
Amy tampak segera maju kedepan, melihat sekeliling semua orang menatapnya.
Amy duduk begitu saja ditempat tadi Ellena duduk. Pakaian modern dengan lipstik merah merona mewarnai wajahnya.
"Amyranda Lopez, right?"
"Yes sir..."
"Anda mantan istri dari Mohammed Arsyid?"
"Yes.."
"Anda tahu tentang kematian mr. Arsyid?"
"Saya tahu"
"Apa anda yang merencanakannya?"
"Tidak"
"Tapi dari olah tkp, kecelakaan itu merupakan hal yang disengaja"
"Saya tak tahu"
"Baiklah, anda tahu kalau Mr. Arsyid masih hidup?"
"Saya tahu"
"Anda tahu yang meninggal itu merupakan saudara kembar Mr. Arsyid?"
"Saya tahu"
"Anda tahu kalau Mr. Arsyid tak bisa melihat puterinya karena aksesnya diblokir oleh Mr. Reynald?"
"Saya tahu"
"Anda tahu, Mrs. Ellena sangat butuh seorang ayah kandung, kenapa anda tak menentang yang Mr. Reynald lakukan?"
"Saya yang menginginkannya"
"Kenapa?"
"Karena saya benci dengan Arsyid"
"Baiklah, satu jawaban sudah ditemukan...,. Pertanyaan selanjutnya, apa anda mengenal Mrs. Ellena?"
"Saya kenal, dia anakku"
"Baiklah, kenapa harus mengganti nama warisan dari Mr. Arsyid kalau memang dia anakmu?"
"Saya tak mau berbagi!"
"Dia puterimu, dia berhak mendapat warisan dari anda dan juga Mr. Arsyid!"
"Dia memang puteriku, tapi bukan darah dagingku"
Semua orang tersentak kaget, tapi Amy tetap tenang tanpa ada raut apapun.
Semua orang ricuh, Ellena seketika menegang dan meremas ujung dressnya.
Leo segera merangkul pundak Ellena, dia tahu wanitanya akan segera roboh.
Hakim segera mengetukkan palunya, agar sedikit lebih tenang, tapi Arsyid tetapĀ ingin memukul Amy kalau saja tak ada hukum disini.
"Bukan darah daging, maksut anda?"
"Ya, Ellena adalah anak yang saya ambil dari rumah sakit dihari anak saya meninggal"
"Apa tuan Arsyid tahu tentang ini?"
"Tidak"
"Kenapa tak anda beritahu?"
"Tak penting"
"MAKSUTMU APA!? INI MENYANGKUT HAL BESAR AM!!!"
Arsyid berdiri begitu saja, dan meluapkan emosinya. Selama bertahun tahun dia dibohongi.
Bukan masalah Ellena bukan anak kandungnya tapi anaknya yang sebenarnya sudah meninggal.
__ADS_1
"Anak itu sudah meninggal, untuk apa kamu mempermasalahkannya?"
"Kamu tak merasa sedih?"
"Tidak! Aku dari awal seorang wanita bebas, Ras.. kamu saja yang terlalu menganggap pernikahan itu"
"Aku tak menyangka kamu begitu kejam!"
"Kejam? Memberikan begitu banyak warisan pada anak pungut!?"
Dok dok dok!!!
"Mohon tenang!"
Terlihat hakim mulai menahan emosinya tapi dalam sekali tarikan nafas, dia menormalkan emosinya lagi.
"Dimana orang tua kandung nyonya Ellena?"
"Entah! Siapa yang mau mengurus orang tuanya!"
"Maksut mama, kasih sayang mama untukku selama ini hanya bualan agar warisan papa Arsyid dan juga papa Reynald bisa jatuh ditangan mama?"
"Betul!"
"Kematian All juga ada hubungannya dengan mama?"
"Yups! Sudah tanggung juga, memang aku otak semuanya termasuk pembunuhan Dav, ya aku memancingnya lagi untuk bisa menyingkirkannya karena sudah terlalu banyak hal yang dia ketahui!"
"Kau tak punya hati nyonya Amy!!"
"Tak punya hati? Lalu selama ini siapa yang membesarkanmu kalau aku tak punya hati!!"
"Kau!! Apa mama pernah memikirkan perasaanku dan juga All saat tahu tentang hal busuk mama?"
"Apa? Aku tak peduli, Ell.. kau sudah bahagia untuk apa memperdulikan hal lain!!"
"Ini tentang kebenaran, Ma!! Kamu iblis!!"
Dok dok dok...
"Istirahat 15 menit, silahkan masing masing pihak menenangkan diri!"
Ellena tak dapat menahan puncahan amarah dihatinya. Tanpa menunggu Amy keluar ruangan, Ellena segera menghampirinya.
"Ma!!"
"Apa? Kamu sudah tahu aku bukan mamamu, jadi tolong panggil aku nyonya Lopez!"
"Baiklah, dimana orang tuaku?"
"Entah! Bukan urusanku!"
"Ini urusanmu!! Gara gara obsesimu, aku tak tahu siapa orang tua kandungku!!"
"Lalu? Mungkin orang tuamu dari kalangan orang miskin?"
"Sialan!! Jangan pernah mengatakkan itu!"
"Kenapa? Takut pada kenyataan!? Atau mungkin ibumu pelac*r!?"
"Sialan! Kamu yang pelac*r murahan!! Kamu wanita biadab!!"
Braakk!!!
Emosi Amy meledak begitu saja, saat Ellena mengatainya.
Dengan sengaja Amy menendang perut Ellena dengan high heelnya, sampai Ellena terhuyung kebelakang dan membentur pembatas ruangan.
Semua orang yang menonton mulai bereksi, Amy ditahan sedangkan Ellena segera dibawa kerumah sakit.
"Akkhh.. sakiit!"
Leo dan semua orang panik. Ellena terus memegang perut bagian bawahnya dengan segala rintihannya.
"Darl... bertahanlah, kita akan kerumah sakit!"
"Leo!! Sakit perutku!"
Leo mengangkat Ellena dan segera menancap gas untuk kerumah sakit terdekat.
*
__ADS_1
45 menit berlalu sejak kedatangan mereka dirumah sakit. Ellena masih diruang operasi karena ada pendarahan diantara kakinya.
"Ellena.. bertahanlah!"
Semua orang terdiam, Ello dan Ellapun juga datang setelah mendapat kabar kalau Mommy mereka sedang sakit.
"Keluarga nyonya Ellena Dominic?"
"Saya suaminya, dokter.. bagaimana keadaan istri saya?"
"Untuk sekarang keadaannya stabil, tapi maafkan kami, kami tak bisa menyelamatkan calon bayi anda"
"Maksut dokter, Ellena hamil?"
"Iya, tapi..."
"Bulan lalu, Ellena masih datang bulan"
"Sebentar tuan, saya jelaskan.. janin yang nyonya Ellena kandung masih beberapa minggu dan masih berbentuk plasenta darah, ditambah lagi keadaan kesehatan Nyonya Ellena sangat buruk, tekanan batin yang banyak membuat plasenta itu lemah, jadi kami tak bisa berbuat apa apa, mungkin juga tendangan yang diterima nyonya Ellena lumayan kuat, jadi plasenta itu tak bisa bertahan!"
"Anakku..."
"Bersabarlah tuan, kamu tahu anda sangat terpukul.. temani istri anda setelah dia dipindahkan diruang rawat"
"Terima kasih"
Dokter itu tersenyum simpul, dan kembali kedalam ruang operasi untuk mempersiapkan perpindahan kamar Pasien.
Tak berapa lama, brankar Ellena sudah didorong keluar. Terlihat Ellena masih tak sadarkan diri, wajah pucatnya membuat hati Leo tersayat.
"Roy! Perintahkan Liam untuk memastikan kehancuran Amy dan Reynald!"
"Baik boss!"
Emosinya diubun ubun. Seandainya Amy tak gegabah dan menendang Ellena, calon anaknya pasti masih ada.
"Dad, are u okay?"
Ella memeluk ayahnya yang terduduk diruang tunggu. Tak tega melihat sang ayah jatuh sendiri.
Disusul Ello yang memeluk sisi kanan Leo. Ikut meresapi yang ada. Pemandangan itu cukup membuat semua orang terharu.
"My boy... janji pada daddy, untuk menjadi lelaki yang bertanggung jawab!"
"Okay dad, Ello berjanji.."
"Dan My girl.. berjanjilah menjadi princess dengan penuh martabat"
"Yes dad..."
"Ayo temui mommy, pasti sebentar lagi bangun.."
"Emm.. dad, bagaimana kalau mommy tahu tentang adik?"
"Mommy memang harus tahu nak"
"Kalau mommy sedih"
"Kalau mommy sedih, ya Ello dan Ella yang hibur... kami memiliki kalian, jadi kebahagiaan kami tergantung kalian!"
"Baiklah dad..."
"Setelah semua ini selesai, dan tuntas kita akan segera pergi, meninggalkan semua kenangan pahit ini ya..?"
"Ya dad.."
"Hidup baru dengan damai, dan hangat tanpa ada gangguan apapun"
"Ya dad"
*******
Kita akan segera END lho....
Cerita selanjutnya tentang "Ello Kabir Dominic"
Okay nggak?
Jangan lupa follow ig: dwiwyathwi
Biar kalian tambah sehat dipandemi ini..
__ADS_1
I LOVE U....