
Dominic Mansions- Old Trafford- manchester
Pagi pagi buta tadi semua penghuni mansion dibuat ramai oleh kedatangan Ella dan Ello.
Semua ternganga kaget, sebab kedua bocah itu duplikat antara Leo dan Ellena. Seketika mama Leo, Elizabeth memeluk si kembar yang dibalas dengan tatapan bingung kedua anak itu.
Ya siapa yang tak kaget, dari New York mereka hanya ditemani sang pengawal dan dibawa ke mansion sebesar ini.
"Mommy dan daddy dimana?"
Ella sudah bersiap menangis karena ketakutan apalagi melihat Barack Dominic, sang kakek.
"Daddy dan mommy akan segera datang tenang saja"
"Kak Ello, mereka siapa? Kenapa banyak foto daddy disini?"
"Sayang, kalian dirumah kakek dan nenek"
Eliza mengelus lembut kedua kepala mereka. Saat Ella panik, Ello diam saja karena memang tahu ini rumah sang ayah. Daddy nya tadi juga mendarat disini.
"Kalian istirahat dikamar tamu dulu ya, biar nanti para pelayan mendekorasi kamar kalian"
Mereka hanya mengangguk dan pergi diantar sang nenek. Barack Dominic masih bungkam, antara marah dan senang serta sedih.
Dia sudah memiliki cucu cucu yang dapat dibanggakan tapi bagaimana cara menyatukan kedua orang tua mereka?
Akhirnya Lelaki itu menyudahi berfikir dan kembali kekamar untuk kembali istirahat.
*
Acara makan pagi kali ini berbeda. Mereka berdua sibuk bertanya apapun yang mereka lihat. Karena memang budaya di Korea dan Di Manchester sangat berbeda.
"Emm...ini...?"
"England breakfast..."
"Maafkan Ella nenek, tapi Ella tak terbiasa makan ini..."
"Ella ingin makan apa?"
"Kami terbiasa memakan nasi.."
"Baiklah, tunggu sebentar biar dibuatkan makanan yang biasa kalian makan"
'Maafkan kami sudah merepotkan"
"Tak apa... kalian prioritas disini"
Ello dan Ella menoleh kearah sang kakek, dari mereka datang sang kakek tak pernah berbicara sekali berbicara membuat seisi ruangan diam.
Kakek lebih menakutkan dari pada daddy....
"Apa makanan kesukaan kalian?"
"Kami suka apapun yang ada Nek, karena mommy selalu bilang tak boleh pilih pilih"
"Ello tak suka Bayam, tapi mommy selalu marah karena Ello tak mau makan bayam, katana diluar sana banyak yang tak bisa makan"
'Benar kata mommymu, selagi tak membuat sakit kita tak boleh pilih pilih"
"Yah... nenek sama aja seperti mommy"
"Biarkan mereka memilih apapun yang mereka suka, jangan paksakan kalau tak mau"
"Nah... seperti kakek gitu... sayang kakek"
Barack Dominic terkekeh, begini rasanya memiliki anak kecil.
Setelah acara sarapan bersama itu selesai, sang nenek mengajak Ella untuk membantunya mengurus bunga ditaman. Sedangkan Ello memilih ikut kelapangan tembak bersama sang kakek.
Dan mereka sangat senang.
Seperti saat ini, Ella sudah bermain kotor kotoran dengan tanah dan pupuk organik.
"Nenek, apa hanya ini tamannya?"
__ADS_1
"Iya, kalau taman bunga hanya ini, tapi kalau kebun ada dibelakang mansion, para pekerja menanam sayur dan buah"
"Wah... apa aku boleh kesana lain kali?"
"Disana kotor sayang"
"Tak apa nek, aku tak pernah melakukan seperti ini di Korea"
"Apa kegiatanmu disana?"
"Pagi aku dan kak Ello akan ke play ground... dan siang sampai sore menemani mommy di galery"
"Lalu Daddymu?"
"Daddy baru bisa menemui kami baru baru ini"
"Memang kemana?"
"Daddykan bekerja..."
Eliza menghela nafas berat, harus diberi pelajaran anak ini.
Disisi lain Ello melihat kakeknya yang sedang berkuda. Ello melihat sekeliling, lapangan ini luas dan dibagi beberapa bagian.
Ditempat ini juga Ello dapat melihat lapangan tembak, lapangan panahan, lapangan bela diri. Banyak pengawal yang berlatih.
Mungkin mereka cuti bekerja dan memanfaatkan waktu luang mereka untuk berlatih.
Ello melihat lagi kakeknya yang terlihat mahir berkuda.
"Ayo ikut naik!"
"Tapi Ello tak bisa berkuda"
"Mari kakek ajari"
"Baiklah"
Ello turun dari bangku yang didudukinya dan segera naik keatas punggung kuda yang dibantu oleh seorang pengawal.
"Apa kuda juga mengerti?"
"Tentu nak... kuda juga mahluk hidup, cobalah"
"Baik"
Ello mengelus rambut kuda putih itu dengn perlahan, ada perasaan takut dan penasaran dengan perkataan sang kakek..
"Hai Laco, aku Ello, kamu mau ya menjadi temanku"
Kuda itu menggibas gibaskan kepalanya yang membuat Ello takut sedangkan kakeknya terkekeh.
"Dia senang bertemu denganmu"
"Benarkah?terima kasih Laco"
"Sekarang lihat cara kakek berkuda dulu"
"Baik"
Ello begitu serius dipelajaran pertamanya, walau hanya melihat sang kakek berkuda.
Kakeknya berkuda dengan perlahan agar Ello bisa melihat bagaimana tekniknya.
Mereka terus saja mengelilingi lapangan sampai sang kuda mulai berjalan dengan pelan, menandakan kalau waktunya istirahat.
Ya, Laco sudah terbiasa setiap jam makan siang dia akan mogok bekerja karena sudah dilatih dari dulu.
Ello dan kakeknya segera turun dan memasukkan kuda itu kekandang lagi.
Kedua pria beda generasi itu berjalan menyusuri setiap lapangan melihat bagaimana latihan para anak buahnya.
"Kakek..."
"Iya, ada apa?"
__ADS_1
"Aku boleh berlatih juga?"
"Emm.. ijin pada ayahmu dulu"
"Baiklah, kapan ayah pulang?"
"Kakek juga belum tahu mungkin sedikit siang"
"Ini bukan sedikit lagi kek, tapi sudah siang, perut Ello saja sudah memberontak"
"Baiklah baiklah, ayo kita masuk dan makan malam"
"Okey"
Kedua lelaki itu beriringan berjalan kedalam mansion. Banyak pelayan yang berlalu lalang dan ada juga petugas yang merenovasi kamar mereka...
Ello melihat Ella dan juga neneknya sudah siap diruang makan menunggu mereka.
Ello duduk disamping Ella sedangkan sang kakek disinggasananya.
"Bagaimana berbincang dengan kakek, Ello?"
'Emmm.. seru.. aku tadi diajari naik kuda"
"Menanam bunga juga seru"
"Apanya yang seru? hanya menanam bunga saja"
"Ih... seru tahu!! Bunga disini berbagai jenis, dan aku belajar tentang itu"
"Pelajaranku keren.. naik Laco tahu!"
"Laco?"
'Kuda putih milik kakek"
"Ih.. kakek tidak adil! Masa kak ello saja yang diajari naik kuda, Ella tidak!!"
"Besok kakek ajari naik kuda Ella"
"Yeah.... wllekkk aku juga akan bisa naik kuda!"
"Ella sih memang gitu,, irian!"
"Sudah sudah jangan bertengkar terus... ini kapan kita makan?"
"Maafkan kami nenek"
Sontak kedua orang tua itu terenyuh, karena dalam sekali teguran si kembar akan segera menyadari kesalahannya dan meminta maaf.
"Oh cucu nenek dan kakek ini kenapa sangat menggemaskan.. ayo makan, dan kalian bisa melanjutkan acara bermain kalian"
"Baik nenek, selamat makan"
"Selamat makan"
Mereka berempat segera mulai memakan hidangan tersendia dan tentu tak lupa dengan nasi.
Tak ada pembicaraan saat acara makan itu, hanya ada aduan garpu dan sendok.
Saat menyantap kepiting saus manis itu, seketika Ello teringat dengan sang daddy.
"Astaga... aku melupakan daddy"
Ello segera turun dari tempat duduknya dan mengambil macbook dari kamarnya. Dan perbuatan Ello sukses membuat sepasang orang dewasa didepannya mengernyit heran.
"Ada apa?"
"Seharusnya aku menghubungi daddy, tapi berhubung kepiting ini enak, jadi aku tak bisa meninggalkannya begitu saja"
Mendengar penuturan sang cucu, Barack seketika menggelengkan kepalanya sedangkan Eliza mengulum senyumnya.
"Lanjutkan makanmu"
*********
__ADS_1