangkan Leo menghela nafas. Leo tahu betul bagaimana sifat Ellena, sifat yang begitu halus tapi menutupinya dengan sikap kuatnya. Dan tamengnya tadi sudah runtuh.


"Ell! Ayo bercinta!?"


Leo berbicara seperti itu sambil memeluk pinggang ramping Ellena. Ellena yang mendapat perkataan seperti itu segera mendongak.


Heran dengan lelaki dengan pangkat suaminya ini begitu mesum.


"Bercinta atau menyelesaikan masalah?"


"Menyelesaikan masalah!"


"Emm.. kukira lebih enak bercinta"


"Jangan mesum!"


"Baiklah, baiklah..."


Leo segera mengangkat Ellena, mendudukkannya dimeja kerjanya yang rapi dan Leo duduk di depannya.


"Jadi kenapa diam saja tadi?"


"Emmm..."


"Ellena..."


"Auuu..."


Leo tiba tiba menggigit paha putih Ellena.


"Jangan berbelit belit!"


Ellena memanyunkan bibirnya, Leo benar benar moody.


"Ellena... ayo bercinta saja!"


"Mesum!"


"Hahahaha... baiklah masalah selesai! Besok kita mediasi, doakan saja mommymu itu masih memiliki hati yang baik"


Ellena tersenyum, pada akhirnya Leo yang mengalah bukan. Ellena mencium bibir Leo.

__ADS_1


"Terima kasih..."


"Sama sama darl... berbahagilah..."


"Tapi Leo, kalau kita membawa orang sebanyak itu apa tak apa? Anak anak?"


"Kalau pengacara Lee bilang aman ya aman, Morgan tak mungkin membiarkan istrinya terluka"


"Morgan?"


"Suaminya Luna Lee... kisah cinta mereka begitu drama jangan dengarkan"


"Kamu tahu?"


"Tahulah, Morgan dan Luna memiliki kisah yang sama tragisnya dengan kita.. tapi mereka lebih beruntung karena kaluarga Luna sudah lepas tangan saat Luna memutuskan untuk menikahi Morgan"


"Emmm..."


"Jadi, ayo kita kejar kebahagiaan  kita lagi Ell..."


"Ayo... bagaimana kalau London Eye?"


"Ellena!! Kamu sudah 28 tahun dan masih ingin ke London Eye?"


"Emmm... kalau begitu bagaimana kalau dandelyan?"


"What!? Dandelyan? Are you crazy darl?"


"Kenapa?"


"Ruang penyimpanan anggur banyak minuman kelas atas yang kamu mau, kenapa harus ke dandelyan? "


"Karena aku ingin"


"Ya Tuhan... big no! Kenapa tak sekalian American bar!"


"Itu ide yang bagus... disana katanya ada minuman yang enak"


"Lebih baik aku mengurungmu dan bercinta denganmu seharian!"


"Mesum!"


"Aku suamimu... bukan mesum...kalau begitu kenapa tak kita jalan jalan dikebun lily milik moms"


"Apa punya?"


"Punyalah, 3 hektar.. ayo kesana!"


"Ayo..."


Leo segera menggandeng Ellena untuk pergi kehalaman belakang, melihat kebun lily berwarna warni milik mommy Dominic.


Ellena terkesiap saat melihat hamparan bunga lily dan juga bunga mawar ditempatnya berdiri, ini benar benat 3 hektar.


"Ini indah"


"Kamu juga indah"


"Siapaa yang mengurus ini semua?"


"Tentu mom, dibantu dengan beberapa pengurus kebun"


"3 hektar Leo! Dibantu dengan beberapa? Berapa banyak?"


"30 orang lebih"


"What? siapa yang membayari ini semua?"


"Daddy, semua keuangan disini diurus oleh mom dari penghasilan daddy diperusahaan inti.."


"Maksudnya?"


"Keuntungan bersih dari Dominic enterprise dibagi menjadi dua miliki daddy dan milikku, dan semuanya diberikan untuk pengeluaran rumah.."


"Wow... tapi tetap kaya?"


"Ya, kita para Dominic juga berhemat..jadi sisa pengeluaran itu kami tabung sampai bisa membuat cabang baru milikku sendiri"


"Ohh.. kalian tak punya hutang?"


"Hutang? Dulu punya, daddy membangun kerajaan bisnis ini dari nol, hutang sana sini sampai dikejar dept.colector


********

__ADS_1


__ADS_2