Ellena

Ellena
51


__ADS_3

Nard's Headquarter-Manchester


Disisi lain, seseorang dibuat menunggu berjam jam karena Leo mendadak pergi keruang bawah tanah bersama Liam dan Roy. Ellena terus saja mondar mandir tak jelas membuat beberapa pelayan menatapnya bingu dan kadang tersenyum saat melihat Ellena menggerutu tak jelas.


"Uhhh... lama sekali"


*Ruang bawah tanah.


Leo dan para bawahannya sudah berada didalam sel luas itu. Terdapat sekitar 25 orang tahanan dan satu diantaranya seorang perempuan, siapa lagi kalau bukan Diana.


Leo tersenyum. Hukuman untuk Diana sudah mulai terasa. Ya, siapa yang tak suka saat para tahanan lelaki itu sudah berbulan bulan tak menunaikan syahwatnya dan diberi seorang perempuan mulus nan cantik lagi.


Ya, hampir setiap hari Diana dipaksa untuk melakukannya, pada awalnya Diana menikmati segala perilaku para lelaki itu tapi sekarang dia menyerah, lebih baik dia mati dari pada melayani lagi. Sepertinya organ organnya sudah tak bisa merasakan apapun.


"Tuan.. hiks ampun... "


"Minta ampun? Kenapa apa lelaki lelaki ini tak bisa memuaskanmu?"


"Ampun.. saya sudah menyerah"


"Menyerah ya? Kalau begitu berikan aku informasi yang akurat, kalau kau beri aku informasi akurat, kau akan terbebas dari para lelaki itu"


"Baik baik... Alleo memiliki banyak rekan yang siap menjadi tangan suruhannya, dan sebelum aku kemari Alleo meminta  bantuan Davidson Wira untuk membuatmu jatuh dan disetujui"


"Lalu?"


"Mereka sudah akan membuat bom kejutan pada kalian, kalian tunggu saja"


"Cakap yang jelas!!"


"Walaupun Alleo tak bisa melaksanakan tugasnya untuk merebut Ellena tapi Dav sudah membuat rencana.."


"Oh jadi kalian ingin mengancurkanku lewat Ellena ya"


"Ya, dan akan kubunuh wanita murahan itu!!"


"Murahan ya? Tapi Ellena lebih cantik dan lebih menggoda dari pada kamu yang menjijikan!"


"Iya kah? Tapi lihat saja, kau akan tewas Leo!!"


Doorrrr....


"Tapi biarkan aku membunuhmu dulu"


Diana terbunuh ditangan Leo sendiri.  Leo tak akan melepaskan siapapun yang menyakiti Ellena dan kedua hartanya.


Leo keluar dari tempat mengerikan itu. Semua tahanan tak berani berkutik melihat kemurkaan Leo. Lebih baik dia ditahan disini seumur hidup daripada bermain main dengan Leo lagi.


Leo melihat sang pujaan hati menggerutu tak jelas diruang keluarga, mungkin dia bosan menunggu.


"Lama sekali sih Leo ini, apa dia bermain main dengan Diana? Ya ampun akan kukebiri lelaki itu!"


"Kalau kau kebiri bagaimana caraku membuatkan adik Ello dan Ella lagi?"


"Leo? sejak kapan kamu disini?"


"Sejak kamu menggerutu tak jelas..."


"Kamu lama sekali!"


"Maaf.. tadi masih berurusan dengan Diana"


"Apa?"


Ellena segera berdiri dan mengelilingi tubuh Leo melihat setiap jengkal tubuhnya bahkan membuka kaos Leo.


"Kamu kenapa?"


"Kamu tadi ngapain aja?"


"Menyelesaikan masalah"


"Mana yang dia sentuh, jangan tidur denganku!!"


Leo mengernyit heran dengan ucapan Ellena apalagi Ellena pergi begitu saja sambil menghentak hentakkan kakinya.

__ADS_1


Sedangkan kedua sahabatnya tertawa terbahak bahak melihat tingkah sepasang kekasih itu.


"Ellena"


Leo menyusul Ellena dan mencoba menggapai sang pujaan hati.


"Jangan sentuh aku!"


"Ellena, tunggu dulu"


"Apa sih! Aku marah!"


Leo menggapai tangan kanan Ellena, dan segera memeluk tubuh Ellena dari belakang.


"Biar aku jelaskan! Jangan marah dulu"


"Mau dijelaskan apa lagi? Pasti sudah having fun tadi dengan Diana"


"Having fun ya?? Sudah sih..."


"Tuhkan... kamu jahat, katanya mau serius tapi malah kayak gitu"


"Hemmm... kamu negatife thingking, aku benar benar serius"


"Gombal"


"Iya love...aku having fun dengan Diana, tapi aku having sex sama kamu saja"


"Ihh.. aku tak mau... kamu sudah ternoda"


"Ternoda? Coba tolong dibersihkan"


"Leooo!!!"


"Yes love...."


"Kamu jahat!!!"


"Sudah sudah jangan diperpanjang lagi, aku tadi mengeksekusi Diana"


"Dia mati"


"Kamu membunuhnya?"


"Apapun yang mengancam kamu dan kedua hartaku akan aku bereskan"


"Tapi..."


"Mereka berani berencana membunuh kita, lalu aku merencanakan balik, itu impas"


"Hmmm... impas? Aku tak tahu bagaimana cara berfikir kalian para lelaki"


Leo tersenyum.


Padahal kemarin sempat membunuh dua orang, apa dia tak sadar?


Leo membatin, tapi dia tak berucap.


"Lebih baik kau bersiaplah, kita akan menemui anak anak"


"Hmm.."


Ellena tersenyum saat mengingat kedua anak pintarnya. Dia sangat rindu.


Ellena segera berlari dan menuju kamarnya.


Ellena mandi dan berganti baju di dalam walk in closet milik Leo. Dan disitulah Ellena melihat koleksi tak biasa dari seorang Leo.


Ya, mungkin kalau koleksi itu berupa senjata tajam ataupun barang antik masih terlihat biasa tapi ini adalah lemari khusus alat beribadah(?). Didalam lemari itu terdapat sajadah dan Kitab suci. Dan baju baju putih mungkin itu baju  yang biasa orang orang muslim kenakan. Serta berbagai macam tasbih.


Ellena antara senang dan juga sedih. Dibalik kekejamannya dia masih mengingat hal sebesar itu. Sedangkan Ellena, apa? Ya benar dia mengajarkan pentingnya agama bagi anak anaknya tapi dia sendiri memang hampir jarang untuk bersama Tuhannya. Alasan klise, urusan dunia.


Ellena menghela nafas berat, kalau Leo saja bisa, kenapa dia tak bisa?


"Kenapa lama sekali?"

__ADS_1


Ellena terkaget saat mendengar suara baritone seorang lelaki yang mengintrupsinya dari pintu masuk.


"Apa yang kamu lakukan?"


'Melihat ini"


"Untuk apa? Kau pasti tak tertarik"


"Leo sejak kapan kau beribadah?"


"Sejak dulu"


"Tapi aku tak pernah melihat"


"Karena aku tak memperlihatkannya"


"Hah... baiklah"


"Cepat ganti baju, aku tunggu dimobil"


"Hmm"


Ellena meneruskan acara berganti bajunya serta mengulas make up tipis dan menguncir rambut panjangnya.


Ellena segera turun dan menuju mobil milik Leo. Dan naasnya Leo sudah disana menyender ditubuh mobil.


Ellena sempat terpaku melihat penampilan Leo. Kaos polo dengan celana denim selutut sangat cocok dengan sepatu sneakers putih apa lagi kaca mata hitam itu membuat kontras dengan warna kulit putih pucatnya.


Leo sama sekali tak terlihat seperti lelaki yang hampir berumur 37 tahun.


"Aku tahu kalau aku tampan".


"Ih sangat besar kepala"


"Tentu.. itu nama tengahku"


"Aku percaya, ayo berangkat"


Ellena dan juga Leo siap melesat kejalanan kota dan membelah kota Manchester.


Leo membelokkan mobilnya kearah pekarangan rumah besar.


"Ini..."


"Kau lupa?'


"Tidak... apa aunty dan uncle ada?'


'Ada...ayo"


Ellena walaupun ragu tetap menggandeng tangan kanan Leo. Leo hanya tersenyum melihat perubahan tingkah Ellena yang menurutnya lucu.


ayolah, Ellena dan kedua orang tuanya sudah saling mengenal sejak dulukan? kenapa harus takut lagi?


Saat sampai didalam rumah, keadaan rumah sangat sepi dan tak ada tanda tanda kehidupan. Hanya seorang pelayan yang membawa alat kebersihan.


"Semua kemana?"


"Nyonya besar dan tuan besar sedang menidurkan  anak anak"


'"Oh... biarkan saja"


"Baik, saya permisi dulu"


'Hmm"


Segera Leo mengajak Ellena kekamarnya dan beristirahat. Hari hari yang melelahkan dan mengerikan.


"Aku akan istirahat sebentar"


'Baiklah.. aku juga mau ikut istirahat"


"Kalau begitu ayo kita istirahat berdua"


"Tapi..."

__ADS_1


"Aku tak akan memaksamu sebelum kau menikah denganku"


***********


__ADS_2