Ellena

Ellena
36


__ADS_3

3 TAHUN KEMUDIAN


EL'S GALERY- ITAEWON, SOUTH KOREA


"Mommy, aku mau ice cream"


"Sebentar ya Ella, mommy sedang ada klien"


"Tapi mom, Ella sangat ingin"


"Mom, bagaimana kalau Ello yang mengantar Ella beli ice cream"


"Tapi diluar sana sangat ramai sayang, kalau kalian tersesat bagaimana? Tunggu mommy selesaikan ini"


"Miss, temani saja Anak anda pergi, saya juga masih menunggu kekasih saya"


"Apa tak apa saya tinggal?"


"Tentu saja, dia yang akan memilih set perhiasan mana yang harus dibeli"


"Baiklah, maaf atas ketidak nyamanan anda miss, biarkan karyawan saya membuatkan minum"


"Baiklah"


Ellena akhirnya undur diri untuk mengantar kedua anaknya. Beginilah kalau Maria cuti karena kehamilannya yang sangat rentan, dan dia pulang ke Inggris. Hah, merepotkan mengurus kedua anak kelewat pintar dan manja ini.


"Mom, aunty Mar dan uncle  Smith akan memiliki adik bayi?"


"Iya sayang, kalau adik bayi sudah lahir mereka akan segera kesini"


"Ella ingin satu adi bay..emmm"


"Ssstttt"


Mulut Ella dibungkam oleh Ello yang tahu perkataan Ella sedikit sensitive untuk mommynya. Ella lebih manja memang dan selalu menginginkan sosok ayah, sedangkan Ello lebih pintar memahami sekitarnya seperti dulu saat Ello bertanya tentang ayahnya, Mommynya seketika murung dan sedih, jadi dia tak pernah lagi mempertanyakan itu selama mommynya tak mau bercerita.


"Kakak!! Jangan potong omongan Ella"


"Kamu juga jangan berbicara sembarangan"


Ellena hanya tersenyum menanggapi kedua anaknya. Ellena mengacak rambut keduanya.


Ellena membelikan ice cream, snack, dan 2 lunch box untuk anak anak serta 1 lunch box untuk dirinya sendiri. Kemungkinan dia akan repot menangani klien kliennya.


Ellena bercanda dengan kedua anaknya, Ella yang selalu mengoceh tak tentu arah selalu kena omel sang kakak, pemandangan yang jarang dilihat selama ini. Ellena terlalu sibuk bekerja.


Sampai Ellena terpaku ditempat melihat orang dikenalnya disana. Roy.


Dia sedang berbincang dengan wanita yang menjadi kliennya tadi. Cobaan apa ini?


"Ella dan Ello, kalian langsung ke kantor mommy ya... snack dimakan setelah lunch, dan tidur siang."


"Baik mom"


Ya memang lantai 3 sekarang dibuat untuk anak anaknya, 3 kamar tidur serta tempat bermain, selain kantor pribadinya. Karena memang sering sekali kedua anak kecil itu ikut Ellena kekantor. Daripada merecoki para karyawannya, lebih baik dibuatkan dunia sendiri.


Setelah memastika kedua anaknya keatas, Ellena segera menghampiri sepasang kekasih itu. Ellena pura pura tak tahu kalau didapannya adalah Roy, dia mencoba tenang.


"Maaf membuat menunggu lama"

__ADS_1


"Ell?"


"Roy? Lama tak jumpa, apa ini kekasihmu?"


"Iya, kami akan menikah 1 bulan lagi tolong desainkan ya, Mei sangat suka dengan segala desainmu"


"Oh tentu, akan kubuatkan yang terbaik"


"Mereka sangat mirip dengannya ya..?"


"Pardon me?"


"Ell, jangan mengelak! Kau dan dia sama saja terlalu egois tanpa mau memikirkan perasaan orang lain!"


"Tolong jangan bahas, kita fokuskan dengan pesananmu saja"


"Ellena kau harus tahu..."


"Shut up Roy! Aku tak mau membuat ini sulit jadi tolong jangan bahas"


'Baiklah"


Akhirnya mereka fokus lagi dengan desain mereka. Meninggalkan rasa penasaran dan rindu tentang lelaki itu.


"Mommy!!!!"


"Ella, where are u from?"


"Mom... its urgent!!! Ello accident!


"Dimana dia sekarang?"


"Ayo kesana!"


Ellena segera menggendong Ella serta diikuti Roy dan Mei. Mei tahu tentang kisah kehidupan Ellena, jadi dia harus tahu bagaimana anak orang yang dicintai sahabatnya itu.


Ellena terus saja merapalkan segala doa untuk menenangkan dirinya. Ello dan Ella adalah segalanya. Dia tak bisa melihat salah satunya terjatuh.


Ella terus saja menangis.


"Maafkan aku mom, gara gara aku Ello sakit!"


"Tak apa sayang, ini bukan salahmu"


"Tapi kalau saja, Ella tak merengek meminta balon, Ello pasti tak menyebrang jalan"


"Ella, this accident!! Jangan menyalahkan dirimu okey?!"


"Okey mom"


Sesampainya dirumah sakit, Ellena segera berlari menuju resepsionis menanyakan tentang korban kecelakaan.


Dan disinilah dia sekarang, ruang gawat darurat.


"Dokter bagaimana keadaan anak saya"


Ellena segera memburu dokter yang keluar dari ruangan dengan perasaan khawatir.


"Dia kekurangan banyak darah"

__ADS_1


'Saya akan mendonorkan darah saya dokter"


"Tak perlu nyonya, tadi yang membawanya kemari juga mendonorkan darahnya jadi anak nyonya bisa melewati masa kritisnya"


"Terima kasih dokter, dimana penolong itu?"


"Itu mom, keluar dari lab"


Ella menunjuk seorang pria yang membelakangi mereka.


Ellena seperti kenal, tapi siapa? Ellena segera menghampirinya untuk mengucapkan terima kasih. Sedangkan Roy dan Mei sangat kenal dengan pemilik punggung itu.


"Tuan, permisi, saya berterima kasih atas bantuan anda, anda telah menyelamatkan malaikat saya"


Sang pemilik punggung nampak menegang saat mendengar suara lirih dan serak khas orang habis menangis dibelakangnya.


"Tak apa, aku tak mempersalahkan itu untuk anakku"


Sang pemilik punggung itu berbalik, dan nampak Ellena terkejut, reflek wanita itu mundur dan memeluk Ella posesive seakan lelaki itu akan mengambil malaikatnya. Ya dia adalah Leo.


"Kau! Kenapa disini?"


"Hanya perjalanan bisnis, jangan takut aku tak akan menyakiti kalian"


Ellena masih saja memeluk Ella posesive. Walau Ella terlihat bodoh dan manja tapi dia cerdas dan sangat peka. Dia tahu orang didepannya ini pasti sangat dikenal mommynya, apalagi reaksi mommynya sangat posesive. Dia hanya mencurigai, lelaki dewasa didepannya ini daddynya yang ditunggu selama ini.


"Mommy, tenanglah Ella disini"


Ellena hanya bisa merasakan ketakutan dan sedikit rasa nyaman. Dominasi Leo terlalu besar.


"Hai, gadis kecil tak mau berkenalan dengan dad.."


"Stop it Leonard Dominic! Please leave US!!"


"Mereka anakku Ell!!"


"Apa perlu kutunjukkan pada Ella kalau dulu kau tak menerimanya!"


"Ellena dia butuh ayah!"


"Ayah katamu, setelah bagaimana perjuanganku sendiri kau dengan mudah berkata ayah! Kamu gila!"


"Ellena!"


"Uncle, thanks for everything.. tolong tinggalkan kami, mommy sedang sedih kak Ello sakit jangan uncle membentak bentak mommy, mommy sudah terlalu banyak sakit"


Ella mengatakkan itu sambil memeluk Leo, dia hanya ingin memastikan rasa pelukannya, apa dia nyaman. Dan ya Ella merasa nyaman tapi dia lebih memilih diam dan mengutarakan itu. Gadis 3,5 tahun berkata begitu bijak.


Leo hanya bisa menatap haru anak yang dulu dibuangnya, gadis kecil ini kloning dari dirinya dan Ellena. Dia benar benar tak habis pikir dengan jalan pikirannya dulu.


Ella lekas berbalik dan mengusap air mata mommynya.


"Mom, jangan takut, uncle itu akan segera pergi"


Lamunan Leo sirna saat Ella berkata seperti itu, Leo memilih pergi dan membiarkan Ellena tenang. Disana ada anaknya yang menjaga Ellena.


Mei memapah Ellena untuk duduk dikursi tunggu, dan ikut menenangkan wanita itu.


Roy hanya diam, dia tak mau membela siapapun dan tak mau berbicara apapun dia cukup mengerti hal ini. Dan Roy yakin Ellena dan Leo mampu  menyelesaikan ini semua.

__ADS_1


******


__ADS_2