Ellena

Ellena
69


__ADS_3

Hari ini setelah menikmati hari yang begitu indah, Ellena mengantar Roy dan Liam beserta pasangan mereka ke bandara Internasional.


Sekarang setelah makan malam, Ellena sudah masuk kedalam kamar. Sedangkan Leo masih menemani Ayahnya main catur.


Ellena sudah berbaring diatas ranjang, ini kamarnya dulu saat masih bayi. Sekarang sudah disulap menjadi kamar pengantin. Ya, kamar yang begitu romantis, dimana mana ada lilin dan kelopak bunga. Fatimah berniat benar.


Wangi aroma terapi mawar menguar diseluruh penjuru ruangan dan itu cukup membuat Ellena gugup.


Seberapa banyakpun Ellena sudah tidur dengan Leo dulu, tapi ini malam pengantinnya. Aduh. Ellena sangking gugupnya, memainkan ujung ujung gaun tidurnya.


**


Disisi lain, Leo sedang bermain catur di gazebo belakang. Dan sedari tadi, Leo terus saja mengalah.


"Kenapa kamu terus mengalah?"


"Saya tak mengalah pa"


"Aku ini sudah 57 tahun! Mana mungkin aku ini buta dengan permainanmu yang seperti itu?"


"Baiklah pa, jangan marah"


"Emm..."


Setelah 30 menit bermain, Leo menang.


"Kenapa kamu tak membunuh dari tadi?"


"Saya sungkan!"


"Sungkan apa?  Kamu itu sudah menjadi anakku! Ayo lanjut lagi"


"Baik pa.."


"Kapan kamu kenal Ellena?"


"Dulu saat usiaku 18 tahun"


"Sekarang usiamu 36 tahun?"


"Iya, tak ingin berpaling?"


"Pa, kalau bisa kulakukan, mungkin Sikembar tak akan ada dan juga hari ini mungkin hanya khayalan orang lain"


"Kenapa mencintai putriku?"


"Karena aku mencintainya"


"Jawaban apa itu!"


"Cinta saya tanpa alasan, skak!"


"Hei... kenapa cepat sekali menyudahinya?"


"Karena malam ini, malam pengantin saya, saya keatas dulu pa"


"Dasar anak kurang ajar!"


Leo tersenyum, dan segera pergi begitu saja. Sudah tak sabar untuk menunaikan haknya.


Sial. Bagaimana bisa Leo seperti remaja yang begitu gugub saat malam pertama.


Sudah berapa kali saja dia tidur dengan Ellena tapi kenapa malam ini begitu gugup dan sialnya, dia tak sabaran.


Leo terus saja tersenyum saat menaiki tangga, sampai Fatimah yang turun dari lantai atas sama sekali tak dihiraukannya.


"Apa semua pengantin baru seperti itu?"


Fatimah lantas pergi begitu saja, tak mau tahu urusan mereka.


Leo segera  membuka pintunya, terlihat Ellena yang sudah ditempat tidur. Ayolah, bagaimana bisa malam pengantinnya terlewat begitu saja?


Leo segera melesat kekamar mandi, mandi dengan kilat dan kembali kekamar hanya dengan boxer ketatnya. Handuk putih yang tersampir dileher untuk mengeringkan rambutnya tadi sudah dia buang asal.

__ADS_1


Leo memeluk sang istri yang beraroma strawberri, sungguh manis untuk digigit.


"Darl..."


Leo mengucapkan begitu lembut di belakang telinga Ellena, hembusan Nafas Leo begitu menggelitik kulitnya.


"Leo..."


"Apa kamu tak merindukanku?"


Leo kembali mengucapkan itu dibelakang telinga Ellena lalu mengecup tengkuk dan bahu Ellena. Menurunkan tali spageti digaun Ellena adalah misi yang bagus.


"Apa kamu gugup"


"Ya..."


"Aku juga, sungguh aku seperti perjaka yang baru kali ini bercinta"


"Akupun..."


"Mari ciptakan malam yang panas untuk kita"


Tanpa menunggu jawaban Ellena, Leo segera membalik tubuh Ell dan mengukungnya didibawah kuasa Leo.


Leo mencium Ellena dengan lembut syarat akan kerinduan dan semakin lama semakin menuntut.


Ellena memang benar benar bisa mabuk dibuat Leo, walaupun hanya dengan ciumannya.


Ellena dan Leo memulai aksi mereka, melucuti baju mereka dan segera melanjutkan malam panas mereka dengan setiap erangan. Ya, kerinduan mereka terbayar sudah.


(Adegan 21+ tak boleh dilanjutkan ya...)


**


Pagi ini Ellena benar benar tak ingin bangun, ya setelah sholat subuh tadi dia harus mandi besar dan setelahnya Leo mengajaknya berperang lagi. Leo bagai kuda, tak kenal lelah.


Dan jam sudah menunjukkan pukul 8 pagi, Ellena masih setia didalam selimut, tentu dengan Ellena tanpa busana didalamnya.


Sedangkan Leo sudah turun untuk sarapan, dan mengantar sarapan untuk Ellena yang kehabisan tenaga. Leo bisa tersenyum sendiri saat mengingat bagaimana wajah sayu Ellena yang menahan gejolaknya saat dibawah kuasanya.


"Darl... ayo bangun, aku siapkan sarapan"


"Aku masih mengantuk Leo..."


"Setelah sarapan kita harus jalan jalan loh.."


"Kemana?"


"Berbagai tempat, kita belum foto pernikahan loh, apa coba yang kita pajang dirumah?"


"Lalu?"


"Kita akan melakukan foto shoot di tempat tempat yang indah"


"Tapi aku..."


"Mau sarapan sendiri atau disuapi?"


"Aku belum mandi"


"Nanti saja.."


"Suapi"


Akhirnya Ellena menegakkan duduknya sambil bersandar dikepala ranjang, masih dengan selimut yang melilit ditubuhnya yang pasti.


Leo harus menahan godaan didepannya ini. Tulang selangka Ellena yang menonjol seperti meminta diberi tanda. Sial.


Leo mencoba mengenyahkan pikiran kotor dipikirannya ini. Tapi tetap tak bisa.


"Okay... sudah selesai sarapannya, dan jadi aku harus mandi.."


"Darl... wanna burn 150 calories?"

__ADS_1


Ellena mengerjapkan matanya. Dan setelahnya, Ellena mengeratkan lagi selimut didadanya.


"Leo, tadi pagi buta kamu sudah mendapat morning sex"


"Dan aku ingin lagi..."


"Bagaimana bisa kamu tahu tentang itu?"


"Aku pernah membaca disebuah artikel"


"Artikel itu membuat orang lain lemas"


"Tapi aku suka"


"Leo, biarkan aku mandi, dan kita akan segera jalan"


"Katanya, kamu lelah dan masih mengantuk"


"Tidak jadi ngantuk, aku akan segera mandi"


"Mandilah, aku tunggu dibawah"


Leo mengecup kening Ellena dan segera keluar dari kamar.


Ellena yang diperlakukan seperti itu, hanya bisa terdiam sambil tersipu.


Leo benar benar membuatnya kepayang.


Ellena segera mandi dan tentu saja bersiap.


Sekian lama dirinya bermimpi diperlakukan seperti ini, dan hari ini menjadi kenyataan.


Ellena terus saja tersenyum. Memakai dress selutut berwarna peach, serta stelleto putih.


Ellena memoles wajahnya dengan bedak tipis serta lipbalm. Entah mengapa dia ingin berpenampilan sangat cantik. Rambut hitam kemerahan miliknya dibiarkan terurai.


Dulu Ellena sangat tak nyaman dengan warna rambut aslinya, dan lebih suka dicat dengan warna warna yang tren, tapi sekarang dia menyukainya.


Ellena mengambil tasnya dan turun kebawah. Terlihat ayahnya serta Fatimah sedang duduk bersantai, mungkin karena hari minggu. Ellena tersenyum, dia rindu dengan suasana seperti ini.


"Selamat pagi semua"


"Pagi Ell"~papa


"Pagi kak"~Fatimah


"Akan pergi Ell?~papa


"Iya pa, Leo mengajakku jalan jalan"


"Gunakan waktu kalian sebaik mungkin"


"Iya pa, Fatimah.. tidak jalan jalan?"


"Tidak kak, sebentar lagi Fahri datang"


"Fahri?"


"Fahri itu seorang guru besar sastra Islam, dia mengajari Fatimah menghafal Al-Quran"


"Oh, ingat bukan muhrim"


"Aku tahu kak, makanya papa dirumah hari ini...akkhh.. enak yang sudah menikah"


"Aku berangkat dulu, pa, Fatimah"


"Hati hati..."


Ellena keluar dari rumah besar itu, sudah disambut sebuah aston martin. Bukan. Bukan aston martin yang mencolok, tapi seorang lelaki berbaju kasual dengan wajah british murni. Dia mempesona.


Kenapa suaminya ini seperti lelaki umur awal 30, bukan akhir dari 30?


Ini antara menguntungkan dan juga menyebalkan.

__ADS_1


*****


__ADS_2